Kuliah Atau Kuli Ah?

Kuliah Atau Kuli Ah?
Moment...


__ADS_3

Hari pertama penelitian berjalan lancar, meski aku belum terbiasa melakukan banyak kegiatan secara bersamaan seperti membuat sketsa, menulis data dan bahkan melakukan wawancara.


Kami selesai sampai pukul 5 sore, hampir selama itu juga aku tidak berinteraksi dengan Andreas karena kami beda lokasi penelitian.


"Dek, kamu mau makan dulu gak? kita keliling yu cari makan" ajak ka Maria.


"Terus pulangnya gimana?" tanyaku.


"Gampang, nanti kita pake umum aja biar aku kabarin yang lain" jelasnya.


"Boleh ka, sekalian aku mau beli baju tipis buat kak Andreas" jawabku.


"Lah emang Andreas gak bawa baju?" tanyanya keheranan.


"Bawa sih, tapi tebel-tebel kaya flanel gitu kasian dia disini kan panas apalagi nanti kita ke pantai juga kan?" jelasku.


"Hmm okedeh nanti aku temenin kamu" katanya.


Aku dan kak Mariapun berkeliling didekat pasar tradisional, membeli banyak jajanan dan pernak-pernik khas jogja.


"Drrrrrrtdrrrtttdrrrrrtttt" ponselku bergetar.


ANDREAS!!!


"Halo kak, kenapa?" tanyaku.


"Kamu jalan-jalan sama Maria? kemana?" tanyanya.


"Di pasar deket tadi nyebar angket sama wawancara, kakak udah beres?" tanyaku.


"Udah sih, aku susulin kesana ya? soalnya khawatir kamu kan gak tau jalan lagian si maria sih pake ngajakin kamu jalan-jalan segala" jelasnya.


Sepertinya Andreas marah karena aku pergi tanpa izin terlebih dahulu kepadanya, aku jadi tidak enak.


"Yaudah kaka susul aja kesini, aku tunggu di depan warung makan gudeg 77 ya" kataku.


"Iya kamu jangan dulu kemana-mana" pungkasnya.


Aku memberitahu kak Maria kalau barusan Andreas menelponku dan bilang bahwa dia akan menyusul kami.


"Iya gapapa kita tunggu sini aja" kata kak Maria.


Beberapa menit kemudian......


"Dek, kamu tunggu sini deh aku mau balik ke toko yang tadi bentar soalnya penasaran sama gantungan kunci barusan" kata kak Maria.


"Eh aku anter aja kak" jawabku.


"Jangan nanti Andreas nyari susah kasian, kamu sini aja ya" sahut kak Maria sambil berlalu.


Akupun duduk didepan taman dekat warung makan tadi sambil menunggu Andreas datang.


"Halo cantik, sendiri aja?" tiba-tiba saja ada sekelompok anak laki-laki yang mendatangiku.


"Boleh kenalan gak?" sahut yang lainnya.


"Maaf mas, saya lagi nunggu pacar saya" jawabku.


"Ah bohong, palingan situ lagi nunggu ojek online kan? Emang mau pulang kemana? Aku anter aja ya" kata salah seorang diantara mereka.


"Gak usah mas, maaf saya buru-buru" kataku sambil berlari kearah kerumunan pasar untuk menjauhi mereka.

__ADS_1


Dari belakang, ada yang menarik tanganku.


"Dek, kenapa lari-lari?"....


Aaah itu Andreas ternyata, beruntunglah dia melihatku.


"Kak, untung kakak keburu dateng. Aku diledekin sama anak-anak cowo terus aku disangka bohong pas aku bilang lagi nungguin pacar aku katanya aku palingan nunggu ojek online" gerutuku.


"Haha tuhkan bener kamu dilepas sebentar udah menarik perhatian begitu, yaudah ayo kita jalan-jalan" ajaknya sambil menarik tanganku.


"Ih kak Maria kasian dia lagi beli gantungan kunci, tungguin dia dulu ya?" jelasku.


"Tuh si Maria, dia udah nemuin aku barusan dan kayanya mereka mau jalan-jalan juga. Kita gak usah gabung sama mereka lah, mending kita berdua aja. Lumayan kita punya waktu sampe jam 8 malem ini setelah itu kita harus olah data" jelasnya.


"Beneran kita bisa jalan sampe jam 8? Waah asyikkk, kita beli baju yuk ka?" ajakku.


"Ayo tuan puteri, kemanapun anda pergi hamba akan antar" ledeknya.


Rasanya jogja begitu bersahabat dengan kami, cuaca senjanya yang masih cerah dan sedap dipandang mata. Suara musisi jalanan yang menambah ramai serta teriakan semangat para pedagang di kanan kiri yang menambah suasana menjadi semakin tak terlupakan.


Angin berderu seolah menyahuti langkah kami yang hampir beradu. Semburat sinar matahari yang hendak kembali ke persinggahannya bak menyampaikan selamat pada jiwa muda kami yang bahagia dibawah sinarnya. Begitu pula kami yang merasa kejadian ini seperti mimpi.


Bahkan rasanya bermimpipun aku tidak berani, kalau harus menempatkan Andreas didalamnya.


Siapa sangka, laki-laki yang paling kubenci dan kutakuti saat awal perkuliahan kami sekarang berubah menjadi sosok yang paling kunantikan kehadirannya.


Secepat itu skenario takdir dimainkan sang pencipta semesta pada hidupku.


Aku berpikir kehidupan awalku sebagai mahasiswa baru akan berjalan membosankan dengan banyaknya tuntutan dan kewajiban. Nyatanya, aku mendapat banyak peran pendukung yang membuat jalan ceritaku tidak membosankan.


"Hey, ngelamun aja... Ayok pulang udah jam 8 kurang dikit nih" teriaknya sambil merangkulku.


Sehari kemudian, penelitianpun selesai....


Sebelum pergi, beliau memanggil Andreas ke kamarnya. Tak lama Andreas kembali dan masuk ke kamarku.


"Nih bagian lu Mar" katanya sambil melemparkan amplop pada kak Maria.


"Wah langsung cair sekarang nih mantap" jawab kak Maria.


Aku baru selesai mandi dan sedang mengeringkan rambutku saat Andreas masuk ke kamar kami.


"Kebiasaan ya malem-malem gini keramas?" gerutunya.


"Hahaha habis bau matahari gak enak" jawabku.


Dia mendekatiku dan mengambil handuk yang mengalung di leherku.


"Sini aku keringin, duduk sana" katanya.


"Weeey mau adegan romantis depan gue nih?" ledek ka Maria.


Aku menahan tangannya dan menolak, karena aku malu dan takut kak Maria akan menilai Andreas berlebihan memperlakukanku.


"Gak usah, aku keringin sendiri aja nanti haha kakak ada perlu apa?" tanyaku.


"Ini ngasih titipan dari pak julius, ini buat kamu kata bapak sketsa sama deskripsi kamu bagus dan jelas cuma kamu perlu belajar lagi pas ngolah data" katanya.


"Hahaha iya, nanti aku belajar sama kakak ya?" kataku sambil mengambil amplop dari tangannya.


"Lu sama Raina mau balik ke Bandung langsung sama kita? Apa mau jalan-jalan dulu?" tanya kak Maria.

__ADS_1


"Iya kita pulang ko ya kan rain?" jawabnya sambil tersenyum kearahku.


"Hmm iya kak kita pulang kok" jawabku.


Sebenarnya saat itu kecewa, aku berharap kita akan tinggal sehari lagi untuk liburan minimal aku mau berkeliling di malioboro dan mengunjungi candi Prambanan.


Tapi, apa boleh buat? Mungkin Andreas memang tidak mau mengajakku jalan-jalan.


Keesokan Paginya....


Kami sudah tiba di stasiun kota dan hendak membeli tiket menuju Bandung.


"Yas, lu lewat mana?" tanya kak Ken.


"Gue anter kalian sampe sini aja ya, gue sama Raina mau jalan dulu" jawabnya sambil tersenyum.


Aku keheranan dan tak merespon apapun.


"Ayo rain, kita jalan-jalan dulu nanti malem baru pulang ke Bandung" ajaknya sambil merangkulku.


Kamipun keluar dari stasiun...


"Kenapa kita gak jadi pulang?" tanyaku.


"Emangnya aku setega itu? Aku kan udah janji kalau penelitiannya selesai dua hari yang satu harinya kita pake liburan" jelasnya.


"Aku udah bilang sama Ayah kamu tiga hari kan? Sayang kalau kita pulang cepet" tambahnya.


Aku memeluknya dari belakang, untuk mengekspresikan rasa senangku saat itu.


"Udah meluknya malu nih banyak orang" ledeknya.


"Eh iya, kak kita ke Prambanan kan? Terus kita ke malioboro menjelang malem bener kan ka?" tanyaku antusias.


"Iya-iya kita ke tempat yang kamu mau ya" jawabnya.


Aku lupa berapa kali aku berterimakasih padanya saat itu, aku hanya bersyukur memiliki pacar yang peka dan mau berusaha untuk menyenangkanku.


Di perjalanan pulang kami menuju Bandung, dia tidak pernah sekalipun berlama-lama melepaskan tangannya dariku. Dia benar-benar menjagaku dengan segenap dirinya.


"Ibu nelpon nih, katanya mau ngomong sama kamu? Gimana kamu udah siap?" tanya Andreas.


"Hah? Dadakan ya? Yaudah deh aku mau... Tapi kalo aku salah ngomong gimana kak?" kataku gelagapan.


"Tenang aja, Ibu gak gigit ko" jawabnya santai.


Obrolan Ibu denganku berlangsung hampir setengah jam lamanya, Ibu menanyakan banyak hal padaku. Maklumlah... katanya ini pengalaman pertama mengobrol dengan pacar dari anak semata wayangnya itu.


Ibu memintaku untuk tetap menyayangi anaknya, Ibu bahkan menjamin bahwa anaknya tidak akan melukai perasaanku. Menurut Ibu, Andreas adalah orang yang baru merasakan jatuh cinta jadi masih sulit ditebak dan dimengerti. Oleh karena itu, Ibu mewanti-wantiku untuk lebih sabar dan memahami Andreas.


Aku juga meyakinkan Ibu saat itu, aku bilang bahwa aku juga akan berusaha sebisaku untuk lebih memahami Andreas daripada yang lainnya.


"Raina, nanti kalau Iyas wisuda dan Ibu main ke Bandung kamu jemput Ibu ke Bandara ya?" pinta Ibu dengan antusiasnya.


"Iya bu, kalau aku masih jadi pacar kak Andreas pasti aku yang jemput Ibu" jawabku.


Andreas tidak mendengarkan percakapan kami saat itu, dia malah enak tertidur sambil mendengarkan musik dari handphoneku.


Sesekali dia melirikku dan tersenyum seolah memastikan bahwa aku aman dan nyaman saat itu. Sesekali juga aku membalas senyumnya dengan sebuah sentuhan hangat di pipi.


"Aku baik-baik aja ko kakak lanjut tidur yang enak gih" kataku...

__ADS_1



__ADS_2