Kuliah Atau Kuli Ah?

Kuliah Atau Kuli Ah?
Cerita dari Andreas II


__ADS_3

Hari itu menjadi hari paling kelabu buatku, hari dimana aku harus melihat orang yang kusayangi terkulai lemah tak berdaya.


Seluruh alat-alat medis menempel di tubuhnya, matanya terpejam seperti sedang tertidur pulas. Mulut indahnya terhalang oleh selang, entah apa itu. Entah untuk apa itu, aku bahkan tidak tahu.


Tangannya tidak lagi menggenggam tanganku, padahal sudah dari sejam yang lalu semenjak dia dipindahkan dari ICU, aku memintanya memegang tanganku seperti kebiasaannya sehari-hari.


Tapi, dia bahkan tidak menuruti keinginanku sekarang. Dia pura-pura tidak mendengarku dan malah melanjutkan tidurnya.


Aku terus menerus memanggil namanya tepat di telinganya, tapi dia bahkan begitu sombong dan tidak mau bangun. Matanya masih saja tertutup rapat, hidungnya kembang kempis tapi tubuhnya tak bergerak.


"Bukannya kamu gak suka bau rumah sakit? Yu, kita pulang" ajakku.


Kukira setelah rayuan itu, dia akan langsung bangun. Nyatanya? Dia masih saja tidur.


"Bukannya kamu mau extention rambut kamu dipasang lagi? Yuk kita ke salon!" kataku lagi-lagi mengajaknya.


Sepertinya dia marah padaku, karena tempo hari memintanya mengembalikan rambut aslinya yang pendek. Padahal, aku tahu bahwa dia sangat senang dengan rambut panjangnya.


Kalau saja aku tahu dia akan marah dan mendiamkanku seperti ini, mungkin aku akan menuruti setiap keinginannya.


Tadi pagi, dia masih mengirimkan pesan padaku tentang kegiatannya pagi itu.


"Recca lagi manja sama aku, masa dia minta aku gak usah ke kampus. Dia nyuruh aku nemenin dia ngegambar" katanya.


Mungkin saat itu Recca punya feeling, atau perasaan apa namanya yang membuat dia khawatir pada kakaknya.


Tapi kenapa aku bahkan tidak memiliki firasat sama sekali? Kenapa bukan aku yang memiliki perasaan itu, kenapa aku tidak pergi menjemputnya ke kampus terlebih dahulu?


Kenapa aku malah dengan enaknya tidur di kosan tanpa memiliki firasat yang dirasakan Recca.


"Aku dijemput Ayah, kakak gak usah jemput" katanya.


Ayah juga punya perasaan itu, beliau mungkin jauh memiliki firasat yang dalam dibandingkan Recca. Hingga Ayah rela menjemputnya ke kampus jauh-jauh...


Tapi, kenapa aku tidak?


Aku malah memilih makan dengan santainya dan menelponnya tanpa berfikir bahwa jalanan tempat dia menyebrang adalah jalanan bekas dia terserempet motor saat itu.


"Iyas, Raina ketabrak mobil. Ini Ayah lagi otw rumah sakit pake ambulans".....


Beberapa kata yang langsung menghancurkan hatiku. Aku memacu mobilku dengan kecepatan tinggi. Menyalahkan diriku sendiri, mengutuk segala yang kulakukan dari pagi hingga siang itu...


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Pasien kehilangan banyak darah, tolong untuk anggota keluarga yang memiliki golongan darah O segera bisa mendonorkan darahnya" kata suster.


Golongan darahku AB, bayangkan betapa lagi-lagi aku menjadi tidak berguna karena tidak bisa melakukan apapun untuk menolongnya.


Hanya bisa melihatnya tertidur lemah dan tak berdaya lewat kaca yang tembus pandang ke ruangan tempat dia dirawat.


Menyaksikan bagaimana khawatirnya wajah Ibu dan Randy melihat orang terkasih mereka diambang bahaya.


Hanifa yang menangis dikursi tunggu, Nunu yang terus-terusan harus ditenangkan Gian dan Arika yang memilih pergi entah kemana lalu dikejar oleh Nirwan.


Dan Dhika, bayanganku yang tidak pernah meninggalkanku sejengkalpun.


"Lu, tenang ya! Dokter pasti melakukan yang terbaik" katanya sambil menepuk bahuku.


"Kalau sampe sesuatu terjadi sama Raina, orang yang pertama gue kutuk di dunia ini adalah gue sendiri. Gue gak akan maafin diri gue dhik".....


"Jangan negatif thinking, Raina ikut kuat! Dia pasti bisa bertahan dan ngelewatin ini semua" kata Dhika.


"Yang gue butuhin sekarang bukan nasihat elu, gue cuma mau Raina bangun dik!!!"


"Gue ngerti yas, gue beneran ngerasain apa yang lu rasain. Gue dan yang lain juga khawatir sama Raina, tapi lu gak boleh nyalahin diri lu. Semua udah terjadi, lu harus tegar! Lu yang paling dia butuhin sekarang. Bayangin saat dia sadar nanti, dia nyariin lu dan kondisi lu berantakan kaya gini" bentak Dhika.


Aku berlari meninggalkannya dan menuju atap rumah sakit. Memukul tembok dengan tanganku sekeras yang aku bisa. Menghentak-hentakkan kakiku ke tanah, membentur-benturkan kepalaku dan mengutuk diriku sendiri.


"Apa yang lu lakuin yas? Jagain satu orang aja lu gak becus? Bahkan saat orang terpenting di hidup lu butuh darah aja, lu gak bisa bantu. Lu gak punya manfaat apapun!"


"Pantes lu kehilangan orang tua lu, karena lu gak pernah bisa jagain semua orang yang dihadirin Tuhan di hidup lu!"


Semua perkataan itu bermunculan di kepalaku. Semua perkataan yang pernah kudengar beberapa tahun yang lalu saat Bapak meninggal.


"Yas, yas, Raina udah dipindahin ke ruang lain. Lu boleh masuk nemuin dia" kata Dhika dalam teleponnya.


Aku berlari menuruni tangga, kembali keruangan tadi dan mencari keberadaan Raina.


"Yas, masuk ya? Ibu sama Ayah barusan udah liat kedalem, tapi Raina belum respon apapun. Mudah-mudahan saat kamu yang masuk, Raina bisa merespon" kata Ibu sambil menahan tangisnya.


Aku masuk ke ruangan dengan hati yang hancur, dengan air mata yang tertahan di ujung mataku. Dengan teriakan yang ingin kekeluarkan, dengan segala emosi yang berkumpul di kepalaku.


.............................................

__ADS_1


.........................................................


"Mungkin, pasien akan sadar dalam beberapa jam kedepan. Tolong panggil suster saat ada tanda-tanda respon dari pasien" kata Dokter.


Aku duduk disebelahnya, melihat matanya yang sayu yang masih saja tertutup.


"Kamu tau, tadinya aku pikir hari ini kamu yang bakalan sedih karena ini hari terakhir aku di Bandung. Tapi, kenapa posisinya terbalik? Kenapa aku yang sedih? Kenapa aku selalu ada di posisi sebagai yang ditinggalkan? Kenapa kamu yang kaya gini? Kenapa gak aku? Banyak yang sayang sama kamu, banyak yang khawatirin kamu... Gak adil rasanya, saat orang sebaik kamu yang harus merasakan sakit begini. Coba kalau aku bisa, mending kita tuker posisi. Rasanya, kalau aku yang sakit. Mungkin cuma kamu aja yang nangis dan sedih. Gak akan ada banyak air mata yang jatuh seperti sekarang"


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Yas, kamu pulang aja dulu. Makan dan istirahat sebentar. Ini udah jam 9 malem, biar Ayah yang nunggu disini" kata Ayah.


"Ayah aja yang pulang, istirahat dan makan dulu. Biar Iyas yang nunggu disini. Iyas pulang juga gak tenang"......


Hanifa dan Dhika kembali kerumah sakit...


"Kak, makan ya? Aku bawain nasi sama lauk, dari siang kan kakak belum makan" kata Hanifa.


"Yas, lu makan lah dulu. Oke gapapa kalau lu gak mau pulang buat istirahat, tapi lu belum makan apapun dari siang" tambah Dhika.


"Iya yas, nanti Raina ngomel loh kalau kamu gak makan" kata Ayah.


Akupun makan didalam ruang rawat Raina....


Berharap dia akan bangun dan memintaku menyuapinya...


"Hey, aku makan ya? Ini juga dipaksa Ayah dan Hanifa, katanya kalau gak makan kamu bakal ngomel. Tapi kayanya mending aku denger kamu ngomel daripada kamu diemin aku kaya sekarang"......


..............................


............................................


"Hey, udah mau habis nih. Kamu yakin gak mau makan? Bukannya kamu selalu ngerecokin tiap aku makan?


...........aku mau sesuap aja kak......


..........kak aku mau lauknya............


.........jangan diabisin.....


"Kak, biar aku sama Nunu yang tungguin Raina. Kakak kan harus terbang jam 10?" kata Arika.


"Yaudah, tapi kakak mending cuci muka dulu biad seger. Aku janji, aku gak akan ninggalin Raina. Aku jagain dia sampe kakak beres" kata Nunu.


Melihat keduanya begitu ingin menungguinya, aku pun mengalah.


Diluar kulihat Nirwan, Gian dan Dhika juga sedang duduk sambil melamun tanpa mengobrol satu sama lain.


Aku duduk diantara mereka, mengeluarkan sesak yang sedari tadi kurasakan.


"Kak, lu mau gua anter pulang dulu? Supaya lu bisa mandi dan ganti baju?" tanya Gian.


"Gak usah gi, gue mau disini aja. Lu bisa tolong gak ke kosan, gue ragu tadi gue ngunci pintu apa enggak pas mau otw kesini" kataku.


"Oke kak, gue ke kosan lu sekarang. Wan, lu temenin gue yu? Pake motor kita biar cepet" ajak Gian pada Nirwan.


"Yaudah, gue sama Gian cabut dulu ya?" pamit Nirwan.


Dhika mencari Hanifa yang menghilang entah kemana, sementara Ayah terlihat berjalan menuju administrasi.


Aku mengejar Ayah dan mendapati total biaya untuk perawatan Raina sudah mencapai 10 juta lebih.


"Ini yah, biar Iyas yang bayar" kataku.


"Tidak usah yas, kamu sama Raina belum menikah berarti Raina masih tanggung jawab Ayah. Biaya hidupnya sepersenpun belum menjadi kewajiban bagi kamu. Setelah nanti anak Ayah menikah, barulah Ayah lepas tanggung jawab" jelas Ayah.


Semakin saja aku mencintai keluarga ini, keluarga yang benar-benar membentuk diriku menjadi lebih peka dan penyayang.


"Yaudah yah, kita bagi dua ya? Setidaknya, Iyas bisa bantu meringankan beban Ayah" kataku.


"Sedikitpun, Ayah tidak pernah merasa terbebani. Sudah dua semester ini, Raina tidak minta uang kuliah pada Ayah. Mungkin inilah penggantinya, uang kuliah Raina bisa Ayah bayarkan untuk perawatannya" jelas Ayah.


"Maksud Ayah?" tanyaku.


"Raina memang gak cerita sama kamu? Sudah dua semester ini, tiap Ayah mau membayar uang kuliahnya. Dia selalu mengembalikan uangnya pada Ayah, dengan alasan sudah dibayarkan dari hasilnya jualan sama Hanifa atau dikasih uang sama Iyas. Kadang Ayah marah, karena anak Ayah terlalu memaksakan diri" jelas Ayah.


....................................


..........


Raina sudah dua semester ini membiayai kuliahnya sendiri? Bahkan dia bilang pada Ayah, bahwa aku ikut memberinya bantuan uang...


"Kapan kamu minta uang kuliah? Kapan aku ngasih uang tambahan buat bayar uang kuliah kamu?"

__ADS_1


Kamu lebih hebat dari aku dek...


Kamu bahkan bisa biayain uang kuliah kamu sendiri selama dua semester....


Apa sih kekurangan kamu?


Ngomel? Cerewet? Pencemburu?


Menurutku itu justru kelebihannya....


Bagaimana mungkin ada seorang wanita yang sangat cantik, pintar dan populer sepertinya mau berpacaran denganku?


Mahasiswa pendatang yang bahkan tidak bisa mengimbangi kecantikannya.


Dia selalu bilang bahwa dia beruntung memilikiku.....


Pada kenyataannya, akulah yang beruntung memilikinya....


Memiliki seluruh perhatiannya, rasa cemburunya dan semua waktu senggangnya.


"Yaudah, lebih baik kamu simpan uang itu untuk kalian berdua liburan nanti setelah Raina sembuh. Bahagiain anak sulung Ayah, tolong jangan sakitin dia! Bagi Ayah, Raina adalah titipan dari Tuhan yang paling indah. Ayah tahu, sekarang mungkin kamu lebih penting buat dia dibanding Ayah. Makanya Ayah mau, saat sadar nanti orang pertama yang dia lihat adalah kamu" jelas Ayah sambil menyeka air matanya.


Aku termenung, menahan air mataku dan mencoba menguatkan Ayah.


"Mungkin kalau Bapak masih ada, dan aku yang ada di posisi Raina.. Pasti Bapak sama khawatirnya dengan Ayah...."


"Yah, pulang aja dulu. Aku anterin Ayah kerumah ya? Biar disini Raina dijagain temen-temennya dulu. Ayah tidur aja dirumah, biar Iyas yang standby disini" kataku.


Ayah mengangguk tanda setuju...


Aku pamit sebentar pada Dhika dan Hanifa yang sedang duduk diluar ruang rawat Raina...


"Gue anterin dulu Ayah pulang, nanti gue balik lagi. Lu kabarin gue ya kalau ada apa-apa" kataku.


"Iya yas, lu hati-hati. Apa gak gue aja yang ikut nanti biar gue yang nyetir" kata Dhika.


"Iya kak, kakak ikut aja nanti kakak yang nyetir jangan kak Iyas" sahut Hanifa.


"Yaudah ayo" kataku.


Saat itu, aku tidak khawatir sama sekali meski harus meninggalkan Raina sebentar.


Ada tiga sahabat terbaiknya yang berada didekatnya, tiga orang yang bahkan tidak beranjak sama sekali dari rumah sakit sejak siang tadi. Tiga orang yang matanya sudah bengkak karena menangisi sahabatnya yang sakit.


Aku bahkan kadang iri, melihat betapa Raina sangat dicintai oleh mereka. Persahabatan mereka bukan main-main.


Mereka merasa saling memiliki satu sama lain.


Mereka seperti sebuah bangunan, saat yang satu rusak dan roboh maka yang lain akan ikut runtuh juga.


"Lu jangan khawatir, gak ada orang terbaik yang bisa jagain Raina selain Hanifa. Mereka berdua udah kaya gue sama lu, seperti bayangan satu sama lain" kata Dhika.


....................................


................................................


Sesampainya dirumah....


Ibu memanggilku dan memintaku membawa bekal pakaian untuk Raina.


"Kalau dia sadar, pasti dia minta bajunya diganti. Raina gak suka baju pasien nanti pasti dia rewel" kata Ibu.


Aku memeluk Ibu, menangis sejadinya dalam pelukannya.


"Maaf bu, Iyas bahkan gak bisa jagain Raina".....


Ibu bilang ini semua takdir Tuhan, bukan kesalahanku atau kesalahan siapapun.


"Tuhan kasih Raina cobaan ini, karena Tuhan tahu Raina kuat. Ibu gak pernah meragukan kekuatan anak Ibu yas, kamu juga gak boleh ngeremehin Raina. Kamu yang paling dibutuhin Raina. Ibu yakin, saat dia bangun nanti pasti dia akan langsung nyari kamu" kata Ibu.


"Sekarang mendingan kamu mandi dulu, ada kaos kamu satu kan di lemari Raina? ambil dan pake gih" tambah Ibu.


"Yaudah bu, Iyas mau ikut mandi. Tolong bilangin sama Dhika dibawah ya? suruh tungguin Iyas" kataku.


Kamar ini, rasanya sama hangatnya dengan kamarku.


Aku rindu pemiliknya yang selalu duduk di ujung ranjangnya dan tersenyum manis kearahku.


Meja belajarnya yang berantakan karena tumpukan buku yang disimpan seenaknya itu, membuatku semakin merindukannya.


"Liat deh, kamar aku gak lebih rapi kan dari kamar kakak? jangan illfeel ya sama aku?" kata-katanya tiba-tiba saja terngiang di telingaku.


..................


...............................


"Kamu liat kan dek, belum sehari kamu diemin aku. Aku udah segini menderitanya.... Pokoknya pas aku balik kerumah sakit, kamu harus udah bangun yak?"

__ADS_1


__ADS_2