Kuliah Atau Kuli Ah?

Kuliah Atau Kuli Ah?
Tidak mau kalah?


__ADS_3

"Kak, temenin aku ke Bandara yu? Jemput Kak Iyas sama keluarganya???" ajakku pada Kak Dhika yang sedang bercanda gurau dengan Hanifa.


"Wah iya ya besok Andreas pulang? Gak kerasa ya udah sebulan lagi aja?" katanya.


"Bukan pulang, dia ke Bandung sih cuma singgah" jawabku


Ekspresiku sulit kusembunyikan, aku benar-benar sensitif saat itu.


"Na, jangan sedih gitu dong? Kan mau ketemu calon mertua." ledek Hanifa


"Kamu emang gak sedih? Bukannya kak Dhika juga wisuda bareng kak Iyas?" tanyaku.


"Iyasih, kita juga bakal pisah tapi Bandung Jakarta kan gak sejauh Bandung Palembang dek?" ledek kak Dhika.


Aku semakin terpuruk mendengar candaan kak Dhika, rasanya seperti tidak karuan dan sulit dijelaskan.


"Ih kak Dhika apaan sih bercandanya gak lucu bukannya simpati sama Raina" bela Hanifa.


"Bercanda dek, yaudah besok aku anter kebetulan ada mobil si Dhoni juga ko bisalah dipinjem" jelasnya.


"Hmm mobil aku juga bisa dipake kan rain? Keluarganya berapa orang?" tanya Hanifa.


"Katanya sih cuma Ibu, om, tante sama ponakannya yang dateng paling 5 orangan" jawabku.


"Nah paslah pake mobil Dhoni sama Hanifa aja, nanti darisana Andreas suruh nyetir punya Dhoni"jelasnya.


[8/2 18:47] Na: Malam harinya....


Hanifa menelponku tiba-tiba dan menceritakan kekhawatirannya juga.


"Rain, kamu pasti masih kepikiran soal wisuda kak Andreas kan?" tanyanya.


"Iyalah fa, gimana engga coba... Banyak kasus kan pas wisuda cowoknya, dia mutusin ceweknya karena mereka gak mau LDRan dan malah bilang maunya kita fokus dululah sama belajar sampe sukseslah... Pokonya aku beneran kepikiran deh" jawabku.


"Sama tau aku juga sebenernya kepikiran, tapi ya aku selalu positif thinking karena aku pikir Jakarta Bandung deketlah" jawabnya.


"Mau sedeket apapun jarak Jakarta Bandung, tetep aja kalian itungannya LDRan karena gak bisa setiap hari ketemu kaya sekarang" jawabku.


"Iya sih, terus gimana dong? Kalau kita diputusin?" tanya Hanifa lemas.


"Yaudah, senasib kita jadi jomblo" jawabku....


Keesokan paginya di bandara....


Hanifa dan Kak Dhika ikut menjemput kak Andreas denganku...


"Dek, telpon gih takutnya dia keluar dari beda gerbang" kata kak Dhika.


"Iya kak" jawabku.


Akupun segera menelpon kak Andreas.


"Halo, kakak dimana? Aku di gate 2" kataku.


"Balik badan deh" jawabnya.


Akupun menutup telponnya dan segera membalikkan badanku.


Rasanya campur aduk, saat melihat Andreas lagi didepanku. Dia dengan tas gendongnya, melambaikan tangan dan tersenyum kearahku.


Saat itu, kalau tidak ada Ibu mungkin aku akan berlari kearahnya. Memeluknya dan menggerutu karena saking rindunya. Tapi, Ibu mungkin akan illfeel jika aku begitu.


"Woyyy mabro, pakabar lu?" tanya kak dhika sambil merangkul sahabatnya itu.


"Baik, thanks ya udah jemput" jawabnya.


Aku sebenarnya kesal, lagi-lagi posisiku digeser oleh kak Dhika.


Aku kira dia akan langsung berinteraksi denganku saat itu, nyatanya dia malah lebih tertarik memeluk sahabatnya.


"Halo bu, apa kabar?" tanya kak Dhika sambil mencium tangan Ibu.


Aku masih saja terdiam dan tidak tahu harus berbuat apa.


"Kamu kurusan?" katanya sambil tiba-tiba memegang kedua pipiku.


"Iyalah kurusan, tiap hari nahan kangen" ledek Hanifa.


Dia hanya tertawa dan mengelus rambutku.


"Bu, ini Raina haha yang katanya mau banget ketemu sama Ibu" katanya.


"Cantik banget loh aslinya, pantes ya kamu segitu khawatirnya ninggalin dia di Bandung" kata Ibu sambil memegang tangangku.


"Bu apakabar? Akhirnya kita ketemu ya?" kataku.


"Baik raina, Ibu seneng loh bisa dijemput kamu disini" jawab Ibu.


"Iya bu, raina juga seneng" jawabku.


"Abis ini lu kemana yas?" tanya kak Dhika.


"ke kosan paling, soalnya Ibu gak mau nginep di hotel sendirian katanya takut. Om sama tante gue juga baru bisa otw nanti sore soalnya ada urusan dulu" jawabnya.


"Ibu kenapa gak mau nginep di hotel? Kan di kosan kakak sempit, belum lagi gak bisa enak nanti istirahatnya" kataku.


"Gak mau ah, nanti Ibu sendirian disana kecuali Raina mau nemenin Ibu nginep?" jawab Ibu.


"Tuh, mau gak diajakin nginep bareng?" tanyanya sambil melirikku.


"Mau ko bu, tapi Raina harus izin dulu sama Ibu dirumah" jawabku.


"Yaudah, nanti kamu telpon Ibu kamu dijalan ya kalau diizinin nemenin Ibu baru mau nginep di hotel" kata Ibu.


Aku mengajak kak Dhika dan Hanifa untuk ikut makan bersama kami, tapi mereka ada jadwal fitting baju wisuda. Akhirnya kami berpisah di parkiran dan aku, Andreas serta Ibunya memutuskan untuk mencari restaurant yang sudah buka pagi itu.


"Lu pake aja mobil dhoni, katanya sehari ini bebas. Biar lu gak usah nyewa juga" kata kak dhika sambil memberikan kunci mobil kak Dhoni.


"Sekali lagi makasih ya dhik" jawabnya.

__ADS_1


"Ibu mau duduk didepan apa dibelakang?" tanyaku.


"Ibu dibelakang aja sayang, kalau didepan takut kalian gak bisa kangen-kangenan" jawab Ibu.


Andreas hanya tertawa sambil melirikku.


Selama perjalanan....


"Kita ke mana ya?" tanyanya.


"ke dago atas aja, kayanya Ibu bakalan suka kesana" jawabku.


"Tuh bu, raina hafal loh Ibu suka hal-hal berbau alam" katanya.


"Iya, calon mantu Ibu terbaik emang" kata Ibu sambil tersenyum.


"Eh kamu dari tadi ngomong sama aku, tapi gak mau liat mata aku sama sekali.. Kenapa?" tanyanya.


"Ga ah, orang aku liatin kakak juga ko dari tadi kakak aja yang gak ngerasa" jawabku.


"Maklum lah yas, kalian kan udah lama gak ketemu jadi wajar kalo Raina canggung. Untung aja dia gak nangis pas kalian ketemu lagi tadi" jelas Ibu.


Aku sebenarnya memang menahan tangisanku sejak tadi, alasannya karena aku tidak mau dia merasa berat saat harus meninggalkanku lagi nanti.


"Kamu gak usah sedih lagi, aku kan udah didepan kamu sekarang" katanya sambil memegang tanganku.


Ibu melirik tingkah laku anaknya itu, beliau terlihat sangat bahagia saat anaknya juga tersenyum.


Aku segera menelpon Ibu dan meminta izin padanya untuk menemani Ibunya Andreas di hotel, Ibu mengizinkanku dan malah memintaku mengenalkan beliau padanya.


"Ya bu nanti kenalan di telpon ya?" kataku.


Kamipun sampai di restaurant....


"Bu, mau pesen apa?" tanyaku.


"Ibu mau makan soto bandung sama teh anget" jawabnya.


Jelas keluarga Andreas bukanlah keluarga sederhana, Ibu bahkan punya bisnis kelapa sawit dan hasil kebun lainnya. Tapi, selera makan Ibu begitu sederhana pun diikuti dengan cara berpakaiannya yang tidak mencolok namun rapi dan enak dilihat itu.


"Kakak makan apa?" tanyaku.


"Terserah kamu" jawabnya sambil tersenyum.


Melihat Ibu dan ka Andreas makan di hadapanku sekarang, membuatku merasakan ketenangan. Aku senang bisa bertemu keduanya dalam hidupku.


"Dek, kamu gak makan?" tanyanya.


"Aku tadi udah sarapan sama kak Dhika sama Hanifa, makan nasi kuning depan kampus" jawabku.


"Kita nginep jadinya yas?" tanya Ibu.


"Hotel ya? Dimana ya yang deket ke kampus?" tanyanya.


"di Ladera paling kak, aku ada nomor telponnya sih coba aja ya siapa tau masih ada kamar kosong soalnya musim wisuda gini suka penuh" jawabku.


"Gapapa bu" jawabku.


Akhirnya akupun berhasil membooking satu kamar vip di hotel dekat kampus itu. Bukan apa-apa, takutnya Om dan Tante kak Andreas menyusul sebelum malam hari ke Bandung.


Andreas menyuapiku tiba-tiba, lalu mengelus rambutku seperti sedang merawat anak kucing liar.


"Ih, malu tau depan Ibu" keluhku.


"Abis gimana ya, aku heran deh kamu kurus banget sih gak ketemu sebulan aja" katanya.


"Iya rain, di foto kamu gak sekurus ini loh kayanya" kata Ibu.


"Iya bu, raina emang turun 2kg bulan ini. Soalnya kan sibuk di bem sama kuliah juga" jawabku.


"Intinya kamu kurang makan" gerutu Andreas.


Dalam hatiku aku bilang "iyalah aku kurang makan, orang gak ada yang ngajak makan keluar selama sebulan ini"....


Sesampainya di hotel....


Ibu langsung beristirahat dan meminta kami untuk membongkar isi koper yang kata beliau berisi oleh-oleh untukku dan teman-teman kampus.


"Ada paperbag biru didalem, itu buat kamu tolong langsung cobain ya takutnya Iyas salah pilih size" kata Ibu sebelum masuk ke kamar tidurnya.


Aku membiarkan dia membuka kopernya sendiri karena takut tidak sopan kalau aku ikut-ikutan.


"Hey, perasaan ibu suruh kita berdua deh ngebongkar koper. Kenapa kamu malah diem?" gerutunya.


"Kakak aja dulu, aku gak berani" jawabku.


"Ini beneran isinya oleh-oleh doang ko, kenapa mesti sungkan?"tanyanya.


Akupun akhirnya ikut membongkar koper, sambil duduk bersila disebelah Andreas.


Dia malah memelukku saat itu. Pelukan yang sangat lama...


"Kak, nanti diliat Ibu malu loh" kataku.


"Gapapa, aku kangen aja udah sebulan gak meluk kamu" jawabnya.


Aku membalas pelukannya dan sesekali mengelus punggungnya.


"Tiap hari aku kangen tau sama kakak" kataku.


"Apalagi aku? Nihyah aku udah kangen ditambah gak enak hati terus tiap harinya aku baca curhatan anak organisasi tuh angkatannya si Reka yang selalu aja ngomongin kamu. Katanya mereka semangatlah karena ada raina cs yang cantik, inilah itulah" katanya


"Hahaha emang angkatannya kak reka banyak yang gak tau ya soal kita?" tanyaku.


"Harusnya sih tau, setelah aku pasang foto profil sama kamu" jawabnya.


Diapun melepaskan pelukannya, kali ini entah kenapa aku malah menangis.


"Tiap hari aku malah berharap hari wisuda kakak gak usah ada" kataku.

__ADS_1


"Loh kenapa?" tanyanya heran.


"Karena itu tandanya kakak gak akan ada dikampus lagi, gak akan bisa ketemu aku tiap hari, aku gak bisa liat kakak juga" jelasku.


"Dek....


Belum sempat dia menjawab, aku sudah menyela perkataannya.


"Aku tau kakak selalu bilang kalau kita bakalan lanjut, kita LDRan gak masalah, kakak bakal nyamperin aku tiap sebulan sekali. Tapi perasaan aku gak pernah enak, gak pernah nyaman. Aku beneran takut kakak putusin aku, kakak nyuruh aku fokus belajarlah sampe kita sama-sama sukseslah... Kakak bakal kaya gitu kan?" kataku.


Dia malah tertawa, seolah menganggap perkataanku ini hanya omong kosong.


"Ih aku serius, kenapa kakak ketawa sih?" tanyaku.


"Dek, aku kan udah janji aku gak akan berubah. Gimanapun nantinya, aku gak akan ninggalin kamu. Aku juga pasti bakalan ke bandung jengukin kamu" katanya.


"Tetep aja itu baru janji" kataku.


Setelah lama membongkar koper, akupun menemukan paperbag biru yang dimaksud Ibu.


"Nah nih yang Ibu maksud" kataku sambil membukanya.


Aku kaget saat melihat isinya, ternyata itu adalah seragam kebaya untuk wisuda Andreas besok.


"Kak, ini Ibu jait sendiri? Atau kakak beli?" tanyaku.


"Ibu pilih motifnya terus aku yang pilihin ukurannya" jawabnya.


"Hmm kita buktiin ya pas atau ngga kakak milih ukuran buat aku?" kataku.


"Silahkan, coba aja! Aku yakin pas ko" jawabnya percaya diri.


"Seyakin itu?" ledekku


"Yakinlah, nih ya berapa kali aku meluk kamu? Gak keitung kan? Nah masa iya aku gak tau ukuran badan kamu" jelasnya.


Setelah aku mencobanya, benar saja ukurannya pas.


"Tuhkan cantik" katanya sambil melihat cermin tempatku berdiri.


"Bolehlah" kataku.


Lagi-lagi aku memeluknya, kali ini dari belakang. Tepat saat dia membalikan badannya untuk membelakangiku.


Rasanya aku mau hari ini menjadi hari-hari kami berikutnya juga. Aku mau setiap harinya ada dia...


Aku mau setiap harinya dapat menatap wajah dan mendengar suaranya dari dekat...


"Segitu kangennya?" tanyanya.


"Iya" jawabku.


Kamipun pamit sebentar pada Ibu untuk menyimpan barang sekaligus mengambil baju ganti Andreas ke kosannya. Ibu hanya bilang "jangan lama-lama ya ninggalin Ibu"...


"Kak, kakak mau anterin mobil sekalian ke kak Dhoni?" tanyaku


"Iyalah, nanti darisana palingan kita pake motor aku" jawabnya


"Hmmm, terus kalau Om sama Tante kakak dateng dan minta dijemput gimana?" tanyaku


"Ya paling pake taksi online, apa nyewa mobil aja ya?" tanyanya.


"Terserah, sewa juga enak sih biar besok pas berangkat ke gedung gak usah ribet lagi" jelasku.


"Yaudah, nanti kita sewa di rentcar deket kosan aku aja ya? Oh ya kamu gak mau ambil baju ganti?" tanyanya.


"Aku bawa ko, aku titip di kosan Nunu soalnya aku takut kalau aku harus nginep juga malam ini" jawabku.


"Prepare juga ya kamu?" ledeknya


Jarak dari hotel tempat Ibu menginap dan kosan Andreas tak sampai 10 menit.


Sesampainya di kosan, aku langsung membantunya membereskan barang. Mengepak bajunya dan beberapa buku yang masih digunakan.


"Kakak pindahan juga besok?" tanyaku.


"Enggalah, engga besok juga paling semingguan ini aku di Bandung dulu soalnya kan harus urus surat itu ini" jawabnya.


"Yaudah aku beresin sebagian dulu deh ya biar kakak gak ribet banget nanti" kataku.


"Jangan lah nanti aja biar sekalian" jawabnya.


Aku berniat mengambil tumpukan dus bekas diatas lemari Andreas, tapi tanpa sengaja saat berjinjit tumpukannya jatuh dan menimpa kepalaku.


"Ayoloh, makanya jangan maksain kalau gak nyampe" katanya sambil melihat kepalaku.


"Itu buku sama dusnya beresin dulu, aku mah gapapa" kataku.


"Justru bukunya biarin aja berantakan, kepala sama rambut kamu jadi kotor kan.. Sakit gak?" tanyanya.


"Aku jadi berasa punya pacar lagi deh" kataku setelah menyadari bahwa belum sehari saja bertemu Andreas sangat memperhatikanku.


"Pasti susah ya sebulan kemarin? Aku denger dari Dhika juga Kayi sama Rani makin gila aja ngomongin kamu, belum Reka yang nuntut kamu selalu ikut dia rapat... Belum tugas-tugas kamu" katanya.


"Iyasih, berat banget emang. Apalagi gak ada kakak saat itu, rasanya tiap hari aku selalu ngeluh" jawabku.


"Nanti, aku bakal gak ada lebih lama dari ini. Aku mau kamu belajar lebih dewasa, lebih kuat dan lebih sabar. Inget, aku selalu doain kamu dimanapun aku berada. Aku selalu pingin kamu jadi yang terbaik, bukan cuma yang terbaik buat orang lain tapi yang terbaik buat diri kamu sendiri" katanya.


Saat itu yang terlintas dipikiranku hanya rasa terimakasih dan bersyukur...


Bagaimana bisa seorang mahasiswa yang biasa aja sepertiku, mendapatkan pacar lelaki seperti Andreas. Dengan banyak pengagum dan penggemar fanatiknya ini...


"Udah yu ah ke hotel lagi, kasian Ibu nungguin" ajakku.


"Tunggu deh, emang kamu gak mau ngapain dulu sama aku? Mumpung gak ada Ibu loh" katanya.


"Kakak kesurupan apasih hari ini? Berubah banget tau gak, biasanya juga gak romantis" kataku.


"Aku gak mau kalah sama Gian" jawabnya sambil memalingkan wajah.

__ADS_1


__ADS_2