
Hari pengabdian ke desa...
"Subang jauh ya? Panas kan?" tanya Hanifa.
"Iyalah kan pantura, tapi tergantung kita kebagiannya dimana" jawabku.
"Emang beda-beda na?" tanya Nunu.
"Beda tau, ada yang di deket pemandian air panas sama yang di compreng" kata Arika.
"Lah enak dong yang kebagian di ciater, kita kebagian dimana ya?" tanya Hanifa.
"Na, tanyain Gian dong terus minta dia juga kalo bisa nempatin kita di ciater hehe" kata Nunu.
"Iya nanti aku ngobrol sama dia, sekarang dia lagi sibuk ngurusin mobil sama HT" jawabku.
Setelah pematerian singkat dan penjelasan tentang kegiatan umum pengabdian pada masyarakat selesai, kami dikumpulkan di lapangan untuk kemudian dibagi menjadi beberapa tim.
"Tim 1 dengan tugas penghijauan dan keindahan, anggotanya......... wilayah pengabdian di desa Ciater"
Satu persatu tim dipanggil dan timku belum juga dipanggil. Seingatku sudah ada empat tim yang kebagian tugas pengabdian di Desa Compreng. Jadi harusnya sisa 1 tim lagi untuk wilayah Desa Ciater.
Benar saja, timku yang berisi aku Hanifa Arika Nunu Nirwan dan tiga adik tingkatku kebagian mengabdi di Ciater.
"Wan, si Gian kebagian dimana?" tanyaku.
"Dia kan ketua, dia mah bisa milih mau dimana tapi harus diskusi dulu sama wakilnya" jawab Nirwan.
Aku berharap sih Gian ada di Ciater, karena aku sudah menyiapkan sesuatu untuk Gian. Aku harus segera berterimakasih dan meminta maaf pada Gian kalau-kalau aku pernah membuatnya berharap dan sakit hati.
"Gian di Ciater na, percaya deh sama aku" kata Hanifa berbisik.
"Beneran fa?" tanyaku.
"Kita liat aja nanti, dia gak mungkin ninggalin kamu" jawabnya.
Setelah mobil minibus yang akan kami tumpangi datang, kamipun menaiki mobil tersebut untuk kemudian bersiap pergi.
Semua timku sudah masuk, tapi pak sopir bilang dia masih menunggu satu orang lagi.
"Pak ayok berangkat!" kata Hanifa.
"Sebentar neng, saya disuruh nunggu satu orang lagi tadi katanya mau ikut di mobil ini" jawab sopir tersebut.
"Siapa wan?" tanyaku pada Nirwan.
"Mana aku tau, dosen kali" jawabnya.
"Bukan a bukan dosen, ketua pelaksananya kalau gak salah" jawab pak sopir
__ADS_1
"Gian!!!" teriak kami bersama sambil disambut dengan kedatangan Gian yang langsung duduk disamping supir.
"Lu disini bro?" tanya Nirwan.
"Iya gue sih gimana hasil kocokan aja, eh gue dapet bis 7 sama kalian ternyata" jelasnya.
Satu anak maru perempuan yang setim dengan kami, terlihat sangat senang saat Gian ada di mobil yang sama dengannya. Kalau boleh kutebak, mungkin dia ini fansnya Gian.
"Kamu di Ciater dong?" tanyaku.
"Iya na, si Sandy yang di Compreng soalnya dia orang sana juga" jawabnya.
"Oh bagus deh" jawabku.
"Bagus gimana?" tanyanya heran.
"Ya bagus aja, jadi ada yang seneng" jawabku sambil melirik wajah maru perempuan itu.
Sesampainya di desa...
Aku suka sekali suasananya, udaranya sejuk dan asri. Pepohonan yang tinggi menjulang berjejer rapi dimana-mana. Pohon mangga yang ranum seolah menggoda untuk segera dipetik. Jalanan yang masih agak berbatu terlihat khas desa sekali.
"Kita nginep dimana?" tanyaku.
"Ada homestay ko, kita kan 4 tim disini jadi dibagi ke beberapa rumah juga kayanya" jelas Gian.
"Abis ini ada penyambutan kan gi?" tanya Arika.
"Bawaaa" jawab kami serentak.
Tas gendongku agak berat saat itu, aku jadi harus tergopoh-gopoh mengangkutnya di pundakku.
"Berat banget ya? Tumben gak bawa dua tas?" tanya Gian sambil menggendong tasku.
"Eh jangan gak usah, aku bisa ko" kataku.
"Gak apa-apa, ayo jalan. Kamu belum jawab pertanyaan aku loh Rain" katanya.
"Eh iya, haha aku bawa tas 1 supaya gak ribet doang sih. Tapi aku juga bawa gendong kecil buat tracking atau kalau kita ada jalan agak jauh" jawabku.
"Baguslah" jawabnya sambil tersenyum.
"Makasih ya" kataku membalas senyumnya.
Sesampainya di homestay, aku memilih merapikan ruangan yang akan kami jadikan kamar dengan buru-buru mengambil sapu.
"Makan dulu sana, biar aku yang bersihin" kata Gian menghentikan tanganku.
Aku semakin merasa bersalah, entah kenapa dalam hatiku rasanya aku ingin segera bilang pada Gian bahwa jangan membuat harapan terlalu besar untukku.
__ADS_1
"Gian, nanti malem habis kegiatan boleh gak anter aku sebentar aja" kataku.
"Anter kemana?" tanyanya.
"Aku mau ngambil foto citylight dari deket pemandian air panas kayanya bagus" jawabku berbohong.
Padahal tujuan utamaku untuk berbicara secara empat mata dengannya.
"Bisa ko, nanti kabarin aja ya kalau aku lagi gak ada di homestay" jawabnya.
Aku menyukaimu yang menyukaiku..
Aku senang melihatmu berusaha membuatku senang...
Aku sedih saat kamu sedih melihatku bersedih...
Aku juga kecewa saat harus mengecewakanmu...
Kamu seperti tameng buatku..
Kokoh dan kuat...
Menahan segala arus yang mencoba melawanku...
Kamu bahkan lebih cepat dari kilatan petir...
Karena selalu ada saat kesulitan muncul padaku...
Aku harap kamu menganggapku sahabatmu...
Tapi kamu tidak begitu...
Kamu memunculkan harapan lebih di hatimu buatku..
Membuat aku merasa bersalah dan kalah...
Aku tidak mau jaga jarak darimu..
Jelas kamu bagian dalam kehidupan kuliahku sekarang...
Tapi ada hati yang harus kujaga...
Yaitu dia yang benar-benar menyayangiku pun aku yang menyayanginya..
Bahkan dia yang mati-matian mengejarmu juga...
Aku mau kita berteman, bersahabat semakin dekat...
Jangan ada perasaan lebih apalagi ingin memiliki satu sama lain...
__ADS_1
Aku ini sahabatmuuu... Hanya sahabatmu... Dan akan terus begitu....