Kuliah Atau Kuli Ah?

Kuliah Atau Kuli Ah?
Peraduan


__ADS_3

***Aku mengadu pada ombak yang berderu...


Menceritakan keluh kesah tentangmu...


Meminta mereka menemaniku...


Hingga aku larut dalam haru yang menggebu...


Aku tahu kita sedang berjarak...


Rasanya kini tak mampu aku bergerak...


Menahan segala rasa yang bergejolak...


Ketakutan demi ketakutan yang memuncak...


Saat aku sakit, kamu ada disampingku...


Menunggu sadarku selalu jadi tugasmu...


Katamu itu kewajibanmu....


Menjaga dan menemaniku...


Sekarang aku ingin melakukan hal yang sama...


Memperlakukanmu seperti seharusnya...


Merawatmu hingga selamanya...


Menunggumu hingga semua baik-baik saja...


Kata ombak, aku sedang rindu...


Kata pasir, aku sedang cemburu...


Sebenarnya apa yang mengganggu pikiranku?


Rasa rinduku ataukah kebohonganmu***?


............


.....................


Pantai Kuta memang lebih cantik dari yang kukira. Semburat cahaya jingga menyeruak ke seluruh penjuru langit. Membuat mahakarya lukisan alam paling manis.


Aku ingin saat itu ada Kak Iyas disampingku. Menggenggam tanganku dan memelukku dari belakang. Seperti yang kami lakukan saat berlibur di Pantai terakhir kalinya.


Sunset kali ini terkesan sederhana. Hanya ada aku dan Hanifa yang menikmatinya dari tempat duduk restaurant tepi pantai. Sesekali kami hanya memandang satu sama lain sambil tersenyum. Menyadari kerinduan kami pada mereka yang jauh disana.


"Sedih ya? Sendirian doang kita" kata Hanifa.


Aku membalasnya dengan senyuman. Menandakan bahwa akupun merasakan hal yang sama.


"Ke sana yu ah, ambil foto" ajaknya.


Kami berjalan bertelanjang kaki, memburu magic hour. Berlarian melewati kerumunan. Mencari kebahagiaan sendiri dengan bermodal kamera di tangan. Rasanya aku diberi kehidupan lagi sesaat setelah aku memegang kameraku.


Lamunan yang terus menerus mengganggu sedari tadi lenyap. Aku benar-benar menantikan saat ini datang di hidupku. Saat dimana Tuhan rasanya begitu dekat. Menyapaku lewat celah-celah cahaya dari matahari yang hampir pamit ke peraduannya.


Setelah mendapatkan kesempatan kedua untuk hidup normal setelah kecelakaan parah, bagiku waktu rasanya sangat mahal.


Banyak ketakutan yang muncul di benakku. Tentang bisa atau tidaknya aku berkeliling ke banyak tanah yang ingin aku kunjungi. Menapaki jejak-jejak langkahku. Mengabadikan setiap detiknya dengan lensa dan menjadikannya pelajaran hidup.


Aku takut aku tidak punya lagi kesempatan. Bukannya kata orang, kesempatan tidak datang dua kali.


Dapat hidup dan kembali menjadi diriku lagi adalah anugerah terbesar dari Tuhan. Belum lagi memiliki Andreas. Rasanya, Tuhan terlalu baik padaku.


Sekarangpun, aku masih bisa datang ke tempat impianku. Apalagi yang bisa kupinta? Semua mimpiku hampir selalu dikabulkan oleh-Nya.


"Rain, aku disana ya ambil fotonya?" kata Hanifa sambil menunjuk kearah Pak Nanda yang sedang berfoto ria.


"Iya, aku disini aja ah" jawabku.


Aku duduk diatas pasir putih. Menarik nafasku dalam-dalam. Mengambil beberapa foto dan terbayang sesuatu.


"Ah kayanya lucu deh aku buat tulisan gitu terus aku foto deh pas latarnya sunset gini" pikirku.


Belum sempat menulis, ponselku berbunyi. Kak Dhika menelponku lagi.


"Iyas harus di operasi kayanya dek, tadi soalnya dokter bilang mengarah kesana" katanya.


"Terus gimana? Dia dirumah sakit ditemenin Randy kan?" tanyaku.


"Iya ada Ibu sama Ayah kamu juga ko. Cuma ya dia tetep minta keluarga kamu gak usah ngabarin kamu" jawabnya.


"Kak ih temen kakak kenapa sih? Aku kan pacarnya, aku berhak tahu dong dia kenapa. Kesel dengernya kaya ngeremehin aku tau gak? Terus dia kapan operasinya?" tanyaku sambil menggerutu.


"Belum ada jadwal, kan harus ada tahapannya dulu. Yaudah jangan marah, dia kan kaya gitu karena gak mau liburan kamu keganggu" jawabnya.


Dalam hati aku bergumam. Menanyakan apa yang harus kulakukan sekarang? Memaksa pulang jelas tidak bisa. Menelpon Kak Iyas juga tidak akan menyelesaikan masalah. Dia akan tetap bersikeras merahasiakan kondisinya padaku.


Akhirnya, aku kehilangan moodku yang baru saja kubangun dengan susah payahnya.


Dengan lemas aku kembali ke restaurant dan mencoba berbaur dengan teman-temanku yang lain. Mereka sedang sibuk melihat-lihat hasil foto dari tim dokumentasi. Sesekali mereka akan bercanda dan mengingat kejadian lucu yang mereka alami disetiap perjalanan.


"Raina, nyanyi yu? Ada live music tuh. Aku maen keyboard. Kamu yang nyanyinya ya?" ajak Agung.


"Gak bisa gung, demam panggung" jawabku.

__ADS_1


Tak lama, Hanifa dan yang lainnya kembali. Pada akhirnya, kami semuapun menikmati makan malam terakhir di Pantai Kuta.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Pagi harinya....


Aku ke kamar Hanifa untuk membantunya merapikan tas dan kalau-kalau dia perlu bantuanku. Ternyata Hanifa sudah selesai packing dan menitipkan oleh-olehnya untuk Kak Dhika.


Nunu juga sudah siap dan sedang mencatok rambutnya. Sementara Arika sedang ke tempat sarapan untuk mengambil makanan.


"Laper ih, nyusul si Arika yu?" ajakku.


"Rain, kamu sama Rani beneran gak saling sapa sama sekali meskipun kalian sekamar?" tanya Nunu tiba-tiba.


"Aku sih gak ngajak ngobrol duluan Nu, lagian dia juga gitu terakhir kali ngomong malah masih nyudutin aku. Sebenernya aku sih pingin damai" jawabku.


"Apaan? Damai? Jangan sampe ya kamu minta maaf duluan" teriak Nunu.


"Ya tapi kan mereka gak mungkin seterusnya begini juga Nu, lu pikir aja Raina baiknya kaya apa. Dia mah sebenernya dalam hatinya juga kasihan liat si Rani gak ada temennya" kata Hanifa.


Hal yang baru saja dikatakan Hanifa memang benar. Aku tidak punya dendam sama sekali pada Rani. Rasa sakit hati memang ada, tapi hanya sebatas lewat saja. Kadang aku kesal kenapa aku terlalu egois dan tidak mau menyapanya duluan. Tapi kemudian aku sadar bahwa aku sedang berusaha menghargai pendapat dan saran dari sahabat-sahabatku.


Mereka bersikeras memintaku untuk tidak melakukan kontak apapun dengan Rani.


"Ah udahlah ayo kita sarapan" ajakku sambil menarik tangan keduanya.


Selama sarapan, Agung memberikan briefing. Katanya kami akan berangkat ke Bandara pukul 9 pagi ini. Sementara rombongan yang akan melanjutkan perjalanan ke Lombok akan berpisah di jalan.


"Rombongan yang ke Lombok harap satu bis ya? Jadi kalian langsung turun barengan menuju ke Pelabuhan" kata Agung.


Hanifa memegang tanganku saat itu. Dia meyakinkanku bahwa nanti pasti kami akan memiliki waktu lain untuk berlibur bersama ke Lombok.


"Tenang, nanti pasti ada kesempatan lagi untuk kita balik kesini dan liburan bareng" bisiknya.


"Aamiin" jawabku.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Aku dan Ega membereskan kamar sebisa kami. Bermaksud memeriksa bahwa tidak ada barang yang tertinggal didalam kamar.


Sementara Rani malah asyik sendiri duduk didepan colokan sambil memainkan ponselnya.


Ega yang sudah malas menegur, membiarkan Rani dan hanya meliriknya sesekali dengan sinis.


"Rain, kamu gak jadi ke Lombok?" tanya Ega.


"Iya gak jadi, kak Iyas kambuh kakinya. Aku khawatir makanya aku cancel buat ikut" jawabku.


"Ah pantes, get well soon ya buat kak Iyas" katanya.


Sebelum naik bis, aku memeluk ketiga sahabatku dan meminta Nirwan serta Gian untuk menjaga ketiganya. Beruntungnya ada Aji dan lima teman lainnya yang juga ikut serta ke Lombok. Rombongan cukup banyak, setidaknya mereka tidak akan kesepian disana.


"Hati-hati ya? Kabarin aku pokoknya" kataku.


Nunu terlihat menangis karena aku tidak jadi ikut, pegangan tangannya bahkan tidak dia lepaskan sedikitpun dari tanganku.


"Udah sana masuk, kalian kan pergi duluan" kataku.


"Aaah sedih gak ada kamu" jawab Nunu.


"Cengeng lu Nu, nanti kan kita bisa liburan bareng lagi tahu" sahut Arika.


"Iya udah yu masuk Nu, ntar malah makin sedih lagi lu liat Raina terus" kata Hanifa.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Setibanya di Bandung.....


Kak Dhika ternyata bersikeras menjemputku, dia mau mengantarkanku langsung kerumah sakit tempat kak Iyas dirawat. Sementara tasku akan dia antarkan langsung kerumah


"Di rumah sakit dia sendirian, aku kasihan semaleman kakinya kram gitu. Belum lagi dia susah makan" kata kak Dhika.


Aku sebenarnya cengeng dan hampir menangis saat mendengar cerita kak Dhika. Rasanya tidak habis pikir saja, kenapa dia membiarkan dirinya terluka sendirian.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sesampainya dirumah sakit....


Aku menuju keruangan yang ditunjuk oleh kak Dhika, sementara dia bergegas kembali ke kosannya untuk sekalian mengantarkan koperku kerumah.


"Kakak duluan ya, soalnya harus ke kosan ambil sesuatu" katanya pamit.


Sesaat sebelum masuk ke ruangan, jantungku berdegup sangat kencang. Mungkin inilah juga yang dirasakan kak Iyas saat aku sakit beberapa bulan lalu.


Aku masuk tanpa mengetuk pintu, didalam kamar kulihat dia sedang tertidur.


Kakinya yang sakit terangkat dan diganjal oleh bantal. Sepertinya kali ini memang level sakitnya berbeda. Hingga dia harus dirawat dan bahkan mendapat agenda untuk dioperasi.


"Selamat siang kak" bisikku ditelinganya.


Dia membuka matanya perlahan dan keheranan saat melihatku ada disampingnya.


"Kamu.....


"Iya aku, sebel deh masa sakit kaya gini dirahasiain dari aku?" gerutuku.

__ADS_1


"Liburan kamu gimana? Ko bisa sampe sini?" tanyanya.


"Udah gak usah bahas liburan aku, kesel ah. Kenapa sih gak bilang? Kenapa kakinya bisa kambuh lagi?" tanyaku.


"Gak tahu, mungkin karena tiga hari kemarin aku banyak berdiri dan jarang duduk ngelayanin costumer langsung. Ditambah aku gak terapi" jelasnya.


Entah kenapa air mataku menetes mendengar jawabannya. Rasanya aku ingin berteriak melepaskan segala rasa khawatir yang menyiksaku semalaman tadi.


"Hey, jangan nangis dong" katanya sambil beranjak duduk.


"Aku kesel sendiri, mau marah gak bisa mau langsung pulang kemarin juga gak bisa. Aku khawatir" kataku sambil terisak.


Diluar dugaan, bukannya memelukku yang sedih dia malah tertawa. Entah karena alasan apa.


"Kenapa malah ketawa sih? Ada yang lucu?" gerutuku.


"Semalem aku mimpi kamu pulang hari ini terus aku kepikiran aja dari pagi. Ngebayangin kamu bakal cerewet kaya sekarang. Eh kesampean" jelasnya.


Melihatnya tertawa meski sedang sakit itu, sedikitnya membuat suasana hatiku membaik. Aku mencubit perutnya. Hingga dia kesakitan seperti biasanya.


"Ampun sayang ampun" katanya menyerah.


"Pacarnya khawatir loh, disangkanya bercandaan. Apanya yang bisa diketawain?" gerutuku.


"Aku cuma gak mau kamu khawatir. Pergi liburan ke Lombok kan ada di dreamlist kamu. Aku gak mau cuma karena aku sakit rencana kamu jadi gagal" katanya sambil meraih tanganku.


Aku memeluknya. Membiarkan diriku merasakan ketenangan lewat dekapannya. Merasakan kembali aroma tubuh yang selalu bisa menjadi obat buatku.


"Terus kakak kapan jadwal operasi? Penyakitnya jadi parah ya?" tanyaku.


"Gak kok sayang, cuma dokter nyaranin operasi sebagai pilihan terakhir penyembuhan sindrom kaki gelisah" jelasnya.


"Aku gak mau kakak di operasi, serem tahu!" kataku.


Dia lagi-lagi tertawa dan meledek perkataanku. Katanya operasi tidak seseram yang kubayangkan. Apalagi menurut penjelasan dokter itu hanya salah satu caranya. Cara terbaiknya tetap beristirahat dan terapi secara rutin.


RLS (Restless Leg Syndrome) sendiri sebenarnya merupakan indikasi yang muncul setelah ada tanda-tanda penyakit kronis.


Penyakit kronis dan kondisi medis tertentu, seperti kekurangan zat besi, penyakit Parkinson, gagal ginjal, diabetes, dan neuropati perifer sering termasuk kedal gejala kaki gelisah. Mengobati penyakit kronisnya secara tidak langsung dapat membantu mengatasi RLSnya.


Tapi pada kasusnya, Kak Iyas tidak dikatakan memiliki penyakit-penyakit kronis tersebut.


"Doain aja ya, semoga aku gak apa-apa" katanya.


"Kakak emang gak kenapa-kenapa. Kakak sehat ko. Aku yakin!" kataku menyemangatinya.


Tak lama kemudian, dokter datang dan memeriksanya. Aku mendengarkan penjelasan dokter bahwa selama seminggu kedepan dia tidak boleh beraktifitas berat dan berdiri terlalu lama. Disarankan beristirahat dan memakai kursi roda bila diperlukan.


Dia geleng-geleng kepala, jelas saja dia tidak mau memakai kursi roda. Aktifitasnya sekarang menuntutnya untuk terus berdiri lama hingga lupa waktu untuk duduk dan minum.


Dokter juga menyarankan agar Kak Iyas lebih sering minum dan jangan makan yang berlemak dan makanan kaleng. Dugaan sementara kak Iyas menderita RLS karena faktor keturunan.


"Tolong dijaga makanan pacarnya ya cantik" kata dokter padaku.


"Iya dok terimakasih" jawabku.


Setelah dokter pergi, dia keheranan setelah menyadari perkataan dokter yang tahu bahwa aku adalah pacarnya.


"Tau dari mana tuh dokter?" tanyanya.


"Taulah, itu kan dokter yang waktu itu jaga malem pas aku dirawat disini" jawabku.


"Oh haha aku lupa" katanya.


"Denger kan tadi kata dokter? Kakak gak boleh makan berlemak dulu apalagi kalengan. Mulai hari ini aku bakalan ketat ngatur pola makan kakak" kataku.


Melihat ekspresi wajahku yang serius, dia mengernyitkan dahinya dan melihatku.


"Ih serem banget" ledeknya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Menjelang sore hari, aku pulang kerumah. Setelah meminta Randy menunggu kak Iyas selepas pulang dari sekolahnya. Rasanya berat meninggalkannya walau sebentar tapi aku harus pulang untuk mandi karena badanku sudah lengket berkeringat.


"Teh oleh-oleh dibeliin kan?" tanya Randy.


"Udah dibeliin ko. Ada di koper yang tadi dibawa kak Dhika" jawabku.


"Oh pantes kayanya masih di kamar Ibu kopernya" kata Randy.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sesampainya di rumah....


Ayah dan Ibu memuji keputusanku. Mereka salut karena aku memilih untuk membatalkan acara liburanku ke Lombok.


"Yah, Bu... aku bawa pesenan Ayah sama Ibu. Tas backpack aku mana?" tanyaku.


"Masih dikamar Ibu. Dari tadi Recca pingin bongkar cuma Ibu larang takut ada yang hilang" jawab Ibu.


"Aku mau mandi dulu deh, nanti kita bongkar sekalian aku mau bawain pie susu kerumah sakit buat kak Iyas" kataku.


Saat aku hendak pergi mandi, kak Iyas menelponku.


"Ada apa kak?" tanyaku.

__ADS_1


"Jangan lama-lama ya dirumah, aku kangen" katanya.


__ADS_2