
Aku bilang pagi ini aku ada acara dirumah, sebenarnya memang benar ada banyak saudaraku yang datang untuk menengok Ayah. Kondisi Ayah memang cukup mengkhawatirkan, maklumlah Ayah jarang sakit dan sekalinya sakit harus dirawat dan didiagnosis stroke.
Ayah sempat terjatuh di kamar mandi, mungkin itu efeknya sampai ada gumpalan darah yang membeku dan membuatnya stroke. Ibu sangat khawatir, makanya Ayah ambil cuti dan memutuskan untuk bedrest. Sementara Ayah cuti, Ibu sibuk bekerja untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari kami.
Sebenarnya uang tabungan Ayah dan Ibu sudah cukup, tapi itu untuk cadangan adikku sekolah dan biaya merenovasi rumah. Jadi, Ibu harus putar otak untuk mencari tambahan sana-sini.
Adik lelakiku, kuajak berjualan snack dan produk totebagku. Untungnya dia dengan senang hati menawarkannya pada teman-teman di sekolahnya. Tentu saja aku memberinya persenan, supaya dia semangat membantuku.
Hasilnya ternyata lumayan untuk uang jajan adik-adikku. Mereka jadi tidak perlu minta sama Ibu. Aku juga bisa menabung untuk keperluan kuliah semester depan.
"Bu, aku punya tabungan... lumayanlah 2jutaan, gimana kalau kita buka grosiran? Atau gak toko kelontongan aja didepan rumah? Kan ada bekas etalase terus bisa pake teras juga" kataku saat kami makan pagi bersama.
"Iya bu setuju, lagian teteh kan libur lama biar dia ada kegiatan" ledek adikku.
"Kamu juga harus ikut bantu lah pulang sekolah" balasku.
"Ya Ibu sih terserah kamu, paling Ibu bisa nambahin modalnya biar gak terlalu sedikit barangnya" jawab Ibu.
"Oke, kalau gitu kamu besok bersihin etalase sama ruang depan bekas garasi itu dirapihin. Kita bikin warung disana" kataku sambil menepuk bahu adikku.
Ayah terlihat senang dan lega melihat kekompakan kami, aku pikir ini akan bagus untuk kesehatan Ayah karena setidaknya Ayah juga akan punya kegiatan selain istirahat total dirumah yang bukan ciri khas Ayah banget itu.
__ADS_1
Ayah bisa sesekali menjaga warung atau membantuku disana untuk hitung-hitungan.
"Aaah gak sabar deh pingin cepet besok" kataku bersemangat.
Malam harinya....
Aku mengecek pesanan yang masuk di stagram untuk totebag dan pouch, syukurlah hasilnya lumayan. Hampir ada 30an pcs yang dipesan dalam setiap 3 harinya. Hanifa pasti senang ide bisnisnya berjalan lancar seperti ini.
Arika dan Nunu juga bekerja keras untuk mempromosikan totebag kami, benar-benar kerja sama tim yang bagus.
Disela-sela kesibukanku, aku merindukan Andreas. Aku memang menelponnya tiap hari hampir tiga kali sehari malah kadang lebih. Tapi rasanya mendengar suaranya saja tidak cukup saat itu. Apalagi saat aku benar-benar membutuhkan penyemangat untuk lebih tegar menghadapi permasalahan dalam keluargaku.
Penyakit stroke yang membuat Ayah tidak bisa berjalan sementara waktu dan juga membuat Ayah tidak bisa bicara dengan normal sangat membuatku terpukul.
Seminggu berlalu....
Aku berlari kebawah menuju kamar Ayah, kulihat Ayah sedang kejang dan seperti sesak nafas. Aku segera menelpon Ibu dan memesan taksi online untuk membawa Ayah kerumah sakit.
"Ran, tutup aja warungnya. Kunci semua pintunya, titipin Recca ke tante Irma" kataku.
(Recca adalah nama adik bungsuku yang baru berusia 10 thn sementara adik laki-laki bernama Randy)
Aku sangat panik dan tegang saat itu karena selama perjalanan Ayah tidak sadarkan diri. Randy sudah menangis tidak karuan, tapi aku tidak bisa menangis didepannya karena aku sulung dan harus tetap tegar meski sebenarnya aku juga tidak karuan.
__ADS_1
Sesampainya dirumah sakit...
Dokter sudah memeriksa keadaan Ayah dan katanya Ayah mengalami penyempitan pembuluh darah. Aku meminta Ibu mendengarkan penjelasan dokter karena aku kurang paham.
Hingga saat Ibu mendatangi kami didepan ruangan dokter, Ibu bilang bahwa Ayah harus segera di operasi.
Aku merasa hatiku semakin sakit, melihat Ayah terus menerus drop saja dirumah aku sudah tidak tega apalagi sekarang ternyata Ayah harus di operasi.
Aku mengabari Hanifa, Arika dan Nunu di room chat. Mereka juga kaget dan katanya akan menjenguk siang ini.
"Rain, kita kesana ya nanti kirim nama dan nomor kamarnya aja" kata Hanifa.
"Ruang Edelweis nomor.7" jawabku.
Mereka benar-benar datang dan memberiku pelukan hangat.
"Rain ko baru cerita sih?" tanya Arika.
"Iya, aku juga gak nyangka Ayah cepet dropnya" jawabku.
"Rain, kamu ngabarin Andreas? Kalian kan udah janji mau saling ngabarin kalau ada apa-apa" tanya Nunu.
Aku menghela nafasku, duduk di kursi dan menunduk.
__ADS_1
Sebenarnya sudah dari seminggu yang lalu aku ingin mengabari Andreas, tapi aku takut hanya akan mengganggu liburannya. Aku juga tidak mau dia khawatir dan lagi setiap dia menelpon aku harus selalu bersikeras menahan tangisku.
"Belum, aku takut dia khawatir" .....