Kuliah Atau Kuli Ah?

Kuliah Atau Kuli Ah?
Deskripsi perasaan


__ADS_3

Sesampainya di Debe..


"Kamu tunggu di motor aja!" kata kak Dhika.


Tak berapa lamapun, ka Dhika kembali membawa satu dus tinta printer dan kertas HVS.


"Yok makan?" ajaknya.


"Eh?" heranku.


"Ya karena kamu udah anter aku beli tinta, gak masalah kan kalau aku traktir kamu makan?" jelasnya.


"Beneran?" tanyaku.


"Iya haha lagian aku kemarin dapet rezeki dari lomba poster wkwk lumayan yah jangan nolak ya?" paksanya.


"Ayok deh?" jawabku.


Kamipun makan di kantin kampus karena aku tidak mau makan di luar, alasannya bisa beragam nanti tanggapan kakak tingkat dan teman-teman angkatanku kalau mereka tahu aku dan kak Dhika makan bareng.


"Kemaren kata si Andreas kamu jatoh ya?" tanyanya.


"Iya haha agak memalukan sih!" jawabku.


"Maksudnya? Andreas malu-maluin gitu karena bawa motornya gak bener dan buat kamu jatuh?" sahutnya.


"Eh?"... kataku keheranan lagi.


"Kata si Andreas, dia gak hati-hati bawa motornya dan kegelincir di jalan licin dan kamu yang jatoh" jelasnya.


(Andreas bohong? Dia kenapa bilang kalo aku jatoh dari motor? Apa dia takut aku malu kalau orang lain tau aku jatoh karena lari-larian? Dia melindungi reputasiku atau cuma mau mainin peran aja?)


"Iyahaha" jawabku singkat.


Kami berduapun larut dalam obrolan yang penuh tawa. Hingga tiba-tiba kak Dhika video call'an dengan seseorang.


"Nih liat gua sama siapa sekarang!" kata ka Dhika pada orang tersebut.


Ketika layarnya diarahkan di wajahku, aku kaget karena ternyata itu kak Andreas.


"Eh? Hai kak" kataku basa basi menyapanya sambil melambaikan tangan.


Terdengar suara kak Andreas "Ngapain Raina disitu?"...


Selebihnya aku tidak begitu mendengarkan percakapan mereka karena aku asyik makan bakso kesukaanku.


"De, kata Andreas kaki kamu gimana? Kalau masih sakit dia mau anter ke Pak Ibun tukang urut" kata kak Dhika sambil menaruh hapenya.


"Hah? Diurut? Buat apa? Ini kan kaku karena bekas luka goresan aja kak bukan karena keseleo kayanya" jelasku.


"Pokonya si Andreas mau kesini liat lukanya!" jawab Kak Dhika sambil menyeringai seolah senang.


Dalam hati aku cuma bisa bertanya-tanya "Kenapa Andreas berani nanya lewat kak Dhika? Kenapa gak nanya langsung? Kenapa harus lewat orang? Emang dia gak khawatir apa sama aku? Gimanapun kan dia doang yang tau kondisi aku...".


"Kak, ngapain sih kak Andreas kesini? Kan aku jadi takut" kataku pelan.


"Dih ngapain takut sama dia? Kalau dia ngapa-ngapain kamu bilang aja ke aku" ledek ka Dhika.


"Bukannya gitu, tapi aku kan gaenak aja masa dia kesini cuma mau liat kaki aku aja.. Aku kan gak apa-apa ini" jelasku.


"Ya wajarlah dia mau liat luka kamu, dia kan penyebab kamu kaya gini ya dia harus perhatianlah sama kamu" kata kak Dhika.


"Ih" gumamku.


Tiba-tiba isi kepalaku penuh dengan banyak sekali ketakutan, aku harus kaya gimana ya kalau nanti Andreas ada disini? Muka aku bakal merah gak yah?...


Tak lama Andreas datang...


Andreas memakai celana jeans panjang dan hoodie berwarna navy, dengan kondisi rambut yang agak basah seperti baru keramas.

__ADS_1


"Wey bro? Baru bangun lu hahaha?" ledek kak Dhika.


Andreas cuma senyum saja seperti mengiyakan.


Dia bukannya langsung duduk, malah melihat kearah kakiku.


"Kamu pakai jeans ketat gitu?" katanya.


"Lah emang kenapa?" tanyaku.


"Luka kamu kan belum kering, masih kaku kan sekarang kalau jalan? Harusnya pakai yang longgar longgar dong training kek apa kek" katanya menggerutu.


"Lu gila yas? Masa iya cewek kaya Raina pake training ke kampus? Hahaha gila lu gak tau style" ledek ka Dhika.


"Diem lu Dhik, gua kan lagi ngomong sama Raina! Lagian ini kan buat dia juga coba aja kalau dia pake celana longgar kan dia bisa jalan leluasa karena gak kaku" gerutunya lagi.


"Aku gak mau pake training lah kak, sebenernya kan aku gak apa-apa kalau jalan agak kaku kan karena luka doang haha santai aja" gerutuku balik.


"Buka sepatu!" teriaknya sambil berdiri dan melihat kearah wajahku.


"Udah de nurut aja!" kata kak Dhika.


Akupun membuka sepatu sneakersku, memperlihatkannya ke kak Andreas.


"Nih liat ada warna ijo gini itu tandanya kaki kamu keseleo! Kamu harus bener-bener perhatiin luka kamu sendirilah!" gerutunya.


"Yaudah bawa aku ke tukang urut daripada kakak marah-marah gitu mah!" kataku.


"Sini kunci motor kamu" katanya sambil mengajakku berdiri.


Ka Dhika malah cengengesan melihat tingkah laku Andreas yang seperti peduli tapi marah-marah begitu.


"Gak usah pake sepatu pake sendal aja nih aku bawa" katanya sambil mengeluarkan sendal jepit dari dalam tasnya.


"Kakak bawa sendal jepit?" tanyaku.


Kak Andreas untuk sekian kalinya mengendarai motorku, dia mengenakan helm cadanganku yang selalu ku taruh bagasi motorku kalau-kalau ada kebutuhan darurat. Kamipun menuju ke tempat pijat tersohor di Bandung. Sepanjang perjalanan, aku hanya diam dan tidak berani mengobrol atau membuka pembicaraan dengannya.


Beberapa saat kemudian, kamipun sampai di tempat urut itu.


Andreas memarkirkan motorku tepat didepan tempat menyerupai klinik itu.


"Eh den, kakinya sakit lagi?" tanya seorang bapak yang menunggu di tempat pendaftaran.


"Ngga pak, ini temen saya keseleo jatoh dari motor" jawabnya sambil menulis di buku pendaftaran.


"Ayok masuk!" ajaknya sambil menarik tanganku.


Tanganku yang kecil entah kenapa berasa pas dengan tangan besarnya Andreas. Aku tidak bisa menolak ketika dia menggenggam jemari tangan kananku.


"Kak! Aku bisa jalan sendiri ko" bisikku.


"Eh maaf de?" balasnya sambil melepaskan genggamannya.


"Maaf kak, aku cuma kurang nyaman aja kalau kakak terlalu perhatian sama aku. Aku takut harapan aku semakin besar dan gak berbalas" batinku.


Kamipun menunggu disebuah ruangan sebelum aku akan berhadapan dengan tukang urut itu.


"Tenang aja kali gak usah tegang gitu mukanya, kamu cuma mau dipijit bukan digebugin!" ledeknya sambil tertawa.


Entah kenapa melihat kak Andreas tertawa rasanya senang, belum lama ini sikapnya sangat dingin dan seperti tak kenal ampun. Tapi kak Andreas yang ada dihadapanku sekarang ini, terlihat sangat bersahabat dan tanpa beban.


"Kakak kalo senyum begitu lucu deh" gumamku.


"Apa? Kamu ngomong apa barusan?" sahutnya.


"Engga" hindarku.


Tibalah giliranku untuk masuk ke ruangan pak Ibun.

__ADS_1


"Aku ikut masuk ya? Siapa tau kamu jerit-jerit kasian tukang pijitnya" ledek Andreas sambil tertawa.


"Hmm" balasku.


Setibanya diruangan, Andreas sepertinya sudah kenal dekat tukang pijit itu karena bapak langsung menyapa dengan ramahnya.


"Eh den? Apa kabar?" tanya bapak tersebut.


"Baik pak, ini temen saya keseleo tumitnya ijo gitu bengkak" jelas kak Andreas.


"Oh, coba bapak liat ya neng?" kata Bapak tersebut sambil mempersilahkan aku untuk duduk di kursi pasien.


Bapak tersebut mengecek kondisi kakiku dengan cekatan dan memijat tepat di titik yang sakit.


"Ahhh aah!!!" rengekku.


"Duh neng inisih ada yang geser tulangnya, pasti kamu jalan agak susah kan?" tanya Bapak.


"Iya lumayan pak hehe, cuma ya dipaksain jalan aja soalnya kalo didiemin malah tambah sakit" jelasku.


"Bandel pak emang dia ini" ledek kak Andreas.


"Kak diem deh" jawabku sambil menahan sakit.


Tanpa sadar aku memukul-mukul kaki Andreas saking sakitnya ketika diurut. Andreas cuma pasrah dan tanpa perlawanan.


"Ish ish ish, pukul aja terus sampe biru badan aku" gerutunya.


"Gapapa den dipukulin cewek cantik" kata Bapak meledek kami.


Akhirnya penyiksaanpun selesai, kondisi kakiku cukup membaik dan aku bisa berdiri dengan normal. Andreas masih saja mengobrol dengan Bapak. Sementara aku hanya duduk menunggu mereka berdua beres.


"Kamu harus pakai minyak urut ini tiap malem, jangan lupa ke kamar mandi pakai sendal!" katanya sambil menyuruhku mengikutinya keluar ruangan.


"Kak makasih ya?" kataku.


"Buat apa? Karena aku udah nganterin kamu diurut?" tanyanya.


"Iya terus buat kebohongan kakak yang udah bilang kalau aku jatoh dari motor gara-gara kakak" jawabku.


"Oh haha si Dhika bilang begitu? Yaa aku sih kasian masa iya aku bilang cewek udah kuliah udah gede kaya kamu bisa kepeleset garagara kesenengan hahahaha" ledeknya.


"Yaudah yu kita pulang? Aku anterin kerumah aja?" katanya.


"Lah terus kakak gimana balik ke kosan? Gapapa kita ke kampus aja lagi" jawabku.


"Gak usah, ini udah sore lagian si Dhika udah aku minta jemput ke daerah deket rumah kamu ko de tenang aja" katanya.


"Ah syukur deh kalo gitu!" jawabku.


Tiba-tiba saat yang bersamaan ketika aku hendak memberikan kunci motorku kepadanya, dia berbalik ke arahku dan langsung menatapku dengan tatapan yang tajam namun dalam sekali rasanya.


"De, omongan aku tentang kita itu kalau cuma jadi beban buat kamu... Tolong dilupain aja ya?" katanya.


"Hmmm... Kak, sebenernya.... Aku juga bingung sama perasaan aku sendiri sekarang ini... Aku juga takut yang kakak rasain ke aku itu salah" balasku.


"Tentang benar atau salahnya perasaan aku, itu biar jadi urusan aku. Perasaan kamu ke aku itu biar jadi hak kamu aja, sementara perasaan aku ke kamu itu hak aku...jadi kita urus masing-masing aja" jawabnya sambil terlihat agak marah.


Akupun selama perjalanan hanya bisa mendalami maksud dari kata-kata Andreas barusan, mengapa dia terlihat yakin sekali dengan apa yang dia katakan. Mengapa dia begitu bersikeras menjelaskan perasaannya bahkan dengan kata-kata yang sulit kupahami sama sekali.


Sesampainya dirumah....


"Kak makasih ya sekali lagi maaf aku ngerepotin kakak terus!" kataku sambil membuka helm.


"Santai ajasih de! Yaudah ya aku pulang soalnya si Dhika udah nunggu didepan komplek!" katanya sambil memasukan helm cadanganku ke bagasi.


"Kenapa gak disuruh kesini sih? Mampir ke rumah dulu yuk?" ajakku.


"Gak usah, udah mau maghrib. Kamu istirahat aja gih besok kalau masih sakit kakinya mending pake ojek aja ke kampus! Daaah" pamitnya.

__ADS_1


__ADS_2