
"Na ngelamun aja, dipanggil kak Reka tuh!" kata Nunu.
"Ngapain kak Reka manggil aku?" tanyaku.
"Ada perlu katanya, ngobrolin proker hardiknas" jawab Nunu.
Semenjak Andreas pulang ke Palembang, aku mencoba mengisi hari-hariku di kampus dengan banyak sekali kegiatan. Diantaranya organisasi, aku terpilih menjadi sekertaris umum bem. Mengharuskan aku untuk mengikuti setiap rapat bidang dan mengetahui gambaran umumnya.
Kak Reka adalah ketua bemku sekarang, wakilnya kak Haykal. Mereka satu tahun lebih tua diatasku.
"Dek, sore ini kamu ikut aku rapat sama bidang pendidikan sama sospol ya buat ngobrolin proker mereka?" kata kak Reka.
"Oh iya kak bisa" jawabku.
"Tapi makan dulu deh, kamu belum sarapan kan tadi pagi?" tanyanya.
"Haha masih inget aja loh, iya nanti aku makan dulu deh" kataku.
Kak Reka memang sosok pemimpin bem yang baik dan perhatian. Dia selalu mengingatkan adik-adiknya untuk tetap menjaga kesehatan meski sibuk dengan perkuliahan dan organisasi.
"Ketua bidang pendidikan tuh si Faiz kan? Terus sosial politik si Gian?" tanya kak Reka.
"Iya Faiz sama Gian kak, emang kenapa?" tanyaku.
"Minta dia setorin copy'an proposalnya ke kamu, buat kita pelajarin" katanya.
"Oh okey" jawabku.
"Yaudah aku mau ke kosan dulu deh mandi, nanti jam 3 aku ke kampus lagi. Kamu masih ada kelas kan?" tanyanya.
"Masih, sampe jam 2 hehe" jawabku.
Dua jam kemudian setelah kelas berakhir...
"Andreas is calling!!!"
__ADS_1
"Halo kak, tumben nelpon jam segini" kataku.
"Haha lagi mau rapat koordinasi ya? Kalau gak salah udah mau hardiknas dan donor darah aja kan?" tanyanya.
"Iya, aku seminggu ini rapat koordinasi terusloh capek. Belum nanti proker bidang lain yang menanti" kataku.
"Sabar ya sekertaris umum" ledeknya.
"Dulu pantes aja kak Praya bisa segitu ngecengnya ke kakak, orang dia sekertaris umum juga kan pas kakak menjabat ketua bem?" tanyaku.
"Iya mungkin karena sering pergi bareng, kegiatan bareng dan sepaket gitu. Oya kamu sama Reka akur kan?" tanyanya.
"Akur ko, dia baik dan gak neko-neko" jawabku.
"Kalau dia macem-macem bilang ya, kamu jangan kecapean organisasi. Imbangin semuanya juga, jangan ngelewatin batas!" nasihatnya.
"Iya bos, btw i miss you" kataku.
"Jangan ngomong gitulah nanti aku suka langsung pingin terbang ke Bandung" guraunya.
Percakapan singkat dengan Andreas membuat moodku naik 100%. Aku merasa baru bangun di pagi hari dan siap melakukan aktivitas.
Akupun menjelaskan pada mereka bahwa sore ini aku banyak agenda, merekapun akhirnya memutuskan untuk menungguku pulang sambil mereka wifi'an di lobby fakultas.
Aku melihat Faiz dan Gian sedang mengobrol dikelas, karena aku hendak menyampaikan pesan kak Reka akhirnya aku mendatangi mereka.
Aku menjelaskan permintaan kak Reka pada mereka berdua, lalu Faiz langsung sigap memberikan salinan proposalnya.
"Punya kamu ada salinannya ga gi?" tanyaku pada Gian.
"Belum ngeprint deh na, tunggu ya aku print dulu" katanya.
"Yaudah bareng deh, aku juga mau beli tinta buat cap bem yang abis" kataku.
"Yaudah ayo" ajaknya.
__ADS_1
Rasanya sudah lama saat aku menyadari sekarang aku sudah bisa mengobrol dengan Gian lagi tanpa canggung, setelah aku menceritakan kejadian sebenarnya pada Kayi langsung dihadapan Gian tiga hari yang lalu.
"Aku tuh gak rebut Gian dari siapapun, kita ini sahabatan ko. Dia sebatas temen yang sering satu kelompok sama aku, dia baik sama aku dan bisa memposisikan dirinya jadi temen cowok yang pengertian" jelasku pada Kayi saat itu.
"Terlebih dari perasaan dia gimana ke aku, itu hak dia. Sama kaya perasaan kamu ke dia yang juga urusan kamu. Aku gak bisa ikut campur, jadi tolong kamu juga jangan ikut campur urusan aku. Aku udah punya cerita aku sendiri" jelasku.
Kayi hanya diam mendengar penjelasanku, pun si Rani yang ikut-ikutan tak berkutik. Beruntunglah saat itu aku mengajak ketiga sahabatku. Bukan maksud keroyokan, hanya saja mau antisipasi kalau-kalau mereka berdua main bar-bar.
"Soal Andreas juga, hak dialah mau suka sama siapa kee. Dia berhak milih lagian dia punya mata punya hati juga gak bisa diatur sama orang lain kan? Udahlah intinya, reputasi kalian berdua gak akan kita rusak ko. Cuma ya kalian harus lebih hati-hati aja kalau kalian sampe berurusan lagi sama kita. Kita gak mau cari ributlah, udah gede ini" jelas Hanifa.
Seperti dugaanku, Rani dan Kayi hanya jago kandang. Mereka hanya bisa menjelek-jelekan kami dibelakang, sementara saat kami muncul didepan mereka dan meminta mereka bicara tapi mereka lebih banyak diam dan seperti takut. Padahal mereka yang terlebih dahulu menyalakan api untuk membuat asap mengepul itu.
Ini sudah seminggu sejak Andreas kembali....
Rasanya seminggu terpanjang selama hidupku...
Aku lebih senang menyendiri di perpus, membaca komik atau menyelesaikan tugas-tugas lebih awal. Aku mencoba sekeras mungkin untuk menghabiskan waktu dengan bermanfaat. Sesekali aku juga hangout dengan Hanuka, kami pergi ke pabrik untuk mengambil bahan totebag juga ke penjahit dan membuat desain.
Pokoknya kami berempat sudah bukan mahasiswi baru lagi, kami sudah bertransformasi menjadi mahasiswi aktif dan pekerja keras.
Rapat koordinasipun dimulai..
"Proker bidang sosial politik akan segera dilaksanakan pada akhir minggu ini, jadi sistematikanya...
Sambil mendengar penjelasan Gian, aku menyadari tangan Gian gemetaran mungkin dia belum siap mempresentasikan proposalnya didepan anggota bem yang hadir sore itu.
"Semangat gian!!!" teriak Hanuka dari sebrang lobby.
Mereka bertiga memang senang kalau melihatku rapat koordinasi, secara Nunu sudah jadi fans baru dari kak Reka. Menurut Nunu, kak Reka itu tidak membosankan untuk dilihat dari arah manapun.
Setelah selesai rapat....
"Jadi fix ya donor darah sabtu ini, segera buat dan sebar pamflet!" kata kak Reka mempersingkat bahasan.
"Dua hari lagi, kita kumpul pagi-pagi sebelum evaluasi maru buat follow up semuanya" tambah kak Haykal.
__ADS_1
"Raina, tolong dicatet ya hasil rapat hari ini!" pinta kak Reka.
"Siap!" jawabku sambil mengetik hasilnya.