Kuliah Atau Kuli Ah?

Kuliah Atau Kuli Ah?
Mimpi terindah


__ADS_3

Kamu tau pada siapa aku sedang jatuh cinta?


Jawabannya: Coba baca kata pertama yang kukatakan barusan....


Kamu tau apa miniatur terbaik yang ada di dunia ini?


Jawabannya: miniatur bidadari surga yang ada dalam sorot matamu...


Kamu tau berapa banyak ketakutan buruk yang muncul sejak kamu tidak ada di hidupku?


Jawabannya:hitung saja bintang di langit, jumlahnya masih banyak ketakutanku...


Kamu tahu dunia mana yang tidak bisa kutempati?


Jawabannya:dunia yang tidak ada kamu didalamnya...


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sudah hari keempat sejak Raina dirawat dirumah sakit....


Hari ini, Raina sudah bisa mengangkat kepalanya. Posisi tidurnya juga sudah nyaman dan dia sudah boleh menyisir rambutnya.


"Kakak bawa sisir yang dari kamar aku kan?" tanyanya.


"Iya yang dibawain Ibu, mau aku yang sisirin gak?" tanyaku.


"Emang kakak yang harus sisirin soalnya aku males" jawabnya.


"Tumben seorang raina males ngurus diri" ledekku.


"Aku males karna rambut aku pendek, soalnya kemarin ada yang minta aku cabut sambungan sih" katanya ketus.


Aku sadar itu untuk menyindirku, secara akulah yang memintanya mengembalikan rambut aslinya tanpa sambungan.


"Sebenernya, aku bukannya gak suka sama rambut panjang kamu. Hanya saja, tiap aku liat kamu rasanya aku kaya liat Ibu" jelasku.


Dia menarik tanganku saat itu juga, menarik tubuhku kedalam dekapannya.


Meski aku tahu, tubuhnya masih sangat sakit dan belum pulih. Entah kenapa aku egois saat itu, karena aku sangat menyukai pelukannya. Aku rindu dekapannya.


"Maafin aku ya, pasti selama ini sulit deh liat aku rambut panjang. Kakak kenapa gak bilang dari awal? Padahal kakak bisa loh marah ke aku, aku bisa ngerti" jelasnya.


Aku melepaskan pelukannya, menyadari bahwa dengan potongan rambut bagaimanapun tetap saja ada aura Ibu dalam setial sudut wajah Raina.


"Iya gapapa, lagian itu kan hak kamu dan itu juga buat duta kampus kemarin. Makanya aku baru minta kamu cabut setelah duta kampus beres" kataku.


Akupun menyisir rambutnya perlahan, menyadari rambutnya mulai lengket. Betapa sangat menderitanya dia ketika hampir 5 hari ini tidak bisa mandi dan membersihkan rambutnya. Padahal, dia sangat senang merawat diri.


"Sakit gak?" tanyaku.


"Agak kerasa tarikannya sih terus pusing tapi gak separah beberapa hari kemarin" jawabnya.


Aku mencoba memelankan gerak tanganku dan lagi-lagi mengasihaninya yang harus terus berada didalam ruangan tanpa keluar sedikitpun.


"Kak, sore ini aku mau keluar dari kamar. Aku mau keliling" katanya.


"Ngaco, geser posisi tidur aja gerak tubuh kamu masih kaku. Mana bisa jalan-jalan keliling" jawabku.


Wajahnya cemberut dan terlihat kecewa. Aku paham betapa aktifnya dia sebelum kecelakaan, lalu tiba-tiba dia hanya bisa berdiam diri seperti sekarang.


"Yaudah, besok aku minta izin ke dokter ya" kataku.


Akhirnya, diapun bisa tersenyum dengan lebar.


Obrolan kamipun berlanjut, hingga pada pertanyaannya yang mengagetkanku.


Dia menanyakan, kapan dia diizinkan pulang. Padahal baru kemarin dokter bilang, perkembangan Raina tergolong lamban karena kepalanya masih sering pusing dan tubuhnya sering tremor (gemetar). Dokter menjelaskan, butuh waktu hingga Raina benar-benar dalam keadaan tubuh yang normal.


Salah satu penyebabnya adalah trauma di kepala bagian depan, serta ditambah lagi psikis Raina yang terguncang dan dalam kondisi tubuh yang lemah saat itu.


"Ya nanti kalau kamu bener-bener pulih, boleh pulang" kataku.


"Tapi kan kak, biaya disini mahal. Kasihan Ayah sama kakak juga kan?" katanya.


"Udah kamu gak usah mikirin biaya, Ayah kan udah bilang sama aku kalau kamu bukan beban buat dia. Apalagi buat aku, bisa bantuin kamu itu sama aja kaya permohonan maaf aku karena gak bisa jagain kamu" jelasku.


Matanya berair dan dia terlihat menangis. Aku sekarang sadar, betapa beratnya beban psikis Raina. Dia bekerja, berkuliah, mengejar banyak target pribadinya dan harus selalu terlihat ceria didepan semua orang. Padahal, sebenarnya dia membutuhkan banyak sekali kasih sayang.


Di rumahnya, dia adalah sulung yang mau tidak mau bertindak sebagai pengatur suasana. Dia sering begadang menemani Randy, mengalah untuk menjaga Recca, mengontrol grosir dan belum lagi membantu pekerjaan dirumah.


Tak jarang, saat aku kerumahnya aku melihatnya sedang mengepel mencuci piring ataupun mengelap jendela.


Meski dia terlihat aktivis kampus, tapi semalam apapun dia pulang jam bangun tidurnya akan selalu sama. Dia punya kewajiban untuk membangunkan adik-adiknya, membantu Ibu membuka grosir dan kadang tugas-tugas tak terduga.


Sementara di kampus, diantara ketiga sahabatnya yang lain. Dialah yang sebenarnya paling mengontrol keadaan. Mood kerja keempatnya terletak dari bagaimana kondisi Raina. Pemikiran Raina menjadi yang selalu paling dianggap benar dan tidak ada perdebatan diantara mereka saat Rainalah yang berbicara.

__ADS_1


Raina selalu memperhatikan detail-detail kecil dari semua sahabatnya, dia bahkan tau jika Nunu sedang ada masalah dengan Gian ataupun saat Hanifa sedang malas dengan Dhika. Satu-satunya yang bisa mengimbangi Raina adalah Arika. Tapi, pada kenyataannya Arika sangat sedikit berbicara dan lebih memilih diam.


Belum lagi, perannya di kaderisasi. Penunjukannya sebagai ketua bidang evaluasi, membuatnya semakin sibuk saja. Dia memang seperti miniatur kesederhanaan yang sempurna. Dia bicara secukupnya, mendengar lebih banyak dan memahami lebih banyak lagi.


Makanya, tak heran jika begitu banyak yang mengaguminya. Dia memang sangat menarik.


"Kak, kalau sore ini aku mau makan yang lain. Boleh gak?" tanyanya.


"Mau makan apa emang?" kataku.


"Mau makan nasi goreng aeps, boleh ya?" bujuknya.


Akupun mengiyakan permintaanya, meski sebenarnya dia tidak boleh makan sembarangan dulu. Tapi, kuakui tiga hari kebelakang pola makannya teratur dan sangat sehat. Dia hanya makan dan minum yang sudah disediakan oleh pihak rumah sakit.


"Ya, nanti aku delivery" jawabku.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Malam harinya....


Ayah memintaku pulang, dan membiarkannya dengan Randy untuk menjaga Raina malam itu.


"Aah Ayah gak mau, aku mau sama kak Iyas" kata Raina dengan manjanya.


"Lah ko bukannya mau sama Ayah?" tanya Ayah heran.


"Gak mau, Ayah sama Randy pulang aja. Kak Iyas udah pengalaman ko jaga malem" katanya sambil mencubit tanganku.


Aku mengerti kode yang dia berikan barusan.


"Iya yah, Ayah sama Randy tidur aja dirumah. Beneran gak apa-apa ko Iyas aja yang nungguin" kataku.


Akhirnya, Ayah menyerah dan kuantarkan pulang hingga ke parkiran.


Sesampainya diruangan, Raina menagih janjiku untuk memesankannya nasi goreng aeps favoritnya.


Matanya berkedip beberapa kali, seolah membujukku untuk memesankannya makanan yang lain.


"Iya aku ngerti, sama sekoteng kan?" tanyaku.


Diapun tersenyum lebar lagi.


"Sebenernya, aku bukannya gak mau Ayah sama Randy nungguin aku. Cuma kalau dirumah gak ada Ayah, Ibu kasihan. Ibu bakal tutup grosir sendirian, ngangkatin barang-barang sendirian, belum kalau Ibu cuma berdua doang sama Recca pasti serem. Randy sih meskipun dia udah libur sekolah juga, tapi dia berguna banget dirumah. Tugas dia adalah mastiin semua pintu dan jendela rumah udah dikunci dan Randy kadang bakalan bangun pagi banget buat buka grosir sendirian" jelasnya.


"Bukannya karena kamu mu nasgor?" ledekku.


Aku sebenarnya tidak bermaksud meledeknya, hanya saja aku ingin mengalihkan fokusnya supaya dia tidak sedih lagi.


Setelah makanan datang, dunia Raina seperti kembali. Matanya berbinar dan senyumannya lebar.


Dia sampai mengirimkan foto-foto dan melakukan videocall dengan ketiga sahabatnya, hanya untuk memamerkan bahwa dia bisa makan enak malam itu.


Sesederhana itu pacarku, dia hanya meminta nasi goreng dan segelas sekoteng hangat untuk makanan perayaan kesembuhannya.


"Pasti uang kakak abis banyak ya gara-gara bayarin uang kamar?" tanyanya.


"Bisa gak sih, kalau lagi makan atau lagi ngelakuin sesuatu tuh kamu jangan mikirin hal-hal lain dulu. Beneran deh, aku gak habis fikir. Otak kamu tuh kayanya bercabang banget, lagi ini mikirin itu terus lagi itu mikirin ini. Aku tuh maunya kamu bener-bener istirahat disini" jelasku.


"Yah aku mau tau aja, habis berapa coba? Kalau buat Ayah kan aku bukan beban, kalau buat kakak pasti aku beban kan?" tanyanya dengan bersikeras.


"Mulai sekarang, biaya kuliah kamu dan pengeluaran harian atau bulanan kamu biar aku yang urus" kataku.


Dia terlihat kaget dan menghentikan makannya.


"Hmmm aku jadi semakin terbebani kalau gini, kayanya nanti aku makin nyusahin kakak" katanya.


"Yaudah, gini deh kita buat perjanjian gimana? Aku biayain kamu tapi kamu harus ngasih sesuatu ke aku" kataku.


Dia mengernyitkan dahinya dan memukul bokongku.


"Sembarangan ya? Jangan sembarangan ya pikirannya, aku gak mau" katanya.


Aku mengerti arah pikirannya kemana, padahal aku sama sekali tidak berpikiran kesana.


"Ngeres, bukan itu maksud aku. Dengerin dulu makanya, jangan asal menyimpulkan" kataku.


"Aku mau, kamu ngurusin hidup aku. Kamu kirimin aku makan tiap hari, cuciin baju aku ya ke laundry lah pokoknya kamu yang nganter ke laundry dan bawa lagi ke kosan aku. Terus kamu harus mikirin kira-kira, aku harus buka bisnis apa di Bandung?" jelasku.


"Wow itu sih harusnya, aku minta gaji terpisah. Pekerjaan aku art sekaligus asisten pribadi dan menjabat juga jadi perencana bisnis. Triple job ya?" ledeknya.


"Ya itu sih pilihan kedua ya, pilihan pertamanya soalnya belum bisa terwujud sekarang-sekarang" kataku.


"Emang apa pilihan pertamanya?" tanyanya.


"Nikah sama aku" jawabku.

__ADS_1


Kali ini dia terlihat sangat malu, ekspresinya berubah dan wajahnya memerah.


"Ish gombal" katanya.


Padahal, itu benar-benar ucapan dari hati bukan gombalan asal yang kukeluarkan.


"Habis ini, aku tidur ya? Soalnya kalau udah minum obat yang terakhir ini, aku suka langsung ngantuk" katanya.


"Iya tidur aja, gak usah mikirin yang aneh-aneh lagi ya. Pokoknya kamu disini tugasnya penyembuhan" kataku.


Sejam kemudian, dia tertidur lelap.


Aku menungguinya sambil duduk di sofa dan menonton acara tv.


Hingga aku mendapat telpon dari kepolisian.


"Orang yang menabrak lari saudari Raina, sudah tertangkap. Dia sudah diamankan dan ditangkap di daerah bandung barat. Tersangka juga seorang dari komplotan pencurian mobil dan motor" jelas Polisi yang menangani kasus Raina saat itu.


"Baik pak, besok pagi saya akan ke kantor. Terima kasih pak" kataku.


Aku masih mengingat permintaan Rain sehari yang lalu, saat dia mendengar percakapanku dengan Ayahnya tentang penabrak yang membuatnya masuk rumah sakit itu.


"Udahlah, jangan diperpanjang. Itu salah aku ko, aku nyebrangnya gak hati-hati" katanya.


Dia juga sempat memintaku merahasiakan pada Ayah kalau benar nanti ada tersangka yang tertangkap.


"Kalau tuntut orang kan nanti harus keluar uang juga. Mending udahlah, yang penting aku masih hidup dan selamet kan?" jelasnya.


Kali ini, aku setuju dengan Ayah. Aku paham bagaimana kekesalan seorang Ayah yang anaknya ditabrak oleh orang yang melarikan diri.


Tapi, entah kenapa juga aku sulit menolak permintaan Raina. Aku berpikiran, kalau nanti Raina tahu kasus ini diperpanjang maka orang pertama yang akan membuatnya kecewa adalah aku.


Aku sudah tidak mau merenggang dengan Raina,untuk alasan apapun kesembuhan Raina harus lebih diutamakan daripada keegoisanku dan Ayah.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Malam ini, tiba-tiba aku bermimpi indah.


Ibu dan Bapak menemuiku...


Ibu mengelus rambutku dan Bapak memukul punggungku seperti kebiasaannya dulu.


"Ibu bangga sama kamu yas, kamu sudah berbuat yang terbaik untuk orang yang kamu sayang"


"Bapak juga bangga sekaligus iri yas, ternyata Bapak tidak sehebat Raina yang bisa merubah kamu menjadi lebih baik"


Aku memeluk tubuh keduanya dan memejamkan mata lebih dalam lagi.


Berharap mimpi seindah itu akan berlangsung lebih lama.


"Pak, maafin Iyas ya? Iyas belum sempet bikin bapak bangga" kataku.


"Bapak yang harusnya minta maaf, karena gak bisa dan gagal membuat kamu jadi anak yang baik bahkan sampe bapak tidak ada" jawab Bapak.


Suasana sendu yang penuh rindu itu menyelimuti hatiku...


Melihat keteduhan di wajah Ibu...


serta kegagahan di wajah Bapak...


Membuatku semakin yakin, bahwa aku beruntung menjadi anak dari mereka....


"Yas, titip Raina ya? Katamu kan Raina mirip sama Ibumu... Ibumu sudah bilang sama bapak, bapakmu ini setuju... Bapak juga mau kamu memperlakukan Raina seperti kamu menyayangi Ibumu dulu" kata Bapak sambil menyeka air matanya.


"Bapak sama Ibu pergi dulu ya yas, kamu harus tabah yang sabar dan pergunakan waktumu sebaik mungkin. Bapak sama Ibu cuma mau kamu jadi anak yang sholeh dan bermanfaat" kata Ibu.


Tak lama mereka berdua dijemput oleh cahaya putih yang memancar...


Keduanya hilang meninggalkan kerinduan yang lebih dalam lagi...


Keduanya hilang, meninggalkan banyak sekali ketenangan....


Aku tahu, itu hanya mimpi belaka....


Tapi rasanya bermimpi saja sudah cukup bagiku...


Aku berharap, banyak sekali mimpi-mimpi semacam itu yang akan mampir di tidur malamku....


\=\=\=\=≠\=\=≠\=\=\=\=\=\=\=≠\=\=\=\=\=


Aku beranjak dari tidurku dan menyadari bahwa hari masih terlalu malam untukku bangun.


Aku melirik ke arah tempat tidur Raina dan mendapatinya sedang tertidur dengan nyenyaknya.


Entah kapan dia mungkin sempat bangun, karena terdapat ponsel di tangan sebelah kirinya.


Aku mengambilnya dan hendak meletakan ponselnya ke lemari kecil.


Kulihat dengan isengnya, dia sedang melihat apa terakhir kali.

__ADS_1


Ternyata, dia menulis sebuah notes.


"Raina, kalian beruntung memiliki satu sama lain... Bukan karena dia tampan dan memiliki harta. Lebih dari itu karena dia menyayangimu dengan segenap jiwanya begitupun kamu yang menyayangi Andreas dengan segenap jiwamu" kata Almarhum Ibu dalam mimpiku...


__ADS_2