
"Iya kak, gapapa kakak hati-hati ya terus jangan lupa beliin pie susu" kataku.
"Iya sayang, kamu jangan kecapean ya di kampus dan jangan pulang larut malem juga. Nanti takutnya aku susah ngabarin kamu." sahutnya.
"Iya, udah jangan banyak mikirin aku sekarang mendingan kakak packing" kataku.
"Okedeh, bye yang" pungkasnya.
Andreas baru saja menelponku, menanyakan mengapa aku tidak membalas pesannya. Aku jawab tidak apa-apa "cuma lagi mikir mau bales apa". Padahal jelas-jelas aku tidak mau balas.
Akhir-akhir ini, dia lebih aktif memanggilku dengan panggilan "sayang" katanya jadi berasa punya pacar. Entah mengapa, ungkapan sayang yang barusan terdengar sangat manja mungkin kalau dia ada didekatku sekarang sudah kupeluk karena saking gemasnya.
Keesokan harinya di kampus...
"Kak Raina, boleh minta tanda tangan?" tanya salah satu mahasiswa baru perempuan.
"Tanda tangan? buat apa?" tanyaku.
"Buat ngisi buku form perkenalan kakak tingkat" jawabnya.
"Lah terus kalau udah diisi buat apa?" tanyaku lagi.
"Nanti tugas aku selesai" jawabnya polos.
Mendengar jawaban dari mahasiswa barusan, ingatanku seperti diterbangkan sejenak ke masa awal perkuliahanku dulu. Saat masih maru, aku juga sepolos ini bahkan mungkin lebih polos. Aku tidak banyak bicara, lebih seperlunya dan ya saat ditanya tujuan mengumpulkan tanda tanganpun jawabanku sama dengan mahasiswa baru yang menanyaiku itu.
"Oke boleh, tapi ada syaratnya" kataku.
"Apa syaratnya kak?" tanyanya antusias.
"Kamu harus tau namaku dulu" kataku.
"Tau ko kak" katanya sambil tersenyum.
"Hmm siapa coba nama aku?" tanyaku.
"Raina, kakak paling cantik tau di angkatan kakak haha makanya aku langsung hafal" katanya.
"Hah? bisa aja hahaha" kataku.
"Emang bener ko paling cantik" sahut seseorang di belakangku.
Kulirik ternyata Gian ada disana, dengan ekspresi datarnya karena dia harus menjalankan tugas sebagai komdis.
Sesuai SOP, aku tidak boleh membuat Komdis tertawa atau membuat kesan Komdis itu ramah jadi aku tidak merespon perkataan Gian barusan selain dengan lirikan dan sedikit tertawaan ringan saja.
"Kak, itu kak Gian?" tanya maru tersebut.
"Iya, kenapa naksir?" tanyaku.
"Ko bisa sih dia so sweet gitu? keliatannya dia sangar banget kan?" jawab si maru.
Lagi-lagi aku malah mengingat masa lalu, dulu aku juga berpikir demikian saat melihat Andreas menjabat sebagai komdis. Padahal sekarang aku tahu, bahwa komdis memang harus lebih tenang dan tidak boleh banyak tersenyum didepan mahasiswa baru tapi rasanya sensasi komdis yang dulu berbeda sekali dengan sekarang.
"Mungkin karena aku udah kenal komdis yang sekarang kali ya" pikirku.
"Haha iya dia emang gitu killer" jawabku.
"Nih aku udah tanda tangan" tambahku.
"Oke makasih ka" jawabnya sambil berlalu.
Dikelas....
Hanifa teriak memanggilku dari barisan belakang, kulihat dia sedang kesulitan mengerjakan sesuatu.
"Wweeeeyyy rambut baru hahaha lucu" teriak Hanifa.
"Ih jangan keras-keras malu, bagus gak?" tanyaku.
"Bagus ko fresh keliatannya hehe" jawabnya sambil kembali melihat flyer yang dipegangnya itu.
"Kenapa sih fa?" tanyaku.
"Minggu ini ada bazzar anak MIPA, aku udah pesen stand buat jualan totebag dan snack. Kamu weekend ini gak ada acara kan?" tanyanya.
"Gak ada sih, soalnya Andreas lagi kunjungan kerja ke Bali" jawabku.
"Yaudah kamu jaga sabtu ya sama aku? nanti minggu biar Nunu sama Arika yang jaga" katanya.
"Oke, terus itu kamu megang apa kaya bingung banget?" tanyaku heran.
"Ini denah standnya, aku bingung deh mau pesen sebelah mana. Kata kamu dimana bagusnya ya?" ..
Kulihat denah tersebut dan aku sedikit bingung juga, karena penentuan stand harus strategis dan bisa menentukan hasil pendapatan nantinya.
"Gimana kalau kamu tanyain lokasi stand yang gak sebelahan sama makanan juga, misal kita pilih stand yang sebelahnya jual bukan makanan atau bukan tas juga gitu jadi kan gak collapse" kataku.
"Iya bener, gimana kalau kamu yang tanyain ke PJ standnya. Nomornya ada di bagian bawah flyer, aku gak ada pulsa telepon Rain hehehe" pintanya.
"Iya, nanti aku telpon deh kalau beres kelas" jawabku sambil memasukkan flyer kedalam tas saat melihat dosen Hidrologi sudah masuk ke kelas.
Nunu dan Arika sekarang berbeda kelas denganku serta Hanifa, kami berempat dipecah di dua kelas yang berbeda. Pada kebanyakan kasus, sahabat dekat yang setiap saat bersama kemana-mana memang selalu dipecah kelasnya saat mulai memasuki tingkat tiga. Mungkin agar gerombolannya tidak itu-itu saja dan supaya lebih fokus belajarnya.
Aku masih satu kelas dengan Gian, Faris dan Kayi sementara Rani satu kelas dengan Nunu dan Arika dikelas B.
__ADS_1
"Oke kelas A, kalian ada tugas penelitian ke sungai boleh daerah hulu atau hilir untuk mengukur kedalaman dan sebagainya. Wilayah kajian bebas silahkan pilih sendiri dan diskusikan dengan kelas B. Pokoknya bapak mau kalian berangkat sebelum kaderisasi jurusan dimulai" kata Pak Rohmat menjelaskan.
"Penelitian sungai?Ke lapangan lagi? padahal kan ini baru masuk semester 5 tapi udah praktek lagi aja" gumamku.
"Waah seru tuh ke sungai-sungai akhirnya kita ke lapangan lagi ya?" bisik Hanifa dengan wajah antusiasnya.
Setelah kelas selesai.....
"Jadi ya hari ini nemenin aku ke cafe?" tanya Hanifa.
"Jadilah, ke cafe mana?" tanyaku.
"Nah itu bingung, kasih saran dong" katanya.
"Tanya Arika sih, dia pasti bisa kasih saran bagus" kataku.
"Dia nyaranin di Four Season sih, tapi kan budgetnya lumayan" jawabnya.
"Makanya kata aku sih mending gak usah sewa ruangan, kamu reservasi aja buat makan berapa orang gitu jadi itungannya ya makan biasa" saranku.
"Wes makan-makan nih" sahut Gian nimbrung.
"Iya cowok gue ultah besok, lu ikut ya gian?" kata Hanifa.
"Iya gue usahain" jawab Gian.
"Eh fa, aku telpon PJ stand dulu deh yah" kataku sambil mengambil flyer dalam tas.
Setelah kutelpon ternyata PJ Standnya itu Fasya, orang yang tempo hari kutubruk saat buru-buru karena telat apel didepan gerbang kampus.
Saat aku bilang nama penyewanya Raina anak geografi, suaranya langsung ramah dan malah dengan baiknya memberikan harga diskon sewa sebesar 10%.
"Wah lumayan tuh diskon" kata Hanifa setelah mendengar penjelasan dariku.
Aku dan Hanifapun menunggu Arika dan Nunu hingga kelas mereka selesai didepan selasar kampus sembari makan di kantin samping. Hanifa masih sempat-sempatnya ditelpon oleh kak Dhika, padahal kak Dhika juga setahuku sangat sibuk setelah bekerja sebagai surveyor untuk sebuah perusahaan.
Kulirik ponselku, seharian ini kak Andreas belum mengirimkan apapun.
"Mungkin dia udah sampe Bali kali ya?" gumamku.
"Weeeeyyy, setia amat nungguin kita" teriak Nunu dari kejauhan.
"Raina ngelamunin apa sih? dari jauh aku liatin murung begitu" tanya Arika.
"Gak papa hahaha, kelamaan ah kalian. Ayuk cabut keburu gelap nih" kataku.
"Iya nih, ngapain dulu sih lu pada?" gerutu Hanifa.
"Rapat dadakan nentuin lokasi kajian, tadi juga ada perwakilan kelas kalian dateng lah kalian kenapa gak ikut?" tanya Nunu.
"Iya, emang kemana jadinya?" tanyaku.
"Voting terbanyak sih ke daerah hulu sungai Citarum" jawab Arika.
"Cisanti maksudnya?" kataku.
"Ya sekitaran situlah, gunung wayang kertasari sama Cisanti" jawab Nunu.
"Siplah, udah yu cabut" ajak Hanifa.
Kami berempatpun pergi menggunakan mobil Hanifa menuju cafe yang disarankan Arika "Four Season".
.
.
.
.
.
Malam harinya.....
Aku sudah selesai mandi dan langsung rebahan dengan nyamannya sambil mengingat dekorasi Cafe Four Season yang tadi kudatangi. Cafe itu unik dengan empat desain berbeda, seperti namanya 'empat musim' disana kita bisa melihat ruangan demi ruangannya memiliki kesan yang berbeda khas setiap musimnya.
Sajian makanan yang disuguhkan juga beraneka ragam diklasifikasikan berdasarkan musim. Ada Summer yang didominasi menu dingin dan segar seperti Tropical salad, winter yang diwakilkan oleh ramyeon dan makanan hangat serta pedas, spring (gugur) yang menggiurkan dengan apple pienya serta autumn (semi) yang selalu menakjubkan dengan japanese mochinya.
"Aku mau ngajak Andreas kesana ah nanti" gumamku.
Entah koneksi atau telepati dengan cepatnya setelah aku memikirkan Andreas, dia langsung menelponku.
"Kamu lagi apa?"..
"Baru beres mandi tadi capek banget di kampus"
"Banyak tugas ya?
"Belum sih, cuman masa udah ada tugas penelitian lagi padahal baru aja masuk semester"
"Pak Rohmat ya? penelitian sungai?"
"Iya ko tau? belum siap kan belum tau materinya udah ke lapangan aja"
"Sederhana ko penelitiannya, kalian tinggal isi data sama survey biasa"
__ADS_1
"Sederhana kan menurut kakak yang pinter haha, menurut aku belum tentu sederhana. Oya kakak udah di Bali ya? pasti sibuk banget sampe baru nelpon"
"Iya tadi ada sedikit problem karena cuaca buruk jadi pesawatnya delay hampir 3 jam eh pas mau landing cuaca buruk lagi jadi aku gak sempet ngabarin kamu karena sampe hotel langsung harus pertemuan"
"Hmmm, syukur deh kakak selamat sampe sana. Emang ya cuaca lagi gak keprediksi banget. Siang bisa panas banget eh sorenya tau-tau udah ujan aja. Mending kalau aku bawa jas ujan atau pas nebeng Hanifa, ini kalau pas aku bawa motor terus keburu jalan eh ditengah malah keujanan"
"Hahahaha cerewet juga akhirnya, nah gitu dong bawel jadi aku gak terlalu kangen"
"Eh?"
"Akhir-akhir ini kamu jadi lebih banyak diem, gak banyak nanya dan kaya bukan kamu yang biasanya aja"
"Perasaan kakak aja kali, yaudah kakak mandi dulu gih pasti belum mandi belum makan juga kan?. Makasih ya udah sempetin nelpon dan ngabarin aku, seharian ini aku nunggu loh"
"Iya, aku juga kangen nanti kalau dapet libur agak lama aku pasti ke Bandung ko"
"Iya"
Andreas merasa aku lebih banyak diam, mungkin karena aku jarang menelponnya duluan. Bukan apa-apa, aku hanya takut mengganggu pekerjaannya. Setahuku untuk kerja di BMKG sulit, aku hanya tidak mau menambah pikirannya.
Semakin sering aku menelpon atau menghubunginya terlebih dahulu, mungkin dia akan semakin banyak membuang waktunya.
.
.
.
Aku memikirkan banyak cara untuk membuatnya merasa tidak khawatir lagi karena mungkin sekarang dia masih kepikiran dengan obrolan kami di telepon.
"Pokoknya, aku harus bikin dia ngerasa kalau aku baik-baik aja dan gak marah meskipun akhir-akhir ini dia sibuk banget" gumamku.
Akhirnya, aku memutuskan untuk mengirimkan foto rambut baruku.
"*Kemarin aku potong rambut jadi segini, terus ini difotoin Hanifa hehehe bagus gak?"
"Bagus keliatan fresh dan lucu"
"Aku gak mau dibilang lucu, maunya dibilang cantik"
"Iya cantik, tapi banyakan lucunya"
"Ah gitu, jadi makin kangen aku gak setelah liat foto aku barusan? hehehehe"
"Kalau Bali-Bandung harga tiketnya lagi promo udah terbang aku kesana buat liat kamu"
"Cintamu berat di ongkos😋"
"Makasih ya fotonya udah buat aku semangat"
"Iya, kak i love you"
"Me too, kamu tidur ya besok sebelum kuliah harus kabarin aku*"
.
.
.
.
.
.
.
**Hari ini aku liat dekorasi Cafe yang bagus dan unik...
Aku banyak mengambil foto disana...
Rasanya nyaman sekali....
Tempat ternyaman baru yang kutemukan...
Setelah pelukanmu....
Oya, kamu sedang apa ya kira-kira?
Ah sial jarak kita menghalangi...
Kalau dekat sudah kupeluk kamu sekarang...
Seperti yang sering kulakukan...
Aku mau mengajakmu ke tempat itu...
Nanti untuk perayaan ulang tahunmu.....
Kamu bisa tidak ya? sehari saja....
Aku mau memelukmu seharian**....
__ADS_1