
////////////////////////////////////////////
Awalnya aku pikir, aku akan sangat kesulitan membuat koneksi dengan seseorang selain mereka yang sedarah denganku.. Aku selalu merasa tidak ada orang yang bisa mengerti cara memperlakukanku selain mereka yang hidup sehari-hari denganku.
Aku selalu berpikiran bahwa setiap langkah yang akan kuambil selalu berat dan menuntutku menjadi apa yang dunia inginkan.
Aku selalu menekan diriku untuk menjadi apa yang duniaku butuhkan. Menjadi orang yang ceria, banyak berbicara dan selalu menguatkan yang lain. Meski sedang ingin menangis ataupun hatiku terasa teriris. Aku tetap tidak boleh terlihat sedih..
Tumbuhlah aku menjadi diriku yang tidak diriku. Aku menjadi orang lain bahkan bagi diriku sendiri. Aku melihat bayanganku di cermin lalu menyadari bahwa identitasku hanya sebatas nama.
Sementara kepribadian ku terlanjur terbentuk lewat tuntutan.
Hingga kamu datang..
Aku mengenal senyummu yang tulus, pandanganmu yang teduh dan segalanya yang terasa nyata. Caramu menjelaskan sesuatu, menasehati lewat pengalamanmu, melarang dengan kasih sayang dan membiarkanku menjadi diriku yang seadanya aku.
Entah darimana keberanian ini hadir, aku mulai kecanduan melihat wajah dan mendengar suaramu meski hanya beberapa detik saja.
Hingga aku tahu, sejatinya cinta telah menemukan diriku yang hilang.
Kamu memang hanya manusia, sama sepertiku. Tapi apa yang kamu lakukan selalu terkesan ajaib.
Aku bahkan tidak terlalu paham cara menangani diriku sendiri. Tapi kamu paham..
Andreas,,, aku ingin menjadi pagi siang dan malam bagimu..
Tempat sebaik-baiknya kamu bercerita dan pulang..
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Keesokan harinya...
Aku, Hanifa dan Arika sudah bergelut dengan kegiatan kami masing-masing. Kami sibuk mempersiapkan proposal untuk seminar siang nanti. Hanifa memilih menyendiri di pojokan fakultas, Arika juga menyendiri di lobby jurusan, sementara aku bergabung bersama teman-teman yang lain di selasar.
Keadaan Nunu masih menjadi beban pikiranku semalaman. Aku berusaha menelponnya tapi tak satupun panggilanku dijawab olehnya. Padahal aku hanya ingin mendengar suaranya, setidaknya dengan begitu aku tidak terlalu khawatir.
Belum lagi obrolan dengan kak Iyas semalam, aku yang seakan tersambar petir dan perasaanku tidak karuan hingga sekarang.
Seperti terhubung, tak lama kemudian Kak Iyas mengirimkan pesan.
"Pagi sayang, maaf ya buat kamu kebebanin. Its oke jangan terlalu dipikirin. Semangat yaa semoga seminarnya lancar!! Pulangnya aku jemput"
"Iya kakak juga♥" balasku.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Seminarpun dimulai,...
Satu persatu teman-temanku tampil dan mempresentasikan proposalnya masing-masing. Hingga akhirnya tiba saat nama Arika dan Hanifa dipanggil oleh dosen. Keduanya nampak gugup, tapi aku dari barisan paling belakang segera berdiri dan memberikan senyum tertulusku untuk mereka.
Seketika kerut di kening mereka menghilang berganti wajah sumringah yang nampak mereka tampilkan seraya melihat mataku bersamaan.
Selain kak Iyas, Arika Nunu dan Hanifa adalah koneksi terbaik yang pernah aku buat dengan manusia. Mereka bertiga mampu memahami gerak-gerikku dalam diam. Membaca isi pikiranku dan selalu membuat sunyi yang tadinya menjadi teman seolah menjadi lawan.
"Rain, bentar lagi kayanya kamu deh yang presentasi" bisik Nirwan yang duduk di sebelahku.
"Hahaha iya semoga aja, pingin cepet beres nih" jawabku.
Disaat yang bersamaan, mataku menangkap wajah Gian di barisan yang sama denganku. Tangannya melambai pelan dan memaksa tersenyum.
"Semangat!" kataku.
Dia balas dengan sunggingan senyumnya yang khas. Gian terlihat tidak berselera, mungkin karena tidak ada Nunu disampingnya. Aku paham betul, hari-hari kebelakang pasti sangat sulit buatnya, beruntunglah Nirwan selalu menemani Gian dan mencoba menghiburnya.
"Rain, kalau seminar selesai sebelum maghrib ini gimana kalau kita kerumah orang tua Nunu?" ajak Nirwan.
"Yakin? Aku takut Nununya masih mau sembunyi atau masih butuh istirahat dan gak mau ketemu sama kita" jelasku.
"Sama Gian masa ditolak sih, menurutku Gian satu-satunya yang bisa nyemangatin Nunu selain kalian" katanya.
Hingga tak terasa, namaku dipanggil oleh Dosen.
"Rainnn semangat" teriak Arika dan Hanifa yang selesai lebih dulu dan kini menungguiku didepan ruangan presentasi.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Setelah semua urusan di kampus selesai, aku Arika Hanifa, Gian dan Nirwan berkumpul didepan lobby. Kami membicarakan rencana kerumah Nunu. Sayangnya kali ini, Gian menolak dengan alasan dia belum siap melihat keadaan Nunu. Gian takut Nunu akan marah ketika tahu bahwa dia sudah menceritakan keadaan yang sebenarnya pada kami semua.
"Akhir pekan aja kesananya, nunggu semua adem dulu. Kalian juga pasti pada capek kan? Kita gak pernah tahu respon Nunu bakal gimana, jadi kita juga jangan pas lagi capek kesananya" jelas Gian.
Sanggahan Gian dibenarkan Hanifa, dia merasa bahwa saat ini semua sedang butuh istirahat setelah hectic dengan seminar proposal dan kegiatan di BEM.
Hingga akhirnya, kami memutuskan untuk pulang.
Aku menelpon kak Iyas dan mencoba memintanya segera menjemputku. Tak disangka ternyata dia sudah di parkiran bawah.
"Aku di parkiran bawah sayang, jalan sedikit kesini ya? atau aku yang keatas?" tanyanya
"Gak usah, aku aja yang nyamperin kakak" jawabku.
__ADS_1
Setelah berpisah dengan yang lain lalu mendatangi kak Iyas yang sedang menunggu didalam mobilnya, aku baru sadar bahwa hari ini adalah perayaan anniversary kami saat melihat tanggal di layar ponselku.
"Saking sibuknya sampe lupa kalo hari ini anniv, maaf ya kak" gumamku.
Aku berlarian kecil menuju ke mobilnya, ternyata didalam mobil dia sudah menyiapkan bunga dan kotak hadiah untukku.
"Selamat hari jadi sayang, yang ke berapa bulannya aku gak hafal tapi ditiap bulannya setiap tanggal 26 aku selalu inget kasih kamu bunga. Sekarang nambah sama kotak hadiah karena kamu udah selesai seminar proposal. Ayoo sayang one step closer!" katanya sumringah.
Aku menyambut sapaannya dan buru-buru memeluknya. Beban yang sedari tadi kurasa berat sekali dipundak perlahan turun dan seolah memudar seiring dengan sentuhan hangatnya di punggungku.
"Capek ya princess? Mau langsung pulang aja?" tanyanya.
"Enggak! Aku mau makan enak" jawabku.
"Oh oke! Kemana?" tanyanya lagi.
"Ala korea gitu, dimana ya?" pintaku.
"Oke aku ada ide, kamu ngikut aja ya!" pungkasnya sambil memacu mobil.
//////////////////////////////////////
Setelah selesai makan, kak Iyas mengantarkanku kerumah. Hari ini aku memang lelah sekali, hingga lupa mencium tangannya sesaat sebelum berpisah didepan gerbang rumahku.
Dia pasti kesal seperti kebiasaannya. Hanya saja malam ini mungkin dia memakluminya.
Didalam kamar....
Aku segera mandi dan berganti pakaian tidur lalu merebahkan diriku keatas kasur.
"Ah iya kado dari kak Iyas belum aku buka, kira-kira isinya apa ya?" gumamku sambil meraih kotak itu di meja belajar.
"Kalung almarhum Ibu? Ini kan kalung yang sempet aku lihat ada di kotak perhiasan Ibu di rumahnya waktu itu" kataku terkaget.
Didalamnya terselip sebuah surat berwarna ungu muda.
"Untuk adik kelasku yang sekarang sudah hampir lulus"
Pertama kali membuka kotak ini, kamu pasti kaget karena kalung itu. Iya bener itu kalung almarhum Ibu yang dititip ke aku. Kalung yang kata Ibu harus aku kasih ke calon istriku nanti. Entah ini saat yang tepat atau bukan, tapi tepat atau tidaknya tergantung orangnya bukan? Aku ngerasa kamu bukan hanya orang yang tepat tapi juga yang hadir di waktu yang tepat buatku.
Raina, akan panjang cerita kita kedepannya. Lebih panjang dari bait-bait puisi yang sempat kamu tulis saat pertama kali ngeliat aku di jurusan. Kekesalan kamu, kebencian kamu ke aku dan segala keluh kesah kamu tentang kepribadian aku yang terkesan angkuh.
Sampai pada akhirnya, cinta melunakan segalanya. Aku yang sekeras batu karang lebur menjadi kerikil karena kamu. Aku yang sedingin kutub, hangat mengalahkan mentari saat di dekat kamu.
Saking pengecutnya, meminta kamu menjadi istri aku aja cuma bisa aku sampaikan lewat kertas. Aku takut kamu menolak... Raina, setelah ini mungkin kamu akan marah.. Aku punya rencana melanjutkan studiku ke Australia. Seperti cita-cita Bapak.. Sebelum itu, aku mau benar-benar memiliki rumah tempatku pulang di Indonesia. Rumah yang bisa membuatku rindu, dan aku harap rumah itu kamu...
Besok, aku tunggu di Cafe favorit kita sehabis aku pulang kerja! Tolong jangan gak dateng ya!"
-Iyas
__ADS_1