Kuliah Atau Kuli Ah?

Kuliah Atau Kuli Ah?
Kekacauan


__ADS_3

Tibalah saat aku untuk mendonorkan darahku. Aku sudah kaget dan takut dari awal setelah melihat kantung darah yang terpajang.


Gian hanya tertawa melihat tingkahku yang menutup mata sambil jalan mengendap-ngendap menuju meja eksekusi.


"Sus, bisa gak jangan kasih aba-aba pas nusukin jarumnya jadi pas saya lengah gitu" kataku.


"Ada-ada aja mbanya takut darah ya?" tanya suster.


"For the first time sus, saya takut haha" jawabku.


"Tenang aja, gak akan sakit ko kalo pusing bilang ya" katanya.


"Iya sus" pungkasku.


Proses pengambilan darahpun selesai, Gian menunggu dan membiarkanku jalan didepannya katanya dia takut aku pingsan.


"Ngeledek kamu mah" gerutuku.


"Tadi kata suster, kamu harus minum obat penambah darah kan? Duduk dulu disini, aku ambilin minum" katanya.


"Haha gak papa ko gi, aku mau nyamperin kak dhika ke aula aja. Nanti obatnya aku minum ko ya" jawabku sambil menuruni tangga darurat sebelah auditorium.


Tiba-tiba saja kepalaku pusing dan aku merasa kehilangan keseimbangan.


"Giaaannnn!!!" teriakku sambil memegangi pinggiran tangga.


Kudengar langkah cepat Gian menghampiriku.


Setelah itu aku tak sadar lagi apa yang terjadi....


Saat aku bangun, aku dikelilingi Hanifa Nunu dan Arika juga kak Dhika yang memegangi kepalaku.


"Aku pingsan ya?" tanyaku.

__ADS_1


"Ya ampun dek, kamu tau gak kita panik banget kamu pingsan agak lama lagi" jawab kak Dhika dengan wajah cemasnya.


"Aku gak papa haha tenang tenang" jawabku.


"Untung ada si Gian yang bantu kamu, kalau nggak kamu udah pingsan terguling-guling di tangga rain" jelasnya lagi


Hanifa memberiku minum dan memintaku segera meminum obat yang diberikan Gian.


Saat aku sudah bisa duduk, aku lihat Gian masuk dan segera mendekatiku.


"Raina, kita ke dokter ya?" katanya serius.


"Gak usah bro, kan tadi dia udah diperiksa dokter klinik... dia biar gua aja yang bawa ke dokter nanti kalau perlu. Lu urus aja acara lu, lu harus dateng buat penutupan kan bentar lagi?" jawab ka Dhika.


"Iya, aku gak apa-apa ko gi. Kamu kan ketua pelaksana mending kamu ke audit gih pasti ditungguin" kataku.


"Kak, lu tolong ya jagain Raina" katanya sambil menepuk bahu kak Dhika.


Kak Dhika tersenyum seolah mengiyakan permintaan Gian.


"Ssst nu, bukan saatnya kita ngomongin itu... nanti Raina ada yang ngelabrak lagi" sahut Arika sambil melirik kearah tim dokumentasi duduk dimana ada Kayi disana.


"Iya udahlah, mending sekarang kamu liat tuh hape kamu dari tadi Kak Andreas nelponin tau bales dulu gih di chatlah minimal" kata Hanifa.



Satu persatu teman-temanku berdatangan dan mencari tahu kondisiku, tapi aku mencoba meyakinkan mereka bahwa aku baik-baik saja.


"Kakak tolongin jelasin ke Andreas, aku takut dimarahin" kataku sambil memberikan handphoneku ketangannya.


"Yaudah istirahat gih, fa pinjem mobil dong aku anterin Raina pulang dulu" katanya.


"Gak mau pulang, aku kan harus ikut rakor sama kak Reka habis maghrib. Biarin aku istirahat disini aja, kalian gak usah khawatir" kataku.

__ADS_1


"Yaudah kak, ikutin mau Raina aja lagian dia pasti gak enak kalau tugasnya dikasih ke orang. Biar aku temenin Raina sampe baikan, kakak telpon kak Iyas gih!" kata Hanifa membantuku.


"Kalian ya dua-duanya sama-sama keras kepala" gerutunya.


Hanifa menceritakan bagaimana Gian tadi menggendongku dari tangga darurat hingga ke aula.


"Gila loh tiga lantai dia gendong kamu, abis dateng kesini dia panik suruh aku ngambil air panaslah. Suruh si Nunu manggil dokter di klinik mahasiswa lah, pokoknya dia bener-bener khawatir" jelas Hanifa.


"Kamu tau ga? Si Kayi sama Rani bahkan mati kutu, liat Gian panik begitu hahaha aku seneng liat muka mereka" tambah Arika.


"Lucu rain beneran deh, eh tapi kamu beneran gak apa-apa? Gak mau ke dokter?" tanya Nunu.


"Jangan ah, gak usah haha aku kan cuma terlalu excited donorin darah pertama kalinya bukan karna sakit parah ko" jawabku.


Tak lama kak Dhika kembali...


"Huh, susah jelasin ke si Andreas haha dia jadi marah ke aku kan dek. Dibilang gak becuslah dititipin kamu. Nanya juga tadi kamu ditolongin siapa, untung aku bisa bohong" jelas kak Dhika.


"Makasih kak, maafin ya" kataku merasa tidak enak.


"Hahaha takut ya sama kak Iyas?" ledek Hanifa.


"Ihhh malah mesra-mesraan" kata Nunu geli.


"Makanya cari pacar Nu" ledek Arika.


"Emang kamu udah punya?" tanya Nunu.


"Udah, hahaha nanti aku cerita ya doain aja supaya jadi" jawab Arika.


"Waaah parah diem-diem aja gak jujur" kata Hanifa.


"Iya sabar-sabar nanti aku cerita ya. Malem ini nginep di kosan Nunu yu?" ajaknya.

__ADS_1


"Ayoookkk!!!" jawab kami serentak.


__ADS_2