
Cerita tentang keangkeran gedung siaran berlanjut hingga sampai didepan rumah. Dia bilang aku harus istirahat karena seharian ini beraktivitas cukup padat. Padahal, aku sudah biasa mendengar cerita horor tentang kampusku. Tapi, saat Andreas yang menceritakannya entah kenapa jadi terasa berbeda.
"Kapan siaran malem? Nanti aku tungguin didepan ruangan" katanya.
"Kalau gak salah sih akhir bulan ini, soalnya ada acara sastra berbicara itu" jawabku.
"Aaah acara itu lagi, pas aku masih mahasiswa juga aku dateng ke acara itu. Seru sih sampe malem" katanya.
"Hahahaha seru sih seru tapi kalau udah malem, terus aku harus siaran kan takut juga" kataku.
"Tapi itu acara siaran kan kolaborasi sama radio-radio lokal, kamu gak akan berdirian sama si Irish kali ah" katanya.
"Iyasih, tapi kakak beneran ya kalau aku jadi siaran malam kakak temenin aku" jawabku.
Diapun pamit dan menolak untuk mampir karena banyak tugas dan katanya harus memeriksa tugas kuis mahasiswa yang diajarnya untuk kemudian disetorkan hasilnya pada Pak Yana.
Aku segera mandi dan menceritakan kejadian yang aku alami pada Ayah dan Ibu, mereka menertawakanku dan keheranan. Ayah merasa aneh dengan anak perempuannya yang terkenal pemberani tapi malah menjadi penakut seperti sekarang.
Aku bilang pada Ayah bahwa kejadian ini berbeda, tadi itu benar-benar suasana ruangannya terasa sangat dingin.
"Udah mending kamu bantuin Iyas sana dia lagi meriksa soal banyak kan?" kata Ibu.
"Iyasih bu, tapi tugas aku juga banyak" kataku.
"Kerjain barenglah, dia bantu kamu dan kamu bantu dia. Lagian kasihan, tiap ada tugas pasti dia bantu kamu. Masa sekarang dia banyak tugas kamu gak bantuin" kata Ibu.
"Yaudah deh iya, aku bantuin kak Iyas sambil bawa makanan ya? Pasti dia sama kak Dhika belum makan" kataku.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sesampainya di kosan andreas.....
"Toktoktok!!!"
"Lah ko kamu disini?" tanyanya.
"Bantuin kakak meriksa kuis, sekalian nginep. Boleh gak?" kataku.
"Bohong banget nginep, paling mau minta aku ngerjain tugas kamu kan? Atau disuruh Ibu anterin makanan?" katanya.
"Hehehe iya, kita simbiosis mutualisme yu ah" bujukku.
Kak Dhika datang dan memakan makanan yang disiapkan Ibu, lalu dengan santainya meledekku.
"Kata si Iyas kamu takut sama lorong siaran? Haha baru kali ini aku tahu, kamu penakut de"....
"Bukan penakut tahu, cuma aku feelingnya gak enak aja pas disana" kataku.
Akupun membantu memeriksa lembaran kuis mahasiswa dan menuliskan rekap nilainya di kertas.
Andreas memperhatikanku, dan entah dapat bisikan darimana malah menyisir rambutku.
"Emangnya berantakan ya?" tanyaku.
"Gak, cuma kayanya rambut mulai panjang kaya gini buat kamu bagus" katanya.
"Aku emang lebih cantik rambut panjang tahu, cuma gatau ada aja orang yang keukeuh rambut pendek aku lebih cantik" gerutuku menyindirnya.
"Hahaha yaudah kamu panjangin aja rambut kamu, kalau perlu beli vitamin biar panjangnya lebih cepet" katanya.
Kak Dhika terlihat geli dengan yang barusan saja aku dan Andreas katakan satu sama lain, dia buru-buru kembali ke kamarnya.
Sementara pekerjaannya sudah selesai, dia meminta buku catatanku dan tanpa pikir panjang langsung mengerjakan tugas-tugasku.
"Geomorfologi itu campuran dari banyak bidang ilmu. Kamu pasti suka ko matkul ini kalau udah biasa" katanya.
Aku tidak memperhatikan tugasku, tapi malah fokus pada caranya mengerjakan dengan teliti dan tetap terlihat menarik dari segala sisi.
Aku mengambil ponselku dan mengambil banyak fotonya dari banyak sudut. Dia terlihat terganggu dengan suara flash kameraku, tapi dia tidak menolak untuk kuambil fotonya.
"Pantesan tuh mahasiswa baru pada suka" kataku.
"Hahahaha cemburu nih ceritanya" jawabnya.
"Maru sekarang kan lebih cantik-cantik tau" kataku.
"Iyasih" jawabnya.
"Tuhkan, tau ah" gerutuku.
"Dih,emang kalau cantik-cantik ada yang bakal semenarik kamu?" katanya menggodaku.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Entah karena kelelahan atau karena kekenyangan setelah memakan banyak cemilan dari kulkas kecil milik Andreas. Akupun tertidur. Saat aku bangun, aku sudah berada diatas kasurnya.
Sementara Andreas menghilang. Aku beranjak dan melihat jam, ternyata sudah pukul 1 pagi.
Kulihat ada secarik kertas di samping kasurnya.
__ADS_1
"Aku tidur di kamar Dhika, mau bangunin kamu kasihan. Pintunya aku kunci dr luar tapi ada kunci cadangannya di bawah taplak meja. Aku juga udah ngabarin Ibu"...
Aku tidak enak kalau harus ketahuan tidur di kosan laki-laki, apalagi kalau ketahuan Bu Ratna. Takutnya, akan ada yang berpikiran macam-macam.
Tapi, kalau harus pulang kerumah aku juga takut karena jalanan pasti sangat sepi. Meski jarak dari kosannya Andreas kerumahku hanya sekitar 600meteran.
Akhirnya, akupun memutuskan untuk menonton televisi sambil menghubungi Andreas untuk memintanya kembali ke kamar. Dipikir-pikir semenjak mendengar cerita horor tadi siang, otakku jadi sedikit terpengaruh dan seolah terstimulus untuk memikirkan sosok penghuni lorong gedung itu.
"Kak, aku kebangun. Sini balik! Aku takut:("
Tak lama setelah aku mengirimkannya voicenote, dia pun kembali dengan wajah bantalnya.
"Aku udah tidur tahu, kenapa sih?" gerutunya.
"Sakit kepala" jawabku.
Dia langsung memegangi kepalaku, jidatku, tangan dan kakiku dan mimik wajahnya berubah menjadi khawatir.
Padahal, aku hanya berbohong agar dia tidak tahu bahwa aku sedang parno dan ketakutan karena terpengaruh oleh cerita horor.
"Bekas kecelakaannya kerasa lagi?" tanyanya.
"Kayanya iya deh, tapi tadi aku udah minum air anget banyak jadi lumayan enakan" kataku.
"Yaudah pulang aja yu? Aku anter, kan dirumah lebih nyaman terus bisa sekalian minum obat juga palingan kita jalan kaki soalnya gak enak kalau buka gerbang jam segini" katanya.
"Yaudah ayo, jalan kaki aja gak apa-apa. Nanti kakak tidur dirumah aku tapi ya? Di kamar si Randy" kataku.
Pacarku dengan baiknya mengiyakan permintaanku tanpa terlihat berpikir panjang.
...........................
Dijalanan yang sangat sepi itu, angin bertiup sangat kencang dan membawa hawa dingin yang terada hingga ke ubun-ubun kepalaku.
Pada awalnya, kami berjalan berjarak tanpa saling pegang tangan tapi setelah aku merasa takut dengan suasana malam itu, dia memegang tanganku.
Kami memang cuma jalan kaki di jalanan komplek saja, tapi karena sudah larut malam rasanya jadi berbeda.
"Kalau jalan kaki berdua gini malem-malem, angin sepoi terus gak ada orang. Serem juga ya" kataku.
"Tenang aja, kalau ada apa-apa aku lari duluan" ledeknya sambil tertawa.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Melihatnya tertawa sambil memegang tanganku, rasanya dunia ini ada di genggamanku....
Mendengar suara angin yang menderu, menerbangkan sepatah dua patah kata dari kelu bibirku....
Sosok yang kau hadirkan saat ini didepanku....
Adalah hadiah terbaik setelah Ayah, Ibu dan kedua adikku....
Andai aku sudah besar dan wisuda nanti, aku ingin menyebutnya suamiku...
Tidak lagi pacarku...
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Hei ngelamun" katanya.
"Lagi ngayal" jawabku.
"Ngayal jadi istri aku ya?" tanyanya.
"Ko tau?" kataku.
"Soalnya, aku juga lagi ngayal jadi suami kamu" jawabnya sambil tersenyum.
Aku mencubit kulit perutnya, menyadari betapa banyak cara manis yang dia coba lakukan untuk menghiburku. Rasanya tidak mungkin, kalau melihat wajahnya yang sangat dingin ini memiliki sisi yang hangat dan romantis. Tapi, dia memang memiliki sisi itu. Sisi yang kusebut misterius...
................
.................................
Sesampainya dirumah, Ayah belum tidur karena sedang mengirimkan file tugas kantornya.
"Anak gadis ketiduran dimana aja, bahaya loh yas pacar kamu ini!" ledek Ayah.
"Iya yah parah emang, masih untung ketidurannya di kosan Iyas" jawabnya tambah meledekku.
Mereka berduapun menertawakan lawakan khas bapak-bapak yang baru saja mereka lakukan.
Ayah meminta Andreas untuk menginap, tapi dia lebih memilih begadang menemani Ayah.
"Nanti ajalah aku tidur gampang, aku nemenin Ayah dulu" katanya.
"Yaudah, aku buatin Ayah sama kakak kopi ya?" kataku sambil berjalan kedapur.
Setelah memberikan dua gelas kopi dan beberapa cemilan ke meja tempat Ayah dan Andreas mengobrol, akupun naik ke kamarku untuk tidur.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Pagi harinya......
Aku bangun dan menemukan Andreas tertidur di kamar Randy. Mereka berdua tidur dengan nyaman dan saling berpelukan layaknya seorang kakak dan adik kandung.
Aku tidak tega membangunkannya, apalagi aku yakin pasti dia baru saja tidur mengingat Ayah selalu saja tidur pagi setiap sistem kebut kerja menjelang akhir pekan.
Akhirnya, aku hanya membangunkan Randy dan menyuruhnya segera mandi untuk bersiap ke sekolah.
"Kak Iyas mau dibangunin gak?" tanyanya.
"Gak usah kasihan, dia ada kelasnya nanti siang ko. Biar teteh minta Ibu aja yang bangunin. Ayo ah siap-siap" kataku.
Aku dan Randypun bersiap berangkat, sementara Andreas kutitipkan pada Ibu. Aku meminta Ibu membangunkannya pukul sebelas, karena dia baru ada kelas pukul 1 siang nanti.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sesampainya di kampus.....
"Rain" teriak Arika memanggilku.
Aku keheranan kenapa dia ada di selasar sendirian. Dia berlari kearahku dengan wajah memerah seperti sedang menahan amarah.
"Rik ko udah disini? Bukannya masih pagi, kelas kamu siang kan?" tanyaku.
"Aku mau mergokin si Nirwan selingkuh" jawabnya.
"Selingkuh? Belum selesai emang urusan yang kemarin?" tanyaku.
"Udah, tapi aku masih curiga kalau dia sama si cewek itu masih hubungan di belakang aku" jawabnya.
"Yaudah, aku temenin. Emang Nirwan ada janji sama cewek itu sekarang?" tanyaku.
"Ada, mereka di belakang aku dapet laporan dari mata-mata aku. Ayo kita kesana" ajaknya.
Sesampainya di lobby timur, aku dan Arika mengintip dari pintu keluar darurat.
Nirwan dan Bella memang sedang berduaan, duduk di kursi dan terlihat bercanda tawa dengan akrab. Sesekali Nirwan memegang tangan Bella dan Bella membalasnya.
Arika yang melihatnya semakin gusar dan nyaris keluar dengan amarahnya, tapi aku mencoba menenangkannya dan mendengarkan terlebih dahulu pembicaraan Nirwan dan Bella hingga semuanya jelas.
Bella terdengar mengungkapkan perasaannya pada Nirwan, dia bilang bahwa dia merasa nyaman saat berada di dekat Nirwan. Semuanya terdengar dengan sangat jelas oleh telinga kami berdua. Akupun ikut menjadi saksinya.
Tak lama, Nirwan membalas Bella dengan berkata "tungguin aku". Arika yang kekesalannya sudah memuncak ke ubun-ubun itu, berlari dan menemui mereka. Aku mengejar Arika sesegera mungkin.
"Kenapa mesti nunggu? Sekarang aja kalian jadian!" kata Arika.
Nirwan dan Bella terlihat kaget, mereka berdiri seketika dan tambah terkejut lagi saat aku juga ada disana.
"Yang, aku bisa jelasin semuanya" kata Nirwan.
"Jelasin? Aku udah denger semuanya, hampir 5 menit ya aku sama Raina nguping kalian disana dan aku udah punya saksi untuk membongkar kedok kamu. Ternyata emang semua lelaki selain Papa aku sama aja, cuma bisa manfaatin cewek dan abis itu ditinggalin. Oke kita putus aja! Silahkan belaa ambil nih bekas gue" kata Arika sambil berlari.
Aku mengejar Arika lagi, takut kalau dia kenapa-kenapa dan membutuhkan teman.
Arika berlari ke arah selasar dan duduk di kursi tempat kami biasa berkumpul memburu wifi. Dia berusaha sekuat tenaga menahan air matanya yang sudah di pelupuk mata itu.
"Ka, jangan nangis dong. Udah yah jangan dipikirin, kita kan udah tahu Nirwan kaya gimana. Jadi yaudah kamu lupain aja dan jangan.....
"Udah lah rain, jangan ngomongin dia lagi depan aku. Mulai hari ini anggap aja aku gak pernah punya mantan kaya dia" katanya menyela obrolanku.
"Iya, udah ya? Mending kita ke kantin yu? Mumpung masih setengah jam lagi aku ada kelasnya" ajakku.
Aku berpikiran jernih saat itu, aku tidak mau memperkeruh suasana hati Arika yang kacau balau. Arika adalah tipe yang lebih santai dariku, cara dia membalas perlakuan orang yang menyakitinya adalah dengan bersikap seolah tidak pernah mengenal orang itu. Menurutku itu lebih elegan dan tanpa perdebatan seperti permasalahan kebanyakan yang diselesaikan dengan pertengkaran.
Aku juga sudah melihat dengan mata dan kepalaku sendiri, bagaimana Nirwan dan Bella terlihat memberikan harapan satu sama lain. Jadi, kupikir tidak ada gunanya mendengarkan penjelasan Nirwan.
Posisiku sebagai sahabat Arika juga menuntutku untuk lebih membelanya, terlebih dari bagaimanapun kebenaran yang ingin dijelaskan Nirwan tapi berduaan dan bermesraan dengan perempuan lain tanpa memberi tahukan pacarnya tetap saja salah.
"Rain, jangan cerita sama Nunu dan Hanifa ya? Kasihan nanti image Nirwan jadi jelek" katanya sambil meminum jus jeruk.
Aku salut padanya, disaat seperti ini dia masih berpikiran dewasa dan tidak gegabah. Padahal dia bisa saja meminta kami bertiga untuk menemaninya memergoki Nirwan dan Bella pagi ini, tapi dia memilih datang sendirian.
Kalau bukan karena aku yang terlalu pagi datang, mungkin aku juga tidak tahu akan ada peristiwa seperti ini.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Setelah masuk kelas....
Hanifa terlihat keheranan saat aku dan Arika gelagapan ketika dia menanyakan kami ada urusan apa hingga sudah ada di kampus sejak satu jam yang lalu.
"Ah pasti itu karena postingan aku di stagram deh" gumamku setelah menyadari bahwa aku sempat membuat postingan foto selasar yang masih sepi beberapa menit sebelum bertemu Arika.
Arika menginjak kakiku, seolah memintaku menepati janji untuk tidak membicarakan kejadian yang baru saja membuatnya patah hati itu.
"Iya aku kebetulan kepagian dan eh dia juga kepagian karena mau balikin buku gitu fa" jawabku gugup.
Maklumlah, aku tidak pernah menyembunyikan sesuatu sebesar ini pada ketiga sahabatku. Maka saat Arika memintaku merahasiakan soal perselingkuhan Nirwan, rasanya jadi aneh saja buatku.
__ADS_1
Tak lama, Arika pamit keluar dari kelas untuk mendatangi Nunu ke kosannya. Akhirnya, aku kembali harus berbohong pada Hanifa untuk terus menutupi kebohongan pertama yang aku buat barusan.
"Arika aneh banget sih, tumben dia kepagian" kata Hanifa.