
"Kamu dimana? Ko gak bangunin aku sih?" tanyanya.
"Aku udah dikampus, kan aku ada kelas pagi. Lagian kasihan pas mau bangunin, kakak pules banget tidurnya" jelasku.
Andreas menutup telponnya dan memintaku untuk menemui Pak Yana katanya ada sesuatu yang hendak diberikan oleh beliau padaku.
Selama kelas berlangsung, aku hanya memikirkan Arika dan Nirwan. Arika yang dengan tegarnya memutuskan Nirwan tanpa marah-marah dan hanya langsung meninggalkan Nirwan dengan Bella.
Sementara itu, Bella mencoba terus menerus menghubungiku. Aku menolak panggilannya, ada mungkin 10 panggilan masuk yang kutolak. Tujuanku hanya satu, menghargai sahabatku. Bukan aku yang seharusnya mendapat penjelasan disini, tapi Arika.
Bella seharusnya berbesar hati dan datang ke jurusanku, untuk menyelesaikan urusannya dengan Arika secara langsung. Bukannya malah menghubungiku seperti sekarang.
Di benakku, muncul banyak pertanyaan. Tentang apa yang selama ini Arika curigai dari gerak-gerik Nirwan yang berubah. Apalagi setelah aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bahwa Nirwan memegang tangan Bella dengan sangat santai. Seperti dia sudah sering melakukannya.
Bagaimana mungkin Nirwan juga bisa bersikap biasa saja sekarang? Dia bahkan tidak memintaku mendengar penjelasannya. Padahal, kami berpapasan didepan tangga darurat sesaat setelah kelas selesai.
Aku menarik tangan Gian dan hendak mengajak Gian ke kantin berdua, untuk menceritakan kejadian Nirwan. Arika hanya memintaku merahasiakannya dari Hanifa dan Nunu, berarti dia mengizikanku menceritakannya pada Gian.
"Fa, aku ada perlu sama si Gian. Kamu mau rapat kan sama Agung?" tanyaku.
"Iya, yaudah gih. Nanti kabarin ya" katanya.
Akhirnya, aku melihat Gian sedang mengobrol dengan Nunu didepan kelasnya. Aku menghampiri mereka dan meminta izin pada Nunu.
"Ngapain sih na izin segala? Yaudah gih pergi" kata Nunu saat aku bilang bahwa aku hendak meminta tolong pada Gian untuk mengajariku rumus mata kuliah tadi.
Aku dan Gian berjalan berdua menuju kantin. Padahal, tujuannya bukan untuk makan melainkan hanya sekedar bercerita dan meminta solusi saja.
"Ada apa sih Rain tumben banget cuma mau ngomong berdua" tanyanya.
Akupun menceritakan semua yang terjadi tadi pagi. Gian terlihat kaget sekaligus sepertinya ada raut wajah yang sudah menduga kejadian ini akan dialami oleh Arika.
"Ya, emang si Bella gitu sih. Sama halnya Kayi dulu" kata Gian.
Aku meminta Gian untuk merahasiakan ini dari Nunu, dan dia mengiyakan permintaanku. Dia juga berjanji akan meminta Nirwan menjelaskan kejadian sebenarny, tapi aku meminta Gian tidak mengulik cerita ini sendirian.
"Udahlah, aku udah hilang respect sama Nirwan palingan kalau dia beneran mau sama Arika juga dia gentle dong" kataku.
"Tapi kan bisa aja ada alasan lain, kita harus tanya dulu" katanya.
"Kamu kan sahabatnya makanya kamu bela dia kan?" gerutuku.
"Bukan gitu, bahkan kalau kasus ini terjadi sama aku. Aku juga bakal minta waktu buat ngejelasin semuanya ke Arika" katanya.
Aku bersikeras dengan pendirianku, meminta Gian tidak ikut campur dan pura-pura tidak tahu. Aku penasaran apa yang akan dikatakan oleh Nirwan nanti pada Gian tentang hubungannya dengan Arika.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Setelah perkuliahan hari itu selesai....
Aku dan ketiga sahabatku ada janji untuk membagi hasil keuntungan penjualan selama dua minggu ke belakang.
Kami janji bertemu didepan lobby fakultas sastra, tempat dimana aku dan Hanifa baru saja mengirimkan barang pesanan salah satu teman anak sastra Indonesia.
Nunu dan Arika sudah datang, Nunu terlihat sangat antusias pada pembagian keuntungan minggu ini.
"Kayanya kita bisa deh liburan sedetik, kemana kee gitu berdelapan" kata Nunu.
Saat Nunu berkata demikian, Hanifa menjadi satu-satunya yang merespon.
"Ah iya bener Nu, pasti kak Dhika seneng deh kalau kita liburan sebentar" kata Hanifa.
Sebaliknya, aku langsung bereaksi dengan melihat ekspresi Arika yang langsung muram.
"Urusan liburan ntar ajalah, yu kita hitung dulu hasilnya terus kita bagi. Soalnya aku mau ketemu Pak Yana" kataku berusaha mengalihkan topik.
"Ah oke-oke" kata Nunu sambil menghitung hasil dari buku catatan penjualan kami.
Beberapa menit kemudian.....
"Lumayan loh dapet 400 ribuan lebih" kata Nunu.
"Iya, itu sih kayanya karena pesanan si Kinan kemarin" kataku.
"Iya syukurlah, kita bisa dapet uang jajan buat seminggu kedepan" kata Arika.
Setelah itu, aku pamit dan meminta Arika mengantarku ke ruangan Pak Yana.
"Yaudah, aku sama Gian mau jalan juga" kata Nunu.
"Gue mau jemput adek gue ke kampusnya. Kita pisah disini ya bye" kata Hanifa.
Arika menanyakan apakah aku menceritakan sesuatu pada Nunu dan Hanifa, aku bilang saja tidak. Dia memintaku untuk terus tutup mulut, anggap saja kita tidak pernah punya teman bernama Nirwan.
Itu sisi terkelam yang dimiliki Arika, dia akan sangat tidak peduli pada orang yang sudah menancapkan luka di hatinya. Seperti teman-teman SMAnya dulu.
"Iya, aku gak akan waro Nirwan juga ko" kataku.
__ADS_1
Setelah menemaniku ke ruangan Pak Yana, dia pamit pulang dan kami berpisah di depan perpustakaan.
Ternyata, Pak Yana memberikan uang untuk penelitian yang telah dilakukan Kak Andreas dan sahabat-sahabatku yang lain ke desa wisata itu.
Beliau juga meminta kami menyerahkan plakat penghargaan kepada desa tersebut, sebagai bentuk terjalinnya kerja sama antara jurusan dengan desa wisata itu.
"Datanglah kesana sekali lagi, tolong kasihkan plakat sebagai kenang-kenangan dan sekalian disana bisa liburan ikut perang tomat" kata Pak Yana.
Perang tomat, adalah acara adat yang dilaksanakan masyarakat di desa tersebut setelah panen raya tomat berlangsung. Pelaksanaanya pada dua hari yang akan datang. Tepatnya hari minggu pagi.
"Iya pak, nanti saya sampaikan ke Kak Iyas" kataku.
"Rain, habis lulus nikahlah kalian. Udah cocok banget! Nanti bapak sebut kalian SIG" kata beliau.
"SIG apaan pak sistem informasi geografis?" tanyaku.
"Bukan, tapi suami istri geografi" jawab beliau sambil tertawa.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Akupun memutuskan untuk menunggu Kak Iyas hingga selesai dari kelasnya, karena tidak ada teman jika harus menunggu di gedung pasca sarjana. Akhirnya aku menunggu di depan gedung umum.
Kebetulan Irish juga mengajakku bertemu disana, katanya dia ingin memberiku dessert box buatannya sendiri.
"Wey, bukannya kelas kamu udah selesai dari jam 2? Ko jam 3 masih dikampus aja" tanya Irish.
"Nunggu cowok aku beres kelas" jawabku.
"Oh, oya Rain tadi si Bella nanyain kamu loh. Ada apa sih? Ko dia sampe nelponin aku" tanya Irish keheranan.
Aku dan Bella memang tidak dekat, kami hanya saling mengenal satu sama lain saja. Bella hanya lolos hingga 20 besar, sehingga aku tidak terlalu tahu bagaimana sifatnya.
"Gak tau, udahlah biarin paling nanti dia nelpon aku. Kalau dia nanyain ke kamu bilang aja kamu gak ketemu sama aku" kataku.
"Si Bella gangguin cowok kamu ya?" tanya Irish.
Aku heran, bagaimana Irish bisa berpikiran demikian. Padahal aku sama sekali tidak mengatakan sesuatu yang membuatnya bisa berpikiran negatif.
"Hah? Ngaco" kataku.
"Si Bella kan katanya udah terkenal tukang rebut cowok orang, apalagi dia udah jadi bagian dari keluarga duta kampus. Makin tinggilah pridenya" kata Irish.
"Gak tau juga sih rish, dia kayanya ada masalah sama sahabat aku" jawabku.
"Yaudah, semoga cepet selesai ya masalahnya. Jangan mau deh nyari-nyari masalah sama Bella. Buang-buang waktu aja" katanya.
"Thanks ya makanannya, sering-sering deh" kataku.
"Iya, nanti kalau aku gak males buat kuenya aku bawain lagi" jawabnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Tak lama, Andreas keluar dari gedung pasca sarjana dan matanya mencari keberadaanku ke sekeliling parkiran depan.
Aku melambaikan tangan dan memanggilnya.
Dia mengelus rambutku dan mengajakku menuju mobilnya.
"Kangen loh aku" katanya.
"Jijik hahaha masa baru berapa jam gak ketemu doang kangen" ledekku.
"Gimana hari ini lancar? Kelasnya? Jualannya?" tanyanya.
Aku tidak bisa menyembunyikan ekspresi sedihku saat itu, bagaimanapun Arika adalah sahabatku yang dimana jika dia punya masalah pasti aku akan ikut memikirkannya.
"Lancar ko, oya ini dari Pak Yana" jawabku sambil memberikan amplop.
Dia menghentikan mobilnya sejenak dan mengarahkan wajahku ke arahnya.
"Oke, nada bicara turun ekspresi muram dan menunduk kaya gini kayanya ada yang gak beres" katanya.
Aku sudah menduga, kebohonganku akan mudah terbaca olehnya. Dia memang lebih mengenalku dari pada siapapun.
"Ini bukan tentang aku sih, tapi orangnya minta aku untuk rahasiain ini. Jadi maaf ya kalau aku belum bisa cerita" kataku.
Sebenarnya aku bisa saja menceritakan kejadian tadi pada Andreas, tapi sepertinya dia akan melarangku lagi untuk ikut campur. Sebaiknya aku tidak usah mengatakan apapun padanya.
"Hmmm oke gapapa, sabtu ini kamu gak ada jadwal kan?" tanyanya.
"Pasti mau ngajakin ke perang tomat ya?" kataku.
Ekspresiku berubah drastis dan bersemangat.
"Nah itu tau, gimana mau gak? Ajakin aja temen-temen kamu lagi" katanya.
"Gak mau ah, berdua aja ya?" bujukku.
__ADS_1
Aku sebenarnya mau mengajak mereka, tapi aku enggan karena aku memikirkan Arika yang nantinya pasti akan memutuskan untuk tidak ikut ke desa wisata karena masalahnya dengan Nirwan.
"Hmm kayanya lebih bagus deh kalau berdua. Okelah aku sepakat" katanya sambil memegang pipiku.
"Habis ini, kita pulang langsung ya kak? Kita makan dirumah sama maen dirumah" ajakku.
"Tumben hahaha gak mau makan diluar?" tanyanya.
"Dirumah aja ah, sekalian nanti kita masak-masak" kataku.
"Okedeh, berarti kita belanja dulu ya?" katanya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Tibalah hari dimana aku dan Andreas akan pergi ke desa wisata, untuk memberikan plakat sekaligus bermalam disana sambil menantikan acara adat.
Andreas sudah meminta izin pada Ayah dan Ibuku, keduanya tidak melarang hanya saja mengingatkan untuk hati-hati dan saling menjaga satu sama lain. Bagaimanapun kata Ayah, desa adat pasti memiliki peraturan tersendiri yang harus ditaati.
Menjelang sore hari, kami berangkat menggunakan mobil dengan membawa perlengkapan untuk sehari kedepan.
"Kak Dhika nanya gak, kita mau kemana?" tanyaku.
"Nanya, aku bilangnya mau bawa kamu liburan singkat" jawabnya.
"Terus dia curiga gak? Apa nanya gitu pas kakak kasih uang bagian dia dari Pak Yana?" tanyaku.
"Curiga sih pasti, apalagi dia kan udah biasa penelitian biasanya kalau ke desa gitu pasti dari jurusan kasih kenang-kenangan" jelasnya.
"Tapi santailah, Dhika juga ngerti kali kalau aku butuh berduaan doang sama kamu" tambahnya.
Perjalanan cukup melelahkan, kukira jaraknya yang katanya tidak terlalu jauh dari kampus itu membuat akses jalannya masih layak. Ternyata, banyak jalan yang masih kurang bagus dan memaksa mobil harus berjalan sangat pelan.
Ditambah lagi, letak desanya yang berada di ujung berbatasan langsung dengan bukit yang sudah masuk wilayah daerah kabupaten lain.
"Gak sedekat yany kamu kira kan? Dari portal ini masih naik dan lumayan jauh loh" katanya.
Aku agak sedikit takut, karena kabut mulai turun dan mengganggu pandangan kami.
"Gak usah takut, aku udah hafal ko belokannya dimana aja" katanya.
Aku memegangi sabuk pengamanku, sambil memperhatikan cara Andreas menyetir. Sesekali aku memintanya berhenti sejenak untuk mengelap kaca spionnya yang mengembun.
"Dek, nanti kita nginep di homestay aja ya?" tanyanya.
"Terserah, aku kan belum pernah kesini jadi mana tau" jawabku.
"Aku udah minta dua kamar ko" katanya.
"Kenapa gak sekamar aja? Aku gak mau sendirian ah takut" kataku.
"Sejak kapan sih kamu jadi parnoan begini?" ledeknya.
"Yaudah kita pulang lagi aja kalau pisah kamar" kataku.
Dia tertawa dan terlihat tidak menyangka bahwa aku akan semanja itu padanya. Padahal, ini murni karena rasa takutku. Apalagi setelah Ayah dan Ibu menceritakan pengalaman mereka saat masih muda selama mengunjungi desa adat itu. Aku semakin saja merasa takut.
"Iya-iya sekamar ko, ini kamu yang minta ya" katanya.
Kamipun tiba didepan rumah petinggi desa, lebih tepatnya sesepuh sekaligus ketua adat yang juga menerima Andreas dan yang lainnya saat penelitian beberapa minggu yang lalu.
"Pak, ini pacar saya yang saya ceritakan waktu itu" katanya memperkenalkanku.
"Ah iya, silahkan masuk dan beristirahat" kata beliau.
Homestay yang dimaksud Andreas tadi, ternyata sebuah penginapan berbentuk rumah panggung yang masih sangat tradisional. Rumah ini memang khusus ditinggali saat ada wisatawan yang menginap, pada umumnya wisatawan lokal ataupun kelompok mahasiswa yang sedang melakukan penelitian.
Kami mendapat kamar di ujung yang langsung menghadap ke sungai tempat warga beraktifitas seperti mandi, mencuci pakaian dan mengambil sumber air.
"Nanti kita mandi disana?" tanyaku.
"Harusnya sih iya, tapi menurut sepuh yang boleh mandi disana cuma orang asli sini. Kalau pendatang cuma boleh ambil airnya aja" jelas Andreas.
Saat pintu kamar dibuka, aku terheran-heran.
"Kak, kamar satu aja segede gini. Untung kita gak misah kamar" kataku setelah masuk dan melihat kamar yang ternyata cukup luas itu.
"Iya tadinya aku pikir kamu gak bakalan mau kalau kita sekamar karena gak nyaman" katanya.
Saat hendak merapikan barang, petir menyambut kami dan hujan langsung turun dengan derasnya.
"Untung aja kan sekamar, coba kalau beda kamar mungkin aku udah teriak karena takut denger petir dan hujan di tempat sesakral ini" kataku.
"Kamu istirahat aja dulu, aku mau ke bawah nemuin Pak kadat (ketua adat)" katanya.
"Iya, tapi paket jaket ya? Kayanya suhunya udah mulai turun" kataku.
__ADS_1
"Iyalah, sekitar 23an derajat ada kali" jawabnya.