Kuliah Atau Kuli Ah?

Kuliah Atau Kuli Ah?
Perayaan


__ADS_3

"Selamat ya sayang!!!" kata Ayah dan Ibu yang mendatangiku ke backstage.


Semua dosen dari jurusanku yang datang malam itu juga memberikan ucapan selamatnya untukku.


Nirwan dan Arika bahkan membawakanku seikat bunga. Sementara pasangan Nunu dan Gian memberikanku sekotak coklat favoritku.


"Aku udah feeling kamu menang setelah jawaban brilliant kamu di putaran terakhir" bisik Hanifa.


"Kamu dengan pasrahnya bilang bahwa kamu hanya anak Ayah dan Ibu kamu yang masih banyak kekurangan dan kalaupun tidak terpilih, kamu akan melanjutkan kehidupan kamu sebagai mahasiswa yang baik dan sebagai anak sulung mereka...yang itu kan fa?" sahut Nunu.


"Iya yang itu keren tuh, gue aja gak nyangka Raina bisa jawab gitu hahaha" ledek Arika.


"Gitu banget sih ka, emang biasanya aku gak bisa ngomong ya hahaha" kataku.


Setelah berfoto ria dan mendapatkan banyak sekali ucapan selamat.


Aku belum juga melihat Andreas...


"Yah, bu.. kak Iyas mana?" tanyaku.


"Oya teh, kata Andreas tadi kamu sama semua temen-temen kamu habis ini harus makan bareng di four season... Andreas tadi pamit duluan kesana sama Recca, Randy dan Dhika" kata Ibu.


"Hah? Four season? Dia tahu darimana four season haha aneh banget lagi ngajakin malam semalem ini ke kita semua" kataku.


"Iya rain tadi kak Dhika juga ngasih tau aku, katanya kita ditunggu di four season" sahut Hanifa.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Aku, Ayah dan Ibu berangkat menuju four season dengan mobil kantor Ayah sementara Hanifa, Nunu, Arika, Nirwan dan Gian pergi menggunakan mobil Hanifa.


"Nanti kamu ke table 7 ya?" kata Andreas dalam pesannya.


...............


........................


Sesampainya di four season....


Kami semua sudah menunggu di table 7, tapi Andreas malah tidak ada. Hanya ada Randy, Recca dan kak Dhika yang sedang makan cemilan.


"Kakak dimana sih? Aku di table 7 nih" kataku.


"Sebentar, lagi di kamar mandi" katanya.


Tak lama diapun datang.


"Makanannya udah Iyas pesenin ko yah, tinggal nunggu dateng aja" katanya sambil duduk disebelah Ayahku.


"Apaan sih, ko duduk sebelah Ayah bukan sebelah aku? Padahal kursi sebelah aku kan kosong" ....


"Bukannya ngucapin selamat kek atau cium pipi aku kek basa-basi setelah aku menang, malah dingin-dingin aja" gumamku.


Setelah makanan datang, semua sibuk dengan makanannya masing-masing. Tapi aku masih memandangi Andreas didepanku.


"Dek, kenapa ko gak dimakan?" tanya kak Dhika.


"Gak nafsu" jawabku.


"Rain, makan dong kamu kan tadi cuma makan roti doang selama acara" kata Nunu yang memang menemaniku di backstage selama hampir 4 jam itu.


Aku malah pergi dengan alasan ke kamar kecil...


Padahal aku kesal pada Andreas....


.................................


.............................................


Saat aku kembali, semua orang masih sibuk makan. Ibu dan Ayah malah tidak memperhatikanku, Recca dan Randy dengan lahapnya makan sesuka mereka.


"Itu biar kamu selera makan, ada special dessert kesukaan kamu lagi diambilin pelayannya" kata Andreas.


Setelah pelayan datang dan memberikanku sebuah piring kecil yang ditutup dengan kepulan asap disekeliling piringnya.


Aku pura-pura tidak terkejut dan langsung membukanya dengan wajah datar.


Tapi,.....


Ternyata isinya yang membuatku terkejut....


Bukan sebuah special dessert melainkan sebuah kotak kecil dan kertas bertuliskan..


"Raina, would you like to get engaged with me?"


Aku langsung melihat wajah Andreas yang ternyata sudah senyam-senyum memandangiku.


"Apa jawabannya?" tanyanya sambil menatap mataku.


Semua sahabat-sahabatku yang hadir saat itu berteriak ramai-ramai.


"say yes say yes"


Andreas beranjak dari tempat duduknya dan menuju ke arahku. Memegang tangan kiriku dan meminta izin Ayah.


"Yah, seperti yang Iyas bilang tadi sore. Iyas mau serius sama Raina, gak masalah nunggu Raina sampe luluspun. Iyas akan nunggu, dan ini jadi bukti keseriusan Iyas sama Raina" katanya.


Aku terharu mendengar Andreas meminta izin Ayah sebelum mengutarakannya langsung padaku.


"Ayah sih terserah anaknya, lagi pula Ayah sama Ibu gak ada komplain tentang Iyas" jawab Ayah.


"Udah teh terima aja, daripada kebawa mimpi terus dilamar Andreas mumpung udah jadi kenyataan nih" sahut Randy yang baru mengeluarkan suaranya sedari tadi.


Sahabat-sahabatku tertawa mendengar candaan Randy barusan.


"Sekarang tinggal jawaban dari kamu, gimana? Apa kamu mau atau nggak?" tanyanya.


Aku menatap matanya dan tersenyum seraya menjawab.


"Iya, aku mau"...

__ADS_1


Setelah mendengar jawabanku, semuanya bertepuk tangan dan Andreas langsung memasangkan cincin yang diberikannya tadi.


Rasanya seperti mimpi, dimana laki-laki yang aku idamkan akhirnya memintaku menjadi tunangannya.


"Makasih ya udah mau terima aku" bisiknya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Setelah acara selesai dan semua sahabat-sahabatku pamit pulang dengan pacarnya masing-masing......


"Ayah sama Ibu dan Recca Randy duluan ya, kamu ikut di mobil Andreas gih" kata Ayah.


"Beneran yah gapapa?" tanya Andreas.


"Iya, asal dibawa pulang kerumah lagi ya?" ledek Ayah.


Kamipun pergi berdua setelah mengantarkan keluargaku ke parkiran...


"Dingin ya?" tanyanya setelah melihat drees pendek yang kupakai tanpa lengan.


"Iya, padahal udah gak pake Ac" jawabku.


Dia pun mengambil sesuatu dari storage belakang tempat dudukku.


"Ini tadi aku inget sebelum keluar dari kosan, aku udah feeling pasti kamu gak bawa jaket dan bakal pake dress ketekan gitu" jelasnya.


"Ko lucu jaketnya warna krem? Sejak kapan kakak punya jaket ini?" tanyaku.


"Jaket lama ko.... dulu masih cukup, sekarang udah ngga" katanya.


Aku jadi terpikirkan sesuatu setelah berdua dengan Andreas sekarang, tiba-tiba di pikiranku muncul banyak pertanyaan.


"Kak, soal cincin ini..... Apa itu artinya kakak beneran serius ke aku?" tanyaku.


"Kenapa? Kaget ya? Aku ngasih cincinnya kecepetan" katanya.


"Bukan gitu, cuma apa itu artinya kakak nggak akan jadi pindah ke Palembang?" tanyaku.


"Urusan itu, aku udah mikirin semaleman dan udah diskusi juga sama Dhika. Dia nyaranin aku untuk berhenti kerja dan ngurusin bisnis keluarga" jelasnya.


Aku agak sedikit kecewa, tapi bagaimanapun itu adalah keputusannya. Dia lebih tahu apa yang terbaik buat dirinya sendiri.


"Tapi kan nanti karena kerja di kebun sendiri, jam kerja aku bebas. Aku bisa telpon kamu sesuka aku, bisa ke Bandung semau aku dan lebih fleksibel juga buat hubungan kita?" jelasnya.


Aku berdiam tanpa menjawab sepatah katapun. Entah apa ekspresi yang harus aku keluarkan saat itu. Aku takut salah....


Dia menghentikan mobilnya dan memandangi wajahku.


"Cincin ini, aku sengaja kasih sekarang sebagai tanda ikatan kita. Supaya kamu yakin kalau aku gak akan pernah ninggalin kamu" katanya.


Yang aku mau saat itu, hanyalah memeluknya. Merasakan harum rambutnya dan aroma parfum khas dari tubuhnya. Aku tidak butuh yang lain....


"Iya, aku bakal coba ngerti posisi kita sekarang.. Aku bakal coba nerima keputusan kakak, demi kita berdua" kataku.


"Nah gitu dong, lagian kan nanti kamu makin banyak kegiatan sebagai duta kampus... Jadi aku jamin, kamu gak akan terlalu kehilangan aku" katanya.


Saat itu sebenarnya aku ingin sekali menamparnya, bagaimana bisa dia menyamakan dirinya dengan kesibukanku? Apa benar dia berpikir bahwa saat aku sibuk, aku akan mudah melupakannya dan tidak merasa kehilangan sedikitpun?


"Yaudah, kakak kapan berhenti kerja?" tanyaku.


"Tadi pagi, aku udah ngajuin surat sih. Tinggal nunggu pemberhentian tertulisnya" jawabnya.


Aku bahkan tidak lebih penting dari kak Dhika, dia mengajukan surat pemberhentian tanpa memberitahuku terlebih dahulu. Rasanya aku sedih....


Banyak hal yang tiba-tiba mengganggu pikiranku saat itu, mungkin karena aku sedang sensitif dan kelelahan jadinya aku lebih perasa malam ini.


"Hmmm yaudah aku doain deh semoga lancar ya prosesnya dan kakak bisa cepet ke Palembang buat ngurusin kebun" kataku.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sesampainya didepan rumahku.....


Aku turun tanpa menunggunya membukakan pintu mobil, sepertinya dia menyadari ekspresi wajahku yang kecewa sedari tadi. Hanya saja, dia tidak ingin merusak suasana hatiku yang bahagia setelah menang di duta kampus tadi.


"Kakak hati-hati ya?" kataku sambil berlalu.


Tiba-tiba, dia menghentikan langkahku lalu memelukku.


"Kamu kenapa? Tolong jangan diemin aku" katanya.


"Aku gak apa-apa, cuma capek aja. Udah gih kakak pulang, makasih ya udah nontonin aku sampe beres dan ajakin Ibu sama Ayah makan bareng" kataku.


.........................................................


................................................


Dini hari di kamar....


Aku terbangun dari tidurku, merasa ketakutan secara tiba-tiba setelah bermimpi buruk.


Rasanya seperti kenyataan, hingga aku merasa takut untuk melanjutkan tidur.


Aku membuka jendela kamarku untuk menghirup udara malam. Mengingat-ingat kebaikan yang diberikan Tuhan padaku hari ini...


Memenangkanku dalam ajang duta kampus, mengirimkanku sahabat-sahabat yang baik yang selalu setia disampingku dan memberikanku keluarga yang selalu merawat dan menjagaku.


Terakhir....


karena mengizinkanku bersatu dengan Andreas...


Meskipun, setelahnya aku harus merasakan kekecawaan. Andreas memintaku menjadi tunangannya lalu setelahnya dia memberitahukanku tentang keputusannya berhenti kerja di Bandung.


Aku melihat cincin yang tadi dipasangkan Andreas, melepaskannya dari jariku dan memperhatikannya dari berbagai sisi.


"Cincin ini ibarat persetujuan aku ditinggal sama kamu. Iya kan kak? Aku jadi dilema... Gimanapun, aku udah janji untuk belajar nerima keputusan kakak dan aku akan ngelakuin cara bagaimanapun supaya kita tetep sama-sama. Aku mau kita berjuang dulu sama mimpi-mimpi kita sampai kita sama-sama siap"....

__ADS_1


Setelah itu kotak cincinnya juga kubuka kembali..


"Would you engaged with me?"


Lima kata yang baru saja mengubah statusku dari lajang menjadi bertunangan.


Aku sempat melihat wajah kedua orang tuaku, sesaat sebelum aku menjawab pertanyaan Andreas yang satu itu. Ayah hanya tersenyum, sementara Ibu menganggukan kepalanya.


Diam-diam malam itu, aku menanyakan banyak hal pada diriku sendiri..


"Apa keputusan yang aku ambil ini benar?"


"Apa aku benar-benar ingin segera menikah?"


"Apa Andreas benar-benar ingin aku menjadi tunangannya?"


Lalu setelahnya, diriku seolah-olah berkata ..


"Its ok Raina, lakukan sesuai kata hatimu.... Perjuangkan apa yang menurutmu benar dan jangan pernah merasa takut pada sesuatu yang belum terjadi"


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Tak terasa sudah pukul 3 pagi....


Aku menarik kembali selimutku, melihat layar ponselku dan membaca banyak sekali pesan yang masuk.


"Selamat ya Raina! Mantap jurusan kita jadi lebih terpandang"


"Selamat ya Raina! Hasil tidak akan mengkhianati proses.... Semangat menjalankan tugas!!"


Hampir ratusan DM yang masuk ke stagramku...


Akhirnya karena aku merasa perlu memposting sebuah foto untuk menjaga diriku dari hal-hal yang tidak diinginkan.



"My support systemπŸ–€"


Fotoku dengan laki-laki yang baru saja memasangkan cincinnya di jari manisku.


"Kak, aku kangenπŸ–€" kataku yang dengan spontan mengirimkan pesan padanya.


Tidak kusangka dia langsung menelponku...


"Akhirnya, aku udah duga kalau kamu lagi banyak pikiran pasti tengah malem kamu kebangun" katanya.


"Aku laper kayanya" kataku berbohong.


"Bohong, paling kamu mimpi buruk kan? Terus susah tidur lagi ya kan?" katanya.


"Iya sih, gak tau tiba-tiba aja mimpi begitu" jawabku.


"Mimpi apa? Mau cerita gak?" tanyanya.


"Mau sih tapi aku lupa mimpinya gimana" jawabku.


"Hahaha selalu begitu, yaudah mau aku temenin sampe tidur?" tanyanya.


"Hmmm sebenernya aku mau minta maaf, karena tadi diemin kakak. Habis aku kesel, masa aku baru dikasih tau kalau kakak udah ngajuin surat permohonan keluar kerja setelah suratnya dikasihin" kataku.


"Iya aku lupa, aku pikir aku udah ngasih tahu kamu eh ternyata belum" jawabnya.


Diapun menemani aku hingga tidur, aku pasti tertidur lebih dulu karena aku tidak ingat kapan aku mematikan teleponnya.


Malam itu, lagi-lagi satu kerikil kecil berhasil kami lalui. Kerikil bernamakan terlalu perasa, yang bisa saja membuat hubungan kami renggang dan bermasalah.


Beruntung sekali, mimpi itu hadir dalam tidurku malam tadi. Mimpi yang membuat aku sadar bahwa setiap detik kebersamaan harus dihargai, karena kita sebagai manusia tidak akan pernah tahu siapa yang lebih dulu pergi....


Kita yang akan meninggalkan ataupun kita yang akan ditinggalkan.....


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Keesokan paginya....


Ibu membangunkanku dan menyuruhku sarapan. Aku segera mandi dan turun kebawah setelahnya.


Dimeja makan sudah ada Randy dan Recca yang menungguku.


"Makan duluan aja sih Ran" teriakku.


"Barengan lah cepet sini" sahutnya memintaku segera turun dari lantai 2.


"Teteh ko make up matanya masih ada sih?" tanya Recca.


"Iya susah ilang dek, padahal udah dicuci berkali-kali" jawabku.


Ayah yang baru saja keluar kamar, bergabung dengan kami dan kamipun mulai makan bersama.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Setelah selesai makan, aku duduk didepan TV sambil menunggu acara kartun favorit Recca bersamanya.


Karena hari ini hari minggu, beruntungnya aku bisa rebahan dan bermalas-malasan seharian ini.


Baru saja aku menyalakan kembali ponselku, sudah banyak sekali notifikasi dari grup Duta Kampus.


Acara lintas angkatan duta kampus, kunjungan ke kantor walikota dan kegiatan lainnya yang sudah menantiku didepan...


Akupun menelpon Irish...


"Rish, untuk acara yang dishare itu kita dateng barengan? Atau seorang bergantian dan bagi-bagi jadwal?" tanyaku.


"Kata pembina kampus sih, kita dateng berdua kemana-mana" jawab Irish.


"Iya deh, nanti senin ya kita ketemu buat ngobrolin itu" kataku.

__ADS_1


"Oke rain, aku mau lanjut tidur lagi haha semalem capek banget" pungkasnya.


__ADS_2