
"Na, bangun!! Kak Andreas sama Kak Dhika kemana?" tanya Hanifa yang sudah mandi dan rapi.
"Ke kampus bantu-bantu di jurusan" jawabku sambil beranjak dan duduk.
"Mandi sana, kita pulang aku udah pengen istirahat banget dirumah" kata Hanifa.
"Iyaaaa, tapi nunggu hp sama barang-barang kita dulu ya" jawabku.
"Ya kita ambil aja ke kampus" ajaknya.
Kamipun segera berangkat jalan kaki ke kampus, untuk memberikan kunci kosan dan mengambil barang-barang kami lalu pulang kerumah.
Di kampus, benar saja semua sudah berkumpul dan membereskan peralatan bekas kulap kemarin.
"Gian!" teriak Hanifa saat melihat Gian sedang ngobrol dengan Nirwan.
Aku mengikuti Hanifa berjalan kearah Gian.
"Gimana anak-anak udah pada pulang semua" tanyaku.
"Belum, ada sebagian yang dirawat tapi ditungguin sama orang tua mereka disana" jawabnya.
"Oya, hape kamu sama hape Hanifa udah diambil kak Dhika tadi dan barang kalian ada disitu tuh" tunjuknya pada tumpukan tas disebelah kami.
"Thanks ya" kata Hanifa.
Aku dan Hanifapun segera mengambil tas kami, namun Gian menghentikan langkahku saat itu.
"Kamu mau pulang? Semalem kamu tidur kan?" tanyanya.
"Hahaha ya tidurlah, aku gak pulang semalem soalnya udah malem banget takut" jelasku.
"Yaudah, hati-hati dan langsung istirahat ya" jawabnya.
"Iya pasti hati-hatilah, nanti saya yang anter sampe rumah" tiba-tiba saja Andreas bersuara dari arah belakang Gian.
Aku buru-buru melingkarkan tanganku ke tangan Andreas, memegang dan menahan langkahnya. Aku paham saja, situasinya akan rumit kalau Gian dan aku ada dalam jarak yang dekat ditambah ada Andreas juga disana.
"Kak, tadi kaka diem dimana? Aku nyari tau" tanyaku basa-basi.
"Dari ruang hima, kamu udah disini aja, pasti belum sarapan kan?" tanyanya.
"Belum haha, tapi aku belum mau makan. Mau pulang aja, soalnya Ayah pasti khawatir banget" jelasku.
"Aku barusan telpon Ayah kamu, aku bilang aku yang bakal nganterin kamu nanti" jawabnya lagi.
"Hmm baiknya yaudah deh sarapan dulu ya?" pintaku.
"Tapi aku belum mandi loh" keluhnya.
"Gapapa, gak keliatan ko cuma hmm kecium" ledekku.
Andreas mencubit tanganku dan buru-buru menarik tanganku saat ada yang hampir menabrakku dari belakang.
"Rani!" ...
"Kak, maaf banget tapi aku gak tau harus minta tolong siapa lagi.. Termometer sama webbing gak ketemu di tim logistik, kita udah nyari kemana-mana tapi gak ketemu apa mungkin ketinggalan atau nggaknya juga kita gak tau kak" jelasnya yang disambut dengan wajah serius Andreas.
"Yaudah saya kesana nanti, kalian tulis aja logistik yang udah balik apa aja" jawabnya.
__ADS_1
Ranipun pergi meninggalkan kami, dan Andreas langsung memasang wajah bersalahnya.
"Maaf" katanya.
"Gak papa, kakak urus disini aja. Semua kayanya butuh kakak haha aku bisa pulang pake taksi online ko" jelasku.
"Tapi aku udah bilang sama Ayah kamu, gak enak aja kalau aku gak jadi nganterin kamu... Apa kamu tunggu disini sampe urusan aku beres" katanya.
"Gak usah, kakak juga kan belum tidur semalem jadi mending nanti kakak langsung pulang dan istirahat oya ini kuncinya" kataku sambil memberikan kunci ke tangannya.
"Yaudah, aku anterin kamu sampe ke taksi online nya ya?" pintanya.
"Yaudah yu cari kak Dhika dulu kita ambil hape aku" ajakku.
Aku dan Kak Andreaspun melipir sedikit dari kerumunan dan mencari kak Dhika.
Setelah menemukan kak Dhika dan mengambil hapeku..
"De, Hanifa mana?" tanya kak Dhika.
"Disana tuh samperin, bukannya mau nganterin pulang juga kan?" sahutku.
"Iya, yaudah gue kesana ya yas" katanya sambil menghampiri Hanifa diikuti oleh kami berdua.
UAS TELAH TIBAAA....
Hari demi hari berlalu semenjak kecelakaan itu...
Hari ini sudah hari pertama UAS, aku berangkat bersama Hanifa ke kampus karena mobilnya sudah diperbaiki dan bisa dipakai kembali.
"Teh, tuh Hanifa udah nunggu diluar" teriak Ibu.
"Ya bu, aku tinggal bawa sepatu ko" sahutku.
"Rain, tau gak si Rani mosting apaan barusan di stagram?" tanya Hanifa.
"Gak tau, belum liat haha lagian ngapain rajin banget liat postingan si Rani tumben hahaha" ledekku.
"Ih buruan liat" rengeknya.
Akupun melihat hapeku dan membuka sns Rani.
"Ini maksudnya apaan?" tanyaku heran.
"A itu Andreas, R itu Rani dan dia sampe ngerajut huruf huruf itu buat ditempelin di tasnya dan diposting. Gila ya gak tau apa dia kalau murah banget kesannya masih ngejar dan ngerebut cowok orang secara terang-terangan" jelas Hanifa.
"Mana postingan keduanya itu bosscha dan ada badan Andreas disana jadi siluet, gila apa tu cewek?" tambahnya.
"Kasian" kataku.
"What kasian? Gimana bisa orang macam itu dikasihanin? Dia bahkan suka sama cowok kamu loh, marah dikit gitu Rain" jawabnya.
"Iya, tapi mau marah sama siapa? Aku gak bisa marah ke Andreas, dia kan gak salah. Terus kalau aku marah sama Rani, apa nyelesain masalah? Kan menyukai seseorang itu hak semua orang" jelasku.
"Ya tapi dia tuh harusnya tau, pacarnya Andreas temen sekelasnya loh" jawab Hanifa (keukeuh).
"Yaudah lah fa, mungkin dia gak tau aku pacaran sama Andreas atau mungkin dia pura-pura gak tahu hahaha" jawabku lagi pasrah.
Setelah sampai di kampus...
__ADS_1
Arika dan Nunu sedang gugup dan berdampingan membaca buku-buku catatan sepertinya mereka sedang belajar.
"Rain, nanti kalau ada yang susah kasih tau ya?" bisik keduanya..
"Kalau bisa hahaha" jawabku.
Gian membagikan lembar soal kepada kami semua, saat tiba didepan kursiku aku dengan sengaja menahan lembarnya supaya dia melihat kearahku.
"Kamu belajar gak?" bisikku.
"Belajar, kamu?" tanyanya sambil tersenyum.
"Sedikit hehe" jawabku.
Aku senang, Gian sudah bersikap seperti biasanya. Dia seperti orang baru yang sudah memahami karakter teman-temannya dan bisa memperlakukan mereka dengan baik.
Uas hari itupun selesai, aku tidak bisa menemukan Andreas setelah mencarinya ke banyak tempat.
"Kak, dimana? Ko gak ada di kelas?" tanyaku.
"Iya, aku udah beres duluan dan sekarang lagi ada rapat rema" jawabnya.
"Kakak ikut rema?" tanyaku.
"Bukan, mewakili jurusan kita aja untuk diskusi pemilihan bem rema berikutnya" jawabnya.
"Hmm, yaudah deh kalo gitu aku pulang duluan aja ya?" kataku.
"Maaf ya hari ini kita gak ketemu, kalau kamu nungguin pun pasti lama kasian" jawabnya.
"Iya gak papa, byeee" pungkasku.
Aku dan ketiga sahabatku memutuskan untuk baca buku sambil wifi'an di perpustakaan mumpung kami pulang cepat.
Mereka bertiga asyik membaca buku bahasan geografi sosial, sementara aku membaca buku geografi lingkungan.
"Na, itu Andreas kan? Ngapain dia kesini sama Rani?" bisik Nunu sambil menunjuk arah jam 12 dimana ada Andreas dan Rani disana.
"Iya nu, mungkin lagi ada urusan hima kali haha" jawabku seolah tak peduli.
"Dia bukannya bilang lagi rapat basket? Sekarang kenapa dia di perpus sama Rani lagi? Berdua aja? Urusan Hima apaan sampe harus berdua segala? Kalau urusan himapun aku harusnya ikut dong, aku kan bidang mereka juga sama. Kenapa aku gak tau?" pikirku.
Kami berempatpun memperhatikan gerak-gerik mereka dari jarak yang cukup dekat, Andreas tetap dingin seperti biasanya berbeda dengan saat dia bersamaku atau ketiga sahabatku yang lain. Rani memang kelihatan jelas menyukai Andreas, matanya selalu bergerak kemanapun Andreas beranjak.
"Na, samperin gih atau kamu tanyain di chat kakak ada dimana gitu?" pinta Hanifa.
Akupun menurut dan mengirimkan pesan.
"Kak, masih rapat basket ya?" tanyaku.
Dia langsung membalasnya.
"De, kamu udah pulang?".
Aneh, kenapa dia malah balik nanya bukannya jawab pertanyaan aku dulu. Dia kok ga jujur sih, dia kan tinggal bilang "udah de, aku udah beres sekarang lagi belajar sama Rani" atau gimana kek kan...
Tak lama aku melihat lagi kearah mereka dan kudapati Rani sedang mengambil foto Andreas saat Andreas lengah.
"Na, samperin gih si Rani keterlaluan tuh!" pinta Arika.
__ADS_1
"Iyaih, masa fotoin orang tanpa sepengetahuan orangnya" sahut Nunu.
"Udah, biarin aja dulu. Tunggu sampe Andreas jujur kalau dia gak jujur berarti ada yang dia sembunyiin" jawab Hanifa.