Kuliah Atau Kuli Ah?

Kuliah Atau Kuli Ah?
Dialog baru


__ADS_3

Aku dan Gian sebisa mungkin bersikap normal, meskipun rasanya canggung saat berada diantara keduanya secara bersamaan.


"Gian... Gimana suhunya sejauh ini terendah berapa?" tanya Andreas to the point.


"Hmmm 18 derajat ada kali ka tadi" jawab Gian.


"Berapa perbedaan suhunya sama di basecamp tadi?" tanya Dhika.


"Seingetku sih suhu nya turun ada kali 4 derajat ka, soalnya dari gps aja ketinggian pos pengamatan bedanya 300 meteran sama base camp tadi" jelasku.


"Elevasinya maksudnya?" tanya Andreas.


(Elevasi adalah perbedaan ketinggian tempat)


Saat Andreas merespon jawabanku, aku cukup senang karena nampaknya suasana hatinya sudah lumayan cair dibandingkan tadi saat aku menjadi bahan ledekkan Ka Dhika.


"Iya ka" jawabku.


"Ka, obatnya Raina ketinggalan di tasnya di basecamp bisa gak saya pinjem motor bentar buat kesana ngambil obatnya" kataku.


"Eh, beneran ketinggalan rain?" tanya Gian.


"Iya gi soalnya di saku gak ada" jawabku.


"Yaudah de ambil aja sana tapi ditemenin Andreas ya soalnya jalanannya licin tadi dibawah sempet ujan juga malah" jelas Ka Dhika.


"Eh gapapa aku bisa bawa motor ko ka lagian bentaran doang" jelasku.


"Udah saya yang anter! Ayo?" kata Andreas.


Wajah Andreas kembali membeku, tidak ada lagi ekspresi yang barusan. Andreas mungkin benar-benar menghindariku, kalau bukan karena Ka Dhika yang menyuruh Ka Andreas untuk mengantarku... Hmm pasti dia akan menolak.


Akhirnya karena aku butuh sekali obat itu, mau tidak mau aku harus menerima tawaran Andreas. Gianpun harus menunggu di pos dengan Ka Dhika.


Diatas motor Andreas ....


"Obat apa sih de?" tanya Andreas.


"Obat alergi kak, kalau dingin banget biasanya aku suka gatel-gatel terus bentol bentol gede-gede gitu aku lupa nama penyakitnya apa... Pokoknya kalau aku ke tempat yang dingin banget atau panas banget ya suka gitu" jelasku.


"Oh" jawabnya singkat.


Kami sudah hampir sampai di Basecamp, ternyata letak basecamp dari pos pengamatanku cukup jauh sekitar 15 menit ditempuh dengan kendaraan. Padahal tadi ketika berangkat dengan Gian, walaupun jalan kaki rasanya tidak jauh seperti ini.


"Kamu turun disini gih, saya tunggu disini aja soalnya gak enak kalau temen-temen kamu liat saya yang nganter kamu" kata Andreas.

__ADS_1


Entah kenapa mendengar perkataan Andreas barusan, ada luka yang menancap kecil di hatiku. Seperti tangan yang tertusuk duri kaktus di halaman rumah. "Sedikit darahnya, tapi lumayan sakit rasanya"...


"Iya kak" jawabku sambil bergegas turun dari motornya dan berlari menuju basecamp.


Setelah aku mengambil obat alergiku, hujan lalu turun dengan lumayan derasnya. Sementara Andreas sudah turun dari motornya dan berteduh didalam warung saung depan persimpangan jalan menuju Basecamp.


"Kak!" teriakku.


Andreas mengisyaratkan tangannya ke kursi di sebelahnya seolah menyuruhku untuk duduk.


Akupun duduk di kursi itu, dan selang beberapa menit kami saling berdiam diri. Andreas hanya fokus melihat jalanan yang basah diguyur hujan, sementara aku sibuk mengatur tempo nafasku yang tidak teratur karena harus ada di situasi yang sama saat Andreas mengantarkanku pulang kerumah pertama kalinya.


"Lagi sama kamu hujan mulu ya?" kata Andreas pelan.


"Hmm iya ya" sahutku.


Andreas lalu membuka tasnya, mengambil satu diantara banyaknya buku yang ada. "Buku catatanku!"


"Ini buku kamu? Hmm itu udah ada kertas pengamatannya dan juga ada beberapa soal yang harus kamu isi dengan kelompok kamu nanti" katanya.


"Ah iya thankyou ka!" balasku.


Akupun membuka buku catatan tersebut dengan maksud mengecek kertas tugas yang sudah ditempelkan didalamnya.


"Kurang lebih gitulah... Jangan lupa ambil gambar juga!!!" ingatnya.


Hujan masih terun mengguyur daerah perbukitan itu, tapi diantara semua hujan yang pernah kualami... Hmmm hujan malam itu, adalah hujan favoritku... Hujan yang menahan Andreas untuk lebih lama bersamaku...


Hujan sudah cukup reda...


"Kak ayo jalan! Kasian Gian sama kak Dhika nunggunya kelamaan?" ajakku.


"si Dhika palingan tidur de... Oh ya de, aku mau ngomong sama kamu" katanya.


"Hmm apa kak? Ngomong aja" sahutku.


Aku mencoba mengatur ekspresi wajahku yang hampir saja memerah karena salah tingkah. "Jangan salting rainaa harus bisa jaga image!" batinku.


"Maaf udah buat kamu gak nyaman kemarin, sampe katanya kamu jadi bahan gosip di seangkatan kamu... Maaf karena aku gak bisa paham posisi kamu sebagai maru... Maaf de..." katanya super pelan.


Andreas terlihat menunduk lesu saat mengutarakan permintaan maafnya. Wajahnya suram seperti sangat menyesali apa yang sudah terjadi.


"Santay ka!! Haha semua kan udah lewat? Kita mulai yang baru ya?" jawabku.


"Yang baru? Maksudnya kamu sama Gian? Hahaha" jawabnya meledek.

__ADS_1


"Engga huh kakak kali yabsama Praya hahaha" ledekku balik.


"Hahaha iya kali.. Kalo kamu kenapa bilang nggak?" tanyanya.


"Aku sama Gian kan cuma pura-pura pacaran haha Gian cuma mau bantuin aku biar gak digosipin di kelas lagi hahaha lucu ya?" jelasku.


"Segitunya kalian?" jawabnya.


"Hmm" jawabku sambil tersenyum kearah Andreas.


Mata kami bertemu saat itu, tepat saat aku mengakui kejadian yang sebenarnya dengan Gian. Saat aku lihat Andreas merasa lega dan seketika semua pertanyaan yang tersirat dimatanya menghilang.


"Kak... Maaf ya karena aku repotin kakak kek gini hmm aku gak enak aja jadi kakak gak nyaman digosipin sama aku... Maaf juga buat kak Praya karena hubungan kalian mungkin jadi keganggu gara-gara gosip di angkatanku hahaha" jelasku.


"Sebenernya de....


Tiba-tiba petir menyambar, suaranya sangat kencang sampai-sampai aku teriak karena kaget. Andreas menyadari rasa takutku, dan akhirnya menyuruhku untuk duduk agak kedalam.


"Sini sini geser kursinya kedalem biar kalo ujan lagi gak kecipratan" jelasnya.


"Ah ka sebelum ujan gede lagi mending kita pergi yu biarin lah basah basahan dikit mah?" ajakku sambil berdiri dan menarik jaket Andreas.


Andreas cuma pasrah dan langsung menyalakan motornya.


Sesampainya di pos, benar saja Kak Dhika sudah tidur dan Gian masih fokus menjaga termometer.


"Kamu kehujanan Rain?" tanya Gian.


"Engga haha hujannya dibawah doang loh, pas naik kesini gak ujan haha" jawabku.


"Woy Dhik bangun lu ayo ke pos lain sisa 2 pos lagi nih kasian pada nungguin" ajak Andreas sambil membangunkan Dhika yang santai menyenderkan kepalanya di tas Gian.


"Lu pergi lama amat sih yas gua sampe ngantuk" gerutu Dhika.


"Ngaco lu gua pergi gak akan nyampe 40 menit" sahut Andreas.


Andreas dan Dhikapun pamit untuk pergi ke pos selanjutnya yang letaknya diatas pos kami.


"Pamit ya! Gian jagain dede gemesh aset jurusan ini ya! Jangan lupa switch sejaman lagi sama yang dibawah dan kabarin dulu merekanya untuk siap-siap naek kesini" kata ka Dhika.


Andreas sih cuma melambaikan tangan dan tersenyum saja tanpa mengucapkan sepatah katapun menjelang pergi.


"Tumben tuh si komdis senyum ke aku" kata Gian.


"Haha baguslah gi itu artinya dia gak jutek lagi kan?" sahutku sambil tertawa.

__ADS_1


__ADS_2