
Beberapa hari berlalu setelah kabar kepindahan kak Dhika, Hanifa yang sudah mengetahuinya bisa menerimanya dengan lapang dada. Dia malah mendukung kak Dhika untuk lebih dekat dengan keluarganya.
Mungkin karena Hanifa juga merasakan, bagaimana rasanya hidup berjauhan dengan Papa dan Mamanya. Di hari dimana kak Dhika pindah, Hanifa bahkan tidak menangis sama sekali. Dia benar-benar terlihat tegar.
Mungkin karena baginya, jarak Bandung dan Jakarta masih dekat. Mengingat setelah memasuki semester tujuh, jadwal perkuliahan reguler hanya dua kali seminggu.
Kalau aku yang berada di posisi Hanifa, entah aku akan menjadi sekuat dia atau tidak. Aku juga tidak seluas dia yang bisa menyetir sendirian kemanapun. Hanifa memang sangat mandiri. Aku bangga pada sahabatku yang satu itu...
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hari ini, aku ada janji double date dengan Nunu dan Gian. Mereka akan datang ke Outlet Rainfa. Kami janji bertemu pukul 2 siang.
Aku masih dirumah, karena harus membantu Ibu di grosir. Kak Iyas akan menjemputku sebentar lagi.
Ketika aku sedang melayani pembeli, ada seorang anak kecil di sebrang arah. Dia terlihat hendak membeli sesuatu di grosirku, tapi dia kesulitan untuk menyebrang jalanan komplek yang saat itu cukup ramai.
"Bu aku nyebrangin anak kecil itu dulu ya? Kasihan" kataku sambil berlari keluar.
Aku mendekati anak itu, sambil bertanya dia hendak pergi kemana.
"Mau beli beras di warung itu" jawabnya sambil menunjuk kearah grosirku.
"Oh itu warung kakak, ayo kakak anter sebrangin kesana ya?" ajakku sambil meraih tangannya.
Sepertinya dia satu atau dua tahun lebih tua dari Recca. Terlihat dari tinggi badan dan postur tubuhnya.
"Kenapa sendirian dek? Gak minta tolong orang tua kamu.." tanyaku.
"Mama udah meninggal kak, beberapa hari yang lalu. Papa kerja dan belum pulang. Aku dititipin dikosan Bibi, tapi bibi sakit dan belum sempet makan" katanya menjelaskan.
Namanya Rachel, dia cantik. Rambutnya agak ikal dan panjangnya sebahu. Kalau dengar dari ceritanya, sepertinya dia anak yang baik.
Aku menanyakan dimana letak kosan Bibi yang dimaksudnya itu, ternyata di kosan Bu Mirna. Di lantai satu. Kebetulan, karena aku sedang menunggu kak Iyas jadi kuantarkan saja Rachel ke kosan Bibinya.
Sesampainya disana, ternyata Bibi Rachel itu seusia denganku. Dia salah satu mahasiswi STIKes di dekat komplek rumahku. Namanya Rossa.
"Makasih loh udah anterin ponakan aku, aku aja gak ngerti kenapa dia bisa inisiatif beli beras. Padahal aku lagi order makanan, kayanya dia gak sabar" jelas Rossa.
"Iya sama-sama, dia kayanya khawatir deh soalnya muka kamu pucet dan kamu bilang kamu belum makan. Baik deh Rachel" kataku.
Rachel tersenyum seolah malu karena aku memujinya. Dia menyuruh Bibinya untuk segera memasak nasi untuk mereka akan makan bersama. Entah kenapa, aku malah penasaran dan menanyakan latar belakang Rachel pada Rossa.
Beruntungnya, Rossa tidak tersinggung dan menceritakannya padaku.
"Mamanya Rachel, kakak kandung aku sendiri. Meninggal semingguan yang lalu karena sakit. Rumahnya di komplek sini juga. Awalnya aku tinggal disana sama kakak ipar aku, tapi aku gak enak karena dia kan laki-laki. Akhirnya, aku ngekos disini beberapa hari ini. Siangnya si Rachel dititipin ke aku, karena kuliah lagi libur" jelasnya.
Rossa bilang dia tidak nyaman kalau harus tetap tinggal bersama Papanga Rachel, yang sebenarnya adalah kakak iparnya juga. Aku mengerti pikiran dan perasaan Rossa, bagaimanapun posisinya memang serba salah.
"Terus kalau kamu udah mulai kuliah lagi gimana? Rachel dititipin ke siapa?" tanyaku.
"Nah itu yang aku sama Bang Dio pikirin, disini kami gak punya saudara. Semua saudara tinggalnya di Bantul" jelasnya.
Tak terasa saat sedang mengobrol asyik dengan Rossa, kak Iyas turun dari kamarnya. Aku melihatnya menuruni anak tangga.
"Kak" teriakku.
Dia terlihat kaget saat aku ada di dalam satu kamar kos di tempatnya.
"Maaf ya aku lama soalnya tadi ketiduran, pantes kamu gak nelponin aku ternyata dari tadi kamu udah disini" katanya.
"Iya gak apa-apa, daritadi si Nunu sama Gian udah di Rainfa tahu. Bawel dia ngechat aku terus" jelasku.
Akupun mengenalkan Rossa pada Kak Iyas, dan ternyata Rossa adalah perempuan yang disukai oleh teman sebelah kamar kak Iyas.
Setelah berpamitan pada Rachel dan Rossa, aku dan Kak Iyas pergi menuju outlet.
Sepanjang perjalanan menuju Rainfa, aku menceritakan kondisi Rachel dan Rossa. Nampaknya kak Iyas juga ikut bersimpati. Berulang kali dia berkata "kasihan ya".
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sesampainya di Rainfa....
Nunu dan Gian malah asyik memilih jaket dan sandal gunung. Gian terlihat paling antusias.
"Gila emang yang baru cair duit penelitian mah" ledekku.
"Ih dari mana aja sih? Abis mojok ya kalian berdua?" tanya Nunu.
Kak Iyas malah tertawa mendengar pertanyaan Nunu sambil mengacak-acak rambutku.
"Hmmm sosweet deh. Yang lihat deh kak Iyas kelihatan sayang banget sama Raina, kamu mana pernah gituin aku" gerutunya.
"Iya nanti aku acak-acak rambut kamu" sahut Gian yang diikuti ledekan tertawa olehku dan kak Iyas.
Setelah Kak Iyas selesai dengan urusannya, dia lalu mengajak kami pergi. Tujuannya terserah dia. Dia yang menyetir. Kami sebagai penumpang hanya bisa ikut saja.
"Eh bentar, nunggu sampe kepala toko dateng dulu ya?" katanya
Motor Gian dititipkan di parkiran outlet. Sementara Outlet tidak begitu ramai saat kami pergi, aku melihat Selvy sedang asyik bermain ponsel di meja kasir.
Padahal Listiana dan Liani, sedang sibuk memasang tag catalog.
__ADS_1
Nunu melihat hal yang sama, dia menyenggol tanganku. Hingga akhirnya aku berinisiatif mendatangi Selvy.
"Sel lagi balesin chat costumer ya?" tanyaku.
Aku berusaha untuk berfikir positif, karena ternyata Selvy sedang memainkan ponsel khusus melayani costumer online.
"Iya mbak" jawabnya.
"Oh, semangat ya!" kataku.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Tak lama kemudian kami berempat pergi menuju tempat yang tak bernama. Kak Iyas menyebutnya demikian karena sampai sekarang, tempat itu memang belum dibuka sebagai tempat wisata umum.
"Bukit ini sering dikasih nama bukit bintang, karena kita bisa lihat bintang kalau malem dan langit lagi mendukung" katanya.
"Wah semoga langitnya cerah ya pas kita sampai sana" kataku.
Nunu dan Gian malah sibuk nyemil di belakang. Mereka bahkan berebut minuman kaleng.
"Masih ada kali Nu di kresek, ambil lagi aja" kata Kak Iyas.
Nunu tertawa karena kepekaan kak Iyas. Sambil nyemil, dia bercerita tentang tingkah laku salah satu karyawan kak Iyas yang agak aneh.
Nunu bersaksi, dia melihat karyawan tersebut sedang memindahkan posisi cctv yang mengarah ke meja kasir.
"Siapa sih nu?" tanya Kak Iyas.
"Itu yang tadi main hape terus" jawabnya.
Selvy... Memang dia agak aneh dibanding dua temannya yang lain. Selvy sangat slow respon dan kadang terlihat tidak fokus saat melayani costumer.
"Mungkin posisi cctv nya salah kali yang" kata Gian.
"Ih bukan yang beneran, aku lihat sendiri dia tuh ngegeser arah kamera biar sorotannya jatuh ke dinding lain bukan ke meja kasir" jelasnya.
Aku menyarankan kak Iyas untuk meminta tolong kepala tokonya agar mengecek semua posisi cctv di Rainfa. Kak Iyas malah merespon sama dengan Gian, dia bilang mungkin tujuan Selvy adalah untuk membenarkan posisi kameranya.
"Tuhkan emang cowok-cowok tuh gitu rain, gak mau dinasehatin. Padahal mata cewek kan tajem ya? Kita gak mungkin salah lihat" kata Nunu.
Sebenarnya, aku sudah menaruh curiga pada Selvy sejak saat pertemuan pertama kami. Apalagi aku sempat mendengarkan ocehannya tentang kami berempat saat pemotretan.
"Kak, beneran loh kayanya kakak harus agak hati-hati sama Selvy" kataku.
"Iya-iya, aku bakal lebih perhatiin dia mulai besok" katanya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Wah, udah lama banget gak kesini. Ternyata sekarang makin bagus ya tempatnya" kata Nunu.
"Dulu kayanya gak gini ya nu? Gak ada saung-saung atau tempat parkir. Cuma lereng aja kan?" tanyaku.
"Iya rain, dulu tuh cuma lereng doang sama jalanan berbatu. Sekarang udah ada fasilitas jadi enak ya" sahutnya.
.................................
Sesampainya di Bukit Bintang..
Gian dan Nunu langsung berlarian ke arah ladang luas sebelah tempat kami memarkirkan mobil.
"Aku sama Gian foto berdua dulu ya?" teriak Nunu.
"Ya, ketemu disini setengah jam lagi ya?" sahutku.
Kak Iyas menarik tanganku seperti hendak mengajakku ke salah satu spot.
"Ayo, ayo kita ke atas sana. Ada tempat bagus banget" ajaknya.
Sesampainya disana, ternyata ada jejeran pohon pinus yang rapat dan ditengahnya ada jalan setapak yang sepertinya sengaja dibuat untuk akses pengunjung.
"Waaah, jadi bagus banget ya?" kataku.
"Kalau kaki aku udah sehat bener, kita bisa treking kesana sampe kedalem hutannya lebih bagus lagi" jelasnya.
"Disini juga udah bagus ko, oiya nanti pas matahari tenggelam kayanya bagus juga skyview nya" kataku.
"Bagus, apalagi kalau malem dan langit cerah itu lampu dari pusat kota bagus banget" jawabnya.
Bukit bintang adalah salah satu tempat wisata alam yang letaknya tidak terlalu jauh dari pusat kota Bandung. Tepatnya di kawasan caringin tilu. Dinamakan caringin tilu sendiri, karena dulunya ada tiga pohon caringin yang tumbuh didaerah ini. Sekarang tinggal satu saja.
Bukit bintang dulunya hanya bagian dari hutan kota. Namun karena semakin banyaknya orang yang datang, daerah ini dikelola menjadi tempat wisata. Berbatasan langsung dengan wilayah hutan lindung.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Kak Iyas terlihat sangat menikmati pemandangan. Dia sesekali hanya terdiam dan menarik nafas dalam-dalam seperti hendak melepaskan kepenatan.
Hawanya sejuk dan khas dataran tinggi. Bau-bau dari kayu yang dibakar, seduhan daun teh segar dan kopi hitam menyeruak di hidungku.
"Kak, mau kopi item" teriakku.
__ADS_1
Dia tertawa seperti tak percaya dengan perkataanku.
"Hah? Kopi item? Gak salah?" sahutnya.
Dia tetap duduk di atas sebuah batu besar sambil mengambil foto pemandangan.
"Ih kakak beneran" teriakku lagi.
"Oke ayo beli" sahutnya sambil beranjak.
Kami berdua pergi ke sebuah warung. Warung yang ada disini sangat banyak, mulai dari pinggiran jalan sebelum masuk ke kawasan dataran tinggi juga disekitaran bukit bintang.
Mayoritas dari mereka, menjual minuman hangat, mie instan, jagung bakar dan lainnya. Aku menelpon Nunu untuk mengajaknya makan bersama di warung. Ternyata dia dan Gian malah sudah duduk didalam warungnya.
"Baru aku mau telepon" kataku.
"Hahaha aku juga baru ko, tadinya mau manggil tapi kak Iyas kaya asyik banget foto-foto" jawab Nunu.
Kami memesan banyak makanan. Katanya Gian lapar, kak Iyas yang juga belum makan serta Nunu yang memang rakus.
"Rain, gak salah kamu pesen kopi item?" kata Gian.
"Lah emang kenapa? Tadi aku cium wangi banget tahu, bapak-bapak sebelah aku yang lagi minum" jawabku.
"Gak tahu nih gi, ada-ada aja cewek pingin kopi item" ledek kak Iyas.
Selain minum-minum, kami juga menikmati jagung dan sosis bakar. Hingga saat aku sedang lahapnya makan, kak Iyas terlihat berbicara dengan seseorang lewat ponselnya.
"Yaudah, kita jebak aja. Nanti bapak pasang aja cctv atau microcam tambahan yg gak kelihatan deket meja kasir buat ngerekam dia" kata kak Iyas.
Aku. Gian dan Nunu langsung berhenti makan seketika setelah mendengar pembicaraannya. Kak Iyas terlihat sangat kaget dan tak percaya.
Setelah dia selesai mengobrol, Nunu buru-buru menanyakan tentang apa hal yang terjadi dan apa semuanya ada hubungannya dengan Selvy. Maklumlah, Nunu sangat tidak menyukai Selvy sejak hari pemotretan itu. Begitu juga denganku.
"Kenapa kak? Beneran si Selvy nyolong?" tanya Nunu
"Belum tahu sih Nu, soalnya si Selvynya juga belum kepergok lagi ngambil uang. Cuma kata si kepala toko aku, dia lihat Selvy gak scan barang yang dibeli sama costumer" jelasnya.
"Wah dia lipet kali uangnya" sahut Gian.
"Iya bisa jadi tuh ka" kataku.
"Ya makanya, aku nyaranin pasang cctv tambahan atau kamera kecil buat antisipasi. Ya kita positif thinking aja, siapa tahu komputernya lagi error kan?" jelasnya.
Nunu terlihat mengedipkan matanya ke arahku, seperti hendak mengirimkan kode. Tak lama ponselku bergetar dan ternyata Nunu baru saja mengirimkan sebuah pesan.
"Kak Iyas mah terlalu baik jadi bos, aku gregetan tahu Rain. Dari awal kan aku udah bilang ke kamu kalau si Selvy itu aneh... Gimana kalau aku jebak dia aja ya?" tulisnya.
"Jebak? Gimana caranya?" balasku.
"Ah nanti aku pikirin deh, pokoknya buat buktiin kalau si Selvy tuh culas" jawabnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Setelah selesai makan dan berfoto ria, kami memutuskan untuk menunggu matahari tenggelam di tepi lereng. Dimana ada banyak sekali meja-meja dan kursi-kursi yang terbuat dari kayu yang dipenuhi oleh pendatang.
"Waaah udah bagus banget langitnya" kata Nunu takjub.
"Married disini bagus kali ya?" kata Gian.
"Hahaha jauh tapi gi, lu mau bawa rombongan ke gunung kaya gini?" ledek Kak Iyas.
"Ngaco, married tuh bagusnya di uluwatu atau di tanah lot" kata Nunu.
"Dimana aja bagus ko, asal niatnya bener" sahutku.
Mereka bertiga bertepuk tangan seperti hendak mengolok-olok pernyataanku.
"Ih jangan pada ngelihatin aku, malu tahu" kataku.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Kak Iyas berdiri didepanku, sepertinya hendak berburu gambar. Maklumlah, sekarang sudah banyak sekali orang yang berdatangan untuk mengambil gambar matahari tenggelam. Kami agak berdesak-desakan.
Mungkin dia khawatir, aku terganggu. Jadi dia mengambil langkah dan melindungiku dari depan.
Kuraih samping jaketnya dan kupegangi. Sesekali aku akan menggelitiknya hingga dia menggerutu karena kesal.
"Geli eh, aku susah nih nyari fokus" ....
Lalu aku akan berhenti dan tertawa. Tak lama kemudian, aku akan mengulanginya lagi hingga dia meminta ampun padaku.
Menyadari matahari yang hampir seperti ada di depan mata kami, aku terkagum dengan siluet wajah kak Iyas yang sangat tegas tergambar.
Wajahnya kini menyamping dan sangat nyata dihadapanku. Hidungnya yang mancung dan rambutnya yang sudah agak gondrong.
"Cakep amat" kataku.
Dia melirik dan menyadari perkataanku, lalu mengelus rambutku sambil tersipu malu.
Aku mencari ponselku dan bergegas mengambil fotonya. Salah satu gambaran wajah favoritku, meski bukan gambar asli wajahnya melainkan hanya siluet saja.
"Kamu juga cantik" bisiknya.
__ADS_1