
Sesampainya dirumah sakit, aku pura-pura tetap tidur dengan maksud penasaran saja apa benar dia akan menggendongku masuk ke dalam.
"Hmm kayanya kamu cape habis bazzar tadi, muka kusut begitu" katanya.
Aku tetap memejamkan mataku, hingga akhirnya dia membuka pintu mobil dan benar-benar menggendongku.
"Oke, karna aku udah janji mau gendong kamu" katanya.
"Eh eh eh turunin, aku bisa jalan sendiri" gerutuku sambil memukul bahunya.
"Lah, bukannya tidur?" ledeknya.
"Turunin, nanti aku disangka korban tabrak lari lagi digendong begini" kataku.
"Lagian pura-pura tidur, emangnya aku gak tau apa?" gerutunya.
"Ka padahal kita ke klinik aja ngapainke rumah sakit gede gini sih, berlebihan tau" kataku.
"Nurut aja, aku mau kamu periksain diri yang bener" jawabnya.
Setelah memasuki ruangan periksa....
"Jadi gimana dok?" tanya Andreas.
"Tekanan darahnya rendah, terus ada sedikit masalah di pencernaan untuk sementara saya resepkan penambah darah dan antibiotik yang harus dihabiskan. Tolong tidur tepat waktu ya, makan juga teratur dan jangan stress. Kalau bisa lakukan cek darah untuk tahu kadar hemogoblin dan gula darahnya" jelas dokter.
"Yaudah dok, kapan bisa cek gula darahnya?" tanya Andreas.
"Kak, i'm oke jangan cek gula darah segala lah" kataku.
"Harus puasa minimal 8 jam, bisa ke beberapa laboratorium nanti saya kasih rekomendasinya. Semoga tidak ada masalah serius ya" jawab Dokter.
"Iya dok dan semoga dia gak bandel dan ngeremehin penyakitnya lagi" katanya sambil melirik sinis ke arahku.
"Kalian sudah menikah?" tanya dokter tersebut.
"Eh belum dok, masih pacaran" jawabku.
"Kirain sudah, padahal cocok loh jadi pasangan muda" ledek dokter sambil tertawa.
"Doain aja dok semoga disegerakan" katanya.
Aku terheran-heran mendengar jawaban kak Andreas.
"Semoga disegerakan hahaha bisa-bisanya bilang begitu" gumamku.
Setelah keluar dari ruangan.
"Kamu tunggu disini, aku mau nebus resep dulu" katanya.
Akupun menunggunya sambil memainkan ponselku. Lalu, tiba-tiba Ibu mengirimkan pesan.
"Andreas tadi sms Ibu, katanya mau bawa kamu ke dokter terus Ibu sekalian aja bilang kalau dua minggu lalu Ibu sempet nganterin kamu ke dokter dan dokter suruh kamu cek darah hahaha maaf ya abis kalau bukan Andreas yang nyuruh pasti kamu ngeyel. Oya malam ini, Andreas suruh nginep aja dirumah Ibu udah izin ke Ayah ko soalnya kasian kalau dia nginep di hotel ....
Jadi intelnya Andreas selama ini adalah Ibu, yah pantas saja Andreas sampai bersikeras memintaku untuk memeriksakan diri kembali ke dokter.
"Nih obatnya, awas ya jangan sampe gak diabisin" katanya sambil memberikan kantong berisi dua botol sirup obat dan beberapa tablet.
"Siap bos! habis ini kita kerumah aku ya? kata Ibu kakak nginep aja dirumah soalnya sayang kalau nginep di hotel cuma semalem lagikan" kataku.
"Ibu bilang ke kamu?" tanyanya heran.
"Iya nih baca aja sendiri, hmm aku jadi tau sekarang siapa intel kakak hahaha" kataku sambil memperlihatkan pesan dari Ibu barusan.
"Waaaah ketahuan deh" jawabnya.
Ketika hendak berdiri, tiba-tiba saja Andreas seperti kehilangan keseimbangan. Kakinya terlihat kesakitan.
"Bentar dulu, kaki aku keram" katanya.
"Duduk dulu sini, aku pakein krim urut ya?" kataku.
"Iya ada di mobil krimya, tolongin ya" katanya.
Akupun mengambil kunci mobil dan berlari ke parkiran untuk mengambil krim urut.
"Sini kakinya naikin ke paha aku, selonjorin aja gapapa" kataku.
Akupun melihat keringat di dahinya yang mulai keluar, sepertinya dia memang kesakitan. Kakinya yang ini sedari dulu memang bermasalah kadang dia sampai harus memakai tongkat kalau terlalu kesakitan.
"Selalu kaki ini yang sakit, apa gak sebaiknya di rontgen? biar tau masalahnya apa" kataku.
"Iya nanti aku rontgen ko, jadwalnya minggu depan bareng sama temen kerjaku yang juga sering kebas tangan" jawabnya.
"Hmm, selama di tangerang emang gak pernah kambuh? kaya gini?" tanyaku.
"Gak pernah, cuma ya kesemutan sebentar abis itu biasa lagi" jawabnya.
"Tapi kan tetep aja kalau didiemin bahaya, kita gak tau lagi alasan kambuhnya apa" gerutuku.
"Nah kamu ngerasain kan yang aku rasain ke kamu, gitu rasanya ngekhawatirin orang yang kita sayang tapi orangnya malah acuh" jawabnya.
"Iya maaf, mulai sekarang kita saling terbuka ya?" kataku.
"Janji dulu, mana kelingkingnya sini?" katanya sambil mengacungkan kelingkingnya tepat didepan hidungku.
Sesampainya dirumah...
Ibu dan Ayah ternyata belum tidur, mereka menungguku dan Andreas pulang.
"Malem Om Tan, maaf ya anaknya jadi pulang malem" kata Andreas basa-basi.
"Gak papa, gimana betah di tangerang?" tanya Ayah.
"Panas om, adem di Bandung haha" jawabnya..
"Udah pada makan belum? ibu siapin ya?" tanya Ibu.
"Gak usah bu, tadi udah makan ko" jawabku.
"Yaudah Andreas mandi aja dulu kalau mau, nanti bisa tidur di kamar tamu sebelah kamar Randy. Oya dari tadi Randy nungguin kamu pulang tuh teh katanya mau nanyain tugas Geografi" kata Ibu.
"Wah pas tuh bu, ada ahlinya disini hahaha kakak bantu Randy ngerjain tugasnya ya? soalnya aku capek ngantuk mau tidur" kataku.
Padahal aku bercanda, mana bisa aku tidur nyenyak saat Andreas ada dirumahku hahaha yang ada malah aku akan susah tidur dan terus-terusan mau didekat Andreas.
Setelah aku mandi dan ganti baju jadi pakaian tidur, aku mendatangi kamarnya dan mengintip ternyata dia sedang bersama Randy.
"Tuh ran, diajarin langsung sama masternya harusnya kamu ngerasa terhormat hahaha" ledekku.
__ADS_1
"Berisik ih, aku lagi ngedengerin penjelasan dari Kak Andreas nih teteh kalau ganggu mending keluar aja gih ambil cemilan kek" gerutu Randy kesal.
Akupun merasa terusir dan dengan pasrah berjalan menuju dapur untuk mengambil beberapa cemilan.
Hingga saat aku kembali ke kamar Randy, kudengar mereka berdua sedang membicarakanku.
"Iya kak, orang pas sakit aja ya teteh masih suka nangis apalagi pas demam haha manja banget sama Ibu. Makan apa-apa muntah, gak bisa berdiri lama pokoknya semingguan itu teteh sakit bener-bener ngerepotin deh. Aku jadi harus beli bubur sehari tiga kali ke depan komplek karena teteh cuma mau makan bubur itu aja" gerutu Randy.
Akupun menguping dari luar...
"Terus dia ada pernah jalan sama cowok gak?" tanya Andreas.
"Kemarin ka, sama A Fasya anak komplek atas temennya teteh waktu SMP pulangnya malem banget lagi" jawab Randy.
"Hmmm bagus-bagus udah nambah intel aja ya ternyata?" kataku sambil masuk ke kamar Randy.
Mereka berdua pura-pura tidak menghiraukanku dan sibuk kembali mengerjakan tugas Randy.
"Nih cemilannya, terus aja ghibahin teteh awas ya kalau kuping teteh panas berarti kamu penyebabnya. Liat aja gak akan teteh bantuin di grosir kalau libur" kataku.
"Ciye ngambek" ledek Randy.
Akupun kembali ke kamar, tanpa sengaja saat hendak menyimpan sisir ke rak gantung beberapa lembar fotoku terjatuh. Salah satu diantaranya adalah foto favoritku.
Foto kelulusan SMA Andreas yang kucuri dari rak buku di kosannya saat aku merapikan barang sebelum kepindahannya.
Foto Andreas tertampan yang pernah aku punya, wajahnya sangat polos dan menarik. Foto yang sangat sering kupandangi ketika dia sedang jauh dariku. Sekaligus foto yang selalu kuajak bicara saat aku sendirian dirumah.
Foto ini sempat hilang beberapa kali, tapi yang menemukannya selalu mengembalikan foto tersebut kepadaku. Contohnya saat foto ini hilang dikelas, keesokan harinya Iria mengembalikannya kepadaku karena dia menemukan foto ini terselip di bangkunya. Lalu saat foto ini tercuci oleh Ibu, Ibu mengembalikan foto ini dalam keadaan setengah basah dan mengeringkannya untukku.
"Foto kakak aja selalu balik lagi ke aku, apalagi kakak hahaha aku yakin sejauh dan selama apapun kakak pergi dari aku pasti nanti kakak balik lagi"....
"Toktoktok!!!!" suara pintu diketuk.
"Ya masuk aja"...
"Kamu belum tidur?"...
"Eh kak, kakak juga kenapa belum tidur?"
"Baru selesai bantuin Randy, yaudah aku ke kamar ya kamu tidur gih udah larut"
"Bentar, aku mau liatin sesuatu haha"
"Hmm apa?"
"Nih foto pacar aku hahaha ganteng kan?"
"Pantes kurang satu yang ukuran besarnya, ternyata diambil kamu?"
"Abis kita gak pernah foto berdua terus dicetak , jadi aku gak bisa majang foto kakak di dompet aku dan yaudah aku ambil aja foto ini"
"Yaudah, besok kita foto ya?"
"Beneran? asyikkkk"
"Besok kita ajak Ayah, Ibu, Recca sama Randy maen sekalian"
"Piknik? serius? bohong kan?"
Diapun menarik selimutku dan mengelus rambutku sebelum keluar dari kamar. Malam itu rasanya terlalu manis untuk jadi kenyataan. Dia ada didepanku, menemaniku hampir seharian dan bahkan tidur dirumahku.
Ayah dan Ibu menerimanya dengan baik, adik-adikku juga demikian. Betapa berjalan dengan baiknya kehidupanku saat ini. Aku harap, Andreas bisa sedikit mengobati rasa kangennya pada mendiang Bapakya dengan melihat sosok Ayahku dirumah.
Keesokan harinya.....
Badanku malah tidak enak, semalaman juga tidurku tidak nyenyak. Apa ini efek minum obat antibiotik ya?
Aku memanggil Ibu ke kamarnya dan meminta Ibu memeriksa suhu badanku.
"37 loh teh kamu demam ini, habis minum obat antibiotik ya?" tanya Ibu.
"Iya bu" jawabku.
"Yaudah sarapan dulu, habis itu minum obat paracetamolnya terus istirahat" kata Ibu.
"Gak bisa, kak andreas ngajakin kita main sekeluarga hari ini" kataku.
"Emangnya dia bakal tetep mau pergi kalau tau badan kamu demam gini?" tanya Ibu.
"Ibu jangan bilang lah, jadi dia gak tau" pintaku.
"Gak tau apa rain?" tanya Andreas yang baru saja turun dari kamarnya.
"Enggak, enggak apa-apa hehe kakak udah mandi?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.
"Udah, kamu?" tanyanya.
"Belum, baru mau mandi tungguin ya" kataku sambil berlari keatas menuju kamar.
Ibu dengan polosnya malah berteriak "jangan mandi air dingin, biar Ibu panasin dulu air buat kamu"....
"Ah ibu, keceplosan segala sih" gumamku.
Akupun tetap menuju ke kamar dan mandi dengan air dingin.
Setelah selesai mandi....
"toktoktok"
"Itu pasti Andreas, dia pasti mau marah ke aku" gumamku.
"masuk aja" teriakku.
Aku pura-pura menyisir rambutku dan melihat ke kaca rias.
"Aduh duh mata aku kelilipan" katanya tiba-tiba.
Spontan, aku meniup matanya dan memegang wajahnya dengan jarak yang sangat dekat.
"Perih gak?" tanyaku.
"Bener ternyata, kamu demam?"
Ekspresinya kini sama menyeramkannya dengan ekspresi yang dia perlihatkan saat dirumah sakit semalam.
"Iya, abis minum antibiotik biasanya aku bakal demam sehari atau duaharian" jawabku.
"Baguslah"
__ADS_1
"Ko bagus?" tanyaku.
"Berarti antibodi kamu aktif dan merespon untuk ngelawan virus dan penyakit yang mau nyerang kamu"
"Hmmm gitu" jawabku.
"Aku sama Randy mau lari pagi dulu terus beliin kamu bubur di komplek depan, kamu tunggu ya?"
"Gak mau, aku ikut ah" kataku.
"Jangan, tiduran aja nanti aku beliin snack yang banyak yaa kamu mau beli apa lagi nanti aku beliin"
"Aku mau permen kapas,hepipos,mochi sama ramen instan" jawabku.
"Oke acc semuanya kecuali ramen instan"
Akupun menunggu Randy dan Andreas pulang sambil membaca novel dan melihat roomchat Hanuka.
"Udah reeady nih kita, doain ya kita sesukses kalian kemarin jualannya" kata Nunu.
"Aamiien, semangat ya kalian" kataku.
Tiba-tiba Recca masuk dan memegang kepalaku.
"Teh, kata Ibu kita mau pergi dulu ke pasar sama Ayah. Teteh gapapa sendirian dirumah? tungguin Aa sama Kakak Andreas pulang?" tanya Recca dengan lucunya.
"Gapapa, nanti teteh kebawah ya?" kataku.
.
.
.
Beberapa lama kemudian.....
"Teh, kita pulang!!!" teriak Randy.
"Lama banget, kelaperan tau gak nunggu buburnya?" gerutuku.
"Dih sejam juga enggak tau huuu manja" jawab Randy.
"Ini buburnya, minum dulu obat yang sebelum makannya. Dimana obatnya?" tanya Andreas
"Dikamar, ran ambilin obat teteh dikamar" teriakku pada Randy.
"Iya-iya" jawabnya.
Randypun memberikan kantung obatku, lalu Andreas dengan telatennya merawatku. Memberikanku obat dan menyuapiku bubur.
"Gak usah disuapin" kataku.
"Gak papa mumpung ada aku" jawabnya sambil tersenyum.
"Kak, mau liat gak foto teteh waktu kecil?" kata Randy sambil membawakan album foto keluarga ku.
"Ran, jangan macem-macem ya?" teriakku.
"Mau-mau ran, mana liat" jawab Andreas antusias.
"Ini kapan? Randy cakep banget pas kecil" kata Andreas.
"Hahaha iya pas kecil doang ya kak? udah gede dia jelek? hahahaha" ledekku.
"Makin cakep Ran haha makin dewasa" kata Andreas.
"Aku cantik ya lucu ya?" tanyaku.
"Ini siapa Ran? bukan kakak kamu kan? masa lucu gini?" ledeknya.
Andreas lalu membuka lembaran foto SMAku, dan berhenti di salah satu halaman yang memuat foto hitam putihku.
"Ini foto kapan? pasti pas kamu SMA kan? rambut kamu dulu kaya gini waktu ikut olimpiade di kampus" katanya.
"Iya emang, ini sehari sebelum olimpiade waktu itu aku foto karena gak punya foto buat di kartu peserta haha" jawabku.
"Punya gak lembar foto yang sisa?" tanyanya.
"Ada tapi ukuran pocket, buat apa?" tanyaku.
"Minta dong, buat aku satu aja foto yang rambut kamu segini" katanya.
"Buat apa kak? ngusir tikus di kosan ya?" ledek Randy.
"Hahaha bukan rain, buat di dompet soalnya kita gak jadi foto berdua hari ini jadi anggap aja foto itu gantinya" jawabnya dengan ekspresi sedih.
Aku kekamar, mengambilkan foto yang diminta Andreas lalu memberikannya.
"Nih, maaf ya karena aku demam kita jadi gak bisa keluar rumah" kataku.
"Gak apa-apa, lain kali kan bisa. Oya aku balik 3 jam lagi ya soalnya mau ada kerjaan dulu sama Dhika di kampus" katanya.
"Kerja di kampus? sama kak Dhika? ngapain?" tanyaku.
"Mau ngobrolin proyek sama Pak Rohmat, tadi Dhika chat katanya pak Rohmat minta aku sama Dhika kesana mumpung masih di Bandung" jelasnya.
"Hmmm yaudah" ....
.
.
.
.
*Kamu tau, apa yang paling berat selain rindu?
Jawabannya adalah berjauhan denganmu...
Kamu tau, apa yang lebih manis dari gula?
Jawabannya adalah senyummu.....
Terakhir, kamu tau apa yang lebih menggiurkan dari candu?
Jawabannya adalah berdekatan denganmu*....
__ADS_1