Kuliah Atau Kuli Ah?

Kuliah Atau Kuli Ah?
Amarah seorang kak dhika


__ADS_3

Selama renungan malam berlangsung, hatiku masih saja merundung.


Aku ingin mencaci maki diriku sendiri, kenapa aku malah membantu Rani saat itu? Kenapa aku tidak diam saja melihatnya mengangkut speaker sendirian? Toh yang merasakan beratnya juga dia, bukan aku. Kenapa aku malah terkesan bodoh dan polos?


Selama satu jam berada di dalam Aula, Andreas sudah menelponku sebanyak 11 kali. Aku terus-terusan menolak panggilannya. Aku tidak mau mendengar ocehannya memarahiku karena membuang waktu bertengkar dengan Rani.


Sudah terbayang dipikiranku, pasti Andreas akan bilang "Kamu ngapain sih dek dengerin Rani, udah tau orang kaya gitu masih aja diladenin"...


Di sisi lain, mungkin sekarang dia sedang mengkhawatirkan keadaanku. Dia tahu bahwa aku tipekal yang selalu memikirkan omongan orang tentang diriku. Mungkin dia juga sedang ingin mendengar suaraku dan kemudian menenangkanku agar tidak terbawa suasana.


"Rain, gawat nih! Kak dhika tau kita berantem sama Rani tadi terus dia minta kita berempat nemuin dia abis renungan malam" kata Hanifa dalam chatnya.


"Pacarku sendiri aja aku diemin dari tadi, ini pacar kamu masa harus aku dengerin sih hahaha yaudah kita terima nasib aja paling dia mau nasehatin kita" balasku.


Renungan malampun selesai....


Aku melihat semua maru meneteskan air matanya, mereka sangat terbawa perasaan. Sama halnya saat renungan malam yang kurasakan dulu.


"Rain, kita ke tenda duluan ya? kamu mau ke tenda komdis kan?" tanya Roby.


"Iya duluan aja, kalian istirahat langsung ya semuanya besok shubuh aku bangunin buat briefing" kataku.


Akupun mencari keberadaan ketiga sahabatku, ternyata mereka sedang minum susu hangat dekat api unggun.


"Sini rain, duduk sini" panggil Nirwan.


"Rain, mau susu gak atau kopi?" tanya Gian.


"Mau kopi susu hehe boleh gak?" pintaku.


Akupun duduk dan langsung dikerumuni oleh ketiga sahabatku itu yang sedari tadi wajahnya sudah suram.


"Kak Andreas nelpon kamu?" tanya Hanifa.


"Iya haha ada mungkin 20 kalian, aku reject haha abis aku udah tau dia pasti bakal marah jadi mending aku tolak aja" jawabku.


"Bagus rain hahaha, tahan telinga dulu lah minimal nanti setelah kita diceramahin kak Dhika baru deh kamu angkat telpon dari kak Andreas" sahut Nunu.


"Eh ya kamu ya wan yang kasih tau kak Andreas? dia pasti tau dari rekaman kamu kan?" tanyaku.


"Iya hehe abis aku greget sama Rani, dia kan udah keterlaluan fitnah kamu terus kak Andreas juga udah minta aku ngawasin kamu hahahaha maaf ya Rain" jawabnya.


Wajah Hanifa tiba-tiba berubah saat terdengar langkah kaki seseorang berhenti tepat dibelakangku.


Aku berbalik dan menengadahkan pandangan berniat melihat siapa orang yang ada di belakangku saat itu.


"Kalian berempat, ikut kakak ke aula" kata kak Dhika dengan tegasnya.


"Kak Dhika yang biasanya suka bercanda ini, kenapa wajahnya bisa berubah sebegitu seriusnya ya? masa dia marah sih sama kita? Padahal dari sudut manapun, kita kan cuma bela diri" pikirku.


Sesampainya di aula....


"Rain, coba ceritain masalahnya gimana? kenapa bisa kalian teriak-teriakan berantem di aula kaya tadi?" tanya kak Dhika.


"Kita gak berantem ko kak, itu si Rani duluan yang mancing kita. Dia jelek-jelekin Raina depan banyak orang lagi" jawab Hanifa.


"Aku gak nanya sama kamu ya, aku nanya sama Raina nanti setelah itu satu-satu jelasin" kata kak Dhika memotong pembicaraan Hanifa.


"Gini, awalnya aku kan liat dia bawa speaker kaya berat gitu kasian mana jalannya nanjak lagi. Yaudah aku bantuin dia bawa speaker dari bawah sampe aula, eh pas udah dibantuin dia malah nuduh aku cari muka" jelasku.


"Kok tumben kamu kepancing sama Rani? bukannya biasanya kamu milih diem aja dan pergi?" tanyanya lagi.


"Rani udah keterlaluan kak sama Raina, masa iya dia seenaknya bilang Raina tuh cuma mau keliatan baik depan orang karna nolongin dia? kan gak tau terima kasih" sahut Nunu.


"Kebiasaan ya kalian, kakak lagi nanya Raina bukan kamu" potong kak Dhika lagi.


"Ya aku bosen aja kak, selama ini aku diem terus tiap dia ngomongin aku. Selama ini aku nyusahin Hanifa, Nunu dan Arika buat jadi tameng aku. Aku kan bisa bela diri aku sendiri, aku mau belajar lawan orang yang ngomong gak bener tentang aku. Emang aku salah ya kak? kalau aku meluruskan pemikiran orang supaya gak salah paham tentang aku?" jelasku.


"Tapi kan gak harus diacara BEM kaya gini, ini acara penting loh dan lagi angkatan kalian yang pegang. Masa kalian mau rusak acara angkatan kalian sendiri sih?" tanyanya lagi.

__ADS_1


Kali ini wajah kak Dhika terlihat lebih serius dari sebelumnya.


Kami berempat cukup takut sehingga akhirnya memilih diam dan hanya lirik-lirikkan satu sama lain.


"Tuh giliran ditanya, semuanya malah diem" katanya lagi.


"Gini ya kak, ini semua terjadi diluar kendali kita kan Raina tadi udah bilang si Rani yang mancing duluan dia yang ngomong enggak-enggak tentang Raina mana suaranya keras lagi. Aku sama anak-anak komdis kan lagi kumpul, terus aku denger Raina dibentak-bentak. Ya jelaslah aku samperin, aku ikut marahin si Rani karena aku tahu Raina gak seperti yang dia omongin" jawab Hanjfa.


"Iya kak, lagian coba deh kakak ada di posisi kita. Gimana respon kakak saat kakak sama sahabat-sahabat kakak dituduh yang enggak-enggak, dibilang cari mukalah dibilang busuklah. Masa kakak diem aja? kan gak mungkin?" tambah Arika.


"Ya tapi kalian harusnya lerai Raina sama Ranilah, bukan malah nambah panas suasana. Gimana kalau dosen sampe tahu?" kata kak Dhika


"Yak biarin aja, biar semua dosen pada tau tuh kalau si Rani tukang cari muka sama mereka bukannya kita" sahut Nunu.


"Kalian kan sahabatnya Raina, harusnya kalian cooling down dong bukannya ngomporin. Kalian lawan si Rani sama aja kalian sama dia! apa bedanya coba? kalian mau buktiin apa ke dia? toh dia sendirian loh tadi. Bisa aja di mata orang, kalian keroyokan! Bener gak?" tanya kak Dhika.


"Yaudah, suruh dia bawa temenlah paling si Kayi doang kan temennya. Kita gak takut!" sahut Hanifa.


"Kamu bener-bener ya, bukannya nenangin. Kamu paling tua loh diantara mereka tapi kamu malah jadi yang lebih agresif disini fa! Sekarang aku mau kalian selesain ini secara kekeluargaan, panggil si Rani secara pribadi dan ajak dia ngobrol baik-baik terutama kamu Rain ini udah berlarut-larut loh. Gimana kalau nanti taunya kuliah lapangan tahap 3 tiba-tiba salah satu dari kalian sekelompok sama dia? satu kamar sama dia? kalian mau kaya gini terus?" tambahnya.


"Oke ka, nanti pulang dari sini aku bakal ngomong sama Rani berdua. Ini kan masalah aku sama dia, Hanifa Nunu ataupun Arika gak usah kebawa-bawa. Incarannya Rani kan aku, bukan mereka bertiga. Kakak juga jangan jadi berantem sama Hanifa cuma gara-gara aku!" kataku.


"Kalian bertiga mulai sekarang, dilarang belain aku lagi!" kataku sambil menatap ketiganya.


"Gak bisa gitulah Rain, dia kan juga bawa-bawa nama kita tadi. Kamu gak bisa maju sendirian lah!" sahut Hanifa.


"Iya rain, orang kaya dia harus dilawan barengan!" tambah Arika.


"Rain, jangan ngasal deh kita tetep dukung kamu ko dan kalau dia macem-macem lagi pasti kita gak akan tinggal diem" kata Nunu.


Aku tahu mereka bertiga sangat memikirkanku saat itu, tapi aku mau kali ini aku berusaha sendirian untuk meluruskan semua masalahku dengan Rani dan Kayi.


Aku sadar, akar masalahnya adalah aku. Mereka hanya akan puas saat melawanku sendirian.


"Iya, aku tau ko kalian gak akan pernah pergi dari aku. Tapi, aku mau belajar menyelesaikan ini sendirian dulu dan aku mohon kalian ngertiin aku ya?" pintaku.


Mereka tanpa kata-kata lagi langsung memelukku saat itu juga, aku tersenyum mencoba memamerkan diri bahwa aku baik-baik saja dan akan terus begitu.


"Huuu galak lu!" teriak Hanifa sambil memukul punggung pacarnya itu.


"Maaf sayang, aku kan harus jadi penengah kalian" jawab kak Dhika sambil memeluk Hanifa.


"Deuh mulai deh pasangan alay bersatu, yu ah Rain Ka kita keluar takut jadi obat nyamuk" ajak Nunu sambil menarik lenganku dan Arika.


Akupun ikut bergabung bersama komdis sambil meminum kopi susu yang dibuatkan Gian.


"Nu, pake jaket gih udah mulai dingin" kata Gian dengan perhatiannya pada Nunu.


Aku tersenyum kecil, melihat Gian dan Nunu semakin saling menyayangi dan merawat satu sama lain.


"Ka, udah minum vitamin belum?" tanya Nirwan.


"Udah haha, kenapa emang? kamu udah minum kan?" tanya Arika.


Vitamin yang dimaksud adalah suplemen makanan yang dibagikan secara gratis kepada semua panitia yang bertugas malam itu, tujuannya agar kami tidak mudah sakit dan tumbang. Katanya sih ini berlaku setiap tahunnya .


Mendengar serta melihat Nirwan dan Arika juga semakin dekat, aku jadi merasa tenang. Setidaknya dua sahabatku ini menemukan penjaganya masing-masing.


Akupun menelpon kak Andreas seperti yang diminta kak Dhika tadi.


"Halo kak"


"Kamu kenapa dari tadi tolak telpon aku sih dek? aku kan khawatir"


"Maaf, abis aku takut kakak marah gara-gara aku berantem sama Rani"


"Marah? ngapain aku marah.. aku justru gak nyangka kamu sekarang berani speak up dan lawan dia secara terang-terangan kaya tadi"


"Jadi kakak gak marah? kata kak dhika...."

__ADS_1


"Itumah si dhika aja akal-akalan marahin kalian berempat, katanya dia mau liat wajah kalian ketakutan hahaha. Tapi kamu gapapa kan?"


"Eh? maksudnya?"


"Kamu dikatain begitu sama Rani tadi pasti kamu masih kepikiran kan? kamu baik-baik aja kan?"


Saat Andreas menanyakan apa aku baik-baik saja, sepertinya ada gunung es yang meleleh didalam diriku. Aku merasakan ada emosi yang mengalir keluar dari hatiku, hingga akhirnya pecah menjadi sebuah tangisan yang kucoba tahan.


"Gapapa ko, aku gak kepikiran. Kakak udah makan? oya kakak udah rontgen kaki kakak kan? gimana hasilnya? akhir-akhir ini apa sering kambuh?"


"Aku gak suka ya kamu ngalihin topik, aku masih nanya pertanyaan yang sama. Kamu gak apa-apa kan? aku denger dan liat sendiri di rekaman itu, kalau Rani bilang kamu cuman modal cantik dan isi otaknya gak ada. Itu bukan kata-kata yang biasa kamu denger kan dek? kamu pasti nangis kan sekarang?"


Aku berusaha keras menahan air mataku, aku tidak mau Andreas mendengarku menangis di telepon.


"Gak beneran ko aku gak apa-apa, lagian kan disini aku banyak yang belain. Aku gak serapuh yang kakak pikir kali. Sekarang kakak dong jawab aku, kakak udah makan? udah rontgen? hasilnya gimana?"


"Aku udah rontgen ko, aku udah makan juga dan kamu gak usah pikirin hasil rontgennya lah. Hasilnya bagus ko, aku cuma diminta terapi aja soalnya sering tracking"


Obrolan kamipun berlanjut dengan ceritaku yang selalu mengingat kejadian dengan Andreas dulu di tempat yang sekarang ini. Andreas sesekali tertawa, saat aku mengingatkannya pada hal-hal lucu yang sempat dia lakukan untuk menarik perhatianku dulu.


"Yaudah, aku tenang dengernya. Kalau gitu kamu ke tenda gih pasti udah mulai ekstrim kan dinginnya? Jangan lupa minum vitamin hahaha, good night sayang"


"Goodnight kak"


.


.


.


.


.


*Saat ini, aku lihat bintang berkilauan di atas langit tempatku berpijak malam ini...


Apakah kamu melihat bintang yang sama denganku?


Saat ini, aku mencium wangi bunga kenanga basah di sekitaran bukit....


Apa kamu juga menciumnya?


Aku merindukanmu, bahkan di detik-detik ini...


Aku ingin melihatmu ada dihadapanku...


Bahkan sudah cukup jika hanya bayanganmu saja yang datang*...


Pagi harinya....


Aku membangunkan semua anggota timku dan meminta mereka untuk bergantian mandi dan bersiap-siap untuk operasi pagi.


Operasi pagi adalah salah satu kegiatan penting di hari kedua, karena maru akan dibangunkan secara tiba-tiba lalu diberi waktu selama 30 detik untuk berbaris dilapangan dalam kondisi memakai sepatu lengkap.


Setelah itu, maru akan diminta membawa barang-barang individunya untuk dicek ulang. Tujuannya untuk memberikan mereka pelajaran bahwa mau tidur ditempat manapun, mereka harus bisa menjaga barang pribadi mereka.


Kebanyakan dari mereka kehilangan benda-benda kecil, seperti pisau lapangan, alat tulis, name tag pribadi dan pita pengenal.


Setelah itu, mereka diberikan waktu 1 jam untuk keperluan pribadi seperti bersih-bersih dan ganti pakaian.


Beberapa jam kemudian....


"Wah tinggal acara akhir ini, awarding sama pengumpulan surat cinta. Kira-kira siapa ya yang dapet surat cinta terbanyak dari adik tingkat tahun ini?" tanya Roby.


"Yah paling kalau gak Hanifa atau Raina atau Nunu atau Arika" sahut Hasan.


"Dih sotoy, anak 2012 cantik-cantik tau" jawabku.


"Eh gak percaya, aku sih yakin salah satu dari kalian berempat pasti dapet surat cinta terbanyak" kata Hasan keukeuh.

__ADS_1


"Tahun kemarin kamu dapet berapa Raina?" tanya Iria.


"18 kalau gak salah" jawabku.


__ADS_2