Kuliah Atau Kuli Ah?

Kuliah Atau Kuli Ah?
Hanifa yang bercerita...


__ADS_3

"Hanifaaa!!!" teriak kak Dhika dari luar rumah.


"Iya bentar kak!!" sahutku sambil berlari turun.


Hari ini aku, Nunu dan Arika ada janji bertemu dengan Kak Dhika dan Kak Andreas di kampus pagi-pagi sekali. Alasannya adalah karena Raina berulang tahun.


Kami bertiga sudah sepakat untuk jangan dulu mengucapkan selamat pada Raina, yaa karena itu permintaan dari Kak Andreas.


Kak Dhika bersikeras ingin menjemputku kerumah, katanya dia sedang kebetulan berada di sekitaran daerah rumahku.


"Bareng aku aja de, biar kamu gak usah nyetir" katanya dalam telepon kemarin malam.


"Nanti pulangnya gimana? Kan aku mau langsung nemuin Raina ke pabrik" tanyaku.


"Pake aja motor aku" jawabnya.


Sesampainya di kampus....


Setelah semuanya sudah berkumpul, kak Andreas terlebih dahulu menceritakan kejutannya yang gagal di Bosscha.


"Sebenarnya saya mau rayain pas saya ajak Raina ke bosscha kemarin, tapi karena tiba-tiba ada panggilan dari Rani yang minta saya segera nemuin dia untuk bahas inagurasi barengan sama lintas angkatan... Saya jadi kesulitan ngatur waktu, belum lagi pihak observatorium juga cuma kasih saya waktu sampe jam 1 malem. Saya jadi bingung, makanya saya langsung minta Dhika untuk ngabarin kalian" jelasnya.


"Alah itumah palingan akal-akalan si Rani buat ngegagalin acara kakak sama Raina" sahut Nunu dengan emosinya.


"Mana bisa mereka kan belum tau kalau kak Andreas sama Raina udah jadian" sahut Arika.


"Eh yas, tapi lu inget gak sih malem sebelum lu ke bosscha kan lu sempet update di line foto cewe eh bukan siluet gitu yang mirip banget sama Raina. Caption lu juga waktu itu ngejurus sih menurut gue lu bilang "Almost is never enough. But enough for me to waiting"


(Hampir menjadi itu tidak pernah cukup. Tapi sudah cukup bagiku untuk menunggu) kalau gak salah apa si Rani liat kali updatean lu" jelas Ka Dhika.

__ADS_1


"Tumben Kak Dhika pinter" ledekku.


"Eh jangan salah, kalau depan kamu gini aku jadi mau keliatan pinter dan jenius hahaha" jawabnya.


"Ohiya gue inget, bahkan si Raina aja yang gue kodein gak pernah loh kerajinan ngeliat-liat update'an di line gue. Emang itu siluet Raina waktu di kebun teh beberapa menit sebelum turun hujanlah" jelas kak Dhika.


"Kak please deh jangan samain Raina sama si Rani, jelas-jelas mereka beda ya. Raina tuh bukan anak yang kepoan bukan juga anak yang gampang kegeeran" belaku.


"Iya ih gak sudi aku, Raina disama-samain haha" sahut Arika.


"Bukannya nyama-nyamain cuma ya emang saya kan maksudnya buat update'an itu biar Raina tau kalau saya serius sama dia" jelas kak Andreas.


"Lu ih jangan kaku gitulah sama mereka, lu inget ya nanti kedepannya kalau lu ada masalah sama Raina cuma mereka-mereka ini yang bisa lu mintain tolong" kata kak Dhika sambil menunjuk kami bertiga satu persatu.


Kami bertigapun berusaha menahan tawa ketika melihat ekspresi kak Andreas yang terlihat malu.


Raina, anak ini memang punya banyak daya tarik. Andreas yang dingin dan begitu cuek saja, bisa begini tertarik sama dia. Dari awal mengenal Raina, aku sudah yakin bahwa dia akan memiliki penggemar di kampus.


Aku seringkali mengamati perubahan ekspresi Raina ketika kami berempat sedang membicarakan kakak tingkat, matanya akan berbinar seketika. Apalagi saat nama Andreas disebut, aku sudah khatam cerita pertemuan pertama mereka saat itu. Raina berulang kali menceritakannya kepadaku, sampai-sampai aku bosan. Hahahaha.


Belum lagi Gian yang diam-diam menyimpan hati pada Raina, sampai berani memintaku untuk mendekatkannya dengan Raina. Seketika saja kutolak, karena aku tahu hati Raina sudah memiliki tuannya.


Berulang kali juga sempat kupikir bahwa kak Dhika juga menyimpan perasaan pada Raina, hanya saja setelah kak Andreas terlihat begitu mendominasi hmm aku sadar dugaanku sepertinya salah.


Kak Dhika lebih menyayangi Raina seperti adiknya sendiri. "Rain, aku syirik sama kamu.. Baru beberapa bulan di kampus, kamu udah punya banyak fans" batinku.


Sejak kami menjadi sahabat dekat, aku mulai belajar banyak hal dari Raina. Keluarga Raina yang hangat dan perhatian, membentuk kepribadian Raina sedemikian baiknya. Berbanding terbalik dengan keluargaku yang sibuk masing-masing.


Aku hanya bertemu Papa dan Mama sebulan sekali, itupun kalau aku ada dirumah.

__ADS_1


"Jadi gimana kak? Kita ngasih surprise ke Raina kapan?" tanyaku.


"Sebenernya kakak masih pingin ngasih dia kejutan di Bosscha, tapi nggak dapet jadwal sebelum jam 1 malem" jawabku.


"Yaudah, sebelum jam 1 malem rayainnya dirumah aku aja" ajakku.


"Beneran?" tanya yang lain.


"Dirumahku gak ada orang sama sekali, cuma ada aku sama asisten rumah aja" jawabku meyakinkan.


"Yaudah beneran ya de dirumah kamu, lah kue udah lu pesen yas?" tanya kak Dhika (sepertinya dia yang bersemangat saat tahu ulang tahun Raina akan dirayakan dirumahku hahaha)


"Udah, nanti maghrib baru bisa diambil" jawab kak Andreas.


"Tapi lu sama guea kan ada acara sampe isya buat penutupan, siapa yang mau ngambil tuh kue?" tanya kak Dhika.


Mereka berduapun berdebat sambil mencari solusi.


"Yaudahlah kak, aku aja yang ngambil kuenya. Mana bon pesenannya?" kata Arika berinisiatif.


"De, pastiin ya dirumah kamu ada banyak makanan nanti" ledek kak Dhika sambil menyenggol sikuku.


"Hmmm" jawabku ketus.


"Yaudah nanti kita berkabar-kabar ya, kakak bikin grup chat deh" kataku.


Akhirnya, setelah menyusun rencana kamipun bergegas untuk kepentingan kami masing-masing terlebih dahulu sebelum janjian bertemu dirumah pukul 10 malam.


Akupun menemui Raina di pabrik, kulihat wajahnya kusut dan kurang mood.

__ADS_1


"Maaf ya raina, aku harus bohong dan pura-pura gak peduli sama ulangtahun kamu"batinku.


Tenang rain, nanti malem kamu bakalan bahagia....


__ADS_2