
Beberapa hari setelahnya.....
"Fa, kamu yakin bawa 100 cup? gak kebanyakan? gimana kalau gak habis?" tanyaku.
"Optimis dong Na, bazzar anak MIPA kan biasanya rame banget tiap tahun jadi moga aja mochi ice cream cup kita laku semua" jawabnya sambil mengangkat box berisi mochi ke bagasi mobilnya.
"Oke selesai, yu otw!" ajaknya.
Sesampainya dikampus, suasana bazzar sudah seperti pasar tradisional yang ramai dengan hiruk pikuk orang.
"Beneran rame banget loh fa" kataku takjub.
"Iya kan? mana stand kita?" tanyanya.
"Tuh, yuk kesana" jawabku sambil menunjuk arah stand yang sudah kupilih.
Kamipun merapikan dan mendesain stand kami supaya terlihat sedemikian menariknya dan membuat mahasiswa yang lewat tertarik untuk singgah dan membeli barang jualan kami.
Diluar ekspektasi, totebag yang kami bawa sejumlah 50pcs habis dalam waktu 2 jam dan mochi cup kami tinggal sisa beberapa cup saja.
"Waaah gila, cape banget hahaha perasaan belum duduk ya kita dari tadi rain?" kata Hanifa sambil menyeka keringatnya.
"Iyahaha syukurlah, eh fa telpon Arika gih minta dikirimin lagi pouch atau totebagnya soalnya masih banyak yang nanyain" kataku.
"Jangan na, kita tahan dulu buat besok biar besok masih banyak yang beli. Kalau barang kita keluarin semua, besok Nunu sama Arika bisa-bisa gak kebagian ladang hhaha" jawabnya.
"Hmm iya sih lagian biar kita cepet pulang juga ya?" kataku.
"Nah itu, ini kan malam minggu gimana kalau kita ke bioskop terus sekalian nyari inspirasi desain buat produksi bulan depan?" ajaknya.
"Boleh, lagian kita kan korban LDR haha malam minggu berasa kelabu ya?" ledekku.
"Hahaha sabar untuk kita berdua" jawabnya.
Tak lama, seluruh dagangan kamipun habis tak tersisa. Aku segera merapikan box dan melipat banner, sementara Hanifa membersihkan sampah disekitaran stand dan memasukannya kedalam trashbag.
"Wih beda emang kalau anak geografi, sayang banget sama alam sampe dibersihin sampah stand orang juga" kata seseorang.
"Eh Fasya hahaha, iya dong kan harus mencerminkan kecintaan terhadap alam hahaha" sahutku.
"Eh iya fa, kenalin ini Fasya yang aku ceritain waktu itu" kataku.
"Oh hai, Hanifa temen sekelasnya Raina" kata Hanifa sambil mengulurkan tangan.
"Ah udah kenal sama kamu mah, muka kamu kan sering mejeng di akun-akun hits kampus" ledek Fasya.
"Bisa aja" jawab Hanifa sambil tertawa.
"Udah habis lagi?" tanya Fasya.
"Udah, syukur sih tadi cuaca panas banget mataharinya terik jadi es mochi kita laku banget" jawabku.
"Padahal aku baru mau beli, tadi liat orang-orang pada makan kayanya enak banget" jawab Fasya.
"Maaf, besok deh aku pisahin ya" kata Hanifa.
Aku dan Hanifapun bergegas mengantarkan box bekas jualan ke dropshipper tempat kami mengambil barangnya serta menyetorkan hasil dagang, tentu saja setelah membagi persenannya.
"Lumayan Rain, kita dapet untung bersih 300 ribu dari mochi dan sekitaran 400 ribu dari totebag" jelas Hanifa.
"Lumayan fa, semoga besok Nunu sama Arika juga dapet banyak ya?" kataku.
"Iya semoga, lumayan kan buat bayar praktikum hidrologi dan sisanya buat tabungan kita berempat" katanya.
"Iya lumayan" jawabku.
"Kamu mau mandi dulu gak? Aku anterin kamu dulu kerumah sekalian aku tungguin deh, abis itu kita kerumah aku gantian gitu gimana?" ajaknya.
"Boleh-boleh, sekalian ikut print tugas di rumah kamu boleh gak nanti?" tanyaku.
"Bolehlah, bawa aja filenya" jawabnya.
Beberapa waktu kemudian....
Aku dan Hanifa sudah tiba di pusat perbelanjaan.
"Liat tuh, semuanya pada dateng sama pacarnya mau nonton hahaha kita berdua aja?" ledek Hanifa.
"Nasib nasib" kataku.
"Mba dua tiket ya, perahu kertas 2" kataku.
"Duh maaf mba paling ada seatnya seling satu gapapa?" jawab si Mbak cantik.
"Gimana fa? Masa kita seling satu di pojokan lagi" tanyaku.
"Aneh deh itu masa ada sih yg pesen di pojokan seling satu gitu, mereka nonton sendiri-sendiri?" tanyanya.
"Bukan mba, itu yang pesen cowok berdua tapi mereka duduknya gak mau deketan dan cuma seat itu yang tersisa" jawab si Mbak cantik.
"Ah yaudahlah fa gapapa ya? Daripada nunggu nextnya kemaleman" kataku.
"Hmm iyaudah" jawab Hanifa pasrah.
__ADS_1
Kamipun merencanakan untuk masuk ke teater saat semua penonton yang lain sudah masuk supaya tidak malu karena harus duduk berseling satu.
"Seat apa sih?" tanya Hanifa.
"Seat K tuh" jawabku sambil menunjuk kursi di pojokan.
Aku memperhatikan sekeliling kami yang diisi hampir oleh pasangan-pasangan muda mudi yang dimabuk asmara.
"Hmmm sedih" bisik Hanifa.
Tak lama filmpun dimulai, niatku untuk langsung fokus ke layar agak terganggu karena memperhatikan lelaki yang duduk disebelahku.
"Wanginya ko kaya familiar ya?" gumamku.
Lelaki ini menutup kepalanya dengan hoodie, aku keheranan mana ada orang nonton matanya malah ditutup begitu?
Saat film dimulai fokusku sudah pada layar, sambil ngemil popcorn akupun menikmati sajian cinematografi perahu kertas 2 yang memanjakan mata.
Hingga tak kusadari lengan lelaki disebelahku ini menyentuh lenganku.
"Ih apasih deket-deket? Gak sopan deh" pikirku.
Akupun mengalah dan menggeserkan tanganku.
Hingga kedua kalinya, tangan lelaki ini terus menerus mendekati tanganku. Akhirnya karena aku risih, aku mencoba menatap dengan tajam kearah wajahnya.
"Kakak!!!" kataku hampir berteriak.
"Halo mba, lama banget ya sadar kalau ini pacarnya" katanya sambil menggerutu.
"Pantes wanginya aku kaya kenal, ko bisa tiba-tiba di Bandung?" tanyaku.
"Aku pulang dari Bali langsung kesini, lumayan besok libur jadi bisa nengokin kamu tuh aku juga sama si dhika disebelah" katanya.
Akupun melirik ke sebelah kiriku dan benar saja, Kak Dhika yang duduk disana.
"Hai dek hahaha kaget ya?" ledeknya.
"Hanifa, jailin aku ya?" gerutuku.
"Bukan jailin sayang, tapi surprise" jawabnya.
Akupun segera menggenggam tangan Andreas seperti ingin melepas kangen yang hampir sebulan ini kupendam.
"Aku tau dari Hanifa, kalian mau ke bioskop haha jadi yaudah aku sama Dhika nyusulin kesini dan eh ternyata gak bisa milih seat karena udah full booking wkwkw tapi gapapalah lumayan masih di pojok jadi kita aman" jelasnya.
"Aman? Maksud kakak aman apa?" tanyaku.
"Ih jangan macem-macem ya" gerutuku.
Diapun tersenyum lalu mengelus rambutku.
"Maaf ya, kayanya sebulan ini kamu beneran kurusan lagi?" katanya.
"Iya kak kurusan orang aku gejala ty..... Hmmm tidak makan teratur kak" jawabku.
Hampir saja aku keceplosan bilang kalau dua minggu yang lalu, aku gejala typus dan sebenarnya harus dirawat tapi karena tugas-tugasku banyak akhirnya aku minta pulang pada dokter yang merawatku dengan catatan periksa rutin sebulan sekali.
"Kamu bohong sama aku ya? Ada yang kamu sembunyiin?" tanyanya.
"Nggak ada ko, beneran deh" jawabku.
"Aku tau kalau bohong kamu pasti nyilangin kaki kaya gini nih" katanya sambil melihat kearah kakiku.
"Kita bahas nanti diluar aja ya, sekarang kita nonton dulu okee" pintaku sambil mengalihkan topik.
Ada banyak kutipan keren di film perahu kertas 2, salah satu favoritku adalah :
Hati kamu mungkin memilihku, seperti juga hatiku selalu memilihmu. Tapi hati bisa bertumbuh dan bertahan dengan pilihan lain. Kadang, begitu saja sudah cukup. Sekarang aku pun merasa cukup.
Seperti Keenan dan Kuggy yang mengejar cita-cita diantara banyaknya pemikiran-pemikiran realistis tentang kehidupan mereka setelah dewasa, dan pada akhirnya membuat mereka seolah lupa bahwa mereka saling mencintai dan membutuhkan satu sama lain. Namun, cinta bukan tanpa tujuan. Dia tahu kapan saatnya kembali, pada sang tujuan hati.
Setelah keluar dari teater...
"Dhik, gue sama Raina misah ya? Kita ada perlu" katanya sambil menarik lenganku.
Saat itu perasaanku mulai tidak enak, pasti dia akan marah soal tadi ya tentang kebohonganku.
Dia membawaku ke sebuah mobil.
"Masuk" katanya tanpa ekspresi.
"Ini mobil siapa?" tanyaku.
"Mobil kantor buat inventaris aku, kamu jangan ngalihin topik ya. Aku beneran serius kalau ini tentang kesehatan kamu" katanya.
"Apasih ka, aku beneran gak kenapa-napa. Aku sehat ko nih kakak liat sendiri kan tangan aku, kaki aku terus pipi aku juga normal kan?" kataku.
"Jangan kira aku gak merhatiin ya, hampir tiap kita vc'an kamu pasti nutupin pipi kamu pake rambut jadi ini alasannya? Kamu gak mau keliatan kurusan depan aku?" gerutunya.
"Kak, aku cuma gejala typus ko itu juga udah dua minggu yang lalu. Sekarang aku beneran baik-baik aja" jelasku.
"Gejala typus kamu bilang cuma? Aku marah ya serius, kamu gak cerita apa-apa loh ke aku?" gerutunya lagi.
__ADS_1
Aku takut melihat wajahnya yang serius dan benar-benar marah itu, akhirnya karena aku tidak tahu harus berbuat apa aku hanya bisa menangis.
"Iya, aku bohong soalnya aku gak mau kakak khawatir. Kakak aja hidup sendirian di tangerang bisa baik-baik aja, masa aku harus cerita tiap kali aku sakit atau aku ada masalah? Aku gak mau kakak kepikiran, lagian selagi aku bisa ngadepin sendiri ya aku gak akan minta bantuan orang lain" jelasku.
"Orang lain? Aku ini pacar kamu loh, aku bukan orang lain? Dari dulu aku udah bilang kekamu, soal kesehatan kita gak boleh saling tertutup sekecil apapun itu kita harus terbuka satu sama lain dek" katanya.
Aku memeluknya seerat yang aku bisa, aku paham dia pasti sangat khawatir akan keadaanku saat itu. Apalagi dia juga tau, posisiku sebagai mahasiswa semester 5 dengan segudang kesibukannya harus tetap menjaga kesehatan.
"Maafin aku, aku janji ini terakhir kalinya aku gak cerita soal sakit aku terus nanti kalau misalnya aku sakit lagi pasti aku cerita ke kakak" bujukku.
Dia tidak menjawab, dia hanya membalas pelukanku.
"Maaf juga karena aku marah, kamu tau kan dulu Bapak juga sakit parah karena gak kasih tau aku sama Ibu soal penyakitnya dari awal" katanya.
"Iya maaf harusnya aku emang gak bohong soal ini, maaf ya kak?" pintaku lagi.
Dia memegang kedua pipiku dan menyeka air mataku yang masih menetes.
"Kamu masih takut liat aku marah?" ledeknya sambil menahan tawa.
"Aku gak suka kakak desak aku kaya tadi, aku takut kakak marah" jawabku.
"Aku kaya gini karena aku sayang sama kamu, apalagi sekarang posisi kita jauhan ya kekhawatiran aku berlipat ganda ke kamu. Jadi aku minta tolong, kamu jangan banyak nyembunyiin sesuatu dari aku. Minimal aku bisa tahu, seharian kamu ngapain aja kemana aja dan gimana keadaan kamu. Ya karena cuma dengan cara itu aku ngerasa aku bisa jagain kamu dari jauh" jelasnya.
Kali ini aku semakin terharu, betapa merasa beruntungnya aku memiliki pacar seperhatian Andreas sekarang.
"Iya, tapi udah jangan marah lagi. Aku laper tau, makan yuk?" ajakku.
"Iya ayo makan, mau makan apa?" tanyanya.
"Seafood" jawabku.
Kamipun langsung pergi menuju restoran seafood favorit kami di Dago. Seperti layaknya pasangan malam minggu yang lain, kami merasa malam itu dunia milik kami berdua sementara yang lainnya cuma mengontrak.
Setelah selesai makan dan masuk mobil....
Aku mulai merasa mengantuk, hingga tak terasa beberapa detik kemudian aku ketiduran. Mungkin karena kelelahan setelah berjualan siang tadi.
Hingga tak berapa lama, aku merasakan ada hembusan nafas yang mendekati wajahku. Kubuka mataku seketika dan betapa terkejutnya aku mendapati wajah Andreas ada didepan wajahku dengan jarak beberapa centimeter saja.
"Maaf, aku mau pasangin kamu sabuk pengaman" katanya.
Entah keberanian yang datang darimana, saat itu dengan terang-terangannya aku malah mendekatkan wajahnya ke wajahku dan seketika kukecup pipinya sambil berkata "aku kangen banget sama kakak"...
Wajahnya terlihat sangat kaget dan salah tingkah, tapi aku pura-pura melanjutkan tidurku. Hingga akhirnya, dia mengendarai mobilnya entah hendak menuju kemana.
Di perjalanan....
"Kita mau kemana kak?" tanyaku.
"Ko bangun? tidur aja lagi nanti aku bangunin kalau udah sampe rumah sakit" katanya.
"Rumah sakit? siapa yang sakit?" tanyaku.
"Kamu, aku mau tau apa kata dokter soal kamu pokoknya aku mau denger dari dokter langsung" jelasnya.
"Kakak mah ih, aku beneran udah sehat" gerutuku.
"Yaudah bagus, paling nanti kamu dikasih vitamin doang sama dokter kalau emang kamu sehat" jawabnya sambil melirikku.
"Emang ya punya pacar keras kepala kaya kakak tuh susah, kalau belum denger langsung pasti aja kaya gak puas. Terserah kakak deh, aku nurut sama kakak aja biar kakak puas" kataku.
"Yah bagus kalau gitu, tidur aja lagi nanti aku bangunin atau kalau perlu aku gendong kamu masuk ruangan dokternya" ledeknya.
.
.
.
.
.
*Malam ini, rasanya banyak kupu-kupu berterbangan disekitarku....
Sambil membawa beberapa tetes madu manis...
Mereka menari dan bersenandung merdu...
Menyambut kehadiran sang bunga pujaan...
Bunga lain yang hampir layu karena tak berkawan....
Seperti bangkit lagi dan kemudian tumbuh....
Seperti aku yang diizinkan bertemu kembali denganmu...
Hampir saja aku sayu merindukanmu...
Tapi kemudian kamu datang menjadi penawar rinduku...
Membuatku semakin candu untuk terus melihatmu*....
__ADS_1