
"Duh maaf sya, tapi aku udah harus pulang soalnya mau nganterin adek aku les" kataku.
Saat itu aku berbohong pada Fasya karena mana mungkin aku bilang kalau aku tidak diizinkan makan bersamanya oleh Andreas.
Fasya pasti berpikiran "kuno banget sih Rain pacar kamu"....
"Oh yaudah, aku anterin kamu pulang deh" katanya.
"Iya sya, next time ya kita makan" kataku merasa tidak enak.
"Janji ya? aku tagih loh nanti" ledeknya..
Di lampu merah, Fasya sempat berpapasan dengan teman sekelasnya dua orang laki-laki yang berboncengan memakai motor matic. Mereka juga melihat dan tersenyum kearahku.
"Halo Raina, salam kenal" kata salah satu diantaranya.
"Sya, di jurusan kamu bisa masukin barang jualan aku gak?" tanyaku.
"Maksudnya kamu jualan ke jurusan aku gitu?" tanyanya.
"Iya, aku mau jualan nambah wilayah kan kalau masuk ke jurusan kamu" kataku.
"Boleh, soalnya di angkatan aku gak ada yang jualan kaya gitu jadi kamu kayanya bisa mampir. Nanti aku kabarin deh" jelasnya.
"Bener ya sya? besok aku juga bawa barang jualannya ko ya cuma mochi ice, duren cup sama donat kentang ko" jawabku.
"Iya, boleh semoga jam istirahat kita barengan deh. Pasti laku di kelas aku mah, soalnya pada doyan jajan semua" katanya.
Sesampainya dirumah....
Aku langsung mandi, makan dan bermain bersama Recca di teras belakang sambil membantunya mengerjakan PR.
"Teh, recca dikasih ini loh sama pacar teteh" kata Recca sembari memperlihatkan gantungan kunci.
"Gantungan kunci beruang? lucu bangetsih. Ko teteh baru tahu?" tanyaku.
"Iya soalnya kata kakak itu, Recca gak boleh kasih tahu teteh langsung takutnya teteh minta" jawab Recca dengan polosnya.
Recca baru kelas 4 SD, dia terlalu polos untuk menyebut kata "pacar" rasanya aku jadi tidak enak mendengarnya memanggil Andreas dengan sebutan 'pacar teteh itu'....
"Kapan dia kasih itu ke kamu?" tanyaku.
"Pas Recca mau ke pasar sama Ibu, kakak bilang ini buat tanda di tas aku supaya tas aku gak ilang. Gantungan kuncinya cuma satu di dunia, jadi cuma aku yang dikasih dan teteh nggak" jelasnya.
Aku tertawa mendengar betapa percayanya Recca pada candaan Andreas yang terakhir itu.
Gantungan kunci beruang seperti begitu kan banyak, pasti dijual bebas di toko aksesoris. Tapi memang aku baru lihat sih yang warnanya bisa berubah-ubah seperti punya Recca itu.
"Teh, laper" kata Recca.
"Bilang sama Ibu gih, teteh juga laper" jawabku.
"Gak mau, mau bikin mie instan boleh kan?" rengek Recca.
"Yaudah tapi kita makannya sembunyi-sembunyi ya? biar gak ketahuan Ibu. Yuk?" ajakku.
Akhir-akhir ini setelah aku sakit terakhir kali itu, Ibu menjadi sangat protektif terhadap pola makanku. Ibu akan sangat melarangku makan makanan instan, sama seperti halnya yang dilakukan Andreas.
Mereka berdua tidak pernah membiarkan aku menyentuk ramen instan kesukaanku lagi.
"Gak boleh yang instan-instan, nanti pencernaannya bermasalah lagi"...
Kadang, aku akan meminta bantuan Randy atau Recca untuk mengambilkan sebotol air panas ke kamarku untuk menyeduh ramen instan.
Sesekali, aku harus mengajak keduanya makan bersama agar mereka lupa menceritakannya pada Ibu.
Setelah masuk kamar, aku langsung menelpon Hanifa untuk memintanya menambah barang jualan besok.
"Halo fa, besok bawa barangnya agak banyak ya. Kita jualan ke jurusan Fasya, tadi aku udah bilang ke dia katanya boleh" ....
"Oke Rain, tambah 20pc aja ya?"
"Iya fa, jangan lupa ya?"
"Siap, oiya email tugas Pustaka Alam katanya harus dikirim sore ini loh Rain. Kamu udah selesai?"
"Udahsih, tinggal kirim. Kamu gimana?"
"Belum dikit lagi, ini masih ngerjain. Yaudah ntar disambung lagi ya?"
Malam harinya.....
Fasya sempat menelponku, menanyakan bagaimana rencana dagang esok hari.
Kujawab "iya besok aku jadi jualan ke jurusan kamu"....
Dia terdengar antusias, mungkin dia menyukai salah satu diantara tiga sahabatku makanya dia bersemangat sekali.
Hampir 3 jam lamanya aku menghabiskan waktu didepan layar laptopku, untuk mengerjakan tugas-tugas yang belum selesai untuk satu minggu kedepan.
"Aku kan mau ke Tangerang weekend ini, jadi aku harus beresin tugas sebelum berangkat hari sabtu" pikirku.
Aku merahasiakan rencana ini kepada Andreas, aku mau mengabarinya saat sudah sampai didepan kosannya saja nanti.
__ADS_1
"Kak, akhir minggu ini kakak kerja juga?"
"Gak dek, libur sih tapi aku gak bisa ke Bandung soalnya ada beberapa kerjaan yang mepet buat senin. Jadi kayanya harus diem dulu"
"Hmmm, yaudah semangat ya? oya kak kosan kakak itu khusus pegawai atau umum sih kak? maksudnya ada ceweknya kan?"
"Ada ko, tapi cewek di lantai atas. Cowok dilantai bawah. Kebanyakan sih pegawai Bank gitu sama karyawan kantor"
"Hmm dimana sih alamatnya?"
"Lah ngapain nanyain alamat? dikasih tau juga kamu gak akan kesini haha"
"Siapa tau kan, aku udah kuliah lapangan kesana terus bisa mampir ke kakak"
"Iya udah nanti aku whatsapp deh biar puas. Kamu tadi gak pergi makan kan sama si Fasya itu?"
"Gak ko, aku langsung pulang"
.
.
.
Aku memancing Andreas untuk memberi tahu alamatnya, karena selama dia bekerja di Tangerang aku hanya tahu alamat kantornya saja.
Rencananya, aku akan berpisah dengan Hanuka setelah sampai disana dan baru pagi harinya aku akan kembali kerumah Nenek Hanifa untuk pergi ke pantai bersama mereka.
"Semoga rencanaku berjala lancar deh"
Keesokan harinya....
Sekitar pukul 8...
Aku, Nunu dan Arika sudah menunggu Hanifa di parkiran dengan semangatnya kami bertiga akan berjualan sebelum mulai kelas pukul 11 siang nanti.
Sebenarnya, banyak agenda rapat divisi untuk membicarakan praktikum hidrologi dan BEM sore nanti jadi kami mau membagi waktu sebaik mungkin.
Fasya sudah mengabariku bahwa dia beristirahat kelas sekitar pukul setengah 10.
"Iya nanti aku kekelas kamu" kataku.
Di kalangan teman sekelas Fajar, wajah Hanifa sangat familiar dan mungkin dapat menarik minat teman-temannya untuk membeli barang jualan kami.
"Kamu sama Nunu aja deh ke kelas Fasya ya? aku sama Arika di lobby" saranku.
"Iya rain, baru aja aku mau nyaranin dua orang diem di lobby soalnya lumayan rame banget" kata Hanifa.
Setengah jam kemudian....
"Sisa 2 dong haha, gila pada beli semua katanya yang dijual di bazzar MIPA waktu itu enak jadi mereka pada beli lagi" jelas Nunu.
"Oya rain, beberapa temen ceweknya Fasya juga order totebag sama pouch. Mereka udah DM di stagram katanya" jelas Hanifa.
"Yaudah, nanti dikelas aku cek deh semoga stoknya masih ada ya" jawabku.
"Punya kita juga sisa dikit lagi, palingan kita diem bentar di lobby jurusan juga abis ni barang" kata Arika.
Kami berempatpun berpindah tempat ke Lobby jurusan, tanpa disengaja aku melihat Kayi dan Rani sedang dimarahi oleh Pak Rohmat.
"Kalian ini gimana sih? sudah dikasih amanat minta diselesaikan tepat waktu tapi tetap saja tidak sesuai. Kalau kalian memang tidak sanggup menggarap judul itu, jangan memaksakan! mending kalian ganti judul saja! gimana mau lulus PKM kalau kerja kalian selalu keteteran begini" kata Pak Rohmat.
Aku menyikut Hanifa, dan dia langsung mengirimkan sinyal bahwa dia paham yang dimaksud Pak Rohmat barusan.
"Pasti itu tentang proposal PKM, mereka kan mati-matian pingin lulus dan kebagian dosen pembimbingnya Pak Rohmat. Bukannya selamat malah sekarat begitu, untung proposal kita lulus duluan ya Rain?" kata Hanifa.
"Iya, tapi ini berarti sebulan dari sekarang sebelum pelaksanaan program kita harus garap lebih serius supaya gak gagal" kataku.
"Siap Rain, oya dana talangnya belum cair ya?" tanya Nunu.
"Belum Nu, proposal yang judulnya lulus seleksi tahap 1 kan baru dapet dana akhir bulan ini kalau gak salah 750 ribu deh" jelas Arika.
"Lumayan tuh buat bagi berempat" sahut Nunu.
"Terus kalau lulus lagi, dikasih dana berapa buat garap?" tanya Hanifa.
"Ya tergantung fa, kita ngajuin anggarannya berapa. Maksimalnya 15 juta juga dikasih" jawabku.
"Waah besar juga ya? mantap" jawab Arika.
"Iya sebesar tanggung jawabnya juga, dana segitu kan buat jalanin programnya bukan buat dibagi-bagi hahaha" jelas Hanifa.
Sepertinya mulai bulan depan, kami akan sangat sibuk. Rutinitas sehari-hari untuk kuliah, berdagang, belum lagi rapat dan kerja di BEM serta tugas-tugas kampus dan sekarang kami harus mulai memikirkan PKM kami.
"Waaah bisa stress kalau dipikirin dari sekarang, udah paling bener emang akhir minggu ini kita liburan sedetik ke pantai" kata Nunu.
.
.
.
.
__ADS_1
Tiga hari kemudian.....
Hanifa tidak bisa menjemputku kerumah untuk berangkat bersama ke kampus karena mobilnya masuk bengkel.
"Maaf ya Rain, padahal kemarin kita baru patungan beli bensin buat si kutil (nama mobilnya) tapi udah masuk bengkel aja sekarang" kata Hanifa dalam teleponnya.
"Gak papa Fa, aku naek angkot aja" jawabku.
Saat aku hendak menyebrang didepan komplek rumah untuk menunggu angkot di sebrang jalan, tiba-tiba saja ada motor yang melaju sangat kencang dan menyerempetku.
"Awwww" kataku kesakitan.
Aku terjatuh dan hampir saja kepalaku terbentur di trotoar. Kakiku sulit digerakan karena kaget dan lemas.
"Aduh mba maaf, saya buru-buru jadi gak liat ada orang nyebrang. Mba sih nyebrangnya dadakan" kata si penabrak.
"Loh mas ko nyalahin yang nyebrang sih, udah tau lampu merah mas masih aja maksa maju. Dia kan udah bener mas nyebrang di zebracross" bela Fasya yang tiba-tiba ada dibelakangku.
Fasya menolongku dan membantuku untuk berdiri.
Aku sempat melerainya agar tidak memperpanjang obrolan dengan si penabrak, karena hanya akan buang-buang waktu.
"Kamu lagi ngapain sih? tumben banget nyebrang disini" tanya Fasya.
"Mau naek angkot ke kampus, soalnya Hanifa gak bisa jemput dan dirumah gak ada motor udah dibawa adek aku kesekolahnya" jelasku.
"Kenapa gak minta tolong aku sih? kita kan sekomplek, satu kampus juga. Kalau buat nebengin berangkat kampus doang mah, aku bisa kali Rain" jelasnya.
"Gak mau ah, nanti ngerepotin kamu lagi. Udah sekarang mending kita ke kampus yu? takut telat" ajakku.
"Yaudah tapi obatin luka kamu dulu, tunggu disini bentar aku kerumah dulu ambil helm lagi" katanya.
Akhirnya setelah mengobati sedikit luka di kaki dan sikut tanganku, kami berangkat ke kampus.
"Kamu yakin gak papa?" tanya Fasya sesampainya kami di parkiran.
"Yakin sya, makasih banget ya. Aku gak tau deh gimana jadinya kalau gak ada kamu tadi" kataku.
"Iya, sama-sama. Kalau mau bareng pulangnya kabarin aja ya? jangan ngangkot lah takut gagal nyebrang lagi kaya tadi" ledeknya.
Akupun berpisah dengan Fasya didepan fakultasnya....
Sesampainya dikelas....
Arika dan Nunu yang juga ada kelas di jam yang sama denganku sempat menanyakan apa yang terjadi kepadaku, saat mereka melihat jalanku agak tertatih dan sikutku diplester.
"Tadi keserempet motor pas nyebrang" jawabku.
"Nyebrang depan komplek kamu?" tanya Nunu.
"Iya" jawabku.
"Ih beranian, aku aja takut kalau disuruh nyebrang disitu. Itu kan jalur cepet harusnya disitu dibangun jembatan penyebrangan orang" sahut Arika.
Arika dan Nunupun masuk kekelasnya, sementara aku menunggu dosen dikelasku.
Sesaat sebelum Hanifa datang, Fasya sempat mengirimkan pesan.
"Pulangnya sama aku ya? aku tungguin. Kamu kabarin aja kalau udah beres kelas. Take care ya jalannya!"
"Fasya perhatian banget, apa dia beneran kasihan sama aku karena keserempet motor tadi?" pikirku.
Aku hanya membaca pesannya tanpa membalasnya, karena Dosen sudah masuk kelas dan pelajaranpun dimulai...
.
.
.
.
Setelah kelas selesai....
"Rain, ganti sih plesternya ntar infeksi loh" kata Hanifa.
"Iya ganti Rain, aku ada plester mau?" sahut Hasan.
"Gak usah ah, ini dikit doang ko lukanya. Gapapa hahaha" jawabku.
"Eh rain, mau bacain dong surat cinta buat kamu dari adik tingkat itu hahaha katanya dapet banyak ya?" ledek Hasan.
"Iya tuh si Raina paling banyak, dapet 16 iya kan Rain?" tanya Gian.
"Iya, tuh ambil aja ditas. Aku selalu bawa itu kemana-mana ko, soalnya lucu aja tiap baca jadi langsung semangat dibilang cantik" jelasku sambil tertawa.
Hari itupun, karena kakiku sakit aku jadi tidak bisa membantu Hanuka berjualan. Mereka mengerti dan memintaku duduk dikelas sambil membuat desain baru untuk produksi berikutnya totebag kami itu, sementara mereka bertiga pergi jualan keliling.
"Udah Rain kamu diem aja gambar desain tuh atau di laptop aku aja sekalian nih" kata Nunu sambil memberikan laptopnya kepadaku.
"Iya nu, kalian semangat ya!!!" kataku.
Selama aku menunggu dikelas, kudengar Rani dan Kayi bertengkar entah masalah apa yang sedang mereka perdebatkan.
__ADS_1
"Udahlah, kamu kerjain aja program itu sendirian!" teriak Rani sambil terdengar membantingkan pintu kelas.