Kuliah Atau Kuli Ah?

Kuliah Atau Kuli Ah?
Bohong


__ADS_3

Tak terasa aku sudah tiba di hari terakhir kuliah lapanganku. Rencana hari ini, kami akan menuju ke Ubud dan menghabiskan petang hingga malam hari di Pantai Kuta.


Seminggu lamanya berada di Pulau Dewata mengajarkanku banyak hal, tentang cara mencintai dan merawat pemberian Tuhan, menghormati sesama dan berfikiran terbuka.


Kuakui warga Bali memang sangat ramah, bahkan mereka juga sangat pintar membaca peluang. Aku sangat takjub melihat semua warga di Bali bergotong royong membangun dan menjaga aset pariwisata yang mereka miliki.


Bahkan setingkat rumah tangga kecil saja mempunyai peranan yang penting dalam pariwisata mereka. Satu tempat yang paling aku ingat adalah ketika aku mengungjungi Desa Adat Panglipuran.



Desa Panglipuran adalah salah satu desa adat yang masuk kedalam 10 besar desa terbersih di Dunia. Desa ini terletak di daerah Bangli, tepatnya terletak di Bali bagian utara yang berbatasan langsung dengan Karang asem di sebelah timurnya.


Sesampainya disana, Desa Panglipuran memang terlihat dikelola dengan baik oleh masyarakat setempat dan wajar saja jika Desa Panglipuran telah menerima banyak penghargaan baik nasional maupun internasional karena kondisinya yang otentik serta kebersihan desa yang sangat baik dan terawat.


Asal muasal nama desa Panglipuran sendiri berasal dari kata "Pengeling" dan "Pura" yang bermakna mengenang tempat suci para leluhur.


Penduduk dari desa ini kebanyakan berasal dari desa Bayung Gede, Kintamani yang bermigrasi ke tempat yang lebih rendah. Semua bangunan rumah di desa ini tampak saling mirip satu sama lain dimana setiap rumah selalu memiliki sebuah pintu gerbang akses keluar masuk ke rumah satu dan rumah lainnya.


Hal uniknya lagi ukuran rumah para warga di desa ini juga sama persis. Tidak ada yang lebih besar maupun lebih kecil. Semua tata ruangnya juga sama, pemanfaatan tanah dan sistem bangunnya juga sama.


Berulang kali aku melakukan wawancara dengan warga setempat dan menurut penjelasan mereka, Desa Panglipuran ini memang memiliki kebiasaan warganya tersendiri yakni setelah bangun tidur mereka akan segera menyapu halaman dan akses utama jalanan desa.


Tempat lain yang tak kalah bagusnya adalah Tanah Lot, Uluwatu dan pemandangan nyata dibalik uang pecahan 50 ribu rupiah yakni Pura Ulundanu.



Pura Luhur Uluwatu



Pura Ulundanu



Tanah Lot


Aku jatuh hati dengan Bali dan segala keindahan alamnya. Aku bangga menjadi bagian dari Tanah Air ini. Aku bangga dilahirkan di Ibu Pertiwi dengan segala kekayaan negrinya.


"Rain, nanti si Gian sama Nirwan juga ikutloh" kata Hanifa.


"Baguslah jadi ada cowok yang jagain, kenapa gak ajak yang lain aja siapa tau masih ada yang mau ikut" kataku.


"Nanti kasihan kalau panitia banyak yang ikut, mereka sampe Bandung gak ada yang koordinir" jawabnya.


"Ah iya yah, yaudah yang emang mau ikut aja ajak hehe" kataku.


Aku dan sahabat-sahabat yang lain juga sudah merencanakan perjalanan kami ke Lombok setelah ini. Kami akan menyebrang dari Pelabuhan Benoa menuju Gili Trawangan. Beruntungnya Nunu sudah meminta bantuan dari Bli Hadi. Bli Hadi merupakan koordinator dari travel yang bertanggung jawab di Bis kami.


Bli Hadi memiliki kenalan yang akan menjemput kami ke hotel dan mengantarkan kami hingga naik kapal untuk menyebrang ke Lombok nantinya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Menjelang naik ke bis, aku menunggu Nunu di lobby. Dia sedang mengobrol dengan Gian. Mereka terlihat bercanda gurau. Aku iri melihatnya. Aku merindukan kak Iyas. Semalam dia sempat menelponku, katanya hari ini dia akan sibuk di outlet karena ada barang baru datang.


"Ayo rain" teriak Nunu menyadarkan lamunanku.


Saat kami sudah didalam bis, aku ingat bahwa aku lupa membawa ponselku hingga akhirnya aku berniat kembali ke kamar. Namun, saat tiba di pintu hotel Rani memberikan ponselku. Dia memang baru turun, sepertinya setiap hendak berangkat dia selalu datang telat.


"Nih, tadi aku liat di atas kasur. Makanya aku ambilin" katanya.


Aku mengambilnya dan segera naik ke bis tanpa mengucapkan terimakasih. Entah kenapa perasaanku masih belum bisa menerima Rani. Apalagi setelah perkataannya tempo hari padaku.


"Udah ada hp-nya?" tanya Gian.


"Udah gi, dibawain Rani" jawabku.


Kamipun berangkat menuju Ubud.


Sesampainya di Ubud..


Melihat Ubud membuatku teringat banyak scene ftv dan film-film lokal, banyak sekali karya film yang menjadikan Ubud sebagai lokasi utama pengambilan gambarnya. Pasar seninya, warganya yang ramah dan tatanan wilayahnya yang sangat baik.


Belum lagi, pesawahan yang super terkenal di Bali.


Tempat yang akan kami kunjungi sekarang adalah Tegalalang.


"Sebelum industri pariwisata di Ubud tumbuh pesat seperti saat ini, sebagian besar penduduk lokal di Ubud mencari nafkah sebagai petani, berspesialisasi dalam pertanian padi.


Meskipun saat ini sebagian besar penduduk lokal di Ubud mengubah cara mencari nafkah mereka dengan bergerak di industri pariwisata. Beberapa dari mereka tetap menjadi petani padi.


Hal ini yang membuat banyak areal sawah tetap dipertahankan di Ubud. Tidak hanya bentuk sawah biasa, di Ubud kalian juga akan melihat banyak sawah berbentuk terasering. Salah satu sawah terasering yang paling indah di Ubud terletak di Desa Tegalalang Ubud" jelas Bli Hadi.



Sawah Terasering

__ADS_1


Aku dan Nunu takjub menyadari betapa kontrasnya penampakan yang baru saja kami lihat. Beberapa puluh menit yang lalu, kami baru saja melihat pasar seni yang dipenuhi banyak sekali wisatawan mancanegara. Sebuah pusat industri yang terkesan semi modern.


Sekarang, kami disuguhi pemandangan sawah yang sangat kental dengan kesan dan suasana pedesaan.


"Silahkan turun untuk melakukan observasi dan wawancara, waktunya satu jam ya! Setelah itu kita ketemu di bis lagi" kata Gian.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Satu jam terasa sangat singkat saat aku dihadapkan dengan kegiatan yang paling aku sukai, yaitu turun sendiri ke lapangan.


Melihat ciptaan sang Maha yang sempurna, mendengar cerita dari narasumber dan menarik maknanya. Aku benar-benar kuliah lapangan tahap terakhir ini.


"Udah yu kita ke bis?" ajak yang lainnya.


"Habis ini kita langsung ke Kuta?" tanyaku.


"Gak, ke Kuta baru nanti setelah maghrib. Habis ini kita ke krishna beli oleh-oleh" jawab Ega.


"Aaaah asyikkkk" jawabku.


Selama perjalanan menuju pusat perbelanjaan oleh-oleh terbesar di Bali itu, aku menghitung sisa uangku.


Selama seminggu disini, aku tidak banyak mengeluarkan uang. Seingatku hanya untuk membeli jajanan pinggir jalan dan gellato di Ubud tadi. Lalu membeli aromaterapi beberapa hari yang lalu di toko samping hotel untuk Ibu.


Hingga tiba-tiba ponselku berdering.


"Kak Dhika!!!"


"Dek, lagi dimana? Duh gimana ya bilangnya"


"Apa sih ka? Aku di bis mau ke krishna. Mau titip oleh-oleh?" tanyaku.


"Hmm bukan, ini si Iyas kakinya kambuh. Tadi jatoh pas lagi ngambil barang"


"Hah? Jatoh? Kaki yang waktu itu sakit juga? Terus gimana sekarang?" tanyaku.


Kak Dhikapun bercerita bahwa Kak Iyas sekarang di rumah sakit dan sudah ditangani dokter. Kak Iyas juga melarang kak Dhika untuk memberitahuku, mungkin dia tidak mau aku khawatir. Hanya saja Kak Dhika kebingungan, dia sedang sangat sibuk di outlet sementara Kak Iyas sendirian dan tidak ada yang mengurusi.


"Aku kabarin Randy deh, minta dia jagain kak Iyas dulu. Besok pagi aku pulang ke Bandung ko" kataku.


"Lah bukannya kalian mau ke Lombok? Maaf kakak bukannya mau ngebebanin kamu, cuma kakak takut nanti kalau kakak gak cerita taunya kondisi Iyas parah lagi" jelasnya.


Aku justru berterimakasih pada kak Dhika, kalau bukan dia yang mengabariku mungkin aku akan tetap pergi ke Lombok.


Setelah mendengar cerita kak Dhika, aku mengurungkan niatku untuk liburan ke Lombok. Bukan apa-apa, kak Iyas kan seorang diri di Bandung. Kalau dia kenapa-kenapa sendirian, apa gunanya diriku?


"Iya dek, take care ya!" pungkasnya.


Perasaanku langsung tidak enak, hatiku rasanya gelisah. Aku harus apa sekarang? Turun lalu pergi ke Bandara sendirian? Jelas tidak mungkin.


Aku menceritakan semuanya pada Nunu, dia langsung memanggil Gian untuk mencari solusinya.


"Aku ngerti ko, kalau kamu gak jadi ke Lombok cuma kamu gak bisa pulang ke Bandung malam ini" kata Gian.


"Iya na bahaya juga ah, aku gak izinin kamu terbang sendirian" kata Nunu.


"Maaf ya nu, kalian tetep harus berangkat ke Lombok. Kasihan Bli Hadi dia kan udah urus semuanya" kataku.


Nunu dan Gian saling lirik-lirikan. Sepertinya Nunu takut mengambil keputusan sendiri.


"Nu, jangan kasih tahu Hanifa sama Arika sekarang. Kasih tahunya besok aja pas kita pisah di Bandara" bujukku.


Aku bertujuan untuk merahasiakan ketidak ikutsertaan ku ke Lombok pada Hanifa dan Arika. Maksudku, agar perjalanan mereka ke Lombok tidak dibatalkan. Aku yakin jika mendengarku tidak jadi ikut, Hanifa akan membatalkan rencana liburan yang sudah dirancang.


"Tapi rain...." gumamnya.


"Ihhhh plis nu, ya biar kalian jadi ke Lombok?" bujukku.


Nunu dan Gianpun menyetujui ideku. Mereka mengangguk dan memahami permintaanku saat itu.


"Yaudah berarti besok tiket ke Bandung tambah satu ya gi, aku bareng sama rombongan pulang" kataku.


"Iya rain, aku kabarin orang maskapainya sekarang" kata Gian.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sesampainya di Pusat Oleh-oleh Krishna...


Aku dan Nunu menunggu Hanifa dan Arika turun dari bus mereka. Gian dan anak-anak yang lain sudah masuk.


"Kamu yakin gak mau cerita ke Hanifa dari sekarang?" tanya Nunu.


"Yakin nu" jawabku.


"Kalau Hanifa marah besok gimana?" tanyanya.


Saat obrolan sedang berlangsung, Hanifa tiba-tiba muncul di belakang kami.

__ADS_1


"Ngobrolin apa?" tanyanya.


Aku dan Nunu gelagapan. Kami tidak bisa menjawab pertanyaan Hanifa.


"Eh kenapa?" bentaknya.


Hanifa memang paling ahli menebak ekspresi. Akhirnya, aku menceritakan semuanya pada Hanifa.


"Terus kak Iyas gimana sekarang?" tanyanya.


Beruntungnya Hanifa belum marah, dia malah mengkhawatirkan kondisi kak Iyas. Terakhir kali kuceritakan bahwa Kak Iyas sebenarnya harus dioperasi, membuat sahabat-sahabatku ngeri dan mengerti kondisi kaki kak Iyas yang memang cukup parah.


Entah kenapa dulu, kak Iyas selalu membantahnya. Katanya dia hanya perlu terapi agar bisa sembuh. Padahal sudah jelas bahwa kondisi kakinya harus segera mendapat penanganan yang serius.


"Yaudah, kita batalin aja rencana liburan ke Lomboknya" kata Arika.


"Jangan, kasihan Bli Hadi yang udah nelponin temennya di pelabuhan. Gimana coba? Mana kita udah bayar dp buat kapalnya. Sayang kalau dibatalin" kataku.


"Terus kamu gimana? Masa kamu gak ikut sendirian? Liburan ke Lombok kan ide kamu, sekarang kamu yang gak bisa ikut" kata Hanifa.


Aku memberikan pengertian pada mereka, bahwa lain kali pasti kami punya kesempatan kedua untuk pergi liburan bersama ke Lombok. Sebenarnya, aku juga kecewa saat aku tidak bisa mewujudkan keinginan terbesarku untuk berlibur bersama mereka ke Senggigi. Tapi, aku akan lebih kecewa lagi saat membiarkan Kak Iyas terluka sendirian.


"Yaudah, kita tetep berangkat. Tapi kamu janji ya ngabarin kita terus kalau ada apa-apa" kata Hanifa.


Aku memeluk Hanifa dan berterimakasih karena dia sudah mengerti kondisiku saat itu.


"Oke. Clear ya? Yu kita belanja!" ajakku.


"Kita bertiga gak akan beli oleh-oleh Rain soalnya kan berat harus dibawa ke Lombok mah, paling kita beli nanti beres dari Lombok" jawab Nunu.


Akhirnya, mereka bertigapun hanya menemaniku untuk berbelanja. Nunu sibuk memilih kain dan baju barong untuk Randy dan Recca. Sementara Hanifa dan Arika membawakan banyak pie susu untukku bawa ke Bandung.


"Titip ya buat kak Dhika" kata Hanifa.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Malam hari di Pantai Kuta....


Kata orang belum ke Bali kalau belum ke Pantai Kuta. Pantai yang sudah kukunjungi di hari kedua kuliah lapanganku, tapi suasana kali ini berbeda. Aku melihat dan mengunjungi Kuta di petang hari. Saat matahari nyaris tenggelam.


"Ayo nu turun cepet biar dapet view sunset" teriak Gian pada Nunu.


Nunu berlari kearah Gian dan mereka berlarian bersama menuju ke pantai. Aku tersenyum melihatnya, betapa romantisnya mereka sekarang.


Disisi lain, Arika sedang berdiri disebelah Nirwan. Mereka juga bersiap menikmati sunset.


"Ka ayo ah cari tempat" ajak Nirwan sambil menggandeng tangan Arika.


Aku juga ikut senang melihat pasangan yang baru balikan itu. Mereka cepat memperbaiki diri dan saling menjaga satu sama lain.


"Rain, ayo bareng udah ah jangan liatin orang pacaran. Nanti sirik hahaha" kata Hanifa sambil merangkul bahuku.


Sesampainya di pantai, aku duduk di tempat yang sudah dipesan untuk kami makan malam. Sambil menikmati sunset dan melihat teman-teman yang lain sedang asyik mengambil gambar.


Aku mencoba menelpon kak Iyas. Berharap dia akan mengangkat teleponku dan menceritakan kondisinya.


"Kakak, kemana aja?" tanyaku.


"Aku nunggu kamu ngabarin duluan" jawabnya.


"Ih, aku justru nunggu kakak duluan. Takutnya kakak sibuk di outlet" kataku.


"Gak ko, aku lagi istirahat di kosan. Kamu terakhir di Bali ya malam ini?" tanyanya.


Aku belum cukup baik baginya, sampai dia masih saja merahasiakan kondisinya padaku. Apa di matanya aku ini masih anak kecil? Yang akan tetap berangkat berlibur meskipun pacarnya sedang sakit?


"Hmm, di kosan toh. Iya aku terakhir di Bali besok pagi udah pergi ke Lombok" jawabku.


"Yaudah hati-hati ya? Sekarang lagi dimana?" tanyanya.


"Di Kuta sampe jam 9 disini" jawabku.


Diujung suaranya, aku mendengar dia seperti kesakitan.


"Sebentar ya sayang, aku kayanya sakit perut" katanya.


Mendengar lagi-lagi dia berbohong, rasanya aku semakin tidak karuan. Dia pasti sedang kesakitan sekarang. Mungkin kakinya kram atau bereaksi setelah meminum obat seperti kebiasaannya.


"Kakak kenapa sakit perut emang makan apa?" tanyaku.


"Makan pedes" jawabnya.


Heran, benar saja yang dikatakan orang. Sekali kita berbohong maka kita akan terus berbohong untuk menutupi kebohongan pertama yang kita buat.


Andreas, dia sama sekali tidak suka pedas. Jarang sekali dia makan pedas. Apalagi saat tidak ada aku bersamanya.


"Ih nakal, yaudah sana ke air. Aku tutup ya?" pungkasku.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2