
Hanifa, Nunu dan Arika menjengukku kerumah. Mereka membawakan banyak sekali cemilan kesukaanku, buah-buahan dan beberapa souvenir hasil dari mereka pulang kampung.
Hanifa ikut Papanya ke Wates, Arika menjenguk Neneknya ke Solo dan Nunu pulang kerumah orang tuanya lalu berlibur ke Pelabuhan Ratu.
Mereka menceritakan banyak sekali hal, tentang liburan mereka masing-masing dan tentang penelitian kemarin.
"Kita main yu rain?" ajak Hanifa.
"Ayo, tapi jangan bilang kak Iyas nanti aja bilangnya pas udah pergi" jawabku.
"Nanti kak Iyas marah dong?" kata Nunu.
"Gak akan sih, aku juga udah sembuh bener ko. Lagian bete dirumah terus, aku kan mau nonton terus mau makan diluar" jelasku.
"Yaudah ayo pergi, siap-siap dulu gih!" kata Hanifa.
"Urusan Kak Iyas biar aku aja lah yang urus." kata Nunu.
"Ya lagian kasihan Raina, udah lama gak keluar rumah" kata Arika membelaku.
Setelah bersiap, kamipun berangkat ke mall biasa tempat kami selalu hangout bersama.
"Rain, kamu kurus banget loh! Kayanya harus makan banyak deh" kata Arika.
"Ya bener, ajak makan yang enak-enak deh" jawab Nunu.
Aku pasrah saja, kemanapun mereka membawaku. Terpenting adalah aku bisa merasakan suasana mall lagi setelah hampir 3 minggu hanya dirumah dan sekitaran komplek saja.
Terakhir, aku keluar rumah hanya untuk membeli sandal kesehatan. Maka dari itu, hari ini aku harus benar-benar merefresh otakku dengan hangout bersama mereka bertiga.
Di perjalanan, Kak Iyas menelponku dan aku berkata dengan jujur bahwa aku sedang dalam perjalanan ke mall bersama ketiga sahabatku.
"Yaudah hati-hati, nanti kalau mau pulang kabarin biar aku jemput" katanya.
Aku heran, saat itu dia tidak marah. Padahal aku pergi tanpa memberitahunya terlebih dahulu. Sepertinya, dia mengerti kalau kebutuhan seorang perempuan untuk keluar dengan sahabat-sahabatnya adalah sesuatu yang wajib.
"Gak marah loh dia, malah dia bilang nanti dia mau jemput pas kita udah selesai" kataku.
"Baguslah, oya nanti malem ada acara syukuran dirumah si Rima dia ulang tahun ke 20. Kita mau dateng semua gak? Apa perwakilan?" tanya Hanifa.
"Dateng aja yu, Rima deket tahu sama aku dan kita suka sekelompok terus. Gak enak kalau gak dateng" jawabku.
"Yah sorry, tapi gue ada acara lain. Gue titip kado aja ya ke kalian nanti kita beli bareng kan didalem?" kata Arika.
"Lu gak ikut karena ada acara, apa karena masalah lu sama Nirwan?" sahut Nunu.
Aku tidak tahu dan baru mendengar kabar sekarang, kalau Arika dan Nirwan ada masalah. Sepertinya masalahnya serius, hingga Arika memutuskan untuk berdiam diri dan tidak menjelaskan apapun.
"Masalah apa ka?" tanyaku.
"Nih ya gue cerita, pas kemarin didesa itu gue maenin hapenya terus ada chat masuk dari cewek namanya Bella. Bella ini ternyata anak bem jurusan Sastra Jepang. Gue gak kenal, gue liat chatnya ya ternyata mereka cukup deket. Eh pas gue tau kemarin si Bella itu pernah ngirimin Nirwan bekal makanan" jelas Arika.
"Lu tau dari siapa?" tanya Nunu.
"Si Gian bilang ke gue nu, tanyain deh pacar lu. Terus ya gue gak sukanya, dia bilang Bella itu temen kampus barunya. Padahal ternyata mereka temen SMA. Bohong dong pacar gue? Gasuka gue" jawab Arika.
"Ya dia takut kali ka kalau cerita ke kamu, takutnya kamu salah paham dan makin rumit masalahnya. Jadi jalan tengahnya ya dia bohong" kataku.
"Tapi kebohongan untuk alasan apapun tetap aja salah Rain, dan si Arika maunya ya udah jujur aja dari awal. Kalau udah tahu mereka temen SMA kan si Arika jadi gak curiga kaya sekarang" sahut Hanifa.
"Iya juga sih ya, tapi yaudahlah mendinh nanti kamu tanyain aja dia langsung. Jangan perang dingin kaya gini" kataku.
"Males ah rain, dia harusnya jelasin duluan ke aku. Jadi aku mau tunggu aja sampe dia dateng ke aku duluan" kata Arika.
"Aku kayanya harus bantu Nirwan deh. Kebetulan Bella kan finalis duta kampus juga" gumamku.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sesampainya di mall....
Kami makan, foto bersama dan juga membeli kado untuk Rima. Sembari berkeliling untuk mencari outfit yang lucu-lucu untuk kuliah nanti.
Setelah puas dan cukup lelah, aku menelpon Kak Iyas dan memintanya menjemputku. Hanifa akan mengantarkan Nunu pulang ke rumah orang tuanya di Padalarang sambil ada keperluan membeli sesuatu katanya, sementara Arika ada acara keluarga.
__ADS_1
Sebenarnya, aku ingin ikut kerumah Nunu tapi pasti Kak Iyas tidak akan mengizinkan.
"Aku udah beres, kakak bisa jemput?" tanyaku.
"Aku udah dijalan ko, kamu depan kopi kan?" katanya.
"Iya bener, aku tunggu ya" jawabku.
Hanifa dan Nunu sepertinya tidak bisa datang ke acara Rima, begitu juga Arika yang sudah punya acara sendiri. Mereka bertiga menitipkan kado untuk Rima kepadaku. Paling nanti, aku akan mengajak Kak Iyas untuk mengantarku sebentar.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Setelah masuk ke mobil Kak Iyas....
"Bawa apa itu banyak banget?" tanyanya.
"Kado buat Rima, oya kakak temenin aku bisa gak? Aku dititipin kado sama mereka bertiga soalnya mereka udah ada acara sendiri" bujukku.
"Jam berapa? Ayo" jawabnya.
"Jam 8, sebentar ko aku janji" kataku.
"Iya gak boleh lama, kamu kan udah jalan-jalan tiga jam masa nanti malem mau lama lagi diluar rumah" jawabnya ketus.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Malam harinya ...............
Dirumah Rima, cukup banyak teman-teman dari kampus yang datang. Kebanyakan sih orang Bandung, karena teman-teman luar kota masih ada di kampung halaman masing-masing untuk liburan panjang semester ini.
Rima terlihat sangat cantik dan berterimakasih karena aku sudah menyempatkan diri untuk datang.
"Kamu udah baikan?" tanya Rima setelah memelukku.
"Udah baikan ko. Nirwan dateng gak?" kataku.
"Syukurlah take a rest ya, aku baru tahu beberapa hari ini dari Roby itu juga dia bilang jangan cerita sama yang lain. Hmm udah dateng sih tadi, coba ke teras belakang" jelas Rima.
"Iya hahaha, habis taulah kak Iyas gimana. Maaf ya bukannya gak bolehin pada ngejenguk" kataku.
Akupun memberikan kado titipan dari sahabat-sahabatku dan menceritakan pada Rima bahwa mereka bertiga sudah punya acara masing-masing dan menitipkan ucapan selamatnya.
Setelah itu kami makan sebentar. Saat sedang asyik mengobrol dengan teman-teman yang hadir, Kak Iyas sudah mengkedip-kedipkan matanya tanda mengajakku pulang. Aku segera pamit dan mencari keberadaan Nirwan yang entah berada dimana itu.
"Aku cari Nirwan dulu ya sebentar aja, kakak tunggu di mobil aja" kataku.
Setelah melihat Nirwan sedang asyik duduk di dekat balkon, aku memanggilnya dan dia terlihat kaget.
Aku menanyakan tentang masalah yang sedang terjadi antara dia dan Arika, dia menjawab bahwa semuanya hanyalah kesalahpahaman. Bella memang teman SMAnya, tapi mereka dulu tidak saling mengenal satu sama lain.
Nirwan sendiri baru mengenal Bella ketika dia ikut karantina duta kampus dan sering melihat posternya dipajang di area lobby fakultas sastra.
Masalahnya, kata Nirwan dia merasa Bella menyimpan ketertarikan padanya. Hampir setiap hari, ada saja alasan Bella mengirimkan chat padanya. Padahal Nirwan hanya membalas seperlunya.
"Aku bingung Rain, udah pasang foto berdua sama Arika. Masih aja Bella begitu, ya wajarsih Arika cemburu karena emang chatnya begitu. Cuma ya aku blok pas ketahuan dia, karena gak mau memperpanjang masalah" jelas Nirwan.
Nirwan juga bilang padaku, bahwa Arika belum tahu soal dia memblokir Bella dan menghapus semua sosial medianya. Arika terlanjur marah, mungkin karena posisinya Bella adalah finalis duta kampus dan Arika mungkin takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
"Yaudah, nanti aku coba deh bilang ke Arika. Tapi ya kamu sama Arika juga jangan lost dong. Dia nunggu kamu jelasin duluan loh, mending kamu ngalah terus minta maaf" kataku.
"Iya, malem nanti aku mau samperin dia kerumahnya. Dia bohong kan bilang kalau dia ada acara keluarga, dia paling ngehindarin aku" kata Nirwan.
Setelah selesai mengobrol, aku kembali ke mobil Kak Iyas.
Dia sepertinya kurang nyaman, melihat kehidupan normalku sudah kembali. Tatapannya agak sinis dan seperti mengarah padaku dengan tajam.
"Belum kuliah loh ini, tapi kamu udah sibuk banget seharian. Banyak banget ya urusannya?" gerutunya.
"Uhh sayang aku, hari ini aku gak merhatiin kakak ya? Sini-sini aku peluk dulu" kataku mencoba merayunya.
Dia tetap membalas pelukanku dan memintaku untuk jangan terlalu merasa sudah sehat, dia memintaku untuk tetap beristirahat saat lelah.
"Jangan kecapean ya? Hari ini aku izinin, besok gak boleh" katanya.
__ADS_1
"Oke deh janji, eh ka emang kalau orang lagi cemburu bawaannya gak mau ya dengerin penjelasan orang?" tanyaku.
"Hahaha kenapa tiba-tiba nanya begituan, kamu lagi cemburu sama siapa? Perasaan aku gak deket sama siapa-siapa" jawabnya.
"Bukan ke kakak, itu si Arika sama Nirwan. Lagi ada konflik tapi perang dingin gitu bukannya diselesain" kataku.
Akupun menceritakannya pada Kak Iyas, tujuannya sih aku mau meminta saran darinya. Tentang bolehkah aku ikut membantu mereka, atau hanya diam saja.
"Wajarlah ada masalah begitu, lagian si Arika juga ngerasa gak aman karena saingannya duta kampus kali hahaha. Dulu pas kamu sama Gian juga aku selalu gak nyaman, secara Gian ganteng menurut aku. Ya kasusnya begitulah sama" jelasnya.
Aku tertawa mendengar jawabannya, bukannya memberikanku saran atau masukkan tentang hubungan mereka berdua. Tapi malah curhat colongan tentang ceritanya dulu cemburu pada Gian.
"Kalau sama Fasya, emang kakak gak cemburu?" tanyaku.
"Gak, bukan karena Fasya gak ganteng sih, cuma ya karena aku tahu kamu gak tertarik sama sekali ke Fasya. Makanya aku santai-santai aja, dan kalau masalah Gian dulu beda karena aku ada feeling kamu bisa aja suka sama dia" jelasnya.
Aku melihat ekspresi wajahnya yang serius, memang sepertinya dia dulu sangat khawatir soal kedekatanku dengan Gian.
"Yaudah mending kamu cerita aja sama Arika soal yang diceritain Nirwan tadi, abis ini kamu sama aku sampe tengah malem" katanya.
"Hah? Mau apa emang sampe tengah malem?" tanyaku.
"Bantu buat rekap laporan hasil sawit" jawabnya.
.......................
Sesampainya dirumahku, dia memintaku menunggunya mengambil berkas di kosannya.
"Beli cemilan ya? Nanti ke kamar aja langsung soalnya aku mau ganti baju sama bersih-bersih dulu" kataku.
"Iya, jangan dikamar ngerjainnya di teras belakang aja. Aku sebentar ko cuma parkir sama ambil berkasnya doang" katanya.
Tak lama, Kak Iyaspun kembali setelah mengganti bajunya dengan setelan tidur. Kaos polos dan celana trainingnya yang berwarna senada.
Dia mengajarkanku cara membaca data lewat grafik dan diagram, ternyata rumit meskipun aku sudah pernah mempelajari itu sebelumnya.
Dia bilang, ini hasil kebunnya selama 6 bulan kebelakang. Jumlah penerimaan dan pengeluaran yang harus segera dihitung untuk mengetahui apa hasil produksi dari kebunnya surplus atau malah mengalami defisit.
"Makin meluasnya lahan penanaman kelapa sawit di Indonesia sekarang, tidak diiringi dengan pendirian pabrik pengolah produk kelapa sawit yang cukup, membuat usaha mendirikan dan menjalankan pabrik kelapa sawit mini seperti aku jadi tantangan dan keuntungan tersendiri. Saat ini, banyak petani dan bahkan perusahaan perkebunan kelapa sawit yang mengalami kesulitan mengolah tandan buah segar (selanjutnya disebut TBS) kelapa sawitnya pada musim panen raya dan saat musim penghujan. Sarana transportasi yang kurang baik dan jauhnya jarak antara perkebunan dengan Pabrik Kelapa Sawit PKS membuat banyak TBS yang tidak dapat diolah tepat waktu. TBS sendiri hanya punya waktu lima hari harus dipanen bila sudah gugur 6 buah berondolannya, dan setelah dipanen, hanya punya waktu tunggu 24 jam untuk diolah di PKS. Bila jadwal ini dilewati, maka mutu dan rendemen CPO dalam TBS akan mengalami penurunan yang signifikan" jelasnya panjang lebar.
"Jadi hasil kebun kakak itu dijual lagi ke perusahaan tanpa pengolahan terlebih dahulu atau gimana?" tanyaku.
"Aku jual TBSnya aja, wilayah kebun aku juga udah dibawahi sama satu perusahaan sendiri. Jadi pasti perusahaan itu yang beli. Cuma ya gitu aku tetep harus menggaji karyawan yang kerja dan dilihat juga produksinya semakin bagus atau gimana" katanya.
Aku mencoba mendengarkan dan memahami penjelasannya, bagaimanapun kalau nanti kami memang berjodoh. Rutinitas menghitung hasil kebun ini akan menjadi tugasku sebagai asisten pribadinya.
"Aku ngerti kenapa sawit jadi komoditas utama perkebunan di Palembang, karena semua bagian dari sawit bisa kepakai dan berguna ya?" tanyaku.
"Iya, gak da limbahnya sebenarnya. Ya kalau sebatas produksi sederhana, tapi kalau udah diolah di pabrik ya pasti ada limbah" jawabnya.
"Kenapa dulu gak ngambil jurusan yang relate perkebunan?" tanyaku.
"Gak tau, dulu kan gak tertarik sama kebun. Tapi kayanya sekarang aku tahu deh kenapa aku malah masuk geografi" katanya.
"Hmmm apa?" tanyaku.
"Kayanya ini jalan dari Tuhan, buat nemuin aku sama kamu" jawabnya.
Dia menjawab hal seserius itu dengan wajah datar dan tanpa melihatku. Padahal, itu ungkapan termanis yang pernah keluar dari mulutnya. Harusnya dia menambah sedikit saja ekspresi di wajahnya, supaya aku bisa mengabadikan momen itu di ingatanku.
Bukannya malah berekspresi seperti biasa. Padahal, aku sudah mati-matian meliriknya. Dia masih saja tidak sadar.
"Ih mana bisa ngegombalin tapi ekspresinya datar begitu?" gerutuku.
"Gombal? Siapa yang gombal?" katanya.
"Kamu" jawabku.
"Aku serius tahu, siapa yang gombal? Aku beneran berpikiran kalau jalan hidup aku setelah SMA itu dirancang dengan kamu sebagai poros utamanya" jelasnya.
Aku memeluknya saat dia berkata demikian, menyadari betapa berharganya perkataan seperti itu buatku.
"Udah ah meluknya nanti Ibu sama Ayah kamu liat lagi" gerutunya.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=