
Setibanya kami di resort...
------------------------------------------------------------
"Rain, aku mau langsung ke pantai ah. Cahaya nya lagi bagus banget" kata Hanifa.
"Tungguin sih fa, aku ganti celana dulu" kata Nunu.
"Iya fa, aku mau touch up dulu bentar" kata Arika.
"Aku disini dulu deh rapihin barang sama mau ganti perban kak Andreas" jawabku.
"Oh, kamar mereka disebrang tuh" tunjuk Hanifa.
Aku sempat heran, kenapa Andreas dan kak Dhika bisa-bisanya menyewakan kami sebuah kamar di resort ini. Belum lagi, mereka juga menyewanya untuk diri mereka sendiri.
Setelah merapikan barang, mencuci muka dan istirahat sebentar, aku langsung ke kamar Andreas dan kak Dhika.
Tanpa disengaja karena aku jalan sambil menunduk, aku menabrak seseorang yang berlawanan arah denganku.
"Maaf pak saya gak sengaja" kataku pada seorang lelaki paruh baya yang berbadan tambun itu.
Kutebak, sepertinya beliau seusia dengan Ayahku.
"Pak? kamu manggil saya pak? emang saya setua itu?" tanyanya.
"Maaf hmmm om" jawabku.
"Nah gitu dong om, lebih pantas kedengarannya" katanya sambil tersenyum.
Akupun berjalan melewati orang tersebut, tapi dia menahan tanganku dan kemudian menatapku dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Kamu nginep di kamar berapa?" tanyanya pelan.
Belum sempat aku menjawab, Andreas keluar dari ruangannya dan menarik lenganku hingga sekarang aku berada di belakangnya.
Andreas memegang pundakku dan melihat kearah dahiku.
"Sayang, kamu darimana sih? aku udah nungguin kamu dari tadi di kamar" katanya.
Dia mengedipkan matanya dan seolah memintaku memainkan peran.
"Oh, sudah bersuami ternyata" kata orang asing itu sambil pergi.
Aku mencerna kejadian barusan, dan masih tidak mengerti kenapa Andreas tiba-tiba ada disana dan seolah melindungiku. Selama beberapa detik aku berpikir, aku masih saja tidak menemukan jawabannya.
"Orang itu siapa? kakak kenal?" tanyaku.
"Gak, tapi pasti dia bukan orang baik. Aku liatin dari depan kamar, dia terus liatin kamu dari atas sampe bawah. Lagian ngapain sih pake celana pendek begini?" tanyanya.
Aku melihat celana yang kupakai saat itu juga.
"Apa sih kak? ini gak pendek ko selutut wajar kali lagian aku kepaksa pake celana pendek karena luka di kaki aku basah lagi tuh liat sakit" jelasku sambil menunjuk luka bekas terserempet.
"Yaudah, yu ke kamar" ajaknya.
----------------------------------------------------------
Ternyata, kak Dhika sedang tidur didalam sepertinya dia curi-curi waktu untuk istirahat.
"Kasian, pasti kak dhika cape deh" kataku.
"Iya, semalem katanya dia begadang soalnya dirumah Neneknya Hanifa si tetangganya melihara anjing dan semaleman dia denger suara anjing lagi kawin" jelas Andreas.
"Hah? kasian" jawabku.
Aku mencari tas Andreas dan segera membuka kotak p3k dadakan yang kusiapkan semalam.
"Perasaan aku gak punya kotak p3k deh" katanya heran.
"Iya, aku bikin dari kotak makan kakak yang bening di dapur. Isinya alkohol, betadine, plester dan kassa yang aku dapet dari rumah sakit" jelasku.
"Oya, kakak harus ganti perbannya ya kalau aku udah pulang nanti aku bakalan pasang alarm di hape kakak. Biar kakak gak lupa, soalnya luka di jidat kakak itu kalau gak ditutup pasti kegores-gores rambut nanti sakit" tambahku.
"Baik bu" jawabnya dengan wajah meledek.
-------------------------------------------------------------------
Setelah selesai mengganti perbannya, aku pamit untuk segera menyusul Hanuka ke pantai.
"Kamu mau kemana? tega ninggalin aku?" tanyanya dengan wajah memelas.
"Aku mau nyusul mereka, kan kita mau foto-foto" jawabku.
"Tapi aku masih mau sama kamu, sini temenin aku aja. Biarin mereka main bertiga" katanya.
Melihat wajahnya yang memelas seolah memohon itu, aku luluh dan akhirnya memilih untuk menemaninya duduk di teras belakang yang menghadap langsung ke laut.
"Hmmm sewa resort ini pasti mahal kan?" tanyaku.
"Ini hadiah dari perusahaannya dhika ko" jawabnya.
"Dua-duanya?" tanyaku heran.
"Satu sih, yang satunya aku yang bayar" jawabnya.
__ADS_1
------------------------------------------------------------------------
Tiba-tiba saja ponselku berbunyi.
"FASYA!!!"
Aku memperlihatkan ponselku saat itu juga, berniat memberi tahunya bahwa ada panggilan yang masuk ke ponselku. Andreas mengambilnya dan menyentuh tombol terima lalu pengeras suara.
"Ngomong" bisiknya.
"Raina, maaf kemarin hape aku lowbat jadi pas nelpon kamu langsung mati gitu aja" kata Fasya.
"Oiya sya gapapa" jawabku.
"Kamu kapan pulang dari tangerang?" tanya Fasya.
"Gak tau malem ini atau besok pagi hehe.. Kenapa emang?" tanyaku.
"Gak apa-apa sih, cuman kalau ada apa-apa terus perlu jemputan dan pas kebetulan aku bisa. Kabarin aku aja!" jelas Fasya.
Aku melirik Andreas, meminta sarannya untuk bagaimana seharusnya menjawab perkataan Fasya yang terakhir itu.
"Iya aja jawab" bisik Andreas.
"Iya sya" jawabku.
"Yaudah, take care ya!" pungkas Fasya.
---------------------------------------------------------------------
Setelah menerima telpon dari Fasya, Andreas sepertinya langsung memikirkan sesuatu.
Dahinya berkerut dan tangannya menopang dagunya.
"Kak, lagi mikirin apa?" tanyaku.
Dia melihatku dan menatap mataku dengan kedua matanya yang tiba-tiba terlihat sangat tajam.
"Baru kali ini loh, rasanya aneh banget" jawabnya.
"Maksudnya? aneh apa?" tanyaku keheranan.
"Ya baru kali ini, aku denger secara langsung ada cowok yang terang-terangan perhatian banget sama kamu" jelasnya.
Aku menarik nafasku dalam-dalam, sekarang perasaanku jadi tidak enak. Takutnya, pola pikir Andreas akan sama dengan yang dipikirkan oleh ketiga sahabatku.
"Udah gini aja, daripada aku gak tenang dan daripada terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan. Gimana kalau kamu janji sama aku, jangan pergi nebeng atau apapun lah sama cowok yang namanya Fasya itu" jelasnya.
Aku tertawa, ekspresi Andreas sangat lucu sekarang. Dia seperti seorang pemelihara kucing, yang ketakutan saat kucingnya belum juga pulang kerumah. Raut wajahnya seperti gelisah dan terbebani.
Setelah aku berkata demikian, kulihat Andreas sepertinya masih saja belum tenang.
"Udah dong, jangan mikirin itu terus. Lagian mana bisa sih aku selingkuh? aku udah punya pacar seganteng dan sesempurna ini" ledekku.
Andreaspun tertawa dan mencubit pipiku.
"Udah gih, kamu samperin temen-temen kamu. Inget jangan lari-larian! Dua jam lagi, kita makan malem di resto resort ini" jelasnya.
"Iya, aku main dulu ya. Bye" kataku sambil bergegas keluar dari kamarnya.
----------------------------------------------------------------------
Sesampainya di Pantai.....
Kulihat Hanifa, Arika dan Nunu sedang asyik masing-masing. Mereka ada yang berfoto, minum air kelapa hingga hanya duduk-duduk saja di atas pasir.
"Ayo foto bareng berempat!" teriakku.
"Ayooo" jawab mereka kompak.
"Nanti abis ini banana boat yu ah?" ajak Nunu.
"Siap nu!" jawabku.
Setelah hampir satu jam menghabiskan waktu di pantai dan bermain wahana air, kami kelelahan dan merasa lapar.
"Jangan dulu makan berat, kan nanti malem mau ditraktir. Mending kita makan ringan aja dulu" ajakku.
"Kak Dhika kemana sih Rain" tanya Hanifa.
"Tadi sih kayanya tidur, gak tau kalau sekarang udah bangun atau belumnya" jawabku.
"Cape kali ya dia semalem denger anjing tetangga kawin berisik" jawabnya.
"Hah? hahahaha jadi lu berdua gak tidur semaleman karena suara itu?" tanya Nunu.
"Lu pikir apa emang yang bikin gue sama kak Dhika akhirnya nongkrong sambil minum kopi" jawab Hanifa.
Kamipun tertawa saat Hanifa menceritakan kejadian semalam secara detail.
------------------------------------------------------------------------
Setelah selesai bermain, kami kembali ke kamar untuk mandi secara bergantian.
"Fa, kita pulangnya kapan jadinya?" tanyaku.
__ADS_1
"Besok pagi aja ya, soalnya aku gak kuat nyetir kalau belum tidur haha tau sendiri kemarin aku begadang" jawabku.
"Lah terus ka Dhika bukannya mau pergi malem ini?" tanya Nunu.
"Gak jadi, udah gue marahin. Lagian kerja di hari libur totalitas banget ngapain, gue heran aja ya cowok macem Dhika sama kak Andreas gila banget sama yang namanya kerja. Hari apa aja dikejar diladenin, kalau gue sih agak tegas ya. Habis ini kan dia mau ke Sulawesi tuh hampir sebulan penuh dia disana kerjanya. Gue izinin dengan syarat hari ini dia harus sama gue dulu" jelas Hanifa.
"Lah kan dia kerja keras begitu, buat lu juga kedepannya" kata Nunu.
"Bukan masalah buat gue atau buat kita berdua kedepannya, cuma gue mau dia tuh jalan step by step aja. Nikmatin aja dulu yang ada didepan dia dan jangan terlalu ambisius buat gila kerja. Lagian nih yah, kalau kita kerja terus gak ada berhentinya terus kita kenapa-napa amit-amit sih yah misal kak Dhika sakit atau apa kan perusahaan gak akan tanggung jawab secara mental paling mereka bayarin biaya pengobatan itu juga berikut gaji dipotong. Tapi perusahaan jalan singkatnya tinggal cari karyawan lagi kan?" jelas Hanifa.
Mendengar penjelasan Hanifa, aku jadi terpikirkan sesuatu. Andreas juga sama dengan Kak Dhika, dia ambisius dan gila kerja. Malah mungkin Andreas lebih parah. Sebenarnya bukan masalah yang harus dibesar-besarkan sih, tapi setidaknya aku harus tone down dia untuk lebih peduli sama kesehatan dia sendiri mulai dari sekarang.
"Kamu bener sih fa, aku juga ada di pemikiran yang sama kaya kamu. Thanks ya karena kamu jelasin, aku jadi kepikiran cara gimana untuk buat Andreas lebih aware sama dirinya sendiri" kataku.
"Nah itu na, because time is time not money. Waktu itu terus menerus berjalan, gak bisa diputar lagi ataupun diminta berhenti. Makanya aku sih minta kak Dhika lebih hargain waktu yang dia punya, kalau libur ya libur lah biarin diri dia istirahat terus bikin hati dia bahagia dulu. Hahaha bener gak sih apa yang aku bilang?" tanya Hanifa.
"Bener sih fa, bener banget" jawabku.
-----------------------------------------------------------------------
Sesaat sebelum menuju restaurant, Andreas menelponku "Kalian udah siap? aku sama Dhika nunggu dibawah ya".
"Iya, kita mau jalan ko kesitu" jawabku.
Sesampainya disana, kami dimanjakan dengan pemandangan langit dan laut yang menyatu sejauh mata memandang.
Warna air laut yang biru samar tertutupi oleh semburat jingga dari matahari yang hendak kembali ke peraduannya.
Angin laut menerbangkan helai-helai rambutku dan membuatnya berantakan. Betapa sensasi ini rasanya menenangkanku.
"Bentar ah foto dulu yuk, bagus banget buat backlight selfie" kataku.
"Ayooo barengan" sahut yang lain.
Setelah puas berfoto, kamipun mendatangi Andreas dan kak Dhika yang ternyata sudah memesankan menu.
"Rain, mau nambah apa?" tanya Andreas.
Melihat begitu banyaknya sajian di meja, aku tidak terpikirkan untuk memesan menu tambahan.
"Gak usah ah udah banyak gini" jawabku.
"Liat dulu menunya, siapa tau kamu mau nambah ada banyak desert loh" katanya.
Akupun melihat-lihat buku menu dan benar saja banyak sekali pilihan desert yang menggiurkan.
"tropical fruit salad and spons cake, boleh kan?" tanyaku.
"Boleh, tuh temen-temen kamu suruh pilih juga" katanya.
"Nih siapa tau ada yang mau nambah" kataku pada ketiganya yang ternyata sudah mulai makan.
"Gak usah rain, ini juga udah lebih dari cukup" jawab Arika.
"Kak, thankyou yaaa" teriak Nunu bersemangat.
"Sama-sama nu, makan yang banyak ya habis ini kalian kan mau disiksa sama jadwal padet semester 5 hahahaha" ledek Andreas.
"Ya nu, puas-puasin lah makan dan liburan sedetik disini" tambah Kak Dhika meledek.
---------------------------------------------------------------------
Setelah selesai makan, Nunu dan Arika pamit untuk pergi ke toko oleh-oleh di sebrang resort kami. Sementara kak Dhika dan Hanifa memilih untuk berjalan-jalan berdua di Pantai.
Aku dan Andreas malah hanya duduk-duduk saja sambil menikmati sunset.
"Bagus banget ya?" kataku.
"Apanya yang bagus?" tanyanya.
"Sunsetnyalah, aku gak pernah ngebayangin loh kalau di umur aku yang segini hmmm aku bisa punya pacar kaya kakak dan bisa liburan sama sahabat-sahabat aku terus liat sunset kaya gini" kataku.
"Like a dream come true?" tanyanya.
"Bukan cuma sekedar mimpi yang jadi kenyataan sih, malah lebih dari itu. Seperti semua yang membuat aku bahagia dikumpulkan dalam satu tempat dan waktu yang sama sekarang" jawabku.
Dia hanya tertawa dan seolah tersentuh dengan yang aku katakan.
"For the first time when i see you, aku juga mau jujur kalau dulu ya... Aku sama sekali gak kepikiran untuk jadiin kamu pacar, meskipun aku emang udah tertarik sama kamu. Aku sempet mikir, kamu cewek yang ribet gak pengertian dan egois hahaha ya karena kebanyakan cewek cantik begitu. Aku liatin kamu, aku pantau terus selama sebulan bahkan saat aku minta kamu tungguin aku sebentar sampe aku beres jadi komdis aja disitu sebenernya aku masih gak yakin" jelasnya.
Entah menghindari tatapanku atau bagaimana, saat dia bercerita seperti itu rasanya dia sama sekali tidak mau menatapku.
Matanya lurus melihat kedepan....
"Terus, apa yang buat kakak sampe akhirnya yakin buat nembak aku?" tanyaku.
"Feeling, karena aku gak pernah nemu jawaban dari pertanyaan "kenapa aku bisa suka sama kamu". Hahaha something cheesy kedengarannya, tapi justru saat aku gak nemu alasan untuk pertanyaan itu lalu aku sadar kalau aku udah bener-bener terlanjur merjuangin kamu" katanya.
"Terlanjur? kesannya kaya kepaksa" ledekku.
Dia melirik ke wajahku, lalu tersenyum dan melihat wajahnya yang begitu tenang rasanya aku ingin waktu menungguku lebih lama lagi.
"Kamu tunggulah sebentar lagi" katanya.
"Hoh? tunggu? emang kakak mau kemana?" tanyaku.
__ADS_1
"Sama halnya dulu, saat aku minta kamu nunggu aku sampe aku beres di BEM. Sekarangpun, aku akan minta hal yang sama. Tunggu aku sebentar lagi aja" katanya.