
Malam hari sebelum Andreas dan yang lain berangkat ke desa untuk penelitian....
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Aku dan Randy sedang asyik memainkan gitar dan bernyanyi bersama di kamarku. Sesekali Recca akan ikut nimbrung naik turun ke atas untuk mengganggu kami.
Randy terlihat semakin dewasa sekarang, dia semakin mahir memetik gitar.
"Teh, kalau aku share video cover kita di story pasti temen-temen aku pada heboh" kata Randy.
"Heboh gimana?" tanyaku.
"Pada muji-muji teteh" jawabnya.
"Baguslah, itu kan bisa nambah popularitas kamu hahaha" jawabku.
"Tapi aku gak mau narik perhatian biar populer, aku cuma mau narik perhatian satu orang aja" katanya.
"Weeee belajar pacaran ya kamu?" teriakku.
"Ih berisik tau, diem-diem dulu sih. Aku baru tertarik aja sama cewek itu" katanya.
Randypun menceritakan alasannya menyukai wanita itu. Dia teman sekelas Randy bernama Gania. Kulihat dari fotonya, dia manis dan lucu. Memang Randy seleranya yang imut seperti itu.
"Dia baik tau gak teh, suka bantuin aku kalau ada tugas. Simpel anaknya tuh gak neko-neko" kata Randy.
Setelah asyik bersama Randy, kepalaku sakit.
Aku jadi tidak bisa tidur lebih awal, Andreas yang mendengar ceritaku dari Randy langsung datang kerumah.
Padahal, aku tahu dia sedang sibuk packing.
Dia masuk ke kamarku dengan Randy dan aku sedang tidak enak tidur karena kepalaku terasa sakit.
"Kakak, ko kesini? Bukannya mau beres-beres?" tanyaku.
"Kita jalan yu keluar mumpung baru jam 7" jawabnya.
Aku mengangguk saja, karena aku tahu tiga hari kedepan dia akan pergi.
Dia memapahku turun dan mengajakku pergi memakai mobilnya.
Didalam mobil, tangannya terus memegang tanganku.
"Kakak...... ada apa sih?" tanyaku.
"Kamu marah ya sama aku? gara-gara aku gak ngizinin kamu ikut besok?" tanyanya.
"Apasih haha, gak marah ko. Aku tahu kakak gak ngizinin karena kakak khawatir kan sama kaki aku?" jawabku.
Dia tersenyum dan mengelus rambutku. Mungkin dia takut aku akan merasa bahwa dia terlalu overprotektif padaku.
Sebenarnya, dia mengerti karena sikapku yang kurang suka diatur dan tidak suka kegiatanku dibatasi.
Padahal dalam kasus ini, aku mengerti sekali posisiku sebagai pasien. Lagipula kalau aku terus memaksakan diri, liburan semester ini sepertinya aku tidak akan sembuh total. Aku takut semester depan aku keteteran.
Jadi, aku mau memulihkan diriku sebaik mungkin. Agar semester depan aku bisa sehat dan beraktivitas seperti biasanya.
"Aku gak marah ko, aku ngerti sama kekhawatiran kakak. Aku juga gak mau punya masalah sama kakak, setelah kemarin aku hampir lewat itu ... kayanya aku bakalan lebih menghargai waktu sekarang" jelasku.
"Baguslah, jangan telat sadar kaya aku. Sampe lupa gak bisa ngabisin waktu sama orang tua dulu" katanya.
Dia terlihat membuang mukanya ke arah berlawanan, entah dia merasakan apa yang aku rasakan saat itu. Atau mungkin dia merindukan waktu yang sudah lewat dimasa lalu. Waktu dimana masih ada Bapak dan Ibu disisinya.
Aku jadi merasa bersalah...
"Sayang, jangan sedih dong" bujukku.
Matanya terlihat memerah dan dia mencoba mengalihkan fokusnya.
"Kita makan ya? Kamu mau makan apa?" tanyanya.
"Mau makan sushi boleh?" kataku.
"Boleh, oke kita cari sushi ya?" katanya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Katanya waktu itu adalah uang....
Tapi bagiku lebih berarti dari uang...
Waktu lebih mahal dari besaran pecahan uang...
Waktu tidak dapat diulang... Berputar terus menerus..
Selama ini, banyak sekali waktu yang terbuang...
Entah untuk memikirkan apa atau melakukan apa...
Rasanya tidak ada saja yang berharga...
Hingga Tuhan menegurku lewat waktu yang hampir terhenti kemarin itu..
Aku nyaris kehabisan waktu untuk bersama keluargaku..
dan juga untuk mengasihi orang-orang terdekatku dan merawat mereka....
Aku sibuk dengan duniaku sendiri...
Sekarang, rasanya aku harus menjadi lebih bijaksana...
Membuat waktuku lebih berharga dari yang sudah-sudah....
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Setelah makan, aku memintanya menemaniku membeli sandal rumah. Maklumlah semenjak sakit, kakiku masih kurang begitu nyaman digerakan sehingga aku butuh sendal rumahan yang ringan.
"Temenin aku beli sandal yu?" ajakku.
"Kenapa emangnya? Kaki kamu kerasa sakit lagi?" tanyanya.
"Gak sih, cuma kalau pake sandal yang ini masih berat aja jalannya" jawabku.
"Berarti harus beli sandal kesehatan kali, ke toko alat kesehatan aja ya?" ajaknya.
"Ya boleh deh" jawabku.
Sesampainya di toko alat kesehatan itu, dia tidak mengizinkanku turun.
"Aku aja yang beli, kamu tunggu disini ya?" katanya.
__ADS_1
"Ah aku ikut" kataku.
Setelah masuk, aku malah salah fokus pada seorang kakek yang sedang membeli kursi roda.
Dia terlihat sedang menghitung banyak uang recehan dibantu oleh kasir.
"Maaf pak, tapi uang bapak masih kurang 300 ribu" kata si kasir.
"Bisa saya ambil dulu kursi rodanya? Biar nanti uangnya saya bayar setelah punya. Kasian istri saya, dia tidak bisa jalan" jelas si Kakek.
Aku memperhatikan dan mendengarkan mereka berdebat.
Andreas yang keheranan, melihatku dan menanyakan aku sedang mengamati apa.
"Kamu liatin apa sih?" tanyanya.
"Itu kakek itu kasian, uangnya kurang buat beli kursi roda. Kak, ambilin uang aku di atm ya tolong? 300ribu aja buat bantuin kakek itu" pintaku.
Dia malah tersenyum padaku dan berjalan ke arah kakek tersebut.
"Maaf mbak, kakeknya kurang berapa ya uangnya?" tanya Andreas.
"300 ribu mas" jawab si Kasir.
"Ini mbak gesek pake kartu saya aja" kata Andreas sambil memberikan kartu debitnya.
Setelah itu, kakek tersebut berterimakasih pada Andreas... tapi dia malah menunjuk ke arahku.
"Tuh kek, pacar saya yang bantuin kakek" katanya.
Kakek mendekat kearahku dan berterimakasih.
"Terimakasih ya neng cantik" katanya.
"Sama-sama kek, semoga nenek cepet sembuh yah" jawabku.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Dalam perjalanan pulang.....
"Kak ini aku ganti ah uangnya, jangan ditolak ya. Aku transfer sekarang" kataku.
Dia hanya tersenyum dan paham bahwa aku tidak akan bisa menerima penolakan.
"Uang semesteran kamu udah dibayar ya?" tanyanya.
"Udah sama Ayah" jawabku.
"Hahaha gak usah bohong deh, Ayah udah cerita ko ke aku katanya kamu bayar uang semesteran sendiri" katanya.
Aku malu karena ketahuan berbohong, padahal aku sengaja menyembunyikannya dari Andreas karena takut dia akan mengiraku berjualan dan mengikuti event kesana kemari untuk target pribadiku.
Aku benar-benar membayar uang semesteran karena uangku sudah cukup saja, bukan karena aku memaksakan untuk mencari uang.
"Iya aku bayar, karena uang aku cukup. Kalau enggak pasti aku minta ke Ayah" jawabku.
"Terus uangnya dari mana aja?" tanyanya.
"Ya dari jualan, dari hadiah duta kampus sama dari beasiswa jurusan" kataku.
Dia tertawa dan sepertinya tidak menyangka bahwa pendapatanku akan sebesar itu.
"Cukuplah buat bayar semesteran sekali lagi" jawabku.
"Yaudah itu gak usah dipake, mulai semester depan aku yang bayarin semesteran kamu" katanya.
"Ih jangan, aku kan masih sehat. Ayah juga kayanya masih sanggup bayarin uang kuliah aku. Kakak gak usah bayarin" jelasku.
"Randy kan setahun lagi mau kuliah, dia juga katanya mau daftar akmil. Kayanya mending Ayah nabung aja buat biaya Randy, kamu biar aku yang bayar" katanya.
Aku sebenarnya tersinggung mendengar perkataannya barusan, kesannya aku hanya meminta uang saja padanya. Padahal aku masih sanggup membayar uang kuliahku sendiri kalau aku sudah sehat nanti.
Aku akan kembali berjualan, mencari festival di kampus-kampus dan mengikuti lomba-lomba untuk mencari pendapatan.
"Tapi gak gratis ya, kamu harus ngurusin aku" katanya sambil meledek.
"Kamu jangan salah paham, aku bener-bener mau bayarin uang kuliah kamu ya biar kamu cepet lulus. Nanti aku bakalan langsung lamar kamu. Inget ya, langsung!" katanya.
Aku mengerti sekarang, kenapa dia bersikeras membiayai kuliahku. Dia memintaku segera menyelesaikan kuliah agar bisa dilamar olehnya.
"Apa-apaan? Ini sih pamrih" kataku.
"Eh tapi pamrihnya gampang kan? kamu tinggal bilang mau nikah sama aku hahaha" katanya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sesampainya dirumah.....
"Aku bisa jalan sendiri ko ke dalem, kakak langsung pulang aja gih. Makasih ya?" kataku.
"Besok kayanya aku gak bisa mampir dulu, mau langsung berangkat ke kampus soalnya kan harus siap-siap dulu sama Pak Yana" katanya.
"Gak mau tau ah, mampir dulu buat sarapan" kataku.
"Gampanglah tinggal beli aja, lagian si Gian sama Nirwan juga ngajakin sarapan bareng di kampus" jawabnya.
"Yaudah, hati-hati ya? Jagain Hanifa, Nunu sama Arika ya?" kataku.
"Iya sayang... Kalau ada apa-apa kabarin ya?" jawabnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Aku mulai merasa hariku kembali....
Tidak ada lagi kekhawatiran yang muncul di benakku...
Apalagi setelah jarak kami semakin dekat....
Frekuensi kami semakin sama dan beriringan....
Rasanya dunia begitu baik memperlakukanku....
Memberi kesempatan kedua untukku....
Mengirimkan Andreas dan membuatnya begitu menyayangiku....
Bermimpipun, aku tidak pernah seindah ini....
Rasanya aku ingin segera menjalani hari-hari biasaku di kampus....
Di persimpangan jalan menuju fakultas, menunggu Hanifa datang dan masuk ke kelas bersamaan....
__ADS_1
Mendengarkan dosen berbicara dan menjelaskan....
Mengisi otakku dengan banyak ilmu baru....
Serta pergi ke lapangan....
Rasanya tak sabar juga untuk segera melihat Andreas berkuliah lagi...
Di kampus yang sama denganku tentunya....
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Pagi hari sekali, aku sudah bangun dan membuatkan bekal roti untuk Andreas.
Aku meminta Randy mengantarkannya ke kosan, tapi ternyata Randy masih tidur.
Akhirnya, aku kabur sebentar dari rumah untuk mengantarkannya langsung.
Kulihat dari luar kosan ini lebih dari kosannya sebelumnya, lahan parkir yang luas dan juga lebih bersih.
Kosan Bu Mirna memang sudah terkenal, harganya bersahabat tapi kebersihan dan fasilitasnya lumayan.
Aku bertemu Bu Mirna diluar, beliau menanyakan keadaanku.
"Neng Raina, gimana kabarnya?" tanya Bu Mirna.
"Alhamdulillah baikan bu" jawabku.
"Mau ke Andreas ya? Kayanya tadi lagi siap-siap berangkat" kata Bu Mirna.
"Iya bu, kamarnya nomor berapa ya?" tanyaku.
"Nomor 7 neng, hati-hati naek tangganya ya" kata Bu Mirna.
Akupun menaikki tangga menuju area kos-kosan.
Ternyata, kamar nomor 7 milik Andreas terletak di pojokan. Dia sepertinya memilih unit yang terbesar.
"Kak, kak!" kataku sambil mengetuk pintu.
Dia membuka pintu dan sangat kaget melihatku ada didepan kamarnya.
"Kamu kesini, sama siapa? Ya ampun" katanya.
"Sendiri, jalan kaki. Aku tadi bikinin bekel buat kakak, mau minta Randy yang anter kesini tapi dia masih tidur kak" jelasku.
"Ya ampun dek, aku bisa beli sarapan mah. Repot segala nganterin, kaki kamu kan belum sembuh bener" katanya.
"Gapapa aku sekalian nyehatin badan" jawabku.
"Masuk dulu yu?" ajaknya sambil memegang tanganku.
"Hmmm enak juga ya lumayan luas, ini pasti kamar terluas ya? Oya, Kak dhika kamar nomor berapa?" tanyaku.
"Iya kayanya, kamar 4 tuh sebelah sana, kamarnya sama kan kaya yang kemarin? Cuma disini lebih adem dan banyak temen" katanya.
"Iya enak disini banyak temen" jawabku.
Dia membereskan tasnya dan terlihat sangat teliti. Kali ini kamarnya juga sangat rapi. Dia kembali seperti dirinya yang dulu saat masih kuliah.
Aku senang, pacarku masih memiliki spirit didalam hidupnya.
Aku senang, melihatnya kembali menjadi Andreas yang sebenarnya.
Beberapa detik, aku melihat sekeliling kamarnya. Menyadari bahwa ini bukan cat kesukaannya. Sepertinya, aku harus meminta izin Bu Mirna untuk mengganti cat dinding kamar ini.
Aku tahu betul, Andreas harus didukung dengan kondisi kamar yang nyaman dan cat dinding yang membuatnya bisa berfikir dan bekerja dengan tenang.
"Yaudah ah, aku pulang ya? Kakak jangan lupa makan yang bener disana. Nanti aku minta Nunu marahin kakak kalau kakak gak nurut" kataku.
"Ya nyonya bawel silahkan" katanya sambil menjulurkan lidah meledekku.
Aku berniat merubah suasana kamarnya setelah dia pergi nanti, mumpung Randy ada dirumah jadi dia bisa membantuku.
Sekarang, tinggal aku memikirkan cara untuk meminta kunci kamarnya.
Saat aku hendak keluar dari kamarnya, dia menahan tanganku.
"Tunggu dulu lah, aku mau meluk kamu dulu" katanya.
"Genit ih, masih pake kaos oblong udah mau meluk-meluk aja" gerutuku.
Tapi, seolah tidak bisa menolaknya aku menyambut pelukannya dengan sukarela. Melingkarkan tanganku di pinggangnya. Membuat tubuh kami terasa hangat satu sama lain.
Entah kenapa setiap berpelukan dengannya, perasaanku selalu tenang. Aku menyukai caranya memelukku. Seluruh beban di dadaku sepertinya hilang saat aku bisa mendengar detak jantungnya dari dekat.
Dia mengantarkan aku kerumah, dengan berjalan kaki. Padahal dia sedang buru-buru, tapi karena kak Dhika belum bangun dia jadi agak santai.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Setelah Andreas dan rombongan pergi, aku beristirahat dirumah, sambil menonton televisi dan mengecek penjualan online.
Sudah lama sekali rasanya, tidak membuka sosial media dan memposting sesuatu.
Akhirnya, aku memutuskan untuk memposting sebuah foto ke stagram.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Setelah beberapa lama, aku membaca banyak sekali komentar yang ditinggalkan pada postinganku.
"Rain, kangen!!! Pakabar?" tulis Irish.
"Rain udah baikan? Semangat ya!" tulis Roby.
Beberapa teman dekatku memang sudah tahu bahwa aku sempat mengalami kecelakaan kemarin, Hanifa mengabari mereka supaya mereka tidak khawatir.
Saat sedang membalas komentar dan merekap pesanan yang masuk, Ibu pamit untuk pergi ke pasar dengan Randy dan Recca.
Karena takut tidak ada yang menjaga, Ibu menutup rolling door warung kami.
"Gak usah ditutup warungnya bu, biar aku yang jagain" kataku.
"Jangan, kamu istirahat aja" sahut Ibu.
"Aku bisa ko, ketimbang ngeladenin pembeli doang mah" kataku.
"Yaudah, titip sebentar ya?" kata Ibu.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1