
UAS sudah berakhir dan kami sudah disuguhkan waktu libur yang panjang.
"Yey, sebulan libur haha kira-kira kita kemana ya?" tanya Nunu antusias.
"Kita ke pangalengan yu, sewa villa murah terus nginep sana" jawab Arika.
"Setuju, kita mendinginkan otak yang ngebul" kataku.
"Haha otak yang ngebul apa hati yang cemburu na?" ledek Nunu.
"Yaudah, nanti kita obrolin yang penting sekarang kita ke pabrik yu ambil bahan sekalipun libur kita harus tetep jualan dong lagian kita nanti punya adik tingkat juga loh hahaha" ajak Hanifa.
Kami berempat memang masih menjalankan bisnis kecil-kecilan kami, sekarang sudah lumayan besar hingga terjual ke kampus-kampus dekat kampus kami. Bahkan sampe ke SMA-SMA bekas kami sekolah dulu.
"Rain, gak mau temu ka Andreas dulu?"tanya Hanifa.
"Iya, temuin gih kan besok dia cabut ke Palembang" tambah Nunu.
"Iya na kangen-kangenan dulu sana, ntar susul aja ke pabrik" sahut Arika.
__ADS_1
Semenjak Andreas bohong soal kejadian di perpustakaan, aku jadi sedikit kecewa. Aku mencoba bersikap biasa saja saat kami bertemu, tapi tetap saja ada yang mengganjal di pikiranku dan membuat tingkahku agak aneh.
Tempo hari, saat kami makan bersama di kantin juga dia sadar seperti ada perubahan denganku. Aku memang jadi sedikit pendiam, pokoknya dalam pikiranku selama Andreas belum jujur tentang kejadian itu aku akan terus menjadi pendiam.
Belum lagi, kebohongan kedua yang dibuatnya. Andreas sempat kedapatan menunggu Rani didepan ruang ketua jurusan. Entah untuk alasan apapun, mereka lalu pergi berdua kearah laboratorium.
Aku merasa seperti terkucilkan, kenapa jadi Rani yang lebih sering berada didekatnya? Apalagi Rani juga terpilih menjadi sekertaris umum Hima yang mengharuskannya mengikuti Andreas saat acara apapun.
Dengan banyak pertimbangan, aku mengalah karena aku mau melihat wajah Andreas sebelum dia pergi ke Palembang. Akhirnya, aku mencari kekelasnya, dan dia sedang membereskan lembar ulangan di meja dosen.
"Kak" panggilku dari luar.
Dia menoleh dengan cepat dan memberikan isyarat agar aku menunggunya sebentar.
"Kamu hari ini gak kemana-mana kan? Sampe malem sama aku ya?" ajaknya.
"Gak bisa, aku mau ke pabrik sama yang lain kasian mereka nungguin" jawabku.
"Hah? Pabrik?" tanyanya.
__ADS_1
"Iya, aku kesini mau bilang dulu ke kakak" jawabku.
"Tapi rain, besok aku kan udah pulang ke palembang" jawabnya.
"Iya, hati-hati ya ka salamin sama Ibu" jawabku.
Aku memegang tangannya, bermaksud mengirimkan sinyal bahwa dia harusnya menjelaskan sesuatu padaku.
Tapi, sepertinya dia tidak sadar dan malah membiarkanku pergi.
Saat aku hendak menuruni anak tangga, ada suara langkah kaki mengikutiku dengan cepat hampir seperti orang berlari. Aku merasakan ada yang menahan tanganku dari belakang.
"De, kamu kenapa sih? Kenapa akhir-akhir ini beda? Aku salah apa? Kamu bosen ya sama aku?" tanyanya.
Aku berbalik dan melihat wajahnya, Andreas yang sekarang memasang wajah merasa bersalahnya. Entah apa yang aku pikirkan, lidahku kelu untuk mengeluarkan jawaban dan aku hanya bisa menatap dengan dalam kedua matanya yang berubah sayu dan sedih.
"Aku gak suka kakak bohong sama aku" kataku pelan.
Sebenarnya dalam hati, aku menjerit "aku cuma minta kakak jujur sama aku, kenapa kakak belum ngerti sih?"....
__ADS_1
Dia meraih tanganku, menggenggamnya dan bertanya..
"Apa yang kamu lihat? apa yang kamu denger? apa yang buat kamu berubah? aku bener-bener gak tau"...