
WELCOME TO PART 2.....
-
-
-
-
-
-
-
PART 2 INI, THOR AKAN LEBIH MENDALAMI KARAKTER RAINA DAN KETIGA SAHABATNYA. MASIH SEPUTAR AKTIVITAS MEREKA SEBAGAI MAHASISWA KO, BEDANYA SEKARANG MEREKA KAN UDAH JADI KAKAK TINGKAT. KIRA-KIRA GIMANA YA KEHIDUPAN MEREKA SETELAH PUNYA ADIK TINGKAT BARU??? APA MEREKA TETAP JADI KUMPULAN YANG POPULER ATAU TERJADI SESUATU LAGI?
GIMANA JUGA YA KABAR KAYI DAN RANI? APA MEREKA MUNDUR GITU AJA?
LALU GIMANA JUGA CARA RAINA DKK MELAWAN RANI DAN KAYI SEKARANG SETELAH ANDREAS DAN DHIKA TIDAK BISA MEMBANTU MEREKA LAGI?
TERAKHIR TENTANG KISAH CINTA RAINA DAN ANDREAS YANG SEMAKIN MEMBUAT THOR BERPIKIR KERAS NIH, SEMOGA KALIAN SEMAKIN SUKA YA SAMA ALUR CERITANYA!!!!
JANGAN SUNGKAN KASIH SARAN KE THOR KALAU KALIAN ADA MASUKAN hehehe bisa follow juga ig thor di : anithurn. THOR SENANG KALAU BISA NAMBAH TEMAN HEHEHEHE....
Thor minta vote dan likenya juga yaaaa
TERIMAKASIH SEMUANYAđź’•
.
.
.
.
.
.
Di suatu pagi yang hampir berantakan.....
Aku terlambat bangun karena sibuk membuat skenario untuk hari pertama Orientasi Kampus. Tentu saja bukan skenario drama, melainkan skenario kerja untuk masing-masing divisi. Lebih tepatnya membuat aturan dan batasan tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh masing-masing divisi selama masa Orientasi Kampus.
"Raina, kamu dimana? Kita udah kumpul di selasar nih?" kata Hanifa dalam telponnya.
"Ih maaf, aku agak telat semalem buat rundown sama skenario hehehe" jawabku.
"Yaudah, cepet nyusul sini ya?" katanya.
"Oke, 5 menitan lagi kayanya sampe" jawabku sambil menepuk bahu mas ojek online agar lebih cepat mengendarai motornya menuju kampus.
Di gerbang kampus penuh sesak oleh lautan manusia. Ada gerombolan mahasiswa baru, rombonga anggota keluarga yang mengantarkan mahasiswa baru serta penjual perlengkapan Ospek dadakan.
"Udah mas disini aja" kataku sambil melepas helm dan memberikan ongkos.
Aku berlari menuju selasar, karena takut tertinggal upacara apel pembukaan kegiatan orientasi jurusan.
"Bruk!!!!"
"Ah sial, pasti aja kalau buru-buru gini suka nubruk orang" gumamku.
"Maaf-maaf, saya buru-buru" kataku sambil mengemas bukuku yang berjatuhan.
__ADS_1
"Iya gapapa, hati-hati jalanan agak licin karena hujan" kata orang tersebut.
Kulirik, sepertinya aku familiar dengan wajah ini. Entah aku pernah melihatnta di belahan bumi mana, yang jelas aku sangat kenal wajah ini.
"Raina?" kata orang tersebut setengah kaget.
"Maaf, saya lupa" kataku pelan.
"Ini aku Fasya, kita dulu temen satu kelas di tempat les Villa biru loh?" katanya.
Diam-diam kuperhatikan wajahnya, dan aku agak mengingatnya sedikit. Cowok ini memang mengenaliku, dan aku sepertinya mengenalnya juga. Hanya saja penyakitku ya itu, sulit menghafal nama orang meski sebenarnya wajahnya aku ingat.
"Oh ya Fasya hahaha maaf aku pangling" kataku ngeles padahal aku benar-benar lupa pada Fasya saat itu.
"Hahaha, kamu buru-buru ya?" tanyanya.
"Ah iya lupa, aku buru-buru. Yaudah ya sya aku duluan bye!" kataku sambil berlalu.
Sesampainya di selasar.
"Na, sini!!!" teriak Nunu sambil melambaikan tangan.
"Ko, belum mulai apelnya? Kirain aku telat" kataku.
"Tuh, Nirwan sama Agung telat padahal mereka pemimpin apel dan ketua pelaksananya hari ini" jelas Nunu.
"Oh, terus anak baru pada disuruh berdiri dari tadi?" tanyaku.
"Yaiyalah berdiri, dulu kita juga berdiri kali na pas nunggu apel dimulai" sahut Arika dibelakangku.
"Hahaha iya ampun ampun ibu komdis" jawabku.
"Na, gimana? Kamu udah ambil keputusan? Jadi gak kamu terima tawaran Rani buat gantiin dia jadi ketua tim evaluasi selama orientasi kampus?" tanya Hanifa antusias.
"Aku udah nanya pendapat kalian bertiga, kalian jawab boleh eh aku tanya pendapat kak Andreas kata dia malah jangan karena capek dan bakalan berat" jawabku.
"Ngaco hahaha, jabatan ketua evaluasi kan sentral dan sama aja kaya ketua komdis tanggung jawabnya haha pasti Raina sedikitnya terbebani lah" bela Arika.
"Ya juga sih rain, belum lagi harus siap jadi nokturnal. Lagian maksudnya si Rani minta kamu yang gantiin dia apa ya? Mau ngetes gitu?" kata Hanifa.
"Palingan dia mau Raina kewalahan, alasan utamanya sih pasti karna dia gak sanggup jadi ketua tim Eval secara dia harus mau kerja dibawah tekanan" jelas Arika.
"Ah udahlah nanti aja dipikirinnya, sekarang mending kerja step by step dulu hahaha tuh udah dateng si Nirwan sama Agungnya" kataku memungkas perdebatan.
Selama upacara apel berlangsung, aku kehabisan cara menahan tawaku karena melihat ekspresi Arika, Nunu dan Hanifa yng hampir seperti ice princess karena tidak boleh tersenyum sama sekali dihadapan maru.
"Waah hahaha, jago juga kalian jadi komdis" kataku setelah apel selesai dan kami bisa bubar.
"Kaya bukan diri aku tau gak rain? Aku kan aslinya pecicilan gak bisa diem eh sekarang senyum aja dibatasi hhaha" sahut Nunu.
"Eh abis ini kan kita rapat ya? Gimana kalau kita pancing tuh si Rani biar dia cerita alasan dia ngundurin diri dari jabatan ketua evaluasi" ajak Hanifa.
"Hmm boleh tuh, kamu pancingannya fa?" jawab Arika.
Aku dan Nunu hanya mengangguk saja seolah paham, padahal aku sendiri tidak tahu maksud dari rencana Hanifa itu apa.
"Tenang na, kalau Rani memang cuma mau cuci tangan dan kasih beban kerja ke kamu karena kesalahan dia kemarin itu, jelas kita gak akan diem gitu aja" bisik Hanifa.
Kesalahan yang dimaksud Hanifa adalah blunder yang dilakukan Rani saat ada gathering lintas angkatan seminggu yang lalu. Disana semua angkatan alumni sampai ke angkatan setahun dibawahku berkumpul, untuk bersilaturahmi dan menyambut kedatangan keluarga baru yaitu angkatan yang mulai masuk kuliah awal bulan ini.
Saat itu, Rani dengan percaya dirinya bilang bahwa dia sebenarnya punya ambisi untuk jadi komdis tapi karena komdis diisi oleh orang-orang yang hanya sok tegas saja maka dia tidak mau ada disana.
Spontan jawaban dari Rani membuat angkatan alumni mengeluarkan pendapat mereka, ada yang memuji Rani karena dia sudah berani jujur mengungkapkan sudut pandangnya dan ada juga yang kecewa karena Rani sama saja menjatuhkan angkatannya sendiri.
Angkatanku juga termasuk yang paling kecewa pada perkataan Rani, padahal dia tahu percis perekrutan anggota komdis dilakukan tidak sembarangan dan malah terbilang ketat. Lantas mengapa dia bisa berkesimpulan bahwa isi dari komdis hanya orang yang sok tegas saja? Apa karena ada Hanifa, Nunu dan Arika didalamnya?
__ADS_1
Rani ini memang dari dulu hobi sekali mencari masalah dengan kami berempat, pokoknya apapun yang berhubungan dengan kami selalu salah dimata Rani.
Padahal kupikir ketegangan kami dan Rani sudah mereda saat acara wisuda Andreas. Aku ingat betul saat Andreas sibuk menyalami adik tingkatnya, Rani menarik tanganku dan meminta maaf.
"Aku minta maaf atas semua yang terjadi diantara kita, aku mundur untuk maksain diri aku ngejar kak Andreas yang ternyata emang cuma kelihatan bahagia saat sama kamu" katanya.
Belum lagi Kayi yang masih saja ketus pada kami berempat karena projek pkm kami berempat lulus dan dibiayai oleh lembaga hingga total bantuan dana 10 juta lebih pertiga bulannya.
Kayi bilang "program taman singgah di desa-desa kecil mana bisa berlangsung lama, paling warga hanya akan euforia di awal saja".
Padahal kami yang akan menjalankan programnya, lantas kenapa dia dengan percaya dirinya bilang bahwa program kami tidak akan berlangsung lama?..
Beruntungnya kami berempat malah semakin kompak, bisnis kecil-kecilan totebag juga masih jalan. Malah sekarang kami membuka basecamp dadakan di sebelah rumah Hanifa yang kosong. Papa Hanifa berbaik hati menyewa rumah kosong itu untuk kegiatan rutin komplek perumahannya dan salah satu ruangan depannya diperbolehkan untuk kami pakai.
Sesekali kami berempat juga ikut bazar kampus, ya lumayan bisa berjualan produk dan makanan yang kami buat sendiri untuk danus dan membantu menambah uang kas organisasi.
Pokoknya kami berempat sedang sibuk-sibuknya setelah resmi menjadi mahasiswa tingkat 3.
Kegiatan hari itu selesai....
Aku pamit pulang duluan pada Hanuka yang masih harus berada di kampus untuk kumpul komdis.
"Rain, hati-hati ya?" kata Nunu sambil melambaikan tangan.
Nunu akhir-akhir ini memang terlihat bahagia sekali, setelah hubungannya semakin dekat dengan Gian. Entah bagaimana awalnya mereka memulai, aku baru menyadarinya saat Gian mulai terlihat menatap Nunu seperti caranya menatapku dulu.
Nunu juga selalu terlihat sumringah setiap kali bersama Gian. Aku ikut senang dan mendukung mereka. Meski kadang aku tidak bisa melupakan kejadian yang telah berlalu, saat Gian bersikeras menjelaskan perasaannya terhadapku ketika program pengabdian pada masyarakat hampir enam bulan yang lalu itu.
"Aku tau na, perasaan kamu ke aku gak akan berubah hanya karena aku jelasin kenapa aku bisa suka sama kamu kaya sekarang. Hanya aja, aku mau jujur sama diri aku sendiri. Maaf karena aku udah masuk di cerita kamu sama Andreas. Maaf karena aku udah ganggu dan buat kamu gak nyaman. Padahal kamu selalu nganggap aku sebagai sahabat baik, tapi aku masih aja berharap yang bukan-bukan"...
Kata demi kata yang dikatakan Gian seolah membekas di ingatanku, aku merasa beruntung pernah disukai oleh lelaki seperti Gian. Walau banyak orang berkata tidak baik tentang Gian, dia tetap sahabat buatku. Apalagi setelah sekarang Gian dekat dengan Nunu, aku berharap hubungan kami berdua tidak terlalu canggung lagi.
Oya, Andreas.... Pacarku....
Sekarang dia bekerja sebagai salah satu staff di BMKG dibawah bidang meteorologi, secara umum tugas kerjanya seputar penelitian tentang cuaca.
"Pokoknya ini pekerjaan impianku" katanya.
Tempat kerja Andreas di Kota Tangerang Selatan. Sesekali dalam sebulan, dia selalu menyempatkan pulang ke Palembang serta menengokku ke Bandung.
Aku juga sempat kaget saat sebulan setelah wisudanya, dia datang ke Bandung dan berkata padaku bahwa dia diterima di BMKG sebagai staff tetap. Wajahnya sumringah sekali saat itu, matanya berbinar dan mulutnya tersenyum lebar.
"Ini impian aku kerja disana, ya meskipun sebenernya aku juga mau kerja di LAPAN dan mempelajari antariksa secara lebih dalem tapi bekerja di bidang favoritku juga gak ada salahnya kan?" katanya.
"Iya aku ikut seneng ko kakak keterima kerja disana, berarti nanti aku tanya ramalan cuaca ke kakak ya?" ledekku.
"Kuno amat ramalan haha, bahasa kerennya prakiraan cuaca sayang" balasnya meledek.
Ibu di Palembang sangat mengerti keadaan Andreas, beliau mendukung cita-cita anaknya untuk bekerja di BMKG sambil melanjutkan kuliah ke S2.
"Buat ukuran kakak sih S2 mah 2 tahun juga cukup" kataku.
"Dih suka ngegampangin, emangnya tesis bakal semudah itu?" jawabnya.
Aku membantu pendaftarannya ke S2 di kampusku, hampir tiap hari aku mendatangi gedung pasca sarjana untuk menanyakan kapan pendaftaran akan dibuka.
Meski jadwal perkuliahan kami berbeda, setidaknya dia akan lebih sering datang ke Bandung setelah perkuliahannya dimulai nanti. Secara otomatis aku akan lebih intens bertemu dengannya.
Pagi-pagi sekali, aku dibuat kesal karena Andreas memberi kabar bahwa dia ada kunjungan kerja ke Bali selama 5 hari. Padahal dua hari lagi, kami akan merayakan ulang tahun kak Dhika.
"Ah yaudahlah, kepentingan kerjanya mendadak kali jadi dia baru ngasih tau sekarang. Padahal kan seru aja kayanya kalau ada kak Andreas" batinku.
Aku belum mau membalas pesannya, karena masih memikirkan cara untuk memancing ingatannya tentang ulang tahun kak Dhika.
__ADS_1
"Rain, besok temenin aku yuu booking ruangan buat ngerayain ultahnya kak Dhika" kata Hanifa dalam telpon.
"Boleh, kabarin aja ya?" jawabku.