
"Kalian duluan aja deh sama kak Dhika ke kosannya kak Iyas, bantuin dia siapin semuanya" kataku.
"Lah kamu gimana? Nanti kekosannya kak Iyas sama siapa?" tanya Hanifa.
"Gampang, tinggal naik ojek online. Soalnya aku kayanya harus ngisi form sama sesi foto dulu deh buat di share di stagram pemilihan duta kampus. Mungkin bisa sejaman lagi, kasian kak Iyas kalau siapin sendiri" jelasku.
"Yaudah, kita duluan deh soalnya si kak dhika udah nunggu didepan supermarket yang deket kampus dari tadi katanya" kata Hanifa.
"Iya maaf ya, kalian malah nungguin aku terus padahal bisa berangkat dari tadi" kataku menyesal.
"Ih gapapa, yaudah kamu hati-hati ya nanti" katanya.
Hanifa dan Arika menunggu di kosan Nunu sampai aku selesai pembekalan, tapi ternyata aku malah ada agenda tambahan untuk sesi foto.
Aku tidak enak menunggu, jadi aku meminta mereka pergi terlebih dulu....
.........................................................
.........................................................
Kegiatan pembekalan duta kampus kali ini tentang table manner dan cara jalan yang benar dalam (catwalk).
Aku sedikit kesusahan saat belajar jalan, apalagi saat harus berganti-ganti sepatu dengan heels dan wedges setiap 25 menit sekali.
Yasmin, Olive dan Irish adalah teman baru sekelompokku dalam ajang ini.
Kami berkelompok saat tidak sengaja mengobrol sebelum pembekalan dimulai.
"Sayang, kamu dimana?" tanya Kak Iyas dalam teleponnya.
"Maaf banget, aku baru aja selesai pembekalan. Ini mau langsung otw ke kosan kakak ko" kataku.
"Yaudah aku jemput ya?" katanya.
"Beneran gapapa ngejemput aku? Kakak pasti udah santaian dikosan" kataku.
"Gapapa, aku otw ya! Kamu tunggu di gate utama aja deket pos satpam biar gampang" jelasnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
©©©©©©©©©©©©©©©©©©©©©
Akupun berjalan ke gate utama, menunggu di tempat waktu itu Andreas meninggalkanku.
"Aku agak trauma diem tempat ini" gumamku.
Duduk didekat pos satpam dan menunggu sambil main ponsel. Hingga ada dua orang lelaki yang datang untuk mengambil helm dan mendekatiku.
"Raina duh emang ya kalo jodoh gak kemana" kata salah satu diantara mereka...
Itu Fasya dan temannya tapi bukan dua orang yang waktu itu merundungku.
"Kamu mau pulang yu aku anter" kata Fasya.
Aku mengabaikannya dan tak melirik sedikitpun ke arah mereka.
"Wih sombong sya mentang-mentang cantik" kata temannya.
"Rain, aku beneran mau nganterin kamu pulang. Lagian kamu ngapain disini? Nungguin jemputan? Ah mending sama aku" kata Fasya dengan pedenya.
Mereka berdua malah duduk didepanku dan memandangiku tanpa henti.
Lama-lama karena aku mulai tidak nyaman, aku beranjak dan hendak menunggu didepan gate atau disebrang jalanan komplek dan berdiri disana saja.
"Duh Raina mau kemana sih? Ini gerimis loh mending aku anter pulang. Aku bawa jas ujan ko, tapi sebelum itu aku ajak kamu main dulu" kata Fasya.
"Yah sya gimana sih? Katanya playboy kampus tapi ko dicuekin sih" ledek temannya.
Fasya menarik tanganku, memegangnya dengan sangat keras. Matanya menatap tajam dan seolah membenci sikapku barusan.
"Aku tau ya, kamu pacarnya Andreas. Ya bolehlah aku akuin dia juga populer ganteng dan kaya. Tapi kamu jangan sok deh, palingan kamu pacarin dia karena uang terjamin kan? Kebutuhan kamu dia yang biayain kan? Cewek kalau urusan duit emang paling jago" kata Fasya.
Aku tetap diam dan tak mengeluarkan sepatah katapun, mencoba melepaskan tanganku dan pergi dari tempat itu.
Hingga akhirnya karena merasa terdesak, aku berjalan kaki hingga menyebrang keluar gate dan menunggu Andreas disana.
"Kak, Fasya ngikutin aku" kataku dalam chat.
Aku berharap dia segera membacanya dan segera datang menjemputku.
Benar saja dugaanku, Fasya memang mengikutiku dan berhenti tepat didepanku sambil turun dari motornya.
"Aku udah ninggalin Yasmin demi kamu, masa kamu gak punya belas kasihan untuk aku? Aku gak apa-apa ko jadi nomor dua" katanya.
"Sya berhenti ya ngomong yang bukan-bukan, kamu temen aku loh kita temenan dari kecil" bentakku.
"Yaudah, aku anterin kamu pulang yu jangan nolak" katanya sambil menarik tanganku.
"Sya sakit! Lepasin! Kenapa kasar sih?" teriakku.
Hujan sudah turun sehingga tidak ada mahasiswa lewat disekitar tempatku bertengkar dengan Fasya.
Dia bersikeras menarik tanganku dan memberikan helmnya padaku.
Aku menahan langkahku dan bilang bahwa Andreas sudah dalam perjalanan untuk menjemputku.
"Hah? Andreas? Dia mana mau ngurusin cewek repot-repot. Udahlah, kamu sama dia tuh buang-buang waktu aja. Dia tuh cuma mau jadiin kamu pajangan abis dia bosen ya dia buang kamu kaya Praya" ....
"Jangan sembarangan ngomong ya kamu! Aku bahkan lebih tau seperti apa Andreas dibanding kamu!"....
__ADS_1
"Terserahlah, pokoknya sekarang aku anterin kamu pulang ya?" paksanya sambil mengambil tasku.
Kulihat mobil Andreas berhenti dan memutar balik kearahku, dia langsung turun dan berlari kearahku.
"Buggg!!!!" suara tonjokan keras mendarat di pipi Fasya.
Andreas menonjok Fasya tepat di pipi kanannya, ujungvmulut Fasya berdarah dan dia terlihat kaget sekaligus kesakitan.
Andreas mengambil tasku yang diambil Fasya tadi dan menarik tubuhku ke belakang badannya.
"Gue peringatin jangan pernah lu kasar sama cewek, apalagi sama cewek gue!"
Diapun menuntunku masuk ke mobilnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
......................................................................
Didalam mobil....
Andreas melihat tanganku yang kesakitan dan merah karena bekas genggaman tangan Fasya yang kasar tadi.
"Fasya bilang aku mau sama kakak karena kakak duitnya banyak, karena aku dibiayain dan dia bilang kalau aku cuma jadi pajangan kakak dan nanti kakak ninggalin aku kaya Praya" kataku.
Aku tidak menangis, hanya saja tubuhku memang sedikit gemetar karena takut.
Dia turun kembali dari mobil, di tengah hujan dia menendang motor Fasya yang baru saja hendak melaju. Fasyapun terjatuh dan mereka berkelahi disana.
"Kak udah kak! Jangan diperpanjang" kataku melerai mereka.
Andreas berhenti memukul Fasya yang sedari tadi tidak membalas pukulannya.
"Bangun lu, berantem sini sama gue! Banci lu beraninya sama perempuan" teriak Andreas.
Fasya bangkit dan menarik kerah baju Andreas, menonjok perutnya dengan sangat keras.
Saat Andreas hendak membalas lagi pukulan Fasya, aku berdiri ditengah-tengah mereka.
"Kak liat aku kak, aku gak mau kakak berantem sama orang kaya dia! Buang waktu aja kak! Ayo pulang" bentakku.
"Kenapa lu kak? Lu ngeri dimarahin pacar lu? Kak lu kan cari pacar gampang, lepasin lah Raina buat gue. Gue jamin ko gue bakal bahagiain dia. Lagian cewek kaya dia bekas kan?" teriak Fasya.
Andreas terlihat semakin marah, matanya merah dan seperti sudah dalam puncak emosinya.
Dia memukul Fasya berkali-kali, membuat aku takut dan tidak tahu cara menghentikannya.
"Kak, kalau kakak berantem terus aku aja yang pergi" kataku.
Saat aku berlari meninggalkan mereka, Fasya mengejarku dan menarik tanganku.
"Ayo pulang sama aku" paksanya lagi.
Kamipun masuk ke mobilnya, kali ini aku yang menyetir.
Aku menangis tersedu-sedu melihat wajah Andreas terluka, aku takut urusan akan semakin panjang dan menyulitkan bagi kami kedepannya.
"Ngapain sih orang kaya Fasya didengerin? Kenapa mesti mukul? Tangan kakak jadi kotor dan luka cuma buat hal yang guna kan jadinya?"
"Gak guna? Aku mukul orang yang udah ngerendahin perempuan, kamu bilang gak guna? Aku gak suka dia kasar sama kamu dan dia ngomong seenak jidat dia. Aku tahu persis kamu sakit hati" katanya.
"Tapi aku lebih sakit hati kalau kakak luka-luka kayak gini, aku gak suka liat kakak berantem"
Melihatku menangis, sepertinya membuat dia tidak nyaman.
Dia memelukku dan menghentikan tangisanku.
"Maaf, tapi kali ini aku bakal urus Fasya secara laki-laki. Ini demi kamu, dia gak bisa gitu aja ngehina kamu apalagi depan aku" katanya.
"Terserah kakak, tapi jangan sampe kakak luka..."
Aku membersihkan lukanya dan memberinya obat merah, tapi dia malah memintaku membuka bajuku yang basah.
"Pindah ke belakang gih sebentar, ada baju aku kan satu disana? Ganti dulu nanti kamu masuk angin...Tenang aja, aku gak bakal liat ko" katanya sambil mengubah posisi spion tengahnya kearah lain.
Saat aku berusaha mengganti pakaianku sambil berjongkok, aku dengar dia berbicara dengan kak Dhika lewat telpon.
"Lu telpon Raden sekarang, bilang sama dia Fasya bertingkah. Suruh dia buat Fasya tahu rasa. Nanti sisanya gue cerita ke elu di kosan" katanya.
Sepertinya itu kak Dhika....
"Bibirnya sakit ya?" tanyaku.
"Gak apa-apa, gak usah khawatirin aku. Gimana masih kedinginan gak?" tanyanya.
"Gak, tapi baju kakak juga basah. Kita harus cepet sampe kosan biar kakak bisa cepet ganti baju" kataku.
Aku menyetir mobil Andreas, pada awalnya dia terlihat tidak yakin tapi lama kelamaan dia terbiasa dan bahkan terkejut dengan kemajuanku.
"Hanifa jago juga ngajarin kamu" katanya.
Dari ujung mataku, aku bisa melihat dia terus menerus melihat luka ditanganku bekas genggaman Fasya tadi.
Apalagi sekarang, aku hanya memakai kaos oblong saja.
"Aku gak apa-apa kak" kataku sambil meliriknya.
"Fasya harus dapet 4 pukulan, satu karena luka di pipi aku dan tiga karena dia udah berani nyentuh, megang dan nyakitin kamu" katanya dengan wajah dingin.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Sesampainya di kosan....
Hanuka dan kak Dhika terlihat menunggu kami didepan kosan Andreas...
Kak Dhika langsung mengajak Andreas berbicara di sisi yang terpisah dengan posisiku berdiri sekarang.
"Rain, yu masuk dulu yu ganti baju kamu" kata Arika sambil membawakan tasku.
Aku numpang mandi dan meminjam baju serta celana olahraga Andreas yang berukuran agak kecil.
Setelah itu, mereka memintaku menceritakan kejadian yang baru saja kualami...
Mendengar ceritaku, mereka merasa bersalah karena sudah tidak sabar menungguku tadi.
"Gapapa, semua kan udah terjadi. Yang sekarang aku takutin, pasti kak Iyas sama Kak Dhika lagi ngerencanain sesuatu buat bales si Fasya" kataku.
"Iya, tadi kak Dhika nelpon anak fakultasnya Fasya dan ya gataulah ngomong apa. Tapi aku setuju ko rain, orang kaya Fasya kan harus dilawan" kata Hanifa.
Nunu terus saja mengobati tanganku. Dia terlihat sangat khawatir dan bahkan menyisir rambutku yang basah lalu mengeringkannya dengan hairdryer mini yang selalu dibawanya didalam tas.
Tak lama Kak Iyas dan kak Dhika kembali...
"Kamu udah ganti baju?" tanyanya.
"Udah, tadi aku ambil di lemari baju kakak" jawabku.
"Coba berdiri kakak liat" kata kak Dhika.
Setelah melihatku berdiri, kak dhika tertawa seolah meledek penampilanku.
"Hahahahaha baju lu dipake Raina kaya baju jin ya yas?" ledeknya diikuti oleh suara tawa Andreas dan ketiga sahabatku.
Kak Iyaspun mengganti pakaian lalu bergabung bersama kami di rooftop.
"Untung aja ujannya reda ya? Jadi kita gak gagal barbeque'annya" kata Nunu.
"Nu, Gian ajak lah... Fa, si Nirwan juga suruh kesini biar rame" kata Andreas.
"Iya sana telpon, kosan mereka deket kampus kan? Gak jauh lah kesini mah pake motor apalagi cepet" sahut kak Dhika.
Mereka berduapun berlarian menuju kamar Andreas karena kegirangan.
"Lu minta Raden apain si fasya?" tanya Kak dhika.
"Gue mau dia di keluarin dari basket dan kena sp dari kampus kalau bisa dikeluarin sekalian" jawabnya.
"Udah gitu doang? Lu gak mau one by one sama dia? Eh gak gue siap ko bantuin lu" kata kak Dhika.
"Hey, awas ya kamu kalau berantem terus luka-luka. Gak akan aku biarin kamu kaya gitu" gerutu Hanifa.
"Iya udahlah, laporin aja Fasya baik-baik ke kampus dan gak usah diperpanjang" kataku.
"Ah susah yas ngomong depan cewek mah, nanti kita ajakin si Gian sama Nirwan tapi dibelakang mereka biar aman" kata kak Dhika yang malah memperkeruh suasana.
Aku dan Hanifa lirik-lirikan seolah kami mengerti bahwa kami sedang memikirkan hal yang sama.
"Yaudah putus dulu sama kita baru kalian bisa bertindak sesuka kalian" kata Hanifa.
"Nah bener tuh" sahutku.
Kak Iyas malah memelukku dari belakang.
"Bercanda sayang, aku gak gitu ko. Aku cuma diajakin Dhika tuh" katanya.
Begitupun kak Dhika yang memeluk Hanifa dan bilang bahwa dia hanya ikut-ikutan kak Iyas.
............................................................
............................................................
Tak lama Gian dan Nirwan datang dan membuat rooftop menjadi semakin ramai.
"Kak, lu ngekos tempat mewah begini berapa sebulan?" tanya Nirwan.
"Ada lah, gak usah tau lu haha" jawab Andreas sambil tertawa.
"Kak, kosan lu ko pada kosong pada kemana orang-orangnya?" tanya Gian.
"Pada pergi kali, tapi emang pada kosong sih di sejajaran gue yang ngekos cuma dua orang karyawan bank sama asuransi" jelasnya.
"Rain padahal kamu ngekos aja disini enak tau kayanya lebih deket lagi ke kampus" kata Gian.
"Wah ngaco, masih ada rumah di Bandung ngapain ngekos" sahut Nunu.
"Iyanih yang ada lu harusnya minta kak Iyas ngawinin Raina buru-buru biar bisa satu rumah" ledek kak Dhika.
Gian dan Nirwanpun melakukan jurus-jurus mereka untuk menghibur kami semua. Mereka menceritakan cerita-cerita lucu selama kaderisasi.
"Dulu ya, gue eneuk banget sama lu kak" kata Nirwan pada kak Dhika.
"Lu pernah ngebunyiin permen karet pinggir telinga gue banget, inget gak lu?" tanyanya.
"Lupa gue, yang gue inget dulu kalau bukan Hanifa ya Raina, Nunu atau si Arika" jawab Kak Dhika.
"Ah itu sih naluri lah, pasti cowok nyari cewek bening dulu kan?" sahut Gian...
Andreaspun tertawa mendengar cerita mereka bertiga. Aku senang melihatnya, sepertinya dia terhibur.
"Rencana sukses ya rain?" bisik Hanifa.
__ADS_1
"Iya fa" jawabku.....