
Malam harinya di ruang tamu rumahku...
Randy dan kak Iyas asyik bermain game online. Katanya mereka sedang 'war' entah apa itu. Aku yang kehabisan ide untuk menarik perhatian kak Iyas akhirnya hanya memilih duduk dan membaca novel.
Hingga tiba-tiba saja perutku sakit, sepertinya ini tanda-tanda menjelang datang bulan. Bahkan kemarin malam juga aku kesulitan untuk tidur karena badanku rasanya pegal-pegal.
Selang beberapa menit rasanya sangat menyakitkan dan hampir membuatku mengeluarkan suara yang mengisyaratkan kesakitan.
Randy yang melirik ke arahku langsung menaruh ponselnya.
"Kenapa perut teteh?" tanyanya.
"Gapapa Ran" jawabku.
Aku yang tidak pandai dalam berbohong membuat Randy terdiam dan memperhatikan tingkahku. Tanganku memang kulingkarkan di perutku dan mungkin raut wajahku juga terkesan seperti orang sakit.
Melihat kak Iyas yang malah tetap anteng bermain game online, membuatku sedikit kesal. Randy saja bisa begitu pekanya padaku, tapi pacarku sendiri malah tidak langsung peka.
"Aku ke kamar deh bentar ya" kataku.
Didalam kamar....
Aku mengambil obat pereda rasa sakit yang biasa Ibu berikan setiap aku datang bulan. Lalu kuminum dan segera kurebahkan diriku keatas ranjang.
"Ibu, perut aku sakit lagi" kataku sambil menelpon.
"Lah makan apa kamu hari ini?" tanya Ibu.
"Makan biasa terus makan keripik... Ah iya aku makan pedes banget tadi bu tapi sedikit ko" jawabku.
Setelah mendengar penjelasanku, Ibu langsung menceramahiku dengan gaya ngerap nya yang bisa mengatakan banyak suku kata dalam satu tarikan nafas.
"Iya, aku udah minum ko bu" kataku.
Setelah Ibu menutup telponnya, aku turun ke ruang tamu dan melihat kak Iyas dan Randy sedang berbisik-bisik.
"Kak, laper gak? Beli makan yu?" teriakku dari tangga.
Kak Iyas beranjak dan menatapku dengan tajam. Perlahan dia berjalan kearahku.
"Kapan kamu berani makan pedes yang ekstrim lagi?" tanyanya.
Seketika saja aku tersentak dan terdiam tanpa bisa menjawab sepatah katapun. Memang aku curi-curi waktu saat makan keripik. Kak Iyas malah tahunya keripik yang kumakan tadi sore tidak pedas sama sekali. Padahal sebenarnya sangat pedas.
"Kapan? Gak pernah makan pedes banget lagi ko" jawabku.
"Bohong, itu ada bekasnya di tong sampah" katanya sambil menunjuk tong sampah di samping pintu.
Aku buru-buru memeluknya dan meredakan emosinya yang mulai naik. Seperti biasa, dia akan sangat marah kalau aku menyepelekan soal kondisi kesehatanku.
"Gak akan lagi-lagi ko, itu kan endorse dari temen duta kampus ya sayang aja kalau aku gak makan" jelasku.
"Lebih sayang endorsean daripada lambung sendiri. Heran aku!" katanya dengan wajah marah.
Randy tertawa pedas melihat kami bertengkar. Sepertinya dia puas melihatku dimarahi oleh kak Iyas.
"Yaudah aku laper, mau ikut aku makan gak?" tanyaku.
"Emang mau makan apa?" tanyanya.
"Makan yang ada di dapur" jawabku.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Randy dan kak Iyas makan dengan lahapnya. Padahal aku hanya memasak martabak mie dan tumis sayur dengan bahan seadanya di kulkas. Ibu memang sempat memasak untuk kami, tapi masakan Ibu sudah habis dimakan Randy sendirian.
"Teh,tangan teteh gapapa yang tadi sama si Fasya sialan itu?" tanya Randy.
"Gak apa-apa ko" jawabku.
Kulirik Kak Iyas sedang tepat memperhatikan tanganku. Memang ada bekas merah yang nampak. Sebenarnya tidak seberapa sakit, hanya saja aku jadi takut pada Fasya. Ternyata dia memang benar-benar orang yang nekad.
"Aku gak apa-apa" kataku sambil mengelus tangan kak Iyas.
"Kalau sekali lagi Fasya kaya gitu, kayanya aku harus selesain masalah sama dia secara gentle" katanya.
"Udah ah jangan diperpanjang, nanti ribet. Mending lanjut makan. Aku mau sambil cuci piring ya" kataku.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Pukul 9 malam....
Randy sudah tertidur di sofa ruang tengah sambil memeluk guling kesayangannya dan meminta untuk tidak dibangunkan karena dia akan tidur disana sampai pagi.
Sementara aku sedang membaca email yang masuk dari pembina duta kampus untuk panduan MC masa orientasi kampus yang akan segera dimulai dalam beberapa minggu kedepan.
Kak Iyas sedang menonton sesuatu di laptop Randy, sepertinya film tentang penculikan. Aktornya Liam Nesson, katanya sih aktor favoritnya.
"si Randy punya seriannya?" tanyanya.
"Ada kayanya, dia mah suka film begitu" jawabku.
Beberapa saat kemudian...
Aku mulai mengantuk dan mengambil posisi rebahan di kasur lantai yang sudah kugelar didepan televisi.
"Kak, aku ngantuk loh" kataku.
__ADS_1
"Tidurlah sana ke kamar, jangan disini dingin" jawabnya.
"Gak ah disini aja, kakak tidur juga ya jangan kemaleman" kataku.
"Hmmm" jawabnya.
-----------------------------------
-----------------------------------
Entah berapa jam setelah aku terlelap, tanpa sengaja aku terbangun dan merasa perutku melilit lagi. Sepertinya aku ingin buang air. Kulihat kak Iyas sudah tertidur di kasur sebelahku. Dia nampak meringkuk seperti anak kucing yang kedinginan.
Kuambilkan selimut di kamar Ibu lalu kututupi tubuhnya dan tanpa sadar aku memandangi wajahnya yang nampak kelelahan itu. Matanya sangat sayu nyaris tersembunyi oleh bulu matanya yang panjang.
Tanpa sengaja juga kulihat ponselnya masih menyala di samping bantalnya. Kuambil lalu aku berniat mengecas ponselnya karena pikirku pasti baterai ponselnya habis setelah dia pakai untuk bermain game online.
Sebuah notes muncul di layar ponselnya, sepertinya itu alarm peringatan.
"7 tahun meninggalnya Bapak"
Aku berniat menghentikan alarmnya, tapi ternyata setelah kuklik muncul sebuah catatan panjang yang sepertinya dibuat oleh kak Iyas untuk memperingati tujuh tahun kematian Bapaknya.
....................................
Untuk Bapak yang sudah di surga...
Sama seperti peringatan setiap tahun semenjak Bapak ninggalin Iyas, Iyas masih tetap rindu sama Bapak.
Kayanya rindu ini gak ada ujungnya pak.. Sampai Bapak hadir di mimpi Iyas dan mengobatinya....
Bapak sudah ketemu Ibu disana kan? Ibu tambah cantik ya pak? Duh... Jangan-jangan Bapak sama Ibu lagi pacaran ya sekarang?
Eits.. Tapi bukan Bapak sama Ibu aja yang bisa pacaran... Iyas juga bisa..
Bapak sama Ibu jangan marah ya kalau kadang Iyas bisa-bisanya ketawa saat Ibu sama Bapak udah gak ada. Iyas seperti dikasih malaikat sama Allah. Cerminan Bapak sama Ibu. Galak dan tegasnya sama kaya Bapak. Sementara bawel dan perhatiannya sama kaya Ibu.
Bapak harus lihat dari sana, betapa istimewanya perempuan ini. Oya pak, kayanya tahun ini Iyas gak bisa lihat Bapak di hari dimana tepat 7 tahunnya Bapak pergi. Alhamdulillah Iyas bisa wujudin mimpi Bapak untuk punya usaha sendiri selain perkebunan. Meski belum bisa sesukses Bapak, setidaknya Iyas akan terus berusaha untuk bisa menjadi seperti Bapak.
Ah lebih tepatnya bukan seperti Bapak. Bapak kan cuma satu dan satu-satunya di dunia ini, mana bisa Iyas menyerupai Bapak?
Pak, semoga doa yang Iyas selalu panjatkan sampai di telinga Bapak dan Ibu ya. Iyas sudah tidak ada alasan untuk menangis dan sedih lagi sekarang. Setidaknya Ibu dan Bapak bisa kembali bersama meski harus Iyas yang menjadi korban kesepian.
Pak Budi udah Iyas minta untuk jengukin Bapak dan Ibu. Bunga disana pasti baru kan sekarang pak? Wangi gak pak? Iyas pingin denger suara Bapak lagi. Beberapa detik aja pak.
Semoga Bapak dateng di mimpi Iyas ya malam ini...
---------------------------
----------------------------
Tanganku gemetaran dan tanpa sadar pipiku basah. Pantas saja siang tadi dia terlihat banyak melamun dan seolah memikirkan sesuatu. Mungkin dia sedang rindu Bapak dan ingat bahwa hari ini adalah peringatan tujuh tahun kepergian beliau.
Rasanya aku kehabisan kata-kata untuk mengekspresikan perasaan banggaku terhadapnya. Di umurnya yang sudah dewasa, dia masih bisa menulis catatan sedalam itu untuk Bapaknya yang sudah tiada.
Lagi-lagi satu pelajaran bisa kuambil dari kak Iyas, kupikir kehilangan adalah cara terbaik merubah seseorang yang keras hatinya sehingga menjadi lembut dan membuatnya memahami betapa berharganya sesuatu yang telah hilang itu.
Tiba-tiba saja tangannya bergerak dan melingkar di pinggangku. Mungkin dia pikir aku ini adalah guling.
"Nampyonku kalau lagi tidur ganteng banget" kataku.
"Apaan sih nampan nampon" gumamnya.
"Euh dasar kebiasaan tidur juga telinganya masih aja peka" jawabku.
Kak Iyas membuka matanya dan melihat kearahku.
"Ngapain ngecek hape aku? Gak ada chat sama cewek lain kali" katanya.
"Lah siapa yang ngecek? Orang tadi ada alarm bunyi ko. Terus aku mau matiin soalnya takut kakak bangun" jawabku.
Bukannya melanjutkan tidur, dia malah menarik tubuhku hingga kini kepalaku berada diatas dadanya.
"Tidur disini" gumamnya lagi.
"Ih gak mau, aku mau ke kamar mandi perut aku sakit" jawabku.
Mendengar jawabanku, dia langsung terbangun dan terduduk dihadapanku.
"Masih sakit? Bukannya udah minum obat? Apa mau ke klinik yang depan komplek itu?" tanyanya tanpa jeda.
"Sssst ah, aku cuma sakit perut biasa bukannya mau ngelahirin. Udah kakak tidur aja. Nih cas dulu tuh hapenya" gerutuku.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Keesokan paginya...
Ketika aku bangun, tiba-tiba aku sudah berada di kamarku. Kak Iyas sepertinya memindahkanku tadi malam.
"Padahal kakinya baru aja sembuh, udah berani aja gendong-gendong karung beras kaya aku" gumamku.
"Kak, kak" teriakku memanggilnya.
Dia tidak menjawab, mungkin dia masih tidur dibawah.
Lalu aku turun dan berniat melihatnya. Ternyata dia sudah bangun dan sedang merapikan kasur lantai bekasnya tidur semalam.
"Nyenyak banget tidurnya" ...
"Siapa? aku apa kakak?" tanyaku.
__ADS_1
"Kamulah" jawabnya.
Akupun membangunkan Randy dan memintanya segera membuka grosir karena Mamang sudah menunggu di teras rumah.
"Mang masuk dulu" teriakku.
"Iya neng, disini aja" jawabnya.
Kak Iyas menemani Mamang mengobrol diteras, kedengarannya mereka membicarakan tentang Fasya.
Akupun bergegas ke dapur untuk membuat sarapan sementara Randy baru saja turun dan hendak membuka grosir dengan Mamang.
Kak Iyas mendatangiku dan terlihat tersenyum sendirian. Aku melirik sesekali kearahnya sambil penasaran.
"Kenapa senyum-senyum gitu?" tanyaku.
"Cewek kalau lagi masak terus belum mandi gitu seksi ya?" katanya.
Mendengar jawabannya yang frontal dan tanpa intonasi, membuatku menjatuhkan wadah garam yang sedang kupegang.
"Hahaha kaget aku bilang seksi?" tanyanya sambil membantuku merapikan garam yang berserakan.
Aku memukul tangannya dan menyadari pacarku ternyata sudah sangat dewasa setelah melihat tatapannya yang tajam serta mendengar intonasi bicaranya yang datar.
"Bisa ya sekarang ngomong gitu terus wajahnya biasa aja kaya gak berdosa" gerutuku.
"Lah emangnya kenapa? sama kamu ini aku bilangnya. Kalau udah nikah nanti kayanya kita gak perlu asisten rumah tangga ya?" tanyanya.
"Woy ngehalu pagi-pagi, udah duduk sana nanti bisa gak enak masakan aku kalau kakak godain terus" gerutuku lagi.
"Ciye salting" ledeknya sambil mencubit pipiku.
Tak lama aku mendengar ponsel kak Iyas berbunyi. Dia terlihat mengangkat teleponnya sambil berdiri di sebelahku.
"Sorry gue gak ada waktu. Lain kali aja" katanya.
Dia terlihat tidak senang menjawab telepon tersebut. Raut wajahnya yang bersinar tadi seketika berubah setelah berbicara dengan seseorang dalam telepon itu.
Aku enggan menanyakan siapa orang yang menelponnya barusan karena aku takut dia akan merasa tidak nyaman dan malah memperburuk suasana hatinya.
Tanpa sengaja, dia menangkap basah pandanganku yang jelas-jelas sedang memperhatikannya.
"Telepon dari temen lama. Ngajakin ketemuan katanya dia lagi di Indonesia" jelasnya.
"Hmm temen SD, SMP atau SMA?" tanyaku.
Bukannya menjawab pertanyaanku, dia malah memelukku dari belakang.
"Temen SMA gak penting lah, udah masaknya?" tanyanya.
"Susah dong kalau dipeluk gini, duduk dulu sana" kataku.
................................................
.........................................................
Beberapa jam kemudian....
Aku sudah selesai mandi dan Randy juga. Randy dan Mamang langsung sibuk melayani langganan. Sesekali Randy akan berteriak meminta bantuanku.
Sementara itu kak Iyas baru saja pamit untuk mandi dan ganti pakaian ke kosannya. Dia tanpa sadar meninggalkan ponselnya di kamarku.
Aku yang penasaran tentang panggilan mencurigakan tadi, mencoba mengeceknya langsung.
"Ruri"
Nama penelponnya adalah Ruri. Tidak ada jejak lagi yang kutemukan selain panggilan masuk dan panggilan tak terjawab sekitar pukul 2 dini hari tadi.
"Ruri siapa ya?" gumamku.
Aku mencoba mencari informasi tentang Ruri dari mutual akun sosial medianya. Berharap akan ada sedikit petunjuk yang kutemukan.
Ternyata mereka berteman di Facebook sejak tahun 2006. Kalau aku tidak salah menebak, mereka mungkin berteman sejak kelas 1 SMA.
Ada sebuah foto kelas yang menandai satu sama lain serta beberapa foto yang terposting pada hari kelulusan mereka.
"Geng baba i miss you" tulis Ruri dalam postingannya.
"Boong!" balas Kak Iyas.
Mereka terlihat akrab dan suka saling mengomentari postingan satu sama lainnya. Hingga aku dapat menarik satu kesimpulan bahwa mereka adalah sahabat yang sangat dekat.
"Kalau mereka sedeket ini kenapa kak Iyas gak mau nemuin dia ya?" gumamku.
Tak lama kemudian terdengar suara kak Iyas dibawah yang berteriak memanggilku.
"Dek hape aku disitu ya? tolong ambilin" teriaknya.
"Oya bentar" sahutku.
Setelah memberikan ponselnya, aku mengantarnya hingga dia masuk mobil dan pergi menuju outlet.
Sesaat sebelum dia pergi, aku mendengar ponselnya berbunyi beberapa kali. Itu pasti panggilan masuk dari Ruri.
"Sebenernya Ruri itu siapa sih? kenapa dia niat banget mau ketemu kak Iyas?" gumamku.
Tak lama, Hanifa menelponku dan katanya hari ini dia akan mampir kerumah karena kangen padaku.
"Iya aku tunggu dirumah deh. Ajak Nunu sama Arika ya" jawabku.
"Oke, sekalian ada yang mau aku ceritain ke kamu. Penting banget!" katanya.
__ADS_1