
"Ada apa Gian?" tanyaku pada Gian yang sedang menulis sesuatu.
"Tolong buatin tabel dong haha soalnya aku diseleksia kayanya dari tadi ngegaris ga lurus-lurus kayanya"
"Ah kamu diseleksia itu kesulitan mencerna pembelajaran kalo gak bisa buat garis lurus itu astigmatism" jelasku.
Astigmatisme adalah penyakit kelainan pada mata. Selain mata minus, gangguan mata lainnya yang juga umum dialami banyak orang adalah astigmatisme atau yang lebih dikenal juga dengan mata silinder. Gangguan penglihatan ini terjadi karena adanya kelainan pada kelengkungan kornea atau lensa.
Orang yang memiliki gangguan ini, biasanya perlu menggunakan kacamata karena gangguan mata ini menyebabkan pandangannya menjadi kabur, baik dalam jarak dekat maupun jauh. Selain itu, seseorang yang sudah memiliki astigmatisme juga masih bisa terkena masalah mata lainnya, seperti rabun dekat (hiperopia) atau rabun jauh (miopia). Astigmatisme umumnya terjadi saat lahir, tapi gangguan mata ini juga bisa disebabkan oleh cedera yang dialami oleh mata di kemudian hari atau komplikasi dari operasi mata. Mata silinder identik dengan ketidakmampuan seseorang untuk melihat garis lurus. Memang benar, nyatanya penyakit ini menyebabkan distorsi penglihatan, sehingga pengidapnya tidak bisa membuat garis lurus, bahkan menentukan apakah garis tersebut lurus atau miring. Namun, bukan hanya itu saja gejala astigmatisme. Sama seperti mata minus, mata silinder pun menyebabkan pandangan menjadi samar atau tidak fokus.
Selain itu, pengidap juga sulit melihat dengan jelas di malam hari. Saat melihat atau membaca sesuatu, pengidap sering melakukan kebiasaan menyipitkan mata agar bisa melihat dengan jelas. Ternyata bukan cuma tidak bisa melihat garis lurus saja, pengidap astigmatisme juga tidak bisa membedakan warna yang mirip, lho. Beberapa keluhan yang sering dirasakan orang yang punya mata silinder, antara lain mata sering tegang dan mudah lelah, pusing, serta sensitif terhadap cahaya.
"Oh hahaha ngegarisin doang?" tanyaku.
"Hmm" jawab Gian.
Akupun dan Gian bekerja sama membuat tabel pengamatan manual, untuk salinan atau rekapan hasil pengamatan kami nantinya. Kalau mengandalkan dari kertas dosen saja, kami bisa kesusahan saat input takutnya kertasnya bisa saja hilang atau basah hahaha. Belum lagi cuaca di lokasi juga sedikit kurang bersahabat, angin kencang dan mendung. Mungkin saat aku dan Gian giliran jaga akan turun hujan.
"Gian... Aku laper..." gumamku.
"Tapi kan belum dikasih konsumsi makan siang" jawabnya.
"Eh eh aku bawa roti sobek tuh di tas ambil aja lumayan buat ganjel... tambahnya.
"Serius gak apa-apa aku makan?" tanyaku.
"Abisin juga gak apa-apa" jawabnya tegas.
__ADS_1
Tiba-tiba saat kami sedang asyik makan roti berdua, Andreas datang dan meminta kami mengumpulkan buku catatan untuk nantinya diberikan rumus-rumus perhitungan.
"Kok gak dikasih selebaran aja sih ka?" tanya salah seorang temanku yang keheranan.
"Buku catatan aja soalnya biar gak hilang jadi nanti kita tempelin di catetan kelompok kalian masing-masing sekalian kita mau cek juga apa tabel yang kalian buat manual itu udah bener atau belum" jelas Andreas.
Gianpun menyarankan agar buku catatanku yang diberikan, karena buku catatannya kurang rapi dan acak-acakan.
"Yaudah kasihin aja buku aku" jawabku.
Sejam kemudian...
Beberapa menit lagi, aku dan Gian akan menuju pos untuk bergantian mengamati perubahan suhu. Aku bersiap mengenakan parka dan kaos kaki serta sneakers. Kali ini aku menitipkan botol minum dan kotak makan siangku pada Gian.
Menurut Gian kalau bawa dua tas berabe, takutnya hujanlah dan kita harus cari tempat neduhlah. Padahal Gian dan aku saja belum tahu kondisi pos yang akan kami amati bagaimana hahaha. Kami hanya asal menyimpulkan saja.
"Siap rain?" tanya Gian bersemangat.
Jalanan menuju pos pengamatan agak licin, meskipun sepatuku tidak licin tapi aku cukup takut terpeleset. Akhirnya, aku megang ujung hoodie yang dikenakan Gian.
"Yaelah narik narik" gerutunya.
"Licin mas takut hahaha" jawabku.
Kami berduapun sampai di pos dengan disambut udara yang sangat dingin. Benar saja saat kutengok thermometer kayu, suhunya 18' Celcius. Letak pos pengamatan kami cukup dekat dari akses jalan utama, jadi kalau mau buang air kecilpun aku tidak perlu repot menghafal arah.
Suasana sekitar pos sangat sepi, ini sudah hampir petang. Semburat langit jingga dari kaki bukit sudah nampak, semeliwir angin malam pun mulai menyapa. Seketika kulebarkan tanganku merasakan kesejukan alam yang hampir sulit kudapat akhir-akhir ini, semenjak kesibukanku menjadi mahasiswa.
__ADS_1
Sulit untukku mendapatkan waktu senggang bahkan sekedar "hang out" saja harus mencuri-curi waktu.
"Ngelamunin apa rain?" kata Gian menyenggol bahuku.
"Haha gak cuma kamu ngerasa gasih cape banget ya jadi mahasiswa? Tugas banyak, tuntutan banyak, pikiran apalagi hahaha" jawabku sambil melayangkan pikiranku.
"Iya rain haha aku juga kadang mikir gitu" jawab Gian seolah merasakan keresahanku.
Setelah itu, kami diharuskan fokus untuk mengecek perubahan suhu di pos pengamatan. Setiap 15 menit, aku dan Gian bergantian mengecek termometer. Hingga tanpa disadari waktu sudah menunjukan pukul 8 malam.
"Gian ngemil yu?" ajakku.
"Snack? Bentaran lagi juga dianterin tim konsumsi!" jawab Gian.
"Bukan haha tuh ada pohon kersen, ambil gih!" sahutku.
"Ngambil kersen malem-malem gini? Gak salah? Serem kali rain!" gerutu Gian.
"Mitosnya pohon kersen itu kebanyakan ditinggali jelmaan siluman yang ngipri (pesugihan) tau" tambahnya.
"Hahaha siluman apa? Siluman rubah? Inuyasha dong hahaha kalo iyasih biarin orang ganteng" ledekku.
(Inuyasha adalah tokoh fiktif kartun jepang yang diceritakan sebagai siluman tapi memiliki paras tampan)
"Husss sompral ni anak haha" sahut Gian dengan wajah sedikit takut.
Tak lama setelah candaan kami, terdengar suara motor dan terlihat cahaya lampu jauh. Aku dan Gian melihat ke arah datangnya suara dan cahaya tersebut.
__ADS_1
"Tuh Andreas sama Dhika mau ngontrol" bisik Gian.
Drram drram drrammmmm......