Kuliah Atau Kuli Ah?

Kuliah Atau Kuli Ah?
Raina kembali


__ADS_3

Seminggu lalu, aku nyaris saja mati...


Tubuhku rasanya melayang...


Entah berapa hari aku tak sadarkan diri....


Aku kehilangan banyak sekali kenangan...


Aku tidak tahu berapa banyak air mata yang jatuh karena aku...


Aku tidak tahu berapa banyak materi yang dikeluarkan untuk menjamin kehidupanku....


Aku hanya tak berdaya menunggu takdir...


Membiarkan diriku pasrah tanpa perlawanan....


Aku hanya berdiri diambang dua lembah...


Satu cahayanya terang benderang....


Satu lagi gelap gulita....


Di kegelapan itu aku mendengar namaku disebut, katanya jangan dulu pergi Raina....


Sementara satu sisi lagi terdengar memintaku memilih jalanku sendiri....


Aku takut, dalam kemelut, nyaliku ciut...


Aku ingin menuju cahaya, tapi tak mau mengabaikan suara di lembah gelap....


Suara itu kukenal sekali...


Suara Ibu, Ayah, Recca dan Randy...


Seketika saja, aku berjalan berdarah-darah menuju tempat gelap itu....


Hingga di tengah lembah gelap itu, ada tangan menuntunku...


Wajahnya tertutup, aku tidak bisa melihatnya....


Dia juga tidak berkata apa-apa....


Hanya menuntunku hingga ujung lembah itu....


"Kamu punya orang yang akan sangat hancur, jika kamu pergi sekarang. Maka bertahanlah..."


Dia berkata hingga pergi tanpa melihat wajahku sedikitpun...


"Raina!!!! Raina!!!! Raina!!!!"


Kudengar sangat jelas panggilan dari seseorang...


Aku berjalan menyusuri sumber suara itu...


Berharap ada lagi seseorang yang menuntunku didepan...


Nafasku sesak, tubuhku sakit dan kakiku berdarah-darah....


Tapi aku bertahan....


Sekarang, aku tiba pada sumber suara itu....


Dia ada diantara pepohonan tinggi yang menjulang...


"Aku tau kamu denger aku dek"....


Suaranya samar-samar, tapi hatiku sangat sakit mendengarnya...


Aku menangis, entah untuk alasan apa...

__ADS_1


Aku bahkan tidak tahu...


Tidak ada nama yang terlintas di benakku....


Aku hanya mengingat Ayah, Ibu, Recca dan Randy saja....


Hingga aku lihat, diantara awan ada 4 gambaran sosok seseorang....


Tiga berambut panjang seperti perempuan dan satu laki-laki....


Perlahan wajahnya terlihat dan muncul...


"Hanifa, Arika, Nunu dan .....


Seseorang yang kini membuat kakiku gemetaran....


Jantungku berdegup kencang....


Dadaku terasa sakit dan sesak....


Aku ingat dia ....


Hatiku juga mengenalnya...


"Andreas"


Itu suara yang sama yang kudengar di lembah, suara yang sangat kesakitan....


Suara orang yang kucintai....


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Aku disampai di akhir perjalanan melelahkanku, aku menangis tersedu tanpa suara....


Hingga kubuka mataku dan kulihat Andreas...


Dia menungguiku di ruangan sunyi itu...


"Kak" kataku dengan segenap tenaga yang ada.


Dia berbalik dan melihatku, bersimpuh seolah tidak menyangka aku sudah bangun dari tidurku..


"Dek" katanya dengan mata yang berkaca-kaca..


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Beberapa hari kemudian....


Aku mulai berlatih dan memperbaiki suasana hatiku di rumah sakit. Aku benar-benar tidak betah, apalagi setelah mendengar biaya yang harus dikeluarkan Ayah dan Andreas selama perawatanku disini.


Aku kasihan dan merasa tidak berguna.


"Bagaimana bisa menghamburkan uang sebanyak itu hanya untuk sewa kamar vip?" gumamku.


Andreas hanya marah dan tidak mau berdebat denganku untuk urusan satu itu. Katanya, ini haknya untuk menjagaku.


Kujanjikan banyak hal padanya, agar dia tidak merasa perjuangan dan uangnya yang sudah dia keluarkan sia-sia. Tapi, dia hanya bilang bahwa dia memintaku untuk sedikit lebih sabar dan mau menyembuhkan diriku sebaik mungkin.


Dia tidak mau, aku pulang terburu-buru.


Setiap malam selama dia menjagaku, aku selalu melihatnya tersenyum. Padahal sebenarnya aku tahu dia kelelahan.


Bayangkan saja, dia hanya pulang sekali dalam sehari itupun dalam waktu yang singkat.


Dia bilang, kalau bisa dia tidak ingin meninggalkanku sedetikpun.


Mungkin, dia memang benar-benar takut kehilanganku.


Aku jadi teringat cerita pak Budi, saat kami menghabiskan waktu di kebun di Palembang dulu.

__ADS_1


"Iyas akan sangat berubah saat kehilangan seseorang"


Jadi, aku berjanji bahwa aku tidak akan meninggalkannya. Tapi kenyatannya takdir nyaris memisahkanku dengan Andreas. Aku hampir saja pergi lebih dulu.


Mungkin, lagi-lagi doa Ayah dan Ibu serta doanya yang menyelamatkanku.


Setiap hendak tidur, dia akan menepuk pipinya dan berkata "Ini aku gak mimpi kan? Kamu beneran didepan aku kan?"....


Lalu aku yang akan menjadi mellow dan menangis.


Berkali-kali juga, aku terbangun tengah malam karena kepalaku sakit dan aku tidak bisa membangunkannya karena dia tertidur pulas di sofa.


Aku hanya bisa memandanginya dari kasurku dan melihat betapa dia dengan sabarnya selalu merawatku.


Ayah, Ibu dan kedua adikku juga sama halnya mengkhawatirkanku. Kelima sahabatku dan kak Dhika yang sudah kuanggap sebagai kakakku sendiripun, tidak pernah seharipun tidak datang menjengukku kerumah sakit.


Aku merasa kesempatan keduaku untuk hidup ini, harus kumanfaatkan sebaik mungkin untuk membahagiakan mereka.


Satu pagi sebelum aku pulang, Andreas sedang menyelesaikan administrasi. Aku sudah bisa berjalan normal tapi masih diminta duduk di kursi roda oleh Andreas.


"Jangan berdiri lama-lama, takut pusing" katanya.


Saat menunggunya di ruangan, ada seorang bapak dan seorang anak perempuan mendatangiku.


"Oh non sudah sadar, syukurlah" kata Bapak tersebut.


Aku baru melihat mereka, tapi kenapa suaranya terdengar tidak asing.


"Maaf, bapak siapa ya?" tanyaku.


"Saya Pak Joni, ini anak saya Hasya. Kami dibantu oleh mas Andreas kemarin saat saya kesulitan membayar biaya rumah sakit." jelas beliau.


Pak Jonipun menjelaskan cerita bagaimana dia bisa mengenalku. Ternyata, beliau diminta mendoakanku oleh Andreas yang saat itu membantu membayar biaya rumah sakit anaknya yang juga korban tabrak lari.


Hasya, cedera di kaki cukup parah. Dia juga memakai kursi roda. Hasya sangat cantik dan sopan, dia bahkan memintaku untuk mengizinkannya memangilku kakak.


Tentu saja kupersilahkan, aku juga senang bisa bertemu dengan orang baik.


Tak lama kemudian, Andreas kembali dan kaget melihat ada Pak Joni dan Hasya dikamarku.


"Eh mas, sudah bayarnya?" tanya Pak Joni.


"Sudah pak, bapak sudah mau pulang juga?" tanya Andreas.


"Belum bisa hari ini mas, soalnya Hasya masih harus periksa" jawab Pak Joni.


Andreas mencium keningku, mengelus rambutku seolah memintaku memahami posisinya yang sudah menolong Pak Joni.


Dia mungkin takut aku akan mengiranya boros dan tanpa pertimbangan.


Padahal, aku sangat bangga padanya.


Setelah mengobrol dan berfoto bersama, Pak Joni dan Hasyapun pamit.


Aku memeluk Andreas dan mengelus rambutnya, memperlakukannya bagai anak kecil yang baru saja ditemukan induknya.


"Pacarku baik banget ya? aku seneng deh" kataku.


Dia tersenyum dan menjelaskan mengapa saat itu dia membantu Pak Joni.


"Waktu itu aku lagi putus asa, malem-malem aku denger suara Bapak itu nangis. Aku datengin dan aku tanya beliau kenapa, terus beliau cerita kalau anaknya jadi korban tabrak lari" jelasnya.


"Udah, gak usah cerita. Pak Joni udah cerita ko barusan ke aku hahaha. Aku gak marah, uang kakak kan kakak yang cari sendiri. Aku mana berhak marah apalagi setelah aku tahu itu uang kakak pakai untuk membantu orang yang kesulitan. Aku malah mau kasih kakak hadiah karena kebaikan kakak" kataku.


"Hadiah? apa?" tanyanya kegirangan.


Secepat kilat, aku mencium pipinya dan membuatnya tersipu malu.


"Jahil, hadiahnya nakal ya" ledeknya sambil mengelus rambutku.

__ADS_1


"Yaudah ah, ayo pulang. Aku gak sabar mau sampe rumah" kataku.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2