
"Aku pura-pura pacaran sama Gian, kalian pura-pura juga ya biar meyakinkan!" kataku pada Arika, Hanifa dan Nunu.
"HAHHHHH????PURA-PURA???BUAT APA RAINA???" tanya mereka bersamaan dengan nada suara tinggi.
"Demi membersihkan tuduhan tidak beralasan dan kecurangan kelicikan serta kedzaliman" sahut Nunu yang sudah mendengar kabarnya dari Gian.
"Masa aku dituduh jadi orang ketiganya Praya sama Andreas? Aku deket sama Andreas aja nggak begitu" gerutuku.
"Ah i see i see...udah lah gak usah dibahas pasti bakal rusak mood kamu doang kan rain?" kata Hanifa.
"Kita besok perdana ya di HIMA haha harus ikut rapat koordinasi buat pemilihan unit kan?" tanya Arika.
"Besok? Bukannya hari ini jam 4 kan?" tanyaku lagi.
"Eh iya tau, nanti sore jadinya!" sahut Hanifa.
"Oke kita harus rencanain sesuatu untuk menjaga popularitas kita hahaha, kita jangan masuk ke satu unit kita harus menyebar di beberapa unit" kata Nunu.
"Maksudnya kita daftar beda-beda unit gitu? Yaudah aku mau masuk unit Pembelajaran" jawabku.
"Oke aku milih unit Minat, Bakat dan Prestasi kalo gitu" jawab Hanifa.
__ADS_1
"Cocok kalo gitu fa, aku mau MKP juga ah soalnya kalo daftar unit lain gak mungkin diterima deh" sahut Arika.
"Lah aku apa ya? Kayanya aku daftar Sosialiasi Program deh" jawab Nunu.
Setelah kami berempat menyepakati tujuan unit yang kami inginkan masing-masing, aku dan Hanifa pergi keluar sebentar untuk cari makan siang. Sementara Nunu dan Arika menunggu dikosan.
"Fa, apa langkah yang aku ambil untuk pura-pura pacaran sama Gian itu bener ya? Menurut kamu gimana?" tanyaku pada Hanifa.
"Kata aku sih bener juga, tapi ada salahnya juga haha gimana ya? Emang si Gian beneran mau pacaran pura-pura sama kamu? Menurut kamu cowok sedingin dan sebijak Gian mau jadi pacar pura-pura doang tanpa ada tujuan tertentu? Ya aku takutnya sih dia kan antek-antek geng singkong...mungkin kamu ngerti maksud aku tanpa harus aku jelasin" jawab Hanifa sambil memakan coklat kesukaannya.
Di tempat beli makan, ada Gian dan Nirwan. "Yang, kesini ko gak bilang-bilang?" kata Gian. (Hah yang?!! Dia manggil aku yang?!! Ini dia mau acting tapi ko gak ada briefing?!!) Aku melamun sejenak dan akhirnya Hanifa kemudian menyenggol tanganku "Iya aku lapar haha" jawabku. Gian lalu menggeser tempat duduknya dan membiarkan aku duduk disebelahnya. "Kamu harus lebih natural dong" bisik Gian. "Kamu buat aku kaget kalo dadakan bilang "yang" kaya tadi" balasku. "Santay itu baru permulaan" jawabnya.
Nirwan memperhatikan gerak-gerikku dan Gian, akhirnya Nirwan hanya bisa senyam-senyum sendiri. "Lucu ya liat yang baru pacaran! Hahaha" kata Nirwan. Aku merasa kali ini Gian mengambil inisiatif untuk menunjukan statusnya sebagai pacarku, Gian sesekali mengelap tanganku yang kotor saat mencicipi makanannya. "Entah perasaan damai macam apa ini, aku gak canggung sama sekali kalo sama Gian" gumamku.
(Hahahaha.... Apa ini dating? Gian ngajakin aku ngedate?? Purapura juga kaliya?? Soalnya disana ada Nirwan dan beberapa kakak tingkat yang sekelas dengan Andreas juga. Mungkin saja untuk penguatan karakter)
Tak lama kemudian... saat aku dan Hanifa sedang memperhatikan sekitar, aku melihat geng singkong berjalan menuju arah kami. "Na, gawat nih!" bisik Hanifa. "Duh mana belum jadi capcaynya" kataku. Gianpun menyadari kegelisahanku "tenang aja, mereka taunya kita pacaran beneran ko jadi kamu juga harus akting yg bagus depan mereka" bisik Gian. "Gila ya kamu? Disana kan ada Kai? Mana bisa aku nyakitin hati dia?" pikirku.
Kayi terlihat sangat terpukul ketika mendengar kabar bahwa aku dan Gian resmi berpacaran. Kayi selalu menghindari ketika harus bertatap mata langsung denganku."Kayi maaf"....
Beberapa hari kemudian ....
__ADS_1
Aku bertemu Andreas di lobby fakultas, dengan agak sempoyongan aku berjalan karena kondisi kakiku yang terkilir. Masih dalam peran yang sama sebagai pacarnya Gian, aku pura-pura tidak melihatnya. Ketika kami bersebelahan, secepat kilat dia menarik tanganku.
"De, kamu beneran sama Gian? Sejak kapan? Bukannya kamu nulis surat cinta buat aku? Kenapa sekarang tiba-tiba jadian sama Gian?" pertanyaan seperti kereta api patas terus menerus keluar dari mulut Andreas.
Surat cinta yang dimaksud itu, pasti surat cinta yang aku tulis saat puncak kaderisasi. Saat itu aku pingsan dan aku tidak ingat ada dimana surat itu, mungkin teman-teman sekelompokku yang memberikannya pada Andreas, karena melihat nama tujuannya yang tertulis dengan jelas.
"Teruntuk Kamu ....
Kak.. Taukah kamu saat aku menginjakan kakiku di gerbang besar kampus ini, hatiku tidak menentu? Aku takut menghadapi langkah baruku.. Aku takut terjatuh saat menaiki anak tangga baru dalam kehidupanku... Aku enggan menjadi dewasa.. Aku mau seragam putih abuku... Aku mau teman-teman lamaku.. Hingga kakak datang...
Kakak menunjukan arah padaku.. Kakak menyemangatiku dihari pertamaku saat itu..
Kakak ingat? Kakak juga sempat membuatku takut dan kecewa.. Karena kakak berada diantara orang-orang berwajah sangar itu..
Entah apa yang aku pikirkan.. Disaat yang lain segan pada kakak bahkan cenderung takut, aku dan diriku malah tertarik.. Kakak menyimpan khariswa dibalik lipatan-lipatan wajah penuh amarah kakak.. Sampai akhirnya, siapa kakak sebenarnya terungkap...
Kakak dan aku pulang bersama.. Kakak mau berbicara dengan Ayahku.. Ayah yang bahkan sedingin itu, bahkan bilang "syukur deh kamu punya kakak kelas baik kaya dia". Kakak hebat!! Sepertinya ini bukan surat cinta ya.. Lebih kepada surat kagum yang aku buat untuk Kakak... Selamat menjalani hidup selanjutnya kak! Mohon bantuannya!!! Fighting!!!"
-Raina....
Baris demi baris yang tertulis dalam surat itu masih melekat hingga sekarang di pikiranku.. Aku ingat warna kertasnya yang abu, tinta penanya berwarna biru dan amplopnya merah maroon. Semua kuingat sangat jelas. Aku menulisnya untuk Andreas, orang yang membuatku merasakan hal-hal yang aneh dalam hatiku. Selanjutnya? Aku bahkan tidak tahu. Aku hanya ingin Andreas paham maksud perasaan kagumku, itu saja.
__ADS_1
"Ah iya aku sama Gian emang deket dari awal kaderisasi haha, cuman lewat chat doang sih pertamanya ya kesini-kesini makin deket" jawabku. Andreas lalu memalingkan wajahnya sekaligus melepaskan tangannya dari tanganku. "Kakak gimana sama Praya? Kalian beneran jadian?" tanyaku. Lalu Andreas diam beberapa detik, kemudian berbalik badan dan menjawab "iya kita balikan!"....