Kuliah Atau Kuli Ah?

Kuliah Atau Kuli Ah?
Duka dan Suka bersamaan...


__ADS_3

"Nunu sakit kelenjar getah bening, awalnya gue gak tahu. Cuma beberapa hari sebelum dia pulang, dia cari gara-gara terus sama gue. Dia bilang gue terlalu baiklah buat dia, sampe-sampe dia bawa-bawa Raina segala katanya dia gak ada apa-apanya dibanding sama Raina. Sampe akhirnya, malem itu gue ke kosannya dan dia lagi mandi di bawah. Gue lihat hasil pemeriksaan dokter kampus. Gue kaget dan gak percaya. Hari itu dia langsung putusin gue dengan alesan mau fokus ke penyembuhan dan dia juga bilang mau ngajuin cuti setahun" jelas Gian panjang lebar.


Aku, Hanifa dan Arika seketika lemas dan mencoba meraih tangan kami satu sama lain. Hanifa terlihat paling terpukul, dia langsung menangis dan memelukku. Sementara Arika mencoba menahan air matanya yang sudah terkumpul di pelupuk mata itu.


"Lu ko gak ngomong ke gue Gi? Lu simpen sendiri masalah begini?" tanya Nirwan.


"Gue tahu kalian semua lagi sibuk banget, gue takut ngeganggu tempo kalian. Gue takut kalian down dan kepikiran kaya gue. Gue cuma gak mau Nunu juga kecewa karena gue udah ngelanggar janjinya untuk gak cerita soal penyakitnya ke siapapun" jelas Gian.


Hanifa dan Arika masih tidak berkata-kata. Sementara aku mencoba menenangkan diriku dan mencari jalan tengahnya.


Selang beberapa menit, aku berpikir bahwa tidak ada salahnya membiarkan Nunu sendirian seminggu ini. Jika memang dia benar-benar ingin fokus pada proses penyembuhannya.


Sementara kami, setelah seminggu ini kami akan menjenguk Nunu ke rumahnya dan memberikan dukungan serta membuat Nunu bahagia lagi.


"Yaudah, biarin aja Nunu sendiri semingguan ini. Setelah itu kita datengin bareng-bareng ke rumahnya" ajakku.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Malam harinya...


Kak Iyas menjemputku ke kampus, wajahku yang murung dari semenjak memasuki mobilnya hingga kami mulai jalan membuatnya terlihat gusar.


Aku sadar matanya terus menerus melirik ke arahku. Akupun meraih tangan kirinya dan mengelusnya lembut.


"Nunu sakit kelenjar getah bening, dia bohong sama aku dan yang lain. Aku bingung kak, aku khawatir" kataku sambil menahan tangis.


Dia memarkirkan mobilnya ke pinggiran jalan lalu menyampingkan tubuhnya untuk fokus mendengar ceritaku.


"Kamu tahu dari mana sayang?" tanyanya.


"Gian baru cerita ke kita tadi sore, aku ngerasa bersalah kak karena gak bisa nemenin Nunu dan malah gak tau kondisi dia sebenernya kaya apa" jelasku.


Kak Iyas menghela nafas panjang, menarik tubuhku kedalam pelukannya. Membiarkan air mata yang sedari sore kutahan berjatuhan dengan derasnya. Mendengar helaan nafasku yang terpatah-patah dan rambutku yang membasah.


"Pasti susah ya nahan nangis dari tadi?" bisiknya ditelingaku.


"Gapapa, nangis aja dulu. Kamu ada di pelukan aku ko, gak akan ada orang yang tahu kalau kamu nangis"...


Aku sadar perkataan itu adalah hiburan untukku yang memang selalu saja ingin terlihat kuat didepan para sahabatku. Aku tidak mau membiarkan mereka tahu sejatuh apapun dan sesedih apapun aku saat itu. Aku mau menguatkan mereka dan aku tidak boleh menangis.

__ADS_1


Kak Iyas memang serba pas buatku, apapun yang belum terucapkan dari bibirku selalu mampu dia terjemahkan.


"Laper gak? Kita cari makan dulu yuk mau?" tanyanya antusias.


"Aku gak nafsu kak, kita pulang aja yuk?" jawabku.


"Yaah padahal aku sengaja gak makan dari siang biar bisa makan sama kamu barengan. Yaudah deh, kita pulang aja" jelasnya.


Mendengar dia bercerita demikian, aku merasa bersalah karena sudah menolak ajakan makannya. Satu sisi aku tahu, aku lelah dan sedih tapi di sisi lain Kak Iyas tetaplah pacarku yang harus aku pikirkan juga. Melihat usahanya yang mencoba menenangkanku, memelukku dengan pelukan paling hangat serta kesediaannya mengerti pada perilakuku.


"Aku mau maen ke tempat yang jauh, seharian ini aku stress tau mikirin proposal. Kalo kakak mau ngajak makan, aku mau ketempat yang dingin di utara sana" rengekku.


"Oh gitu doang? Okee kita ke Lembang kedepan tangkuban perahu sekalian" jawabnya sambil kembali memacu mobil.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Katamu persahabatan itu tentang selalu ada..


Kataku iya..


Katamu jangan pernah tinggalkan aku...


Kataku iya..


Tapi kamu yang memutuskan pergi...


Jejakmu bahkan kau hapus..


Lewat amarah yang seolah nyata milikmu..


Pada akhirnya, amarah itulah yang menutup lukamu..


Kamu bersembunyi dalam duniamu sendiri...


Tempat yang dulu kau janjikan untuk kita isi bersama..


Kamu lupa bahwa kita terlanjur sealam..


Lantas hendak kemana lagi aku mencarimu?

__ADS_1


Sedang selalu mampu kutemukan kau lewat hatiku..


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sesampainya di warung pinggir jalan tepat di depan pintu masuk ke kawasan Gunung Tangkuban Perahu.


Waktu hampir jam 7 malam..


"Sayang, dingin gak?" tanyanya


"Alah, segini doang mah aku kuat. Kakak kali yang kedinginan?" ejekku.


"Iya makanya sini jangan-jangan jauh-jauh" bujuknya sambil meraih pinggangku.


"Ih didepan umum tahu, masa mesra begitu" keluhku.


"Idih orang sepi begini, disini cuma kita berdua tuh si mamang yang lagi bakar jagung paling tapi dia gak ngeliatin kita juga" rengeknya.


Aku keheranan dengan sifatnya yang tiba-tiba menjadi manja. Dia seperti bayi besar yang memelas kasih sayang malam itu.


Wajahnya selalu tersenyum dan merayu.


"Kakak kenapa sih? Sumringah gitu? Abis dapet lotre ya?" tanyaku.


"Hah? Zaman gini lotre? Norak deh pacarku" gerutunya.


"Terus kenapa tumbenan manja begitu?" tanyaku.


"Sayang, mau gak nikah cepet sama aku? Tiga bulan dari sekarang setelah kamu selesain proposal?" tanyanya mengagetkanku.


"Hah? Nikah cepet? Tiga bulan lagi? Kakak kenapa sih kesurupan apa?" tanyaku.


Dia terlihat menahan nafasnya, menariknya dalam-dalam lalu menghembuskannya. Tangannya sesekali digosok-gosokan tanda bahwa dia memang sangat kedinginan saat itu. Aku terus menerus menatap wajahnya yang hingga beberapa detik tidak merespon pertanyaanku. Hingga akhirnya, aku menarik tangannya dan mencubitnya sekuat tenagaku.


"Ihhh kakak, jawab!!! kenapa aku didiemin?" gerutuku.


"Hmmm... aku kan udah punya rumah udah punya usaha tetap juga terus kamu tinggal PPL kan di sekolah habis itu sambil PPL kamu garap skripsi juga ah tinggal beberapa bulan lagi aja aku yakin kamu bisa beresin kuliah kamu. Mau apalagi coba selain nikah?" jelasnya.


"Aku kan punya cita-cita kakak, aku mau jadi ini jadi itu. Emangnya kakak mau aku cuma jadi Ibu rumah tangga doang yang gak tau apa-apa. Aku masih harus banyak belajar" jawabku.


"Kita belajarnya bareng-bareng, aku belajar kamu juga belajar tapi kan gak harus menunda niat baik aku untuk mensahkan kamu. Aku cuma mau kamu sepenuhnya jadi milik aku. Ayah, Ibu dan dua adik kamu juga jadi keluarga aku seutuhnya. Aku bosen sayang kesepian terus, sendirian terus. Aku mau punya keluarga lengkap" ....


........bersambung,,,

__ADS_1


__ADS_2