Kuliah Atau Kuli Ah?

Kuliah Atau Kuli Ah?
Tentang Raina part 2


__ADS_3

Entah kebetulan atau tidak, topi rimba yang aku pinjamkan pada seorang teman dikelas untuk studi keagamaan ternyata satu kelompok dengan Raina dan topi rimba itu ternyata malah dibawa pulang oleh Raina.


Aku kemudian mencari nomor telepon Raina dan kemudian mengirimkan pesan singkat kepadanya dan yaaa penyakitku aku masih belum bisa akrab meski dalam sebuah pesan saja....


Aku sempat mendengar gosip juga dari Kayi dan Rani kalau Andreas yang mengantarkan Raina pulang karena alasan Raina masih sakit, makanya aku menanyakan lewat pesan pada Raina, tapi Raina membalas pesanku dengan seperlunya hahaha dan yang membuatku agak senang adalah ketika Raina bilang bahwa dia mengingatku..


"Beneran nih Raina inget wajahku?" batinku..


Saat aku dengar Raina hampir pingsan di pos komdis, aku hampir saja nekad mau lihat dia ke aula.


"Jangan Gi udah nanti kita tunggu aja kabar dari kelompoknya! Tenang dikit lah Gi" kata Nirwan menenangkan.


"Kalau sampe Raina drop karena emang kena marah di pos komdis, aku bakal bikin perhitungan nanti pas kita diskusi lintas angkatan" jawabku. "Perhitungan sama komdis? Wah geloo kamu mau cari mati gi? Lagian kayanya Andreas gak mungkin juga kan jahat sama Raina secara Andreas tuh interest sama Raina" kata Rani.


Kayi dan Lintang sih cuma no respon pada obrolan kami karena mungkin mereka memang sangat tidak tertarik dengan sesuatu yang berhubungan dengan trio charming.


.


.


.


Keesokan harinya dikampus...


Aku sengaja datang pagi-pagi sekali untuk memilih posisi duduk yang mungkin juga akan dipilih Raina ketika masuk kelas nanti, aku sampai hafal posisi favorit Raina saat belajar dikelas termasuk dengan kedua sahabatnya.


Kadang mereka bertiga akan duduk di barisan depan ketika mata kuliah Desa dan Kota karena dosennya baik dan ngakak, sementara mereka akan duduk di barisan tengah jika mendapat dosen perempuan karena mereka selalu dikira mahasiswa ngeksis yang cuma menang tampang doang.


Menurutku sendiri, mereka bertiga adalah sosok yang mempunyai keunikan masing-masing. Ketiganya punya keahlian dalam salah satu mata kuliah dan setahuku yang paling banyak keahlian adalah Raina. Raina hampir pintar dalam semua mata pelajaran...


Yessss!!!! Akhirnya Raina duduk tepat di sebelahku, kami sempat ngobrol sebentar tentang topi rimba itu dan lagi-lagi aku tidak bisa membuat diriku lebih akrab dengan Raina.. Raina sangat suka tersenyum dan aku juga suka melihatnya..


Raina mencuci topi rimbaku Hahaha... Kayanya setelah ini topi itu gak bakal aku pakai lagi dan bakal aku pajang di kosanku. "Lumayan lah ada kenang-kenangannya sama Raina"


Hari-hari berlalu dan aku makin sibuk dengan tugas-tugas mata kuliah yang semakin banyak dan sulit. Sesekali aku dan Nirwan suka gabung dengan trio charming ketika tidak sengaja makan siang di kantin kampus.


Perhatianku cuma pada Raina yang semakim hari semakin membuka dirinya dengan orang baru.


"Gian, Raina nginep di kosan Rara tuh keluar gih siapa tau ketemu" kata Nirwan saat aku dan yang lain menginap di kosan Fariz sebelum berangkat ke acara puncak kaderisasi.


Akupun pamit keluar sebentar untuk cari angin, aku sih yakin kali ini aku gak akan ketemu sama Raina karena waktu sudah hampir tengah malam. "Raina pasti udah tidur kaliya?" pikirku.


Akupun memutuskan untuk cari angin sampai ke depan gang yang bersimpangan dengan kosan Rara. "Eh itu kan Raina!!! Malem-malem gini mau kemana sendirian? Apa aku ikutin aja ya? Takutnya ada apa-apa" pikirku. Tanpa pikir panjang, aku langsung berjalan cepat dan motong jalan supaya didepan bisa ketemu Raina dan yaa akhirnya kami papasan.


"Aku mau beli martabak gi! Hehe kamu mau beli apa?" tanyanya. (Ahhh sial aku kan udah makan tadi tapi kalau aku bilang cuma cari angin ntar dia aneh lagi masa malem-malem cari angin sendirian di gang sepi begini)


"Beli nasgor na" jawabku.


Kamipun berjalan bersama menuju tempat dimana tukang martabak dan nasgor mangkal. Aku sebenarnya sudah kenyang, tapi kalau aku pesen nasi gorengnya dibungkus pasti pesananku jadinya akan lebih cepat dari Raina karena antrian di tukang martabak lebih banyak dibanding tukang nasgor yang kosong, maka dari itu pada akhirnya aku memutuskan untuk makan nasi goreng di tempatnya.

__ADS_1


"Yaudahlah kapan lagi bisa nungguin Raina gini lagian kalo aku alesan nungguin dia takutnya dia risih nanti, aku harus lebih hati-hati ngambil langkah nih" pikirku.


"Aku mau makan disini Na soalnya kalo dibawa ke kosan Fariz nanti pada mau hehe" kataku.


"Oh yaudah nanti kita bisa bareng kayanya kalo kamu udah beres makan hehe soalnya aku juga agak serem jalan sendiri kesitu" jawabnya. (It's okay Rainaaaa aku tunggu)...


..


.


Hari itu meskipun suasana hatiku sempat hancur karena pembatalan keberangkatan acara yang diskenario oleh Kakak tingkat terutama Komdis, aku masih merasa malam itu adalah penawarnya karena aku bisa sedekat itu dengan Raina meski kadang aku tidak tahu harus menatap kearah mana saat mengobrol dengannya sehingga seringkali mungkin mataku juling.


"Raina.... aku belum tau pasti perasaan aku sama kamu ini namanya apa tapi yang aku tau kamu selalu jadi alesan aku semangat tiap harinya"...


Hari pertama kaderisasi puncak di bukit X...


Tenda kelompokku sudah selesai didirikan, Nirwan juga sudah agak santai dan duduk-duduk sambil minum dengan Kayi. Dari tendaku, aku bisa lihat kalau Joko dan Putra agak kesulitan mendirikan tenda untuk anggota kelompok perempuan mereka.


Aku awalnya gak tahu kalau mereka adalah kelompok Raina sampai akhirnya aku jalan dengan niat bantu mereka. Aku lihat muka Raina udah gak karuan, penuh debu dan lusu sekali.


"Na lagi apa itu muka ko kusut banget?" tanyaku. "Iyanih tendanya gak jadi-jadi mana aku harus masak lagi kan" jawabnya.


"Yaudah aku bantuin tapi nanti aku mau makan masakan kamu ya" kataku.


Raina mengiyakan permintaanku dan diapun langsung menyiapkan peralatan memasaknya, sementara aku membantu Putra dan Joko hingga tendanya bisa didirikan.


Ketika tenda kelompok Raina berhasil berdiri, Kayi memanggilku "Gian hayu makan itu udah jadi" katanya sambil menarik tanganku.


.


.


.


Beberapa puluh menit kemudian...


Presentasi jurnal perjalanan dimulai, sayangnya bukan Raina yang mewakili kelompoknya untuk presentasi tapi malah Joko.


Beruntungnya saat itu aku duduk bersebelahan dengan kelompok Raina dan Nirwan dengan baik hati langsung memberi posisi duduk yang enak, yaa posisi tepat disebelah Raina yang awalnya posisi itu diduduki oleh Nirwan.


"Gi geser sini biar saya yang kebelakang!" kata Nirwan.


Akupun langsumg mengerti kode etik yang diberikan Nirwan. Raina sudah agak segar sekarang, mungkin karena Raina sudah bersih-bersih dan senyumnya juga sudah


kembali.


"Yan kamu udah makan? Katanya tadi mau makan masakan aku?" tanyanya.


"Eh iya duh aku lupa nexttime deh kamu harus nganterin masakan kamu ke tendaku ya"

__ADS_1


jawabnya.


Aku dan Raina pun saling cerita satu sama lain, kata Raina dia lumayan suka pemandangan disini ditambah dengan udaranya yang sejuk dan jejeran pohon pinus yang bisa jadi inspirasi melukisnya.


Selama obrolan kami, Raina terus melirik ke belakang seperti ada orang yang memerhatikan kami. "Ah Kayi" batinku.


Kayi pasti nyangka yang tidak-tidak dan Raina bakal jadi headline gossip lagi nanti...


Raina sempat menanyakan hubunganku yang menurutnya dekat dengan Kayi, tapi aku malah tidak bisa jawab jujur dan cuma tersenyum saja karena aku juga tidak tahu harus menjawab seperti apa...


Andreas yang saat itu juga ada didepan kami sepertinya agak kurang nyaman melihatku dan Raina mengobrol. "Sorry Ka tapi Raina masih belum jadi milik elu" pikirku.


Hari itu aku bisa lihat kalau Andreas menyimpan rahasia dimatanya ketika Andreas bertemu tatap dengan Raina, sepertinya Raina sedang mencoba jaga jarak dengan Andreas.


"Baguslah mudah-mudahan sih Andreas nyerah lagian Raina kebagusan buat Andreas yang songong begitu" kata Nirwan.


"Terus Raina cocoknya sama siapa wan?" tanyaku.


"Sama elu cocok kayanya lu kan tegas tapi penyayang" jawabnya.


"Haha sa ae" sahutku.


Entah kenapa obrolan semalam dengan Nirwan agak membuat harapanku muncul, aku pikir mungkin aku bisa mendekati Raina perlahan-lahan dan membuat Raina suka padaku. "Aku pikir mungkin".....


Malam itu juga untuk pertama kalinya aku mendengar Raina bernyanyi di pentas api unggun, sebuah lagu dari OST. Petualangan Sherina yang membuatku hampir saja tidak bisa berkedip, meski suara Raina terdengar agak serak karena kelelahan tapi terdengar sangat murni dan tulus...


"Wah kelompoknya Raina bagus ya pentasnya keliatan banget dikonsep sampe nampilin drama kaderisasi juga haha" kata Nirwan.


"Apasih nyanyi- nyanyi doang mah semua orang bisa kali" sahut Rani.


"Iya kalo nyanyi semua pasti bisa tapi enak apa nggak nya didenger itu yang jadi masalahnya" kataku.


"Habis ini pasti Andreas tancap gas nih buat dapetin Raina, tuh liat aja muka Andreas dari tadi bangga banget lihat Raina nyanyi kaya dia aja yang ngajarin" kata Nirwan.


"Iya tuh Ran kayanya kamu ketinggalan langkah jauh banget dalam usaha berburu" kata Lintang.


"Berburu apaan tang?" tanya Kayi.


"Berburu hati Andreas" jawab Lintang sambil tertawa....


Pikiranku tiba-tiba melayang, memikirkan bagaimana jadinya kalau suatu saat Andreas dan Raina jadian...


"Meski nanti setelah ini Andreas mungkin akan terus usaha ngejar kamu, tapi aku akan berusaha jadi sahabat baru yang baik buat kamu meskipun aku nanti gak bisa jujur sama perasaanku ke kamu tapi setidaknya aku bisa jagain kamu dari deket"....


.


.


..

__ADS_1


(Hai.... Makasih loh yang sudah baca sampai episode ini๐Ÿ˜๐Ÿค— setelah ini giliran Raina lagi yang mencurahkan ceritanya tentunya masih tentang Andreas dan Gian... Kira-kira Raina pilih siapa ya? Apa Raina belum bisa membaca perasaan keduanya???.....)


__ADS_2