Kuliah Atau Kuli Ah?

Kuliah Atau Kuli Ah?
SHOWTIME!


__ADS_3

Gimana kabarnya readersku???


Semoga kalian selalu sehat ya! Jangan lupa jaga kesehatan dan selalu jaga kebersihan juga:)


Karena author juga udah mulai #workfromhome jadi kayanya bakal sering nulis deh.


Mudah-mudahan bisa sering up ya, kalian juga jangan lupa support karya-karya thor ya. Jangan lupa likenya ratenya:)


Selamat membaca.....


---------------------------------------------


🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤


---------------------------------------------


Sesampainya dirumah....


"Teh, gimana Andreas keadaannya?" tanya Ayah.


"Baik ko yah, jidatnya luka sama lecet-lecet dikit cuma gak serius" jawabku.


"Syukur deh, yaudah kamu istirahat aja besok kuliah kan?" tanya Ayah.


"Iya, bentar deh yah aku mau nanya. Sebenernya aku lagi kepikiran judul PKM, Ayah inget gak sih waktu kasih saran judul yang buat tahap 1 itu nah kita lulus yah terus habis ini suruh buat lagi beda judul" jelasku.


"Oya? dulu Ayah seneng loh kalau ngerjain PKM. Kenapa kamu gak nanya Andreas? dia kan lebih pengalaman dari Ayah, terakhir Ayah ngobrol sama dia juga dia bilang udah 10 judul dia yang lulus dan didanain" jelas Ayah.


"Yakali, aku kan kesana buat rawat dia terus buat liburan sedetik bukan buat mikirin tugas apalagi PKM. Cuma pas liat muka Ayah langsung kepikiran deh" jawabku.


"Yaudah Ayah pikirin dulu, nanti kalau udah ada ide kita diskusi lagi. Sekarang istirahat gih, makan dulu Ibu udah masak tuh" kata Ayah.


"Iya yah, makasih ya pokoknya teteh tunggu" jawabku.


Aku langsung kepikiran judul PKM karena melihat postingan Kayi, dia bilang libur produktif dan di foto yang dia upload sepertinya dia sedang menghabiskan waktu di Perpustakaan kampus untuk mengebut pengerjaan PKMnya.


Bukan apa-apa, secara pribadi aku ingin membuktikan pada Kayi kalau aku bukan cuma modal tampang dan modal koneksi saja. Aku juga bisa menjadi lebih baik.


Malam Harinya....


Ponselku ramai, bunyi notifikasi dari roomchat sepertinya...


Nunu : Guys, banyak DM masuk nih nanya stok katanya dia perlu buat souvenir seminar. Dia anak Fakultas Bahasa.. Gimana dong?


Hanifa : Tanya nu dia butuh berapa dan untuk kapan gitu...


Nunu : Ok..


Raina : Nu, stok kita tinggal 3. Produksi yang kemarin juga belum beres, masih tahap jahit kata orang pabriknya.


Arika : Iya barusan gue telpon orang pabrik juga bilangnya gitu, mereka lagi banyak orderan juga dari anak kampus sebelah.


Nunu : Anak bahasa ini butuh 150-220 pcs tergantung pendaftar seminarnya berapa. Lu pada mau tau gak nanti seminar siapa bintang tamunya?


Hanifa : Banyak banget nu, mereka kirim desain sendiri apa gimana? Siapa emang?


Nunu : Dewi Dee penulis terkenal itu... katanya sih desain logo mereka doang sederhana lah, cuma mereka minta satu warna. Gimana dong?


Raina : Demi apa Dee bintang tamunya? Nu, bilang aja bisa kalau sewarna dan desainnya cuma logo doang mah. Paling deal-dealan harga dulu deh persatunya berapa...


Arika : Ukuran normal kan Nu? pasang harga sesuai bahan sih, kalau doi minta canvas yg tebal ukuran standart mentokin satunya 20rb aja. Kalau kecil 15rb terus kalau tambah desain 2rb-3rb persatunya.


Hanifa : Nah iya nu bener, lu atur dah!


Nunu : Oke, paling Raina tolong ya rinci biaya produksi sama itung-itungannya. Ntar gue kabarin disini kalau udah fix okee


---------------------------------------------


🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤


---------------------------------------------


Aku salut sekaligus kasihan pada ketiga sahabatku, bukannya beristirahat tapi mereka harus langsung bekerja untuk memenuhi pesanan.


Bisa kubayangkan, saat ini pasti Hanifa sedang mencari referensi gambar untuk produksi minggu depan, belum yang pre-order dan minta dibuatkan editan dari foto pemesan. Arika mungkin sedang menelpon orang pabrik dan menanyakan ketersediaan bahan untuk kami dan melobby orang pabrik untuk memenuhi kebutuhan pesanan kami terlebih dahulu. Nunu dengan gencarnya, membalas DM yang masuk dari para calon pembeli. Sementara aku, menuliskan biaya, mencari referensi desain untuk pouch dan hitung-hitungannya kalau-kalau si calon pembeli meminta potongan atau menego harga.


Tak lama kemudian, Nunu mengabari kembali.


"Guys, sorry ganggu hahaha parah lu pada kagak login pake akun olshop kita ya? gue mulu perasaan yang online haha. Si anak bahasa itu, udah berani nge'dp tapi dia minta awal bulan depan. Gue bingung deh mau jawab apa hahaha, 200 pcs itu bukan jumlah sedikit. Kita pasti kudu begadang buat finishing dan packing. Soalnya dia berani naik harga kalau kita sanggup menuhin permintaan dia ya karna katanya dia tau kualitas kita bagus"


Membaca chat Nunu membuatku berada di dua ambang pintu, satu pintu menuju ke tumpukan uang-uang hasil keuntungan kita. Sementara pintu lainnya berisi PKM, BEM, tugas, praktikum dan lain-lainnya.


"Kita kaya gamling gak sih? Banyak banget jobdesk buat bulan depan. Tapi yaudah gini aja deh, terima Nu bilang kita sanggup gitu. Urusan bahan udah ada, pabrik juga udah sanggup asal dp masuk dulu katanya. Terus kita bagi 2 tim, satu tim 2 orang. Tim 1 buat produksi biasa untuk bazzar dan eceran, terus tim 2 buat ngelayanin khusus si anak bahasa itu" jelas Hanifa.


"Iya setuju sih, biar lebih efektif ya kerjanya? Yaudah gue sama Raina deh soalnya gue butuh Raina buat lobby dan itung-itungannya. Lu sama Arika kan lebih pengalaman buat handle bazzar. Gimana?" kata Nunu.


"Oke setuju. Deal ya? rik rain kalian gimana? tanya Hanifa.


"Setuju!!!" jawabku.


"Setuju!!!" jawab Arika.


"Oke besok kita obrolin di kampus, jangan lupa wey besok kita kuis Geografi lingkungan hahaha semangat!!!!" tulis Hanifa.

__ADS_1


-------------------------------------


*********************************


--------------------------------------


Keesokan harinya di kampus...


Kuis yang dilaksanakan hari ini adalah gabungan kelas A dan B, jadi kami berkumpul di aula fakultas sambil menunggu dosen datang, kamipun membahas topik 'panas' yang dibawa oleh Nirwan.


"Pada tau gak kalian, kemarin kan pencairan dana PKM tuh sekelompok kan dikasih 750rb buat dibagi rata kan harusnya tapi si Rani ngambil uang itu buat dia sendiri" kata Nirwan.


"Lah bukannya dia setim sama Kayi? masa si Kayi gak dikasih?" tanya Hanifa.


"Iya si Rani gak kasih si Kayi katanya si Kayi gak ikut kerja dan gak bener kerja buat judul yang ini" jawab Nirwan.


"Parahlah, tetep aja kan itu kerjaan tim gimanapun harus dibagi rata lah. Kasihan si Kayi dong, uang segitu kan lumayan buat bayar-bayar praktikum" kata Arika.


"Parah emang si Rani, masa dia bisa gitu sih sama sahabatnya sendiri?" kata Nirwan.


Semua teman-teman seangkatanku, berpendapat buruk tentang Rani dan Kayi. Kebanyakan dari mereka juga heran, kenapa bisa Rani dan Kayi berselisih paham dan saling menjatuhkan satu sama lain seperti sekarang.


"Pada ngomongin apa sih? rame banget?" tanya Nunu yang baru saja datang.


"Euh telat lu, gak ada siaran ulang Nu. Dari mana sih lu?" tanya Arika.


"Sorry gue abis beli sarapan tadi di kosan pada gak jualan, eh Gian ini buat kamu satu" jelas Nunu.


"Ciyeeee dibawain sarapan ciyeeee" kata teman-teman yang lain meledek mereka berdua.


Aku, Hanifa dan Arikapun hanya tertawa melihat tingkah laku Nunu yang berbanding terbalik dengan kebiasaannya yang berantakan dan agak pemalas menjadi perhatian dan manis.


Melihat Gian yang semakin hari semakin memperhatikan Nunu, membuatku merasa bersalah. Aku belum bisa membantu Gian untuk merencanakan pernyataan rasanya ke Nunu.


Beberapa menit kemudian Kayi datang ke kelas dan duduk di barisan paling belakang.


"Eh aneh gak sih tu si Kayi, biasanya juga suka duduk depan dosen banget" bisik Nunu.


"Gak tau nu haha dia gak belajar kali, jadi takut gagal kalau duduk didepan" jawabku.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Setelah kuis selesai, aku dan Hanifa harus berpisah dengan Nunu dan Arika yang langsung melanjutkan kelas mereka berikutnya.


"Rain, makan yu laper?" ajak Hanifa.


"Yu, di koperasi ah aku lagi mau makan pecel" kataku.


Kamipun pergi ke koperasi mahasiswa. Beruntungnya suasana masih sepi dan belum ada antrian yang mengular seperti kondisi biasanya.


"Eh itu bukannya si Fasya ya? temen kamu itu?" bisik Hanifa sesaat sebelum kami memasuki koperasi.


"Iya Fa, udah ah kita pura-pura gak liat aja. Kalau dia manggil baru kita jawab" kataku.


"Iya, tapi nanti kalau sampe dia liat kamu terus duduk sebelah kamu biarin ya aku tes dia" katanya.


"Tes apa?" tanyaku.


"Kita buktiin, dia itu ke kamu ngeceng apa gimana... Dia belum tahu kan kamu punya pacar?" tanya Hanifa.


"Belum kayanya, soalnya aku juga gak majang foto berdua sama Andreas di sosmedku" jawabku.


"Oke, liat aja nanti aku bakal mancing dia" katanya.


Setelah mengambil makanan dan membayarnya, aku dan Hanifa memilih duduk di pojokan luar sebelah minimarket.


"Dia liat kita dong, coba ya dia nyamperin kita atau nggak" bisik Hanifa.


"Rain, dia nyamperin kesini"


"Rain udah deket tuh, kamu kaya biasa lagi aja ya"


Tak lama, Fasya memang datang dan duduk disebelahku.


"Raina, Hanifa? sepagi ini udah di kopma aja?" tanyanya.


(kopma\=koperasi mahasiswa)


"Eh iya sya, tadi abis ada kuis pagi-pagi" jawabku


"Hmm, habis ini ada kelas?" tanyanya.


"Nggak ada sih, paling nanti jam 11 kurang baru ada kelas lagi" jawabku.


"Oh, ada acara gak? kalau nggak kita ke bazzar anak Teknik yu? katanya rame banyak standnya" ajaknya.


"Oh teknik bazzarnya hari ini? aku sempet liat bannernya kemarin-kemarin tapi gak tau kalau bazzarnya hari ini" jelas Hanifa.


"Iya fa, gabung yu?" ajaknya lagi.


"Eh rain bukannya kamu ada janji mau ngajarin si Erik bikin peta DAS kan?" tanya Hanifa sambil menyenggol kakiku dibawah meja.

__ADS_1


"Hah? oh iya si Erikitu kan? yang semalem nelpon ya? yaah maaf sya lain kali deh ya" jawabku.


"Oh iya gak papa nexttime aja, Erik siapa Rain?" tanyanya.


"Erik itu adik tingkat yang ngirimin Raina surat cinta, dia fansnya Raina hahaha cakep loh sya. Kamu aja cowok bisa suka sama dia. Putih, bersih,rapi dan ganteng lagi" jawab Hanifa.


"Tapi masa iya kalian suka brondong?" tanya Fasya.


"Suka aja kita mah, asal enak diliat dan enak diajak jalan. Iya kan Rain?" tanya Hanifa padaku.


"Hmm iya bener iya gitu" jawabku agak kebingungan.


Mungkin ini kali ya yang dimaksud pancingan oleh Hanifa tadi. Dia mau memancing Fasya bereaksi saat kami membicarakan laki-laki.


"Yaudah deh, aku duluan ya Rain?" kata Fasya.


Setelah Fasya pergi, Hanifa langsung bereaksi dan dengan yakinnya berkata "Tuhkan, dia tuh beneran ngincer kamu. Masa iya dia tadi langsung murung pas aku ngomongin Erik"...


"Bentar deh fa, emangnya bener ya si Erik minta diajarin bikin peta?" tanyaku.


"Gaklah, bohongan doang itu mah Rain.... Kamu harus jaga jarak ah sama Fasya, takutnya dia berharap lebih ke kamu kan kasian" jelasnya.


"Iya, kemarin juga Andreas nasihatinnya gitu jangan sampe berduaan lah jangan mau diajak mainlah" kataku.


"Iya hahaha pastilah dia takut kamu berpaling. Padahal si Fasya lumayan juga, anak MIPA kan cantik-cantik ya rain? tapi kenapa dia jauh-jauh ngeceng ke fakultas kita?" tanya Hanifa..


"Gatau ah, gak usah dipikirin" jawabku.


........................................................


.........................................................


Setelah hari yang melelahkan selesai....


"Kita ke kosan Nunu ya sebentar, buat ngobrolin orderan?" ajak Hanifa.


"Iya boleh oyaa ada orderan pouch juga buat seminar anak fakultas kita, anak sejarah kayanya soalnya nama acaranya histoRIA" jelas Arika.


"Buseet pesenan lagi? berapa ka?" tanya Nunu.


"Temen gue sih itu, dia baru wa gue tadi pagi katanya buat acara tanggal 14 bulan depan butuh 300 pcs sama juga buat souvenir seminar" jelas Arika.


"Musim angkatan baru gini, bazzarlah seminarlah gatheringlah banyak banget ya perasaan?" kataku.


"Iya, kesempatan buat kita majuin barang kita soalnya kita kan udah punya merk sendiri" jawab Hanifa.


"Rain, nanti tolong rekap ya pesanan yang masuk soalnya kalau bukan sama kamu hasilnya pasti gak akurat hahaha" kata Arika.


"Iya nanti aku yang rekap deh" jawabku.


Betapa melelahkannya hari ini dengan segala kejutan yang terjadi didalamnya...


Dimulai dengan kuis, kasus Kayi dan Rani, orderan yang bertambah banyak dan belum lagi hari ini aku belum membalas chat Andreas sekalipun.


Dia pasti khawatir...


"Nanti ajalah dirumah aku telpon dia, kalau chat juga kasihan dia masih kerja" pikirku..


##############################


##############################


Sesampainya dirumah....


"Kamu kemana aja? seharian ini gak chat aku, aku telpon gak diangkat. Aku chat gak dibales"


"Maaf, aku gak megang hape seharian tadi. Kak, tadi pagi aku kuis terus aku dapet orderan tas sama pouch banyak banget buat seminar anak fakultas lain. Pokoknya sehariam tadi aku sibuk banget"


"Ya syukur deh, kalau kamu produktif. Tapi jangan lupa ya jaga pola makan jangan telat, kalau capek istirahat. Oya, katanya dana PKM udah cair ya? kamu lulus kan? harus bikin judul lagi dong?"


"Iya itu dia, yang buat aku tambah kleyengan"


"Coba cari topik yang lagi happening terus kamu kerucutin deh, misal kan lagi zamannya taman kemarin nah buktinya PKM kamu tentang taman lulus kan?"


"Iya, nanti aku cari referensi dulu deh sambil baca-baca berita. Kakak gimana udah gak pusing kan?"


"Pusing tambah pusing malah"


"Eh kenapa? ke dokter lagi aja"


"Pusing mikirin kemaren malem"


"Ih, apaansih? aku serius juga..


"Aku juga serius, aku minta maaf kalau gak sopan... serius deh aku kepikiran terus"


"Aku juga kepikiran, jantung kaya mau copot ya? detaknya cepet banget"


"Iya bener ko, kedengeran banget.. Kamu juga segitu tegangnya ya?"


"Sebel ih masa iya? Iyasih aku tegang gak tau deh kenapa"


"Iya maksud kamu jantung aku kan yang kedengeran detaknya kenceng banget?"

__ADS_1


Dalam hati aku cuma bilang "Maksud aku, detak jantung aku yang cepet. Tapi dia malah ngaku sendiri kalau detak jantung dia juga cepet. Lucunyaaa"


"Yaudah, besok kabarin aku ya? seenggaknya sekali dua harilah.. Biar aku tau kamu ngapain aja"


__ADS_2