Kuliah Atau Kuli Ah?

Kuliah Atau Kuli Ah?
Rumit


__ADS_3

Nunu dan Arika terlihat sudah selesai berbelanja, mereka langsung kaget mendengar ceritaku tentang kejadian terpeleset bodoh tadi. Nunu malah tak kuat menahan tawanya.


"Hahaha semanget banget ya na kalau urusan happypos?" ledeknya.


Tak lama Gian datang dan membawa dua kantong besar berisi barang-barang belanjaan.


"Ini belanjaan kamu!" katanya sambil meletakan satu kantong disebelah kakiku.


"Gi, disini juga belanjanya?" tanya Arika.


"Ya kebetulan aja sih tadi habis dari rumah Nirwan jadi diajak belanja kesini buat lusa" jawab Gian.


"Eh berapa ini? mana struknya?" tanyaku.


"Ada didalem kreseknya udahlah nanti aja gantinya" jawab Gian.


"Eh Gi mau ikut kita gak? kita mau ke Pak Ibun terus mau cari makan? sekalian gih ajak Nirwan?" kata Hanifa dengan ramahnya.


Hanifa bukannya belum tahu, tentang kekhawatiran Kak Andreas terhadap Gian dan aku. Tapi, menurut Hanifa dalam kasus ini Gian bukan yang seharusnya disalahkan. Toh yang membesar-besarkan gosipnya kan Rani dan Kayi beserta antek-anteknya yang tidak menyukai keberadaanku dan Hanuka.


Aku selalu paham, mengapa para sahabatku ini mampu membuatku nyaman karena mereka memang tidak pilih-pilih orang. Dari luar memang terlihat seperti sombong, sulit diajak bicara dan individualis tapi kalau sudah kenal baik maka orang akan tahu bagaimana karakter asli mereka bertiga.


Hanifa selalu menjadi penengah, pernah suatu ketika lembar tugas pemetaan DASku hilang dalam berkas kelas yang hari itu harus segera diserahkan pada dosen. Hanifa yang turun tangan dan mengancam Rani, katanya "Salah Raina kalau dia banyak yang suka? salah Raina kalau dia disukain sama Kak Andreas? apa salah diri kamu yang posesif dan terlalu atraktif?".


Aku ingat dengan jelas perkataan Hanifa saat itu, untuk pertama kalinya aku lihat ada kemarahan di matanya. Sementara Nunu dengan semangatnya malah menceritakan kejadian itu ke telinga kak Andreas. Sampai-sampai kak Andreas menelponku saat itu juga dan entah apa yang dia katakan pada Rani dan Kayi hingga akhirnya lembar petaku ditemukan kembali.


Aku berfikir Rani dan Kayi sangat kekanak-kanakan, mereka memukul rata pandangan terhadap semua orang. Mereka berfikir bahwa setiap orang yang ada diluar kumpulan mereka tidak boleh terlalu mencolok sehingga mengalahkan popularitas mereka.

__ADS_1


Di sisi lain, aku juga merasa kasihan karena cinta Kayi yang bertepuk sebelah tangan pada Gian. Gian terang-terangan menolak Kayi. Beruntunglah Gian tidak membawa-bawa namaku, seperti yang Kayi dan Rani gosipkan selama ini.


"Berhenti berbicara yang bukan-bukan, perasaan saya milik saya dan pilihan ada di tangan saya. Bahkan siapapun itu tidak berhak menentukan" begitulah status yang sempat diposting Gian tak lama setelah gosip tentang kami berdua beredar.


Hanifa adalah orang pertama yang mengirimkan 'capture' itu kepadaku. Aku cuma berharap bahwa Gian tidak akan merasa terbebani dengan semua kejadian ini, dan beruntungnya setelah beberapa hari berlalu Gian tidak menjaga jaraknya denganku. Gian masih seperti biasanya.


Entah bagaimanapun perasaan Gian terhadapku sekarang, aku tidak peduli. Aku hanya tidak mau mencari musuh dan menambah masalah bagi siapapun.


"Nirwan!" teriak Nunu sambil melambaikan tangannya kearah Nirwan yang terlihat sedang kebingungan mencari Gian.


"Lah, de gengs lagi kumpul semua nih?" tanya Nirwan pada kami.


"Hooh belanja" jawab Nunu.


"Yaudah, kita berangkat yu? wan mau ikut kagak? cari makan sama nganterin Raina pijit?" tanya Hanifa.


"Terserah lu" jawab Gian.


"Elah serah lu serah lu mulu serah gue sekarang ayo ikut" teriak Nunu sambil berjalan pergi.


Hanuka sepertinya lupa kalau aku cedera kaki, mereka malah berjalan duluan dan hanya membawa tas belanjaku.


"Ayo berdiri" kata Gian sambil mengulurkan tangannya.


Akupun menyambut tangan Gian dan berusaha keras untuk berdiri. Nirwan dengan sigap membantu Gian membawakan belanjaannya.


"Cewek kalau udah belanja lupa diri ya?" gumamnya sambil membantuku berjalan.

__ADS_1


Nirwan dan Gian memutuskan untuk ikut ke mobil Hanifa, sementara motornya mereka titipkan di parkiran kampus.


Aku sempat takut, akan ada Rani atau Kayi yang melihat Gian membantuku saat itu. Maklumlah letak mall nya kan dekat dengan kost-kostan mahasiswa.


"Sorry ya na haha aku bahkan lupa kamu sakit kaki malah langsung jalan aja haha" kata Hanifa sambil mengendarai mobilnya.


"Iya gapapa haha tadi aku nyusahin Gian lagi aja" jawabku sambil melirik kearah Gian.


Entah kenapa saat itu kurasa wajah Gian sangat tidak bersemangat, senyumnya hanya terlihat di ujung bibirnya saja seolah tertahan oleh sesuatu yang tidak tahu apa namanya.


"Gi, hmm btw boleh request gak sih?" tanya Hanifa.


"Request apaan?" tanya Gian.


"Lu kan ketua kulap nanti, lu bisa kali kasih gue sama raina satu kelompok buat lokasi kajian biar kita satu jeep juga" jelas Hanifa.


"Iya gi, gue juga ya gue sama Nunu satuin plisss" tambah Arika.


"Hahaha tuh gi dapet banyak request kan lu" ledek Nirwan sambil menyikut tangan Agi.


"Iya-iya lagian gue juga mikir lagi, kalian kan pasti butuh temen deket biar bisa kerja bener di lokasi kajian nanti jadi gue bakalan ngelompokin kalian dengan seadil-adilnya" jawab Gian.


"Kapan kamu mau ngasih tau di grup?" tanyaku pada Gian


"Kata kamu bagusnya kapan?" tanya Gian balik.


"Ya sekarang juga bagus, biar kita ada persiapan dan bisa kumpulan dulu besok" saranku.

__ADS_1


"Oke aku share sekaranglah" jawab Gian sambil langsung mengambil ponsel di sakunya.


__ADS_2