
Tanpa disangka, aku lulus seleksi dan tinggal menunggu waktu untuk mengikuti karantina selama satu bulan.
Tenang saja, karantina yang dimaksud bukan kewajiban untuk menginap disatu tempat dan diberikan banyak sekali pelatihan.
Karantina ini hanya berlaku di akhir pekan saat kami tidak ada perkuliahan, yaitu hari sabtu dan minggu. Kami akan dikumpulkan dalam satu tempat untuk mendapatkan pembekalan.
Bukan karantina sih, lebih tepatnya kegiatan akhir pekan.
Saat aku melihat jadwal kegiatan untuk 50 besar nanti, rasanya aku sudah menyerah duluan. Kegiatan dimulai dari pukul 7 pagi hingga 5 sore. 2 kali setiap minggunya dalam satu bulan.
...
..........
...................
Keesokan paginya, saat Andreas menjemputku dan hendak mengantarkanku ke kampus.
"Hmmm, mau nyerah aja:( nanti aku gak bisa main sama kakak kalau weekend" keluhku pada Andreas.
Dia memelukku dan bilang "ini baru dimulai loh, kamu gak bisa nyerah terlalu cepet gitu dong! Lagian kalau weekend kamu ada kegiatan, kita berarti harus ketemu tiap hari buat ngeganti dua hari kita yang gagal".
"Tapi emang kakak bisa jemput aku tiap hari? Kakak juga pasti punya kegiatan sendiri kan? Belum kakak juga pasti cape" kataku.
"Aku usahain ya, sebisa mungkin kita harus saling ngerti satu sama lain. Kamu sibuk juga di hal yang positif kan? Lagian kalau kamu menang aku juga pasti bangga dan ikut terkenal. "Wey andreas pacarnya duta kampus" hahaha bener kan?" ledeknya.
"Hmm baru lulus 50 besar aja udah sok ngomongin juara, kakak tau gak sih saingan aku tuh gila cantik-cantik dan ganteng-ganteng banget" kataku.
"Terus? Nih yah, duta kampus itu kan bukan dilihat dari tampang doang. Lebih dari itu diliat wawasan,pengetahuan, bakat dan kemampuan. Kamu asah disitu kalau wajah juga kamu gak kalah menarik dari mereka. Hidung kamu lumayan lah mancung, tinggi badan kamu untuk ukuran cewek standart ko ya termasuk tinggilah, wajah kamu indonesia banget cantik indonesia gitu cantik sundalah" jelasnya seperti orang lagi nge rap.
"Apasih itu tadi pujian sekaligus kritik kan?" teriakku.
"Dih itu pujian dari kaca mata laki-laki" jawabnya.
"Oya ka, gimana keadaan Ibu? Kemarin pas kakak pulang, Ibu nanyain aku gak?" tanyaku.
Andreas terlihat suram dan raut wajahnya seketika berubah. Dia sepertinya sedih.
"Hmm, Ibu diabetes dan katanya sebulan ini bener-bener mengurangi konsumsi gula. Eh malah gula darah rendah" jelasnya.
"Ibu nanyain kamu, terus-terusan. Kata Ibu kamu harus dibawa ke Palembang, nanti kalau Ibu udah sembuh. Dia mau bawa kamu keliling" katanya.
"Sejak kapan Ibu didiagnosa kena diabetes? Kakak kenapa baru cerita sama aku sekarang?" tanyaku.
"Udah dari 2 bulan yang lalu, aku juga baru tau kemarin" jawabnya.
"Mungkin, Ibu sembunyiin dari kakak karena gak mau kakak khawatir" kataku.
Dia malah mencubit pipiku dan mengabaikan perkataanku.
"Makanya, kamu jangan sembunyiin dari aku kalau kamu sakit" jawabnya malah menggerutu.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hari-hari setelahnya, aku agak bersantai karena memiliki banyak waktu senggang di kampus. Biasanya, kalau sedang menunggu kelas kami berempat akan sibuk berjualan. Tapi karena kami sudah punya anak buah sekarang, kami hanya tinggal membagi-bagi barang kami pada reseller.
Yah, meskipun akhir-akhir ini pesanan online sedang agak menurun tapi ada hikmah dibaliknya. Kami jadi lebih sering belajar bersama dan merencanakan kegiatan untuk penelitian bersama Kajur yang akan diselenggarakan dua minggu dari sekarang.
"Rain, nanti kamu gak minta tambahan tim ke Pak Yana?" tanya Nunu.
"Belum kepikiran ih, kata kalian emang perlu?" tanyaku.
"Itu kan desa wisata di perbatasan lagi, harusnya ada cowok sih biar aman" kata Arika.
"Ajak Nirwan sama Gian aja" sahut Nunu dengan semangat.
"Iya bener, seenggaknya ada yang jagain dan kalau malem gak takut" jawab Hanifa.
"Yaudah iya, nanti aku omongin ke Pak Yana dulu" kataku.
Saat itu, kami sedang istirahat di kosan Nunu setelah mengirimkan beberapa pesanan barang dan es mochi.
Aku menyisir rambutku karena ingin kuikat sebab kegerahan.
"Hmmm, rain gimana kalau kamu potong rambut? Kayanya udah agak panjang juga" kata Nunu.
"Iya, potong lah biar fresh" kata Hanifa.
"Jangan ih, masa dipotong lagi? Baru 3 bulan yang lalu potong rambut" sahut Arika tidak setuju.
"Iya, aku mau rasain rambut agak panjang sedikit lagi aja. Lagian, kalau aku masuk final duta kampus... Aku maunya keliatan lebih dewasa dengan rambut panjang" jelasku.
"Hahaha aku ngerti, pasti kamu ngerasa terlalu baby face ya?" ledek Hanifa.
"Bukan baby face lagi, udah wajah aku agak kecil terus kaya anak-anak dan gak terlalu bisa make up. Eh masuk duta kampus, saingannya jago-jago make up semua. Lengkaplah sudah penderitaan" gerutuku.
"Yaudah gimana kalau kamu sambung rambut? Kebetulan aku ada kenalan, tenang salonnya aman ko. Rambutnya juga bukan rambut asli cuma bagus hasilnya" jelas Nunu.
"Extention? Mahal gak?" tanyaku.
"Harga sahabat ko, cuma harus buat janji soalnya penuh terus" jawab Nunu.
"Telpon lah Nu, mumpung masih siang nih siapa tau hari ini kosong" sahut Arika.
Tak lama Nunupun menelpon kenalannya itu.
__ADS_1
"Bisa rain, ayo cabut! Gue sekalian mau creambath ah" ajak Nunu bersemangat.
"Gue juga!!! Gue juga" sahut Arika dan Hanifa.
Kamipun berangkat ke sebuah salon yang letaknya agak jauh dari kosan Nunu, sekitar setengah jam perjalanan menggunakan si kutil.
Selama perjalanan, kak Dhika menelpon Hanifa terus-terusan.
"Ko gak diangkat sih fa?" tanyaku.
"Males ah, masa ya semalem dia nganterin temen cewek di tempat kerjanya" jawab Hanifa.
"Lah emang kenapa? Ceweknya gak bener?" tanya Nunu.
"Bukan gitu sih nu, cuma gue gak suka aja dia bilangnya 'aku kan nganterin dia karena kasian dia pulang malem' yaudah gue bilang aja 'perasaan aku pulang malem gak ada yang ngasianin' kesel gue" jelasnya.
"Ceweknya cantik ya fa?" ledek Arika.
"Berisik lo" jawabnya.
"Ah gue tau, lu marah karena tuh cewe cantik kan? Dan lu khawatir si ka dhika ngelirik? Bener kan dugaan gue fa?" tambah Nunu.
Saat mendengar pembicaraan ketiga sahabatku, aku merasa seperti berada dalam kondisi yang tidak asing. Seolah aku juga pernah ada di situasi yang sama.
"Ah, dinda!!!" gumamku.
Teman baru dikantornya Andreas, aku belum tahu sosoknya seperti apa.
"Aku jadi keingetan, cewek yang namanya Dinda itu yang kata aku dijemput sama kak Iyas" kataku.
"Hahahaha ati-ati loh kalian, punya cowok seganteng mereka pasti ada aja gangguannya" kata Nunu.
Hanifa langsung lirik-lirikan denganku. Seolah merasa nasib kami sama.
.........
...............
Sesampainya di salon...
Aku langsung memilih gaya rambut apa yang aku inginkan, dan seberapa panjang sambungan yang akan ditempelkan di rambutku.
"Sedikit aja lah ya, cuma biar ngelewatin bahu 2-3cm aja sedikit" kataku.
"Oh, palingan 10cm ya?" tanya pegawai salonnya.
Sementara itu, ketiga sahabatku terlihat sangat menikmati massages kepala dan creambath. Nunu dan Arika malah nyaris tertidur saking pewenya.
"Fa, ko ngelamun sih? Mikirin apa?" tanyaku.
"Mikirin omongan si Nunu, jadi takut ga sih?" sahutnya.
Aku jadi ikut melamun, meskipun sebenarnya kasusnya baru permulaan dan aku juga belum tahu apa Dinda itu menyimpan perasaan atau tidak pada Andreas. Tapi, aku takut nanti akan seperti kejadian Rani dan Praya dulu.
"Oke" jawabnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Tibalah aku di kantor Andreas, setahuku ini sudah jam pulang.
Kulihat, dia baru saja keluar dan disampingnya ada seorang perempuan bertinggi hampir sama denganku.
Ada nametag yang menempel di baju kerja wanita itu Dinda.
"Hmm itu yang namanya Dinda" gumamku.
"Kak!" teriakku sambil melambaikan tangan.
Dia terlihat kaget melihatku ada didepan kantornya.
"Kamu, itu rambut ko lucu sih? Extention ya?" tanyanya.
"Bagus gak?" tanyaku sambil menaruh tangan di pinggangnya.
Dia menyentuh rambutku dan tersenyum.
"Bagus, jadi dewasa kesannya" jawabnya.
Dinda dan teman-teman kantornya yang lain sedang menunggu Andreas sepertinya, mereka tidak juga pergi dari depan lobby.
"Sini aku kenalin sama temen kantor aku" ajaknya sambil menarik tanganku.
"Guys, kenalin ini Raina pacar gue" katanya.
"Oh ini Raina, cantik banget yas!" kata salah seorang teman laki-lakinya.
"Halo... Raina" kataku sambil menyalami semuanya.
Perempuan bernama Dinda itu terlihat biasa saja, dari dekat juga biasa saja tidak ada sesuatu yang menarik. Hanya saja, dia jelas tidak suka dengan kehadiranku saat itu. Wajahnya sinis dan saat tersenyum juga seperti terpaksa.
"Dek, hari ini Pak Gilang ulang tahun dan mau traktir makan di resto deket sini. Kamu ikut ya?" jelasnya.
Pak Gilang ternyata yang tadi bilang bahwa aku terlihat cantik itu.
"Eh gak usah, aku pulang aja kalau kalian ada acara mah. Gak enak ah ganggu" kataku.
__ADS_1
"Gapapa, ikut aja raina. Lagian saya juga minta mereka bawa keluarganya masing-masing" kata Pak Gilang.
Pak Gilang ini sosok yang terlihat dewasa, mungkin dia berusia 5-6 tahun lebih tua dariku.
Akhirnya karena dipaksa Andreas dan aku tidak bisa menolak, akupun ikut makan-makan dengan rekan kantor Andreas.
Dinda dan dua orang teman laki-lakinya ikut ke mobil Andreas. Sementara Pak Gilang dan yang lainnya pisah di mobil yang lain.
Di perjalanan...
"Kamu kenapa bisa ada di kantor?" tanyanya.
"Aku tadi dari salon terus karena kebetulan lewat sini dan aku tau kakak udah waktunya pulang, yaudah aku minta Hanifa turunin aku disini aja" jelasku.
"Tadi ke salon beneran? Tumben gak bilang dulu?" katanya.
"Iya dadakan, soalnya buat persiapan photoshoot duta kampus, kebanyakan disana rambutnya bagus-bagus dan panjang gitu" jelasku.
"Wah kamu duta kampus?" tanya Dinda.
"Iya hehe baru daftar sih tapi baru 50 besar juga" jawabku.
"Raina ini finalis duta kampus, ketua bidang di BEM dan di kampusnya juga punya bisnis sambil wirausaha gitu" jelas Andreas.
"Keren, udah cantik pinter lagi cari usaha" jawab teman-teman lelakinya..
Aku melihat dari spion, ekspresi Dinda saat itu tidak biasa. Dia sangat jelas sekali tidak nyaman dengan keadaan saat itu.
Sesampainya di restaurant....
Kulihat hampir semua rekan kerja Andreas lebih tua darinya, mungkin hanya Dinda dan dua temannya yang tadi ikut di mobil kami saja yang seumuran dengannya.
"Pantes Dinda keliatan ngeceng kak Iyas, orang dia doang yang seumuran" gumamku.
Meski aku sedikit banyak memikirkan perkataan Nunu dan Hanifa selama di salon tadi, tapi sepertinya Andreas tidak tertarik sama sekali pada Dinda.
Sikap Andreas juga tidak berubah, dia tetap sangat memperhatikanku saat itu.
"Raina, nanti sudah lulus kerja ke kita ya?" kata Pak Gilang.
"Wah pak, kalau itu saya gak jamin soalnya Raina kurang tertarik di lapangan. Dia lebih suka merumus dan pemikir di belakang daripada turun" jelasnya.
"Iyasih, cewek cantik kaya dia gak mungkin mau turun lama-lama ke lapangan lah. Nanti sayang perawatan kulitnya" sahut Dinda ikut nimbrung.
Aku heran perasaan, sedari di mobil tadi dia lebih banyak diam. Lantas kenapa sekarang dia terkesan ingin menunjukan eksistensinya dengan ikut nimbrung pada obrolan Andreas dan Pak Gilang.
"Raina suka ke lapangan ko pak, tapi gak sepinter kak Iyas yang bisa segala macam hal. Raina lebih seneng buat sketsa, meneliti masyarakat, merencanakan paket wisata pokoknya pekerjaan yang lebih membuat hati senang" jelasku.
"You know how to make work full of joy begin, bukannya pekerjaan terbaik di dunia adalah hobi yang dibayar?" kata Pak Gilang.
"Nah itu pak, soalnya kan sayang ya kalau hobi tidak tersalurkan hehe" jawabku.
Istri pak Gilang terlihat menyukai rambutku, dia berkali-kali menanyakan dimana salon tempat aku treatment.
"Raina cantik ya mas? Aku seneng liat mukanya semoga nanti anak kita mirip Raina ya mas?" kata istrinya sampai membuat pipiku merah karena malu.
"Nanti tolong elus perut istri saya ya Raina" pinta Pak Gilang.
"Iya pak, dicium juga boleh" jawabku.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Setelah sampai dirumah....
"Oke terimakasih karena sudah jadi bintang tamu di acara kantor aku" katanya sambil membukakan pintu mobilnya.
"Lebay haha, eh kak Dinda ko kaya gak suka ya sama aku?" kataku.
"Dinda yang gak suka sama kamu? Atau kamu yang gak suka sama dia?" tanyanya.
Aku memalingkan wajahku karena tidak tahu harus menjawab apa.
Ya jelaslah aku tidak suka pada Dinda, dilihat dari manapun wajahnya memang sangat tidak nyaman saat melihatku berduaan dengan Andreas.
"Udah sana masuk, istirahat ya?"...
"Tunggu, tungguin dulu" kataku.
"Apalagi?" tanyanya.
"Tadi aku ke salon, terus....."
Belum selesai aku cerita, dia malah mengeluarkan dompetnya.
"Habis berapa tadi kamu ke salon?" tanyanya sambil membuka dompet.
"Ih, emang tampang aku kaya mau minta duit apa?" gerutuku.
"Hahaha soalnya tiap ke salon kan pasti aku yang bayarin kamu, jadi aku gak enak kalau sekarang aku gak nemenin dan gak bayarin uang salon kamu" katanya.
"Ihhh bukan gitu, aku emang mau sih dibayarin tapi itu gak penting sekarang" kataku.
"Lah terus? Apa?" tanyanya.
"Jangan anterin Dinda pulang atau jemputin Dinda lagi" kataku.
__ADS_1
Dia memelukku dan sepertinya malah gemas pada perkataanku, bukannya menganggapku serius.
"Oh kamu cemburu sama Dinda? Hahaha lucunya" ....