Kuliah Atau Kuli Ah?

Kuliah Atau Kuli Ah?
Kampus


__ADS_3

Setelah semua urusan selesai.....


Andreas meminta Pak Budi untuk mengantar kami ke Bandara. Dia sempat mengajakku pamit pada kak Bani dan meminta kak Bani sesekali untuk menengok kebunnya.


"Siap yas, hati-hati ya. Dek kapan-kapan kesini lagi kita keliling kayu agung?" katanya sambil melihatku.


"Iya kak, nanti pasti aku kesini lagi. Makasih ya bantuannya" jawabku.


Tante Dewi menangis saat aku dan Andreas hendak pamit. Dia merasa sangat sedih karena katanya rumah akan menjadi sepi.


"Tenang, nanti kan kakak juga sering pulang kan?" kataku menghibur.


"Yas, habis Raina lulus nanti segeralah dilamar biar rumah ini ada yang ngurus secepatnya" kata Om.


Andreas hanya diam dan berekspresi datar mendengar perkataan Om.


"Om, tante kabarin aja ya kalau ada apa-apa" katanya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Kamipun masuk kedalam mobil...


Andreas duduk didepan, tapi pak Budi malah memintanya duduk dibelakang.


"Yas dibelakang duduknya kasian tuh Raina" ledek Pak Budi.


"Gapapa pak, Raina mau tidur aja" sahutku.


Andreas tetap duduk didepan dan tak melihatku sama sekali. Setelah mendengar perkataan Om tadi, sepertinya dia jadi pendiam.


"Apa mungkin dia kepikiran omongan om ya?" pikirku.


..............


..............


"Raina, tadi kan ada anaknya Pak Hari yang ngeliatin kita waktu lagi di ruangan. Inget gak?" tanya Pak Budi.


"Aah, cowok yang seumuran sama aku? Yang nanyain nomer hape aku?" tanyaku.


"Iya itu, tadi pas pak Budi ditelpon Iyas suruh balik dia nanya lagi loh. Katanya nomer hape cewek yang tadi berapa pak Budi" jelasnya.


"Hahaha berarti aku cantik ya Pak Budi?" kataku membanggakan diri.


Padahal, sama sekali tidak ada laki-laki yang melihatku dan meminta nomor hapeku. Itusih cuma akal-akalan Pak Budi untuk memancing reaksi Andreas.


Beruntungnya, aku melihat kode yang dikirimkan Pak Budi.


"Siapa yang nanyain nomor hape Raina? Anaknya pak Hari? yang mana?" tanyanya.


"Ituloh yas yang ganteng, yang kuliah di Jakarta kebetulan lagi pulang kesini" jawab Pak Budi.


"Nanti kalau dia nanya lagi, bilang aja Raina calon istri Iyas biar dia diem" jawab Kak Iyas menggerutu.


Aku dan Pak Budi tersenyum puas...


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Baru beberapa menit perjalanan aku mengantuk dan akhirnya aku tertidur...


Saat aku bangun, Andreas sudah duduk disebelahku dan aku juga tidur di pangkuannya.


Aku meliriknya yang ternyata juga tertidur.


"Pak Budi, kapan kak Iyas pindah ke belakang?" tanyaku.


"Pas kamu tidur terus kepala kamu kebentur-bentur, Iyas langsung pindah ke belakang" jawabnya.


Ponsel Andreas bergetar di saku flanelnnya, akhirnya aku ambil dan kulihat.


"Dhika"


Kak Dhika mengirimkan pesan:


"Lu lakuin aja yang menurut lu bener, inget bro Raina bukan cewek sembarangan. Dia pasti ngertiin lu ko. Yaudah take care ya! Ntar gue jemput di bandara soalnya gue masih di Bandung" ....


Aku penasaran, sebenarnya apa pesan yang sudah dikirimkan oleh kak Iyas pada kak Dhika sebelumnya.


Setelah kubaca seluruh isi chatnya, ternyata Kak Iyas menanyakan pendapat kak Dhika tentang rencananya untuk berhenti kerja dan melanjutkan bisnis keluarga di Palembang.


Terbaca dari semua chat yang dia kirimkan, kalau dia sangat frustasi memikirkan hal itu.


"Baru juga kehilangan Ibu sekarang dia udah punya dilema baru lagi" gumamku.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sesampainya di Bandara....


Pak Budi terlihat memeluk Andreas dan sedih saat kami masuk dan meninggalkannya di lobby.


"Pak Budi baik-baik ya? Titip rumah sama kebun" kata Andreas.


"Iyas juga, hati-hati disana dan jangan banyak pikiran! Raina tolong ya jagain Iyas juga" kata Pak Budi.


Saat sedang menunggu pengumuman untuk terbang....


"Aku mau foto deh yang latarnya run away bagus kayanya" kataku.


Kak Iyas tidak meresponku, dia malah tetap berjalan.


"Yaudah aku mau pergi sendiri aja" kataku.


Tanpa kusadari ada seseorang yang menabrakku dari belakang yaitu seorang anak kecil.


"Adek, mau kemana? Mama sama Papanya mana?" tanyaku.


Dia malah tertawa dam sepertinya belum bisa bicara lancar.


Akhirnya, aku mengantarnya ke bagian informasi..


"Yah gagal deh foto bagusnya" kataku setelah mendengar pengumuman bahwa pesawat yang kutumpangi akan segera berangkat.

__ADS_1


Aku berlarian karena takut tertinggal, setelah sampai didepan runaway ternyata Andreas sedang berusaha menelponku.


"Kamu darimana aja?" tanyanya sambil mencium rambutku seperti sangat khawatir.


"Hahaha, aku tadi abis nganterin anak kecil yang kepisah dari orang tuanya" jawabku.


"Yaudah ayo masuk" ajaknya sambil memegangi tanganku.


Setelah duduk, dia memandangiku dan seperti tidak percaya bahwa aku bisa sampai tepat waktu tepat sebelum pesawat diterbangkan.


"Hampir aja kita gak jadi pulang" katanya.


"Maaf-maaf aku kan mau foto tadinya, eh ada anak kecil yang nabrak aku terus aku anterin aja ke informasi kasian" jelasku.


"Harusnya aku juga tadi ke informasi nyariin kamu" gerutunya.


"Iya maaf, hape aku kan di tas jadi gak denger kalau ada telpon masuk" kataku.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sesampainya di Bandung....


Kak Dhika dan Hanifa menjemput kami ke Bandara.


Hanifa memelukku dan menanyakan keadaanku.


"Kamu baik-baik aja kan? Everything is ok kan?" tanyanya.


"Iya" jawabku.


Sementara itu kak Dhika dan kak Iyas seperti dua saudara kandung yang terpisahkan sangat lama. Mereka berpelukan dan saling mengobrol satu sama lain dengan sangat akrab.


"Mau dianter kemana dulu nih?" tanya kak Dhika.


"Anterin Raina aja dulu kerumahnya, abis itu ke kosan gue" katanya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sesampainya didepan rumah....


"Kakak gak usah mampir, soalnya pasti Ibu sama Ayah udah tidur dan kakak juga pasti cape mendingan kakak langsung pulang aja. Aku juga bawa kunci cadangan ko" kataku.


"Yaudah salamim sama Ayah dan Ibu ya" katanya.


"Kak Dhika, Hanifa makasih ya!" kataku sambil melambaikan tangan.


"Iya, besok pagi aku jemput ya rain?" sahut Hanifa.


Andreas malah tidak pergi, dia masih saja menungguiku sampai masuk rumah.


"Yas, mau sampe kapan lu disitu? Raina udah aman kali udah didalam gerbang rumahnya tuh" teriak kak Dhika.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ternyata Ayah dan Ibu belum tidur....


Mereka sedang menungguku diruang tamu.


"Loh Iyas mana gak mampir?" tanya Ayah.


"Aku bilangnya Ibu sama Ayah udah tidur jadi dia langsung" jawabku.


"Gimana Iyas sekarang?" tanya Ibu.


"Ya masih sering ngelamun sih bu, dia juga lagi kepikiran untuk berhenti kerja dan lanjutin bisnis orang tuanya di Palembang" jelasku.


"Kalau gitu, giliran Ayah yang nanya gimana keadaan kamu?" tanya Ayah.


Aku memeluk Ayah saat itu juga, karena tidak tahu harus menjawab pertanyaan Ayah seperti apa.


"Anak Ayah sudah besar, pasti kamu tahu jalan yang terbaik buat diri kamu" kata Ayah.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sambil membuka beberapa kantong yang diberikan oleh Tante, aku menceritakan semua yang aku alami pada kedua orang tuaku.


Tentang surat dari Alm. Ibu dan juga sekotak perhiasannya.


"Kamu balikin lah teh sama Iyas, bilang kamu gak bisa nerima itu" kata Ibu.


"Udah bu, tapi dia malah bilang itu kan dari Ibu bukan dari aku jadi kamu gak bisa nolak" jelasku.


Ayah memberikan nasihatnya padaku, katanya Ayah akan memberikan keleluasaan kalau-kalau dalam waktu dekat Kak Iyas melamarku.


"Dulu juga Ayah ngelamar Ibu pas Ibu masih kuliah" kata Ayah.


"Ih Ayah bukannya gitu, masih jauh banget ngomongin itumah" kataku.


"Bukan gitu, pokoknya syarat Ayah satu harus sarjana dulu baru boleh nikah kalau sekedar tunangan doang mah gapapa" kata Ayah.


////////////////////////////////////


///////////////////////////////////


Akhirnya setelah kemarin sempat izin kuliah, hari ini aku akan kembali kuliah seperti biasanya.


Aku sudah meminta Kak Iyas agar tidak usah menjemputku saat pergi dan pulang kuliah nanti karena Hanifa sudah bilang semalam kalau dia yang akan menjemputku.


Sesampainya dikelas....


Anak-anak menanyai keadaanku dan Andreas.


Sementara itu banyak sekali tugas-tugas yang sudah menanti didepan mata.


"Rain ada 3 tugas kemarin, aku udah catetin perintahnya. Ini kamu bawa aja catetannya!" kata Hanifa.


"Nah Rain, ini tugas evaluasi terakhir dari Nirwan katanya kamu tinggal bikin laporan selama kaderisasi kemarin" kata Gian.


"Nah ini Rain ada titipan dari Pak Yana buat karantina duta kampus nanti, katanya tolong dipelajari" kata Hasan.


"Aaaaah baru sehari gak masuk dan dua hari menghilang dari peredaran udah banyak banget tugas" keluhku.

__ADS_1


"Semangat ya" kata mereka sambil tertawa.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Akupun mulai menjalani kehidupan seperti biasa dengan rutinitas padat sehari-harinya.


Hanifa juga semakin mantap dengan usahanya, reseller usaha kami juga semakin banyak. Hanifa malah membuka gerai duren cup dirumahnya yang dijaga oleh assisten rumah tangga kepercayaan Mamanya.


Sementara itu, Arika juga makin berkembang potensinya menjadi asisten Pak Rohmat. Dia sudah sangat menguasai materi bahkan sebelum diajarkan kepada kami. Arika adalah tutor terbaik bagi kami bertiga. Belum lagi, semenjak dia pacaran dengan Nirwan pamornya jadi semakin naik. Teman-teman Nirwan yang notabene anggota BEM di jurusan lain juga sudah banyak mengenal Arika.


Nunu juga semakin sibuk dengan aktivitas tambahannya menjadi pacarnya Gian, dia semakin banyak job untuk jadi MUA dadakan kalau ada acara-acara di jurusan lain. Predikat Nunu sebagai mahasiswi cantik dan jago rias wajah semakin melekat saja.


Setelah beberapa hari berlalu semenjak kepergian Alm. Ibu dan Kak Iyas kembali berkegiatan di Bandung.


Kak Iyas jadi lebih pendiam, bayangkan dia yang sebegitu pendiamnya menjadi lebih pendiam lagi dan tidak banyak bicara setiap menelponku.


Dia hanya akan berbicara seperlunya dalam telepon. Setelah itu kalau kami bertemu baru dia akan banyak bicara.


Seminggu berlalu, aku masih saja tidak terbiasa memakai wedges dan heels setiap hari jumat dan sabtu setiap pembekalan duta kampus.


Sekarang, makin banyak yang mengenalku. Setiap aku pergi ke kantin, diluar fakultas atau dijalanan kampus selalu saja ada yang menyapaku.


"Raina kemana?"


"Halo Raina"


Mereka rekan baruku yang juga sama-sama sedang berjuang dalam pemilihan duta kampus.


"Rain, kita harus buat akun deh kayanya buat menggalang suara pemilihan kamu" kata Hanifa.


"Emangnya perlu ya? Pake akun stagram aku aja emang gak bisa?" tanyaku.


"Bisa sih tapi kamu harus rajin posting, jangan posting seenaknya. Minimal berkala lah sehari sekali atau dua hari sekali" jelasnya.


"Yaudah, gini deh akun Raina kita buka aja di hape kita masing-masing. Kalau kita percayain sama dia buat posting mah gak akan bener, tau sendiri Raina postingnya kaya manusia purba langka" ledek Nunu.


"Yaudah minta passwordnya dong Rain" sahut Arika.


"Gua tau, passwordnya iloveyouandreas" teriak Hanifa.


"Iyuuuuwh alay Rain hahahaha" ledek Nunu dan Arika.


"Hahaha aku ganti password begitu kan supaya aku gampang ingetnya" jawabku.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Pagi hari di kampus...


"Raina, kamu ikutan duta kampus juga ya?" tanya Yasmin yang sedang duduk di lobby fakultasku.


"Iya yas, kamu juga ya?" jawabku saat melihat Yasmin memakai baju batik dan wedges berwarna hitam juga.


(Fyi: hari itu hari sabtu, dimana seluruh finalis duta kampus perempuan diwajibkan memakai wedges dan baju batik)


"Iya Rain hehe senengnya nanti ada temen pas pembekalan" katanya.


"Iya aku juga kemarin-kemarin gak ada temen, celingukan sendiri pas pertama pembekalan" kataku.


"Sama, yaudah nanti kita berkabar di whatsapp ya rain" kata Yasmin.


"Oke" jawabku.


Yasmin duduk disebelahku, katanya dia sedang menunggu temannya di jurusan IPS. Sembari menunggu, Yasmin menceritakan tentang Fasya.


"Iya, dia begitu sih gak berubah-berubah. Masa ya udah ketahuan salah, masih nyalahin kamu. Padahal aku kan tahu kalau kamu udah punya cowok" jelas Yasmin.


"Aku juga gak nyangka Yas, si fasya berubah padahal dulu dia gak begitu" jawabku.


"Oya, aku juga sempet denger katanya temen-temen Fasya jegat kamu ya di parkiran bawah?" tanya Yasmin.


"Iya, ya sama aja kaya tuduhan mereka waktu aku nguping di warung makan yang aku ceritain ke kamu di chat" kataku.


"Aaah iya, kenapa ya Rain padahal mereka gak kenal sama kita tapi berani menyimpulkan sedalam dan sedetail itu tentang kita?" tanya Yasmin.


Saat Yasmin bertanya demikian, entah kebetulan atau bukan Rani sedang duduk di sebelah kami. Aku baru menyadarinya saat pandanganku mengarah ke sebelah kanan Yasmin.


"Biasanya orang yang jago nilai orang lain, dia justru buruk dalam menilai dirinya sendiri" kataku.


Yasmin pun pamit setelah temannya datang....


Kemudian Nunu dan Arikapun menghampiriku dengan terburu-buru..


"Rain, mana si Hanifa?" tanya Nunu.


"Lagi ke Wc" jawabku.


"Yaudah aku sama Nunu duluan ya, bentar lagi ada kelas" kata Arika.


"Hmm gih, oya pulangnya jadi ya kita cabut?" kataku.


"Siapp!!!" jawab mereka kompak.


Sore ini, setelah selesai pembekalan untuk duta kampus. Kami berempat dan kak Dhika akan pergi ke kosan kak Iyas untuk acara barbeque bersama disana.


Nunu sih yang memberikan ide, katanya untuk membuat suasana hati Andreas menjadi lebih baik.


Memberikannya hiburan dan dukungan secara tidak langsung, lebih efektif untuk mengurangi kesedihannya daripada tidak sama sekali.


"Kak, pulangnya boleh gak aku sama anak-anak barbequean di kosan kaka?" tanyaku.


Lucunya, aku baru meminta izin setelah Hanuka mengiyakan rencananya.


"Boleh, tapi belanja sendiri ya? soalnya aku gak ngerti harus beli apa aja" katanya.


"Iya nanti habis selesai pembekalan, aku langsung kesana ko" jawabku.


"Aku jemput jangan?" tanyanya.


"Gak usah, aku sama Hanifa aja sekalian" jawabku.


"Okedeh, take care ya!!!" katanya

__ADS_1


\=🌻\=🌻\=🌻\=🌻\=🌻\=🌻\=🌻\=🌻\=🌻\=🌻


__ADS_2