Kuliah Atau Kuli Ah?

Kuliah Atau Kuli Ah?
KEMBALI KE BANDUNG


__ADS_3

Penerbangan ke Bandung tinggal beberapa jam lagi, dan aku masih menatap koper-koper yang menumpuk didepan pintu rumah sedang diangkut satu persatu oleh Pak Yos.


"Ma, nanti Iz boleh tidak minta kamar yang besar?" tanya Iz memecah lamunanku.


"Boleh, bilang aja sama Papa" jawabku.


Iz pun berlari menuju Papanya yang sedang sibuk memberikan amanat kerja pada tangan kanan kepercayaannya Pak Budi.


"Papa, i want big room" teriak Iz.


"Bigroom? For what bro? " tanya Papanya.


"For sleep, playing and ......


Belum selesai Iz mengoceh terdengar suara mobil dari depan rumah.


"Iz ayo kita pamit dulu sama Nenek Dewi" ajakku sambil meraih tangannya.


Sesampainya di Bandara Bandung....


Ka Dhika menjemput kami dengan minibusnya, ditemani istri tercintanya yang tidak lain adalah sahabatku sendiri Hanifa.


"Na;!!! " teriak Hanifa dari kejauhan sambil melambaikan tangan.


Aku menyambut lambaian tangannya sambil tertawa kecil melihat betapa repotnya Ibu anak satu itu menuntun anak gadis kecilnya sambil menggendong tas keperluan anak kecil yang terlihat besar itu.


Chai Hazel. Nama anak perempuan yang lahir 4 tahun lalu dan hanya berselang 3 bulan setelah kelahiran Izaz. Chai mewarisi kulit mulus Mamanya dan senyum manis Papanya.


"Chai, ayo peluk Izaznya" kataku sambil melepaskan pelukan dari Chai.


Izaz terlihat sungkan saat Chai yang atraktif langsung memeluknya tanpa basa-basi.


"We are so close now" kata Chai.


Izaz hanya tersenyum sambil mengernyitkan dahi seolah tak percaya teman dunia maya yang selama ini hanya dia dengar suaranya lewat telpon, sekarang berada didepannya dan memeluknya.


"Jadi udah dapet rumah lu yas? " tanya Ka Dhika pada suamiku.


"Belum bro, Raina gak cocok sama yang kemarin lu rekom" jawabnya.


"Dih emang jangan mau yang itu mah, lingkungannya serem sepi. Mending nego yang sebelah komplek kita yang" sahut Hanifa.


"Yaudah sementara lu tinggal di rumah Ayah Raina dulu aja, ntar kasih gue waktu dua harian lah buat dapetin rumah yang lu mau pertama kali itu. Mudah-mudahan pemiliknya mau di harga 600jt" jelas ka Dhika.


Sambil mendengar percakapan mereka didalam mobil, pikiranku melanglang buana ke masa dimana Bandara ini menjadi saksi dari kisah cinta jarak jauhku bersama ka Iyas.


Di hari dimana pertemuan kami di Cafe itu, dan dia meminta izin untuk pulang ke Palembang selama 1 tahun untuk melanjutkan bisnisnya. Aku hampir tak yakin, bahwa Kak Iyas akan kembali dan melaksanakan janjinya untuk menikahiku.

__ADS_1


Ka Iyas yang sempat ingkar dan hampir 3 bulan di akhir penantian itu menghilang, tidak bisa dihubungi seolah ditelan bumi. Bahkan om dan tantenya juga tidak tahu dia dimana. Aku yang kebingungan dan kerinduan yang tak henti mendera, hanya bisa menjangkaunya lewat doa.


Siapa sangka, ternyata kak Iyas hanya sedang merenung tentang hari pernikahan kami. Katanya, dia butuh waktu sendiri sebelum menjadi seorang suami dari wanita yang menjadi cinta pertamanya itu.


Sesampainya dirumah Ayah dan Ibu...


Pelukan haru pelepas rindu setelah 3 tahun lebih tak bertemu yang dihantarkan Ayah serta Ibu seolah meruntuhkan ketegaranku yang sedari tadi mencoba menahan tangis.


Sekarang aku menginjakan kakiku lagi, dirumah yang penuh kenangan ini. Masih hangat dalam ingatan, saat lima tahun lalu. Ketika aku meminta izin Ayah dan Ibu untuk tinggal di Palembang.


Tangisan keduanya mengisi seisi rumah, dan membuat langkahku terasa sangat berat.


"Randy sama si bungsu mana? " tanya Kak Iyas.


"Randy mah lagi jemput pacarnya, kalo ade masih di sekolah bentar lagi pulang" jawab Ayah.


Malam harinya di teras rumah...


Chai dan Izaz sudah tidur beberapa menit yang lalu. Sementara Mama dan Papanya sedang asyik ngobrol sambil menunggu kedatangan sahabatnya yang lain.


"Ayah sama Ibu gak masalah kan kalo kita nginep disini?" tanya Hanifa.


"Gak masalah ko, malah mereka seneng rumahnya jadi rame" jawabku.


"Coba telpon Arika, lama banget belum nyampe-nyampe" gerutu ka Dhika pada istrinya.


Arika kini sudah menjadi dosen muda favorit di bekas kampus kami. Coba tebak, dia mengajar mata kuliah apa???


Tentu saja, mata kuliah favoritnya..


Geografi tanah....


Tak lama Arika datang sambil menggandeng tangan kekasihnya.


"Rafel"


Bukan Nirwan ternyata jodoh si pintar ini. Tapi Rafel teman semasa kuliahnya S2 di UGM.


Mereka sudah berpacaran 3 tahun dan katanya ada niat menikah tahun ini.


Arika langsung memelukku, maklum kami juga sudah terpisah hampir 3 tahun lamanya. Terakhir kali, Arika dan Hanifa mengunjungiku ke Palembang saat ulang tahun Izaz yang pertama.


. ..........


Setelah jam menunjukan pukul 11 malam, tiba-tiba aku ingin menangis. Menyadari rasa rinduku masih belum menemui muaranya.


"Kangen Nunu yah" gumamku.

__ADS_1


Arika dan Hanifa ternyata mendengar gumamanku. Mereka beranjak dari kursi dan memelukku bersamaan.


"Besok kita jenguk Nunu yuuu" ajak Hanifa.


"Iya, besok kalian bertiga girls time aja. Izaz dan Chai biar kita yang urus" kata ka Dhika dengan raut wajah sedih.


_____________________________________


Keesokan harinya...


Aku dan Hanifa menjemput Arika kerumahnya di Ujungberung. Sejujurnya aku rindu menyetir di jalanan kota Bandung. Menikmati hawa sejuk khasnya, mendengar hiruk pikuk jalanan yang padat yang menjadi teman setiaku semasa kuliah.


"Arika sih pake pulang segala, coba semalem nginep jadi kan kita langsung otw aja ke Nunu" gerutu Hanifa.


"Ya masa dia nginep sama Rafel sih. Gak mungkin dong Fa" jawabku.


Setelah mengobrol dan melepas kangen dengan orangtua Arika, kami bertigapun melanjutkan perjalanan kerumah Nunu.


Sungguh, selama perjalanan ada rasa rindu yang tertahan di ulu hati. Rasa rindu yang selalu menghantui kami sejak 5 tahun lalu. Rasa rindu yang kadang menjadi rasa sakit..


Tak terasa setelah hampir 1 jam perjalanan, tibalah kami di sebuah komplek yang luas.


"Blok berapa sih Na?" tanya Arika.


"Blok B1 no 11" jawabku.


Tak lama telunjuk Hanifa mengarah kesalah satu tempat yang diyakini sebagai rumah Nunu.


"Itu bukan sih? " tanya Hanifa.


"Iya fa, bener. Dibawah pohon besar itu" jawabku.


Kami bertigapun terduduk lesu dipinggir sebuah makam yang cantik terawat.


"Nunu"


Secantik namanya, secantik juga orangnya, secantik pula makamnya yang bersih.


Sahabat kami yang paling cantik dan menawan ini, tak terasa sudah 5 tahun meninggalkan kami bertiga dalam kisah sedih yang tak kunjung usai.


Nunu pergi tanpa pamit...


5 tahun yang lalu saat kami disibukkan dengan jadwal sidang dan wisuda. Kami lupa menanyakan bagaimana perkembangan kesehatan Nunu yang kala itu sudah divonis kanker darah stadium 3.


Rasa bersalah tiga sahabat yang akan terus menerus menancap di hati kami hingga sekarang dan seterusnya.


Langit seolah runtuh ke tanah, dimana setelah kami bertiga selesai sidang dan dinyatakan sarjana. Sore harinya, ketika kami sedang makan-makan untuk merayakan kelulusan tiba-tiba Gian menelpon.

__ADS_1


"Raina, aku dapet kabar dari Ibunya Nunu kalau Nunu sudah berpulang"....


__ADS_2