Kuliah Atau Kuli Ah?

Kuliah Atau Kuli Ah?
Berbaur dengan keluarga baru


__ADS_3

Tak lama setelah makan, dia kembali ke ruang tengah..


Aku mengikutinya, tak kubiarkan sedetikpun tangannya lepas dari genggamanku.


"Kamu tidur aja ya rain, istirahat" katanya.


"Gak mau, kalau kakak gak tidur aku juga gak mau tidur" jawabku.


"Yaudah ikut" katanya.


Kami bergabung dengan tetangga-tetangga Andreas yang masih berdatangan.


Kak Bani juga datang lagi..


"Bro, sabar ya" kata kak Bani sambil memeluknya.


"Thanks bro, oya makasih juga udah jemputin Raina. Dari sini ke bandara kan jauh banget tapi lu mau jemputin Raina" katanya.


"Sama-sama, semalem si Dhika ngabarin katanya Raina pake penerbangan jam 9 dan khawatirlah cewek sendiri tengah malem" jelas Bani.


Kulirik jam sudah menunjukan pukul 5 pagi... Herannya, aku sama sekali tidak mengantuk. Sejak masuk kerumah ini juga aku tidak menangis. Aku benar-benar sudah menguatkan diriku.


Tak lama, Om datang dan meminta izin pada Andreas untuk menentukan letak makam Ibu.


"Sebelah makam Bapak aja, Iyas udah ngomong kemarin" katanya.


"Yaudah, paling nanti jam 8 ya kita mulai" jawab Om.


Tante Dewi datang dan menanyakan apa aku hendak mandi atau tidak.


"Air disini lagi kurang bagus, gak apa-apa emang kulit kamu?" tanya Andreas.


Hebatnya, pacarku yang satu-satunya ini meski sedang berduka selalu saja bisa membagi perasaannya. Dia masih saja mengkhawatirkan detail-detail kecil tentang aku.


"Gapapa, aku mandi dulu ya" kataku.


"Minta tolong dipanasin aja dulu airnya kalau terlalu dingin" katanya.


"Iya" jawabku.


Aku masuk lagi ke kamar Andreas dan menyadari betapa kamar ini terasa tidak asing.


"Ah iya catnya sama kaya di kamar aku, loh warna tirainya juga bahkan sama" kataku setelah menyadarinya.


Akupun bergegas mandi di kamar Andreas.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Setelah selesai mandi, aku membuka kotak dari Ibu dan memastikan Andreas belum datang ke kamar.


Kulihat ada selembar surat singkat didalamnya, kalung, cincin dan gelang emas serta kunci yang terlihat seperti kunci kamar.


///////////////////////////////////


//////////////////////////////////


"Untuk Raina"


Sayang, apa kabar? Ibu kangen sekali. Mudah-mudahan Ibu msh ada umur ya ketemu lagi sama kamu. Raina, tolong jaga Iyas ya? Tolong rawat dia.. Sejak Ibu pertama liat kamu, Ibu langsung tahu kalau kamu yang terbaik buat anak Ibu... Kalau umur Ibu gak panjang, tolong kasih tau Iyas kalau mobilnya sudah lunas dan ini ada kunci brankas tolong kalian buka sama-sama ya hanya kalian berdua. Sayang, maaf Ibu gak sempet bilang bahwa Ibu beruntung sekali punya kamu sebagai calon menantu Ibu. Tolong bilang sama Iyas, Ibu mungkin sudah tenang bersama Bapak jadi jangan ditangisin lagi!


-Salam sayang dari Ibu...


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ibu bahkan tidak menulis pesan yang sedih, Ibu malah mengekspresikan kebahagiaannya dan rasa kasih sayangnya pada Kak Iyas. Bahkan mungkin di akhir hidupnya, hanya kak Iyas yang Ibu pikirkan. Hanya saja, Ibu tahu watak anaknya.


Kak Iyas bukan anak yang ekspresif, maka dari itu mungkin Ibu mau menyampaikan pesannya lewat aku. Tapi, apa maksud perhiasan ini?


Kenapa Ibu memberikan kotak sepenting ini padaku? Bukan pada anggota keluarganya langsung.


Akupun menyimpan kembali kotaknya dalam tasku.


Hingga Andreas datang dan duduk disebelahku.


"Kenapa bisa sih kamu tetep cantik?" katanya merayuku.


"Cantik? Muka bantal gini cantik? Ngaco" jawabku.


Dia memegang tanganku dan menatapku dengan dalamnya.


"Maaf ya, kamu pasti cape perjalanan jauh dan belum tidur sampe sekarang. Semuanya demi aku" katanya.


"Apa sih ka? Aku gapapa ko. Bahkan kalau aku gak tidur dua hari dua malem aku kuat. Asal sama kakak" kataku merayunya.


"Nakal ya? Dua hari dua malem gak tidur ngapain?" gerutunya.


Kali ini aku merasa, beban di pundaknya mulai berkurang. Dia terlihat membaik dan tak semenyedihkan semalam.


Matanya memang sudah sangat bengkak, begitupun wajahnya yang kelelahan.


Aku mengeluarkan toner dan kapas dari pouch make upku.


"Diem ya, biar gak terlalu swallow face" kataku.


Dia hanya pasrah saat aku mengelap wajahnya dengan toner dan menyisir rapi rambutnya.


"Udah. Udah gak terlalu bengkak kaya tadi" kataku.


"Aku gak nyangka, kamu bakalan ke rumah ini secepat ini dan dalam keadaan kaya gini" katanya.


Aku mencoba mengalihkan topik dan memeluknya.


"Aku mau ikut ke pemakaman ya?" kataku.


"Jangan, jalannya jauh dan semalem habis hujan pasti jalanannya becek" katanya.


"Gapapa, aku kan mahasiswa geografi masa jalan becek aja nyerah" kataku.


"Bukan begitu, kamu pasti capek dan belum lagi....


"Aah ssst, pokoknya aku ikut" kataku menyela obrolannya.


............


....................

__ADS_1


Tidak terhitung berapa kali aku memeluknya sejak kemarin dan hari ini....


Tidak terhitung berapa kali juga air matanya kuhapus....


Aku benar-benar merindukannya...


Bahkan saat dia ada didepanku sekarang....


Sejak mendengarnya mengucapkan kalimat perpisahan....


Rasanya aku tidak mau berjauhan bahkan dalam jarak meteran pun...


Aku mau selalu ada didekatnya....


Dalam waktu yang lama.....


Bahkan selamanya.....


Aku mau menjadi sumber kebahagiaannya...


Aku mau menjadi penerang dalam kegelapan hatinya....


Aku mau jadi penuntun saat dia kehilangan arah....


Aku mau dia tidak perlu merasa kehilangan lagi....


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sesampainya di pemakaman umum....


Tidak kusangka takdir macam ini yang akan mempertemukan aku dan kedua orang tua Andreas dalam waktu yang bersamaan.


Pusara Bapak sekarang ada disebelahku.


Terlihat terawat dengan banyak bunga diatasnya.


Sekarang, liang lahat di sebelah Bapak akan diisi oleh separuh jiwanya yaitu Ibu.


Kisah cinta sepanjang masa yang tak lekang oleh waktu....


Kisah cinta yang akan selalu dikenang oleh Andreas....


Aku melihat Andreas turun ke liang lahat, bertelanjang kaki dan mencoba tegar.


Air matanya kini sudah tidak mengalir, sebab dia tahu tidak boleh ada air mata yang menetes di atas makam Ibunya.


Aku memegangi baki berisi bunga sambil mencoba untuk berbaur dengan keluarganya.


Tante Dewi berdiri tepat disebelahku dan lagi-lagi berterima kasih karena aku sudah menemani Andreas sejauh ini.


Setelahnya, Andreas naik hendak berdiri disampingku. Secepat mungkin, aku meraih tangannya.


"Tangan aku kotor gak usah dipegang" katanya.


Aku tidak menggubris perkataannya dan masih bersikeras memegang tangannya.


Hingga seluruh permukaan makam Ibu sudah tertutupi tanah, kurasakan genggaman tangan Andreas semakin kencang.


Dia mungkin sedang menahan rasa sedihnya atau berusaha agar tidak menangis lagi.


Setelah semua rombongan pengantar jenazah pergi. Andreas masih berjongkok dihadapan pusara kedua orang tuanya.


Tangan kanannya ada diatas tanah makam Ibunya yang masih basah, sementara tangan kirinya diatas makam Bapaknya.


Aku menengadahkan pandanganku keatas. Berusaha untuk tidak meneteskan air mata, tapi kali ini aku gagal.


Gambaran potret anak yang sudah menjadi yatim piatu dihadapanku, terlalu menusuk hatiku dan mengoyakkan ketegaran yang sedari malam kubangun.


Apalagi saat menyadari bahwa potret anak yatim piatu itu adalah laki-laki yang paling kusayangi di dunia ini.


"Ayo kak kita pulang" ajakku.


"Sini deh sebentar, bapak kayanya kalau liat kamu pasti nyangkanya kamu Ibu pas masih muda" katanya sambil tersenyum.


"Aku tadi udah kirim doa buat Ibu sama Bapak, terus aku minta Bapak sama Ibu dateng di mimpi kita. Semoga nanti malem, mereka bener-bener hadir ya di mimpi aku sama kakak" kataku.


Setelahnya, aku dan Andreas pulang dengan berjalan kaki.


"Sayang, mau makan bubur gak?" tanyanya.


"Bubur? Dimana?" tanyaku.


"Disana, ada yang enak. Kesana yu?" ajaknya.


Aku menahan tangannya, dan mencoba meyakinkannya bahwa tidak apa-apa untukku makan dirumahnya.


Aku tahu betul, dia khawatir padaku. Dia takut aku tidak nyaman selama berada dirumahnya. Semuanya tergambar jelas di wajahnya.


"Dengerin aku ya, aku gapapa ko mandi air dingin atau air panas. Makan masakan disini ataupun tidur dikamar kakak. Aku baik-baik aja" kataku.


Dia tersenyum dan berkata "kamu bisa baca pikiran ya sekarang?"....


Sesampainya dirumah, seluruh keluarga Andreas sedang membersihkan ruang tamu untuk persiapan pengajian.


Aku buru-buru menghadap tante Dewi dan menanyakan apakah ada hal yang bisa kubantu. Om dan Tante malah memintaku tetap di kamar bersama Andreas.


"Jagain Iyas aja, pastiin dia minum dan makan yang bener. Kamu juga ya?" kata Tante.


Akupun kembali ke kamarnya dan dia sedang memandangi foto keluarganya.


"Ko di foto ini kurang satu sih?" tanyaku.


"Hah siapa?" tanyanya.


"Ngga ada akunya" kataku.


Dia tersenyum dan membelai rambutku.


"Geli ah" gerutuku.


Tiba-tiba saja ponselku berbunyi.


"Kak Dhika!!!"


"Iya kak" kataku.


"Kakak kesana pake pesawat jam 1 siang. Kira-kira bakal kemaleman gak ya sampe di OKI?" tanya kak Dhika.


Andreas mengambil ponsel dari tanganku.

__ADS_1


"Lu gak usah kesini, gue gak apa-apa kok. Lagian biaya kesini kan mahal. Lu juga udah lama kan gak main sama Hanifa. Mendingan lu disana aja, ajak Hanifa jalan-jalan. Ada Raina aja disini cukup ko, gue udah seneng" jelas Andreas.


Aku senang pacarku sudah baikan. Dia sudah bisa berkata-kata seperti dirinya yang biasa.


"Iya, nanti gue pulang ko sama Raina" katanya.


Sambil mendengarkan Andreas berbicara dalam telpon dengan kak Dhika, aku mengambil kotak pemberian Ibu.


Dia terlihat kaget saat aku mengeluarkannya dari dalam tas.


"Ini, tadi malem tante kasih ini ke aku. Katanya ini dari Ibu" jelasku.


"Bukalah" katanya.


"Udah, ada surat dan perhiasan sama kunci kamar deh kayanya" jawabku sambil memperlihatkan semua isinya.


"Itu perhiasan buat kamu" katanya.


"Darimana kakak tau ini buat aku?" tanyaku.


"Ya orang disuruh dikasihinnya ke kamu kan? Ya berarti buat kamu" jawabnya.


"Tapi kenapa sebanyak ini? Terus maksudnya apa? Terus ini kunci apa?" tanyaku.


Dia mengambil suratnya dan membacanya dengan seksama.


"Ini pasti kunci brankas di kamar Bapak sama Ibu. Nanti setelah agak sepi, kita kesana ya?" katanya.


"Hmmm kalau untuk perhiasan ini, kayanya aku gak bisa terima kak" kataku.


"Kenapa gak bisa? Itu kan dari Ibu bukan dari aku" katanya.


"Ya tapi ini banyak banget, ini seperangkat loh kak. Kakak mending simpen ini buat aset dan buat tabungan kakak" kataku.


"Itu tabungan Ibu buat ngelamar kamu" jawabnya.


Aku terdiam seketika mendengar penjelasan Andreas. Apalagi saat dia bilang itu adalah tabungan Ibu untuk melamarku.


"Terakhir kali aku ketemu Ibu, dia minta aku lamar kamu cepet-cepet. Cuma aku nolak karena kamu kan masih kuliah. Gimanapun juga kamu pasti masih mikir-mikir kan sama aku? Akhirnya, Ibu bilang kalau dia udah beliin kamu perhiasan buat lamar kamu nanti" jelasnya.


Aku menangis mendengarnya, setelah mengetahui betapa Ibu sangat menyayangiku dan berharap aku jadi menantunya.


"Hahaha akhirnya kamu nangis juga" ledeknya sambil menyeka air mataku.


"Ibu keukeuh minta aku bawa kamu ke Palembang secepatnya, aku jawab aja emang aku ini mau bawa anak ayam bisa diburu-buruin begitu. Eh malah Ibu pergi duluan padahal aku aja belum sempet lamar kamu depan dia" katanya.


.......


.......


.......


Entah aku harus senang atau sedih saat itu, menyadari betapa beruntungnya aku dicintai oleh lelaki seperti Andreas dan disayangi oleh Ibu.


"Ini dari kakak, ini dari kakak juga. Sekarang ini dari Ibu, lama-lama aku bisa jadi toko emas berjalan" kataku mencoba untuk menghiburnya.


Setelah beberapa menit, kami hanya saling bertatapan dan saling menguatkan satu sama lain.


"Aku mau beresin kamar Ibu sama Bapak" katanya sambil beranjak.


"Ikut!" rengekku.


"Kamu tidur ajalah kan dari semalem gak tidur" katanya


"Yaudah kakak juga tidur baru aku mau tidur" jawabku.


"Susah ya emang dinasehatinnya tuh" gerutunya.


"Yaudah aku mau mandi dulu, abis itu kita tidur sebentar" katanya


"Kita?" tanyaku keheranan.


"Iya, tadi kamu kan bilang kalau kamu cuma mau tidur kalau aku juga tidur. Yaudah berarti kita tidur barengan" ledeknya.


........


........


........


Entah kapan aku mulai memejamkan mataku dan tertidur diatas ranjang Andreas.


Saat aku bangun, ternyata sudah pukul 11.


"Lumayan juga tidur sejam setengah"....


Kulihat, Andreas tertidur di sofa dengan handuk yang masih melingkar di lehernya.


"Hmm ternyata tidur bareng itu cuma candaan doang" gumamku.


Aku membangunkannya dan memintanya untuk pindah keatas kasur.


"Kamu aja yang tidur disana, aku gak apa-apa disini" katanya.


"Yaudah, kalau kakak tidur di sofa aku juga mau tidur disini" gerutuku.


Aku tahu percis, dia tidak akan rela membiarkanku tidur di sofa kecil itu.


Akhirnya dia bangun dan menggendong keatas ranjangnya.


"Ini kamu yang minta ya?" katanya sambil ogah-ogahan.


Dia tidur seperti anak kecil, tangannya terlipat dibawah wajahnya dan sesekali dia akan mencari tanganku untuk digenggamnya.


Aku jadi tidak bisa tidur, jantungku detakannya semakin tidak beraturan saja. Apalagi saat dia menghadapkan wajahnya ke wajahku. Lalu aku dapat melihat bulu matanya yang panjang seolah menari-nari diatas matanya.


Akupun hendak pergi keluar kamar untuk membiarkannya tidur agak lama, tapi dia merasakan gerakanku dan menarik pinggangku secara cepat.


"Mau kemana? Bukannya katanya mau tidur sama aku?" katanya dalam keadaan mata yang tertutup.


"Mau ke kamar mandi gak kuat" jawabku berbohong.


Diapun melepaskan tangannya dan terlihat melanjutkan tidurnya.


Pelan-pelan aku beranjak dan berjalan keluar dari kamarnya.


"Tante, kak Iyas udah tidur" kataku.


"Bagus dong, kamu tidur juga gih. Dari semalem kan kamu gak tidur" kata Tante.


"Gak ah, aku gak ngantuk lagian barusan aku udah tidur sebentar ko. Aku mau bantuin tante, kasih aku kerjaan ya?" bujukku.


Tante menggeleng-gelengkan kepalanya saat baru mengetahui betapa keras kepalanya aku.

__ADS_1


"Yaudah, bantu siapin kresek isian buat pengajian aja sama yang lain di dapur" katanya.


__ADS_2