
Hari ketigapun dimulai...
Pagi-pagi sekali aku sudah bangun dan segera ke lobby hotel untuk sarapan. Badanku sudah segar karena semalam tidur nyenyak. Rani entah tidur dimana malam tadi, dia menghilang dan kembali ke kamar pada jam 5 pagi.
"Dia tidur di ruang tunggu kali" kata Ega.
Aku dan Ega sempat mencarinya, tapi karena tidak ketemu akhirnya kami melaporkan hal tersebut pada Agung.
Sesampainya di Lobby, Hanuka sudah duduk rapi dan terlihat menungguku.
"Rain, ini makanannya udah aku ambilin" teriak Nunu.
Akupun duduk diantara mereka.
"Ih cantik banget sih rambutnya diiket satu begitu" kata Arika.
"Abis gerah banget kemarin makanya hari ini aku mau diiket aja terus rambutnya" jawabku.
Kami berempat makan dalam satu meja sambil sesekali mengobrol dan bercanda bersahutan dengan teman-teman di meja lain.
"Hari ini kita ke kompleks Pura Luhur Besakih" kata Agung.
"Tolong ya disana kalian beli satu aja kain semacam selendang gitu, untuk masuk ke Puranya. Soalnya itu wajib" kata Aji.
Aku dan ketiga sahabatku lirik-lirikan. Kami sudah membawanya dari Bandung. Setelah diberitahu oleh Nunu tentang peraturan ketika hendak masuk ke Pura Luhur Besakih, yaitu wajib memakai kain.
"Udah pada bawa kan didalem tas?" tanya Nunu.
"Udah" jawab kami serempak.
Di perjalanan menuju Pura, seisi bis panik setelah mendengar kabar bahwa salah satu dosen kami terkena serangan jantung di bis lain.
‘
Agung yang menjadi koodinator di bisku, meminta supir untuk menghentikan bis sementara.
"Kita kayanya butuh dua orang perempuan buat jagain Pak Yana, sepertinya beliau tidak bisa melanjutkan perjalanan lagi" kata Agung.
Melihat sekeliling, tidak ada yang mengangkat tangan mereka untuk menawarkan diri. Akhirnya aku mengacungkan tanganku.
"Rain serius?" tanya Agung.
"Ya aku aja, paling kamera aku kasih ke tim dokumentasi yang lain" jawabku.
"Oke satu lagi. Aku gak akan maksa ini murni kalian yang mengajukan diri, aku juga tahu kalian pasti pingin banget pergi ke Pura bareng-bareng tapi semua terjadi diluar kendali kita" kata Agung.
"Yaudah, aku aja!" teriak Rani.
Kami semua keheranan dan melirik bersamaan ke arah Rani yang duduk kursi paling depan.
Aku tidak kalah kagetnya.
"Kenapa sih hidup aku gak pernah lepas dari bayang-bayangnya Rani?" gerutuku dalam hati.
Alasan pertamaku menawarkan diri untuk menjaga Pak Yana di rumah sakit adalah karena aku ingat sekali kebaikan yang sudah Pak Yana berikan padaku dan Kak Iyas. Tidak ada alasan untuk tidak menolong orang yang sudah berperilaku baik kepada kita.
Alasan keduaku karena aku pikir semua teman-temanku pasti akan sedih saat perjalanan kami terhambat hanya karena berdebat soal siapa yang akan menjaga Pak Yana dirumah sakit. Maka dari itu tidak ada salahnya mengorbankan seorang diri untuk kebaikan bersama.
"Yaudah Raina sama Rani ya, kalian turun disini terus ikut sama mobil jemputan. Ada Gian dan Roby juga ko yang ikut" kata Agung.
Nunu terlihat sedih dengan keputusanku saat itu, dia terlihat tidak menyangka bahwa aku akan bersama-sama dengan Rani untuk menunggui Pak Yana.
Apalagi setelah menyadari bahwa kain selendang yang sudah kami bawa khusus untuk foto bersama di Besakih, tidak akan terpakai karena ketidakhadiranku.
"Tenang Rain, cuma sampe malam ini aja ko. Setelah Pak Nanda datang dari Bandung dan Pak Yana pulang kalian bisa kembali ke hotel" bisik Agung saat kami berpapasan di pintu bis.
"Iya gung gak apa-apa ko" jawabku.
Setelah mobil jemputan datang, aku dan Rani masuk. Gian dan Roby terlihat kaget melihat kami berdualah yang menawarkan diri untuk menunggui Pak Yana.
"Gi, Pak Yana dimana?" tanyaku.
"Di rumah sakit deket hotel" jawab Gian.
Kami berempatpun menuju kesana. Meski dengan perasaan canggung karena ada Rani diantara kami.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sesampainya dirumah sakit, Pak Yana sudah mendapat penanganan dan sedang beristirahat didalam kamar.
Aku dan Gian masuk untuk melihat secara langsung.
Pak Yana terlihat sangat lemas dan menanyakan kondisi teman-teman kami.
"Rombongan tetap lanjut kan?" tanya beliau.
"Iya pak, mereka lanjut ke Besakih ko. Bapak gimana keadaannya?" kataku.
__ADS_1
"Baik rain, terimakasih sudah jagain Bapak" katanya.
Gian memintaku untuk mengisi biodata pasien yang diminta oleh pihak rumah sakit. Pak Yana pun memberikan kartu identitas dan nomor anggota keluarga untuk segera dihubungi.
"Tolong ya Rain, habis ini aku mau telpon Pak Nanda dan semoga aja dia bisa langsung dapet penerbangan kesini" kata Gian.
Aku melihat raut wajah Gian yang panik, maklumlah dia adalah ketua tim lapangan. Maka tugas untuk memikirkan bagaimana sistematika kegiatan kami saat salah satu dosen tidak bisa ikut, menjadi tanggung jawab Gian.
"Tenang aja, semua pasti bisa diatasi ko. Toh di bis yang gak ada dosennya ada Arika kan? Dia jelas bisa bantu jelasin materi kegiatan semampu dia. Biar nanti aku yang minta Arika jelasin" kataku.
"Iya Rain bener, tolong ya?" katanya.
Beberapa saat kemudian, aku sudah mengisi biodata pasien di bagian administrasi. Sementara itu Rani dan Robby menunggui Pak Yana didalam kamarnya kalau-kalau beliau ingin minum atau kekamar mandi.
Gian juga sudah menelpon Pak Nanda, katanya beliau akan segera terbang dua jam kemudian.
"Rain, gimana ya gak enak juga kalau Pak Nanda ke hotel sendiri. Sopan gak sih kalau kita kirim alamat terus dia pergi sendiri dari Bandara?" tanya Gian.
"Kurang sopan sih gi, posisinya kan kita yang urgent perlu dia. Kayanya kita harus jemput dia ke bandara terus baru nganter dia ke hotel. Kalau masih ada waktu kan kita bisa nyusul rombongan" jelasku.
Gian berpikir keras dan akhirnya menyetujui saranku.
"Aku aja yang jemput Pak Nanda, kamu bisa kan jagain Pak Yana disini?" tanya Gian.
Melihat wajah Gian yang kelelahan, aku memintanya berisitirahat sejenak.
"Kamu duduk dulu deh, istirahat. Biar aku yang jemput Pak Nanda ya? Lagian kan kamu lebih dibutuhin disini, siapa tau anak-anak pada nelpon dan perlu tanggapan dari kamu" kataku.
"Iya deh, tapi beneran kamu gak apa-apa?" tanyanya.
"Iya, nanti aku bisa pake taksi kan ke Bandara? Terus pake taksi yang sama juga ke hotel sama Pak Nanda. Saran aku sih Pak Yana ka nanti dijemput sama anggota keluarganya, minta tolong Rani sama Roby yang ngurus. Kamu mending gabung sama rombongan" jelasku.
Setelah aku dan Gian membuat kesepakatan, kamipun duduk didepan ruangan sambil menunggu kabar dari teman-teman yang lain.
Mereka sudah hampir sampai di Besakih, katanya perjalanan kesana sangat menyenangkan. Pemandangan menuju Pura juga sangat bagus, Nunu mengambil beberapa foto dan mengirimkannya padaku.
"Pacar kamu ngirim foto banyak nih" kataku.
"Iyahaha, tadi dia sedih katanya kamu malah ikut kesini sama Rani. Padahal kalian mau foto pake kain samaan kan?" tanya Gian.
"Iya bener haha tadi dia juga cemberut" jawabku.
"Kamu udah kabarin kak Iyas soal ini? Dia marah gak sama aku karena kamu gak ikut perjalanan?" tanya Gian khawatir.
Aku menjawab bahwa aku belum mengabari Kak Iyas sama sekali dan sepertinya Kak Iyas juga tidak akan marah pada Gian. Semuanya murni keputusanku untuk ikut menjaga Pak Yana.
"Kabarin aja dulu, siapa tahu kan dia marah kalau kamu telat ngabarin" jawabnya.
Akupun mencoba menelponnya menggunakan ponsel Robby yang dititipkan padaku karena aku tidak memiliki pulsa untuk menelponnya. Betapa terkejutnya aku saat ada orang lain yang mengangkat telpon dariku.
"Suara perempuan!" gumamku
"Ya, siapa ya?" tanya perempuan itu.
"Mana kak Iyas?" tanyaku.
"Oh Pak Andreas gak ada lagi sibuk. Telepon nanti aja ya" jawabnya sambil menutup telepon dariku.
Aku kesal dan keheranan bagaimana bisa ponsel Kak Iyas ada di tangan salah satu karyawannya. Bagaimana bisa dia memberikan ponselnya pada salah satu karyawannya dan mengizinkannya untuk mengangkat telepon yang masuk?
"Ih dasar karyawan nyebelin" gerutuku.
"Kenapa rain?" tanya Gian.
Aku menjelaskan pada Gian semuanya, lalu Gian berinisiatif menelpon Kak Iyas memakai ponselnya.
Tak lama kemudian karyawannya juga yang mengangkatnya dan Gian meminta ponselnya diberikan pada Kak Iyas.
"Kak lu dari mana aja? Lu tau gak tadi pacar lu nelpon dan yang ngangkat karyawan lu. Dia bilang lu lagi sibuk loh, terus pacar lu cemberut nih" jelas Gian.
Aku mengambil paksa ponsel Gian dan berbicara tanpa titik koma pada Kak Iyas.
"Kenapa hapenya bisa dipegang karyawan kaka? Mana dia bilang kakak sibuklah telpon lain kali aja. Dia gak tau apa aku yang telpon?" gerutuku.
"Maaf ya, tadi kan kamu nelpon pake nomor gak dikenal makanya mungkin Selvy nyangkanya itu orang iseng" jawabnya.
"Orang iseng darimana yang manggil kakak dengan panggilan Kak Iyas? Lagian kenapa sih mesti dikasihin ke dia hapenya?" gerutuku lagi.
"Hape aku lagi di-charge di meja kasir, aku minta Selvy angkat aja kalau ada telepon masuk takutnya penting. Lagian aku juga lagi nunggu supplier ngirim barang" jelasnya.
Entah kenapa aku masih saja kesal mendengar penjelasannya, sehingga segera kukembalikan lagi ponselnya pada Gian.
"Tuh ngobrol aja sama kamu, aku kesel" gerutuku sambil pergi keruangan.
Aku kesal karena sejak semalam dia tidak membalas pesanku dengan benar, dia hanya mengirimkan emoticon senyuman tanpa mengatakan apapun lagi.
Ditambah hari ini malah Selvy yang mengangkat telepon dariku.
__ADS_1
Tak lama kemudian ada pulsa masuk ke nomorku, aku yakin itu pasti dari Kak Iyas.
Dia juga menelponku untuk meminta maaf dan memintaku jangan marah dengan kejadian barusan.
"Jangan marah ya, aku udah denger ko dari Gian kalau kamu milih jaga Pak Yana daripada lanjut ke Besakih kan?" tanyanya.
"Iya" jawabku.
"Bukannya Besakih jadi satu-satunya tempat yang paling ingin kamu datengin?" tanyanya.
"Iyasih, tapi ya gimana udah terlanjur" jawabku.
Pura Luhur Besakih menjadi satu-satunya tempat yang aku teliti di internet.Aku mencari segala sesuatu yang berhubungan dengan Besakih. Kompleks Pura Besakih merupakan yang terluas yang berada di Bali. Hawa disekitar Pura juga katanya sejuk dan asri ditambah lagi dengan pemandangan sekitar Pura yang sangat indah.
Pura ini terdiri dari beberapa bagian, dari yang paling bawah hingga yang paling tertinggi. Ketika akan memasuki kompleks Pura, kita diwajibkan memakai kain semacam selendang atau sejenisnya yang digunakan untuk menutup bagian pinggang hingga paha sampai ke lutut. Khususnya untuk wisatawan luar yang tidak memakai kain, melainkan memakai celana.
Hal ini dilakukan demi menjaga kesucian Pura. Peraturan ini sudah turun temurun dan tetap dilaksanakan hingga sekarang. Lagi-lagi untuk perempuan yang berhalangan tidak diperkenankan masuk, mereka hanya diperbolehkan menunggu di pelataran Pura.
"Yaudah kalau gitu, aku punya satu permintaan buat kakak" kataku.
"Apa?" tanyanya.
"Nanti kalau kita udah nikah, bulan madunya kita harus ke Besakih ya?" kataku.
"Hahaha ada udang dibalik batu ternyata? Yaudah nanti kita kesana deh" jawabnya sambil tertawa.
Kami sudah mengobrol seperti biasa lagi. Rasanya kekesalanku hilang karena Kak Iyas selalu bisa membuat moodku menjadi lebih baik.
"Yaudah ya sayang, aku harus cek barang nih. Kamu hati-hati ya disana" pungkasnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Malam harinya di hotel....
Setelah segala masalah yang terjadi berhasil diselesaikan, aku Robby, Gian dan Rani kembali ke hotel untuk bergabung dengan rombongan setelah mengantarkan Pak Yana dan keluarganya ke Bandara.
Sementara Pak Nanda sudah sejak sore tadi berada di hotel.
"Rain" teriak Hanifa memanggilku sesaat setelah aku turun dari mobil.
Hanifa memelukku dan berterimakasih karena aku sudah bersedia menawarkan diri untuk menjaga Pak Yana dan mengurus semuanya.
"Iya sama-sama, mana aku dibeliin oleh-oleh gak dari Besakih?" tanyaku.
"Beli ko, kita beli kain samaan terus gantungan kunci samaan. Banyak deh pokoknya! Ayo ke kamar aku" ajaknya.
Setelah selesai di kamar Hanifa, aku kembali ke kamarku dan melihat Ega sedang mengetik sesuatu.
"Lagi ngetik apa ga?" tanyaku.
"Ngetik data hasil wawancara nih sama beberapa angket" jawabnya.
"Maaf ya ga, jadi ngerepotin kamu ga" kataku.
"Gak apa-apa rain, oya buku kamu juga udah aku isi ko tuh ada di meja. Sejam lagi kita makan terus diskusi di ruang temu. Sekarang mending kamu mandi dan siap-siap" katanya.
Sementara itu Rani melirik kearahku dan saat aku melihatnya dia malah membuang pandangannya kearah lain.
Sejak tadi siang bersama Rani, aku jadi tidak terlalu canggung. Apalagi setelah melihat Rani begitu telaten mengurus Pak Yana. Aku yakin sebenarnya Rani itu bisa berubah. Mungkin dengan seiringnya waktu, Rani bisa berubah menjadi lebih baik dan diterima kembali oleh semua teman-temanku.
Setelah aku selesai mandi, Ega pergi terlebih dahulu menuju ruang temu karena harus menyetorkan hasil datanya pada Nirwan.
"Aku tunggu dibawah ya" kata Ega.
"Iya" jawabku.
Rani masih saja terlihat santai dan merebahkan dirinya di kasur. Aku mencoba mengabaikannya dan segera merapikan diriku.
Hingga saat aku sedang menyisir rambutku, dia berjalan kearahku.
"Enak ya jadi kamu, ngelakuin hal sekecil apapun tetap aja kelihatannya bagus dimata orang-orang" katanya.
Aku pikir Rani sudah berubah tapi ternyata caranya bicara masih saja terkesan sadis dan menyakiti perasaan orang lain.
Aku tetap mengabaikan Rani dan bergegas menuju ruang temu. Tapi Rani malah menahan langkahku.
"Kenapa kamu diemin aku terus? Kamu mau pura-pura gak lihat atau gak denger aku sampai kapan?" tanyanya.
"Udahlah Ran, kita kan selama tiga hari ini baik-baik aja. Bisa gak sih gak usah cari masalah?" jawabku.
Dia menahan pintu kamar dengan tangannya, sehingga aku sulit menerobos untuk keluar dari kamar.
"Aku mati-matian cari muka biar semua orang ngelirik aku, tapi gak ada satupun yang ngeliat. Gak ada yang bilang "Ran makasih ya" atau "Ran baik banget deh" seperti yang mereka bilang ke kamu" katanya.
Aku tersenyum dan membalas perkataannya.
"Oh jadi dari tadi kamu berperilaku baik itu gak tulus ya? Kayanya aku gak perlu jawab, kamu cari aja jawabannya sendiri" kataku sambil menepis tangannya dan membuka pintu kamar.
__ADS_1