
Malam harinya.....
"Oke, angket sama panduan buat komdis udah beres ya?" tanyaku.
"Udah rain" jawab yang lainnya.
"Oke tinggal kita buat rundown tim sama rundown individu, soalnya aku gak mau kita ada miskom. Kalau udah ada rundown individu, kita jadi tau kan aturan waktu kita masing-masing" kataku.
"Iya rain, bener meminimalisir tumpang tindih juga dan biar gak saling tunjuk nantinya" jawab Rima.
Kamipun disibukkan dengan diskusi untuk membuat rundown tim dan rundown pribadi. Hingga tanpa sadar, waktu sudah menunjukan pukul 9 malam.
"Hey, udah malem gini bukannya bubar masih kerja aja" teriak seseorang.
Aku mengabaikan suaranya, meski sebenarnya aku tahu itu Andreas yang datang menjemputku.
"Eh ka, iya nih nanggung tinggal beresin" sahut Hasan.
"Cepetan beresin, udah gitu kalian pulang dan sebelum jam 10 usahakan kalian udah tidur dan besok jam 4 shubuh kalian harus sudah ada di kampus" jelasnya.
"Gak usah didenger, dia kan bukan ketua BEM lagi" ledekku.
Andreas duduk disampingku dan melihat hasil kerjaku.
"Rundown pribadi? Buat apa?" tanyanya.
"Aku nyaranin kita buat rundown pribadi terus kita tempel dibelakang id card panitia, jadi kita tahu porsi kerja kita dan jam berapa waktunya" jelasku.
"Self reminder?" tanyanya.
"Exactly!" jawabku.
"Gimana udah selesai kan? Udah gak ada yang overlap kecuali yang kerja setim kan?" tanyaku.
"Gak ada Rain, semua udah sesuai" jawab Ega.
"Oke kalau gitu, kita sampe disini aja kumpulnya. Kalian istirahat ya dan usahakan jangan telat! Semangat buat kita semua!!!" pungkasku.
Dari ujung mataku, aku bisa melihat selama aku berbicara didepan anggota timku itu Andreas selalu memperhatikanku. Matanya mengikuti kemanapun aku bergerak.
"Kak kita duluan ya?" pamit mereka dengan kompaknya.
.....
..........
"Gimana buketu, sudah bolehkah saya mengantar anda pulang?" tanyanya sambil meledekku.
"Aku laper, makan dulu yuk?" ajakku.
"Tadi kamu makan berapa kali? Ini udah malem loh, jangan makan berat ya?" katanya.
"Aku makan dua kali, makanya sekarang laper. Yaaa kalau gak makan berat, makan apa dong?" tanyaku.
"Yaudah sekali ini aja ya, inget loh!" katanya dengan ekspresi pasrah.
Selama perjalanan setelah makan, dia melihatku kelelahan. Sesekali dia akan mencubit pipiku agar aku tidak tertidur.
"Capek banget ya?" tanyanya.
"Hmm begitulah, udah mah capek kerja dan tiba-tiba dipanggil Pak Kajur" jawabku.
"Pak Kajur manggil kamu? Pak Yana maksudnya?" tanyanya keheranan.
"Iya, aku sama Hanifa dipanggil. Pertama sih, Pak Yana bilang kalau dia tertarik sama proposal PKM kita yang gagal kemarin terus dia mau jadiin acuan buat penelitiannya. Kedua, dia mau aku sama Hanifa daftar jadi duta kampus" jelasku.
"Kamu sama Hanifa diminta langsung sama Pak Yana? Beneran?" tanyanya seolah tidak percaya.
"Iya beneran, kenapa nanya begitu? Emang baru kali ini ya ada yang diminta langsung sama Pak Kajur?" tanyaku.
"Iya, baru tahun ini kayanya. Dulu waktu zaman Praya ngewakilin jurusan kita, dia mah daftar sendiri" jawabnya.
"Hmm Praya" kataku merasa tidak nyaman mendengar Andreas menyebut namanya.
"Eh bukan gitu, kan kamu nanya ya aku kasih tau contonya Praya.. Bukan apa-apa. Eh tapi kamu sama Hanifa mau terima tawaran itu gak?" tanyanya.
"Enggak!! Aku sih enggak ya tapi gak tau kalau Hanifa. Kak, aku tuh gak punya bakat mau ngeliatin apa coba nanti pas unjuk bakat? Ngomong depan umum aja aku masih degdegan. Cantik? Masih banyak yang lebih cantik. Kalau Hanifa kan dia banyak daya tariknya" jelasku.
"Kamu pernah mikir gak sih? Kenapa Gian, Reka, aku, Fasya dan Erik bisa suka sama kamu?" tanyanya.
"Perasaan kita lagi ngomongin duta kampus, kenapa jadi nyebutin nama-nama makhluk itu?" tanyaku.
"Ya, karena dari omongan kamu barusan kesannya kamu gak punya rasa percaya diri. Sampe kamu bilang kalau kamu gak punya bakat segala. Emang ada orang yang gak punya bakat bisa jadi juara sketsa? Juara penampil? Jualan berhasil? Banyak yang suka? Apa itu bukan karena bakat?" jelasnya.
"Iya bukan gitu sih, cuma aku gak sama sekali kepikiran untuk jadi duta kampus. Itu diluar semua ekspetasi aku sebagai mahasiswa tingkat 3" jawabku.
"Yaudah sih, aku juga gak nyuruh kamu ikutan cuma ya aku mau kamu lebih pede aja sama semua yang kamu miliki. Kadang kita perlu rasa pede untuk berani menjalani tantangan yang ada didepan kita. Inget loh, tantangan yang buat kita menjadi lebih baik" katanya.
.......
.......
Sesampainya didepan rumahku....
"Mau mampir gak?" tanyaku.
"Gak usah, udah malem dan kamu juga harus tidur kan? Nanti aku jemput jam 4 pagi ya?" katanya.
"Gak usah, aku dijemput Hanifa ko lagian kakak tidur aja istirahat. Kakak kan malem juga nyusulin aku ke lokasi jadi gak apa-apa gak usah dijemput" kataku.
"Yaudah, hati-hati ya! Jangan lari-lari disana" katanya.
"Yaudah, kakak masuk mobil gih! Aku mau liat kakak pergi" pintaku.
"Ngaco, kamu masuk rumah sana? Baru aku bisa pergi" jawabnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Keesokan paginya...
"Rain, Kak Iyas dateng kan nanti malem?" tanya Hanifa sesaat setelah aku masuk ke mobilnya.
"Dateng, pos 2009 kan gak seru kalau gak ada Andreas" jawabku.
"Iyasih bener haha, kita liat ya nanti pos 2009 bikin apa" kata Hanifa.
...............
......................
Sesampainya dikampus....
"Yaudah, kita pisah disini ya? Soalnya komdis harus sembunyi disana" kata Hanifa sambil menunjuk arah gedung sekertariat.
"Iya, sana ntar ketahuan maru lagi" jawabku.
Hanifa bergabung dengan anggota komdis yang lain disebelah lapangan tempat maru berkumpul.
Hanya komdis saja yang diminta bersembunyi, sebelum akhirnya mereka harus keluar untuk mengecek perlengkapan seluruh Maru.
"Duuh nostalgia banget gak sih? Inget dulu kita begini shubuh-shubuh bangun dan aah udahlah sedih kalau diceritain mah" kata Roby.
"Iya bi, asli ya dulu tuh kita kayanya lebih parah dari ini soalnya pas kita hujan terus becek" jawab Rima.
Setelah beberapa menit, apel pun dimulai.
......
.......
........
Setelah apel selesai, timku melakukan absen dan menulis kelengkapan pribadi maru yang kurang.
Tak lama setelah kami selesai, pluit merahpun dibunyikan.
"Okeee, welcome to the jungle" gumamku saat melihat barisan komdis keluar dari gedung dengan pita merah yang menyala.
Melihat Nirwan, Gian dan para teman laki-laki yang lain berjalan dengan pita merah di lengan kirinya, seperti menerbangkan ingatanku ke masa lalu....
Saat Andreas yang berjalan keluar dari gedung tersebut, memimpin timnya dan membuat hatiku merasa tak karuan.
"Rain, jangan ngelamun" bisik Hasan menyenggol tanganku.
"Hahaha enggak san, aku cuma keinget kak Iyas pas dia jadi ketua komdis wkwkwk gak kerasa banget ya?" bisikku.
"Waktu berlalu begitu cepat maksudnya? Tau-tau kalian udah pacaran aja sekarang" ledek Hasan.
Kulihat Hanifa, Nunu dan Arika memainkan perannya dengan baik. Mereka sangat tegas dan disiplin memperhatikan maru. Tidak ada yang terlewat sedikitpun.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Tracking pun dimulai....
"Udah lama gak tracking gini, capek juga ya?" kata Ega.
"Lah kak, bukannya angkatan kalian baru aja praktikum hidrologi kemarin kemarin?" tanya Firda.
"Iya sih, tapi medannya gak nanjak kaya gini dek" jawabku.
"Eh udah tau belum, katanya ya di bukit sebelah tempat kita nanti diriin tenda ada macannya loh" kata Hasan.
"Macan? Bukannya **** ya?" sahut Roby dari barisan belakang.
"Iya denger-dengernya gitusih dari cerita kakak tingkat, ya tapi wajar sih kan alam bebas namanya juga" jawabku.
"Terus ya katanya disini tuh ada penunggunya" kata Firda.
"Serius dek? Tau dari mana kamu?" tanya Rima.
"Minggu kemarin kan aku survei kesini buat ngewakilin tim eval, terus si kak Nirwan ditemenin sama warga asli daerah sini. Katanya ada penunggu yang diem di batu besar tempat kita apel nanti" jelas Firda.
"Aaah serem ah udah gak usah ceritain. Nanti aku gak berani lagi kontrol malem" gerutu Roby.
"Cerita aja sih, aku mau denger siapa tau kan nanti malem liat" kataku.
"Ih kak raina apaan sih? Jangan bilang gitu ntar kalau liat aja baru tau rasa" gerutu Firda.
"Hahahaha bercanda ih jangan dianggal serius" kataku.
Sesampainya di lokasi ...
Kami melakukan tugas sesuai rundown dan selalu berkoordinasi satu sama lain lewat HT.
Rasanya lelah sekali, setelah tracking kami harus mendirikan tenda untuk tim, menyiapkan pos-pos bersama tim logistik untuk kegiatan malam dan mengikuti arahan dari Komdis.
"Rain, semangat!!!" bisik Nunu yang baru saja lewat di hadapanku.
"Iya nu semangat juga ya!!" kataku.
Hampir tidak ada waktu untuk berleha-leha, kalaupun kami sedang bergantian tugas...salah satu yang menunggu harus membantu tim lain yang kekurangan.
"Disinilah organisasi bekerja! Membentuk pribadi para anggotanya menjadi lebih peka dan disiplin".....
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Malam harinya....
"Waaaah rame juga ya kakak tingkat yang dateng" kata Hasan.
"Berapa orang sih di buku tamu?" tanya Roby.
"Hampir 80 orang bi, makanya lumayan pr nih soalnya kan harus kelayanin semuanya" jawabku.
"Iya hahaha, tapi gak apa-apalah ini kan ajang alumni untuk reuni lagi" jelas Hasan.
Aku dan Roby kebagian tugas mendata berapa jumlah orang yang hadir dari masing-masing angkatan. Data itu kemudian akan kami berikan kepada tim konsumsi. Selain itu, kami juga bisa memastikan pembagian pos yang benar dan sesuai dengan jumlah mereka masing-masing.
"Raina" teriak Praya memanggilku.
Praya yang sudah terlihat jarang ke kampus karena sedang sibuk menggarap skripsi itu terlihat masih cantik.
"Eh kak" jawabku.
"Apa kabar? Kamu jadi ketua evaluasi ya?" tanyanya.
"Baik kak, kakak gimana? Iya nih aku ketua eval" jawabku.
"Baik cuma lagi hactic aja ngurus skripsi... Waah, ketua eval emang dari tahun ke tahun selalu yang paling cantik ya?" katanya.
Dia sedang memuji dirinya sendiri yang tahun lalu juga terpilih menjadi ketua evaluasi.
"Hehe bisa aja" jawabku singkat.
Bertemu dengan Praya setelah sekian lamanya membuatku canggung. Jangankah sudah lama tidak bertemu, kalaupun tiap hari aku bertemu Praya rasanya aku akan tetap canggung.
Meski tinggi badan kami sepantaran, hanya saja aku selalu merasa minder berdiri disebelahnya.
"Seorang Praya ada disebelahku"....
"Yaudah kak, aku duluan ya soalnya mau lanjut nugas" kataku pamit.
"Iya" jawabnya.
Saat kembali ke tenda untuk bergabung dengan anggota tim yang lain, aku sedikit melamun. Membayangkan malam ini Andreas dan Praya akan bertemu lagi.
"Aaah, tau gitu mending Andreas gak usah dateng" gumamku.
Tiba-tiba saja ponselku bergetar...
"Aku udah sampe di lokasi, kamu dimana? Aku mau samperin kamu dulu" tanya Andreas dalam chatnya.
"Aku di sebelah tenda panitia, lagi rehat sebentar mumpung maru lagi siap-siap sebelum pos malam" jawabku.
Tak lama Andreas mendatangiku, melihatnya datang membuat semua teman-teman seangkatanku yang sedari tadi duduk santai menjadi tegang dan berdiri dengan spontan.
"Pada duduk aja gapapa" katanya mencairkan suasana.
"Gimana kalian ada yang tumbang gak?" tanyanya.
"Gak ada kak" jawab kami serentak.
"Bagus, jaga kesehatan sebelum kalian jagain orang kalian harus bisa jagain diri kalian sendiri! Jadi tolong kalian selalu hati-hati dan saling semangatin satu sama lain. Malam ini mungkin kalian cuma bisa tidur 1 atau 2 jam aja, karena kalian harus siapin apel pagi dan segalanya. Perjuangan baru dimulai!!! Tetap semangat" katanya.
Mendengar betapa dalam nasihatnya pada kami, membuatku sadar mengapa Andreas dulu dengan mudahnya terpilih menjadi ketua komdis dan ketua BEM sekaligus.
Dia dibalik sikap dinginnya menyimpan sisi kepedulian dan spirit yang bisa membakar semangat para adik tingkatnya saat itu.
Aku menatap kedua bahunya yang membelakangiku, menyadari betapa sosok inilah yang selama ini menjadi teladan bagiku.
Dia yang kuat, semangat juangnya tinggi, cerdas dan peduli. "Apa sebenarnya yang tidak dimiliki seorang Andreas?"
"Mungkin dia hampir memiliki segalanya, segala sifat yang diidam-idamkan mayoritas perempuan" pikirku.
Setelah selesai memberikan kami suntikan energi, dia berusaha mendekatiku dan berdiri disebelahku.
"Capek ya?" tanyanya.
"Gak" jawabku.
"Bohong" katanya.
"Tadi sebelum kakak dateng sih aku emang capek banget, tapi setelah kakak ngomong barusan rasanya semua capekku hilang" jawabku.
"Baguslah, yaudah aku balik ke pos 2009 ya? Kamu hati-hati dan jangan lari-lari! bawa senter ya" katanya sambil meninggalkanku.
Tak lama lagi jam 9 malam, pos malam sudah akan dimulai. Maru akan diminta berbaris dan tanpa mereka ketahui nantinya mereka akan dibawa menuju pos-pos yang sudah diisi oleh banyak sekali kakak tingkat dari tingkatan tahun yang berbeda-beda.
"Oke siap ya evaluasi?" tanya Nirwan.
"Siap!" jawab kami serentak.
"Komdis siap?"
"Siap!!!"
Pluit merahpun kembali ditiupkan....
"Maru, baris sesuai kelompoknya dalam hitungan 10" teriak Gian.
"Ayo rain kita mulai gerak ke pos pertama?" ajak Hasan.
Aku dan Hasanpun bergerak perlahan untuk berjalan menuju pos 1, pos angkatan 2007.
Sesaat setelah sampai di Pos 1, aku memberikan lembar deskripsi kelompok pertama yang akan segera tiba disana.
"Kamu yang namanya Raina? pacarnya Andreas?" tanya salah satu kakak tingkat yang sedang duduk disana.
"Iya kak" jawabku.
Merekapun dengan akrabnya menyalamiku dan menerimaku dengan baik.
__ADS_1
"si Andreas gue kira gak normal loh soalnya dulu nolak cewek secantik si Praya, eh ternyata dapet yang lebih bening begini" kata salah satu dari mereka