
"Happy birthday to you!!!! Happy birthday to you!!!" tiba-tiba suara orang berisik menyanyikan lagu habede terdengar jelas ditelingaku.
Akupun membuka mataku dan melihat Andreas, Ka Dhika, Hanifa, Arika dan Nunu sudah ada dihadapanku. Muka mereka sangat segar seperti bukan di malam hari. Aku menggosok-gosok mataku karena tak percaya, aku mencoba meyakinkan diriku bahwa ini bukan mimpi. Ketiga sahabatku mencoba membangunkanku dan merapikan rambutku saat itu.
"Rainaaa bangun dong rain" kata Hanifa samar-samar ku dengar.
Akupun beranjak dari tidur dan duduk dengan tak berdaya.
"Selamat ulang tahun de" kata Andreas sambil mengelus rambutku.
"Kakak!!! Sebel deh kirain aku, kakak gak tau aku ulangtahun hari ini" kataku sambil mencubit perutnya.
"Parah haha emang aku cowok macam apa, gak tau ceweknya ulang tahun. Ciyeee udah bete" ledeknya.
"Udah udah ish ish mesra-mesraannya nanti aja, sekarang Raina make a wish dan tiup lilin ya!" kata Arika.
"Iya bener tuh cepetan rain" sahut Nunu.
Akupun memejamkan mataku dan mengatakan semua mimpi-mimpiku dalam hati...
"Ya Tuhan... Jika aku bisa meminta waktu berhenti sekarang juga, hentikanlah beberapa detik saja. Sehingga bisa kurasakan lebih lama kebersamaan dengan orang-orang yang kusayangi dan menyayangiku ini. Tahun ini terjadi banyak hal indah di hidupku, aku lulus SMA dengan nilai baik dan sesuai targetku. Aku diterima di perguruan tinggi impianku, aku mendapatkan beasiswa, aku masuk di jurusan favoritku dan juga yang terpenting dan yang paling kusyukuri adalah aku dikelilingi banyak orang baik yang selalu mendukung dan menguatkan setiap kesusahanku. Ibu, Ayah dan keluargaku yang lain sehatkanlah mereka. Untuk kalian yang ada dihadapanku sekarang, yang sudah memberikan kejutan tak terkira padaku. Terimakasih.... Semoga tahun tahun kedepan lebih baik"....
Kubuka mataku dan langsung meniup lilin dengan semangatnya.
"Yeay! Makan kue kita!!!" teriak ka Dhika yang baru on point sepertinya.
"Potong de, kasih ke yang mau kamu kasih pertama kali" katanya memintaku segera membagikan potongan kue itu.
"Aku gak bisa kasih potongan kue pertama ke satu orang sih, aku maunya potongan kue pertamaku buat tiga orang sekaligus. Tiga orang cewek rese yang berbeda-beda kepribadiannya tapi udah buat aku nyaman dan sayang" kataku.
"Unch unch unch sayang raina juga deh" kata Arika sambil memelukku.
Tanpa kurencanakan, air mataku jatuh berurai saking bahagianya. Hanifa dan Nunu juga ikut merasakan apa yang aku sampaikan dan dengan spontan memelukku, kami berempat larut dalam sebuah definisi kebahagiaan berbalut rasa haru.
__ADS_1
Potongan kueku bukan untuk Andreas, tapi dia justru terlihat sangat bangga dengan keputusanku. Dia ikut merasakan betapa dalamnya persahabatan kami yang masih seumur jagung itu.
Ka Dhika juga terlihat berkaca-kaca dan sesekali bertepuk tangan seolah ikut merasakan.
"Rain, maaf ya kita purapura gak tau ultah kamu hahaha habis susah banget ngatur jadwal biar bisa pas sama kak Andreas" kata Hanifa.
"Iya rain, kalau kita kasih surprise cuma bertiga doang kan gak rame" tambah Nunu.
"Iya hahah kamu tau gak sih rain, aku sampe harus bohong kan ke kamu bilang ada acara keluarga padahal mah aku jemput mereka ke kampus" jelas Arika sambil menunjuk kearah Andreas dan kak Dhika.
"Hahaha pokoknya thankyou yaaa kalian!!!!" kataku.
Mereka bertigapun seolah lupa diri setelah melahap kue tart berhiaskan buah-buah segar diatasnya itu. Kak Dhika juga tanpa malu langsung bergabung bersama mereka.
"Kakak, bukannya sakit kaki? Mana yang berdarah aku liat!!!" kataku kepada Andreas yang masih saja menatapku tanpa ampun.
"Maaf aku bohong de, soalnya kata Arika aku harus buat mood kamu bener-bener ancur makanya aku gak ngabarin kamu seharian sampe bohong ke kamu bilang aku kecelakaan. Maaf ya?" jelasnya.
"Berhasil lah! Kakak berhasil buat moodku berantakan! Tapi seharian tadi kakak kemana?" tanyaku.
"Ish ish ish belajar sosweet darimana sih?" ledekku sambil memegang tangannya.
"Hahaha naluri perasaan sih" jawabnya sambil menarik tubuhku mendekat.
Kak Andreas seolah mau memelukku saat itu, dia terkesan canggung tapi terasa sangat tulus.
"Eits jangan macem-macem lu yas!" teriak ka Dhika.
Aku dan Andreaspun kaget dan langsung menjaga jarak.
"Rain, kak Andreas sweet tau masa dari kalian pulang pas abis survey ke bosscha itu dia udah chat kita buat minta tolong rayain ultah kamu. Kita aja gak tau, eh si Hanifa tau sih rain tapi dia belum sempet ngomong ke aku sama Nunu. Akhirnya yaudah kita ketemuan deh tadi pagi sama kak Andreas dan kak Dhika buat nyusun rencananya haha" jelas Arika.
"Oh jadi aku diatur sedemikian rupa biar emosi gitu karena kalian biarin sendirian buat ngambil bahan?" tanyaku dengan ekspresi kesal.
__ADS_1
"Iyahaha keren kan kita preparenya?" sahut Nunu.
"Ka gak mau ngajak Raina keluar berdua emangnya? Kemana gitu rayain berdua hahaha" ledek Hanifa.
"Gak akan berani dia mah fa, Andreas kan takut sama angin malam takut masuk angin hahahaha" tambah ka Dhika meledek.
"Aku gak bisa ngajakin kamu keluar malem-malem gini, bahaya lagi musim begal. Lagian kamu juga pasti cape, tapi aku ada perlu sebentar sama kamu nanti kita ngobrol berdua ya diluar" kata Andreas sambil melirik-lirik kearah sahabatku seolah bersiap-siap kembali menerima ledekan.
"Ciye ciye wituiwiwit" ledek Nunu.
Akupun meminta izin pada Hanifa untuk ke teras sebentar dengan Andreas.
Akhirnya sekarang kami berdua duduk di kursi taman depan rumah Hanifa.
Andreas menatap mataku dalam-dalam, dan aku merasa mulai salah tingkah sekarang.
"Ada perlu apa kak?" tanyaku.
"Ini kado buat kamu, emang sih gak mahal dan gak tau juga kamu bakalan suka apa engga. Tapi ini custom item, aku berharap sih kamu suka" katanya.
Andreas memberikan kotak kecil berwarna peach yang lengkap dihiasi pita berwarna senada.
"Aku buka ya?" tanyaku.
"Buka aja!" jawabnya.
Akupun membuka kotak itu dan betapa kagetnya aku melihat isinya.
"Gelang?" kataku keheranan.
"Hmmm iya" jawabnya.
"Ini kaya mars? Beneran mars?" tanyaku kegirangan setelah melihat isi kotaknya adalah sebuah gelang bermaterial perak atau mungkin mas putih.
__ADS_1
"Iya itu mars...." jawabnya.