Kuliah Atau Kuli Ah?

Kuliah Atau Kuli Ah?
Diam


__ADS_3

Selama perjalanan...


Gian memberikan jokes-jokes recehan untuk menghiburku. Sesekali aku tertawa kecil dan memukul perut Gian, lalu Gian akan mengeluh kesakitan.


"Diem sih mukul-mukul mulu bisanya hahaha" keluhnya.


Aku memulai pembicaraan agak serius dengan Gian tentang hubungan kami. Perkataan Nunu yang sempat membuat pikiranku agak keras berputar, kemelut yang aku rasa harus segera aku selesaikan.


"Gian.... Aku mau ngomong serius"....


Gian lalu memundurkan sedikit kepalanya sehingga aku tidak perlu berteriak.


"Ngomong aja Na...." katanya.


"Hmm...kayanya gak bagus deh kalo kita terus-terusan pacaran boongan....gimana kalo kita udahan aja?" kataku.


"Udahan boongan? Hahahaha" sahutnya sambil tertawa.


"Aku serius....ko ketawa sih... Aku kasian sama Kayi... Aku gak mau juga kamu ngerasa terbebani.... Aku mau hidup normal aja haha" jelasku.


"Aku juga serius... Yaudah tinggal kita bilang aja kita putus haha..." sahutnya lagi.


"Segampang itu? Kamu beneran gak apa-apa?" tanyaku.


Aku pikir saat itu, Gian akan membelaku dan bilang bahwa sebaiknya kita jangan putus dulu sebelum gosip tentang aku dan Andreas mereda. Tapi, nampaknya Gian juga merasa aku jadi beban buatnya bahkan mungkin Gian juga menyimpan rasa kasihan sama Kayi. Meskipun Gian tidak menyukai Kayi, tapi walau bagaimanapun Kayi kan sahabatnya.


"Makaasih ya Gian... Udah bantu aku selama ini...." kataku pelan.


"Iya sama-sama...kita tetep temenan kan meski udahan?hahaha" sahutnya.


"Yaiyalah kita kan cuma pura-pura masa kita musuhan" jawabku.


Gianpun mengubah posisi duduknya seperti biasa, pelan namun aku masih bisa mendengarnya. Gian seperti berkata "Kalau ada apa-apa... Kalau kamu cuma mau nangis atau ngeluh... Ke aku aja..."..


"Siapa yang mau nangis? Siapa yang mau ngeluh? Aku? Hahaha gak mungkinlah" kataku.


"Oh kamu denger? Wkwkwk ya siapa tau ajakan kamu punya masalah di hari yang akan datang hahaha" jawabnya sambil meledek.


Gian memacu motorku cukup kencang, hingga di lampu merah motor kami berdampingan dengan motor Andreas.


"Eh ada dede gemeshhh" teriak Ka Dhika.


Aku hanya tersenyum saja kearah ka Dhika yang dibonceng oleh Andreas. Sementara Andreas.... Tidak usah ditanya, dia bahkan tidak melirikku sama sekali... Hanya tetap melihat lurus kedepan seolah-olah sedang mengikuti balapan.


"Ini dia gak liat aku ada di sebelahnya? Atau dia beneran ngehindarin aku sih?" batinku.


Lampu hijaupun menyala, kali ini Andreas sepertinya benar-benar menghindari kontak denganku sehingga secepat kilat dia langsung melaju meninggalkan kami.


"Itu si Andreas kenapa sih? Takut banget liat kamu kayanya haha" kata Gian meledek.

__ADS_1


"Dia jijik kali sama aku gi hahaha" jawabku.


Perjalanannya terasa melelahkan sekali, seluruh badanku sakit dan sepertinya Nunu dan Arika juga demikian. Sesaat setelah kami turun dari motor bersamaan, kami tepar di pinggir jalan. Hanifa yang sampai lebih dulu dengan asyiknya tertawa "hahahaha marabok guys?" katanya.


"Fa, si komdis udah nyampe?" tanya Gian.


"Udah dari tadi tuh Gi kayanya lagi survey buat pos pengamatan" jawab Hanifa.


Setiap kali mendengar nama Andreas, aku ketar-ketir. Takut dan tidak menentu... Mungkin ini yang dikatakan banyak orang "salting". Aku benar-benar merasakannya...


Beberapa menit kemudian ....


Seluruh mahasiswa sudah berkumpul di lapangan. Tempat kumpul kami kali ini adalah bekas stasiun radio pertama di Indonesia. Radio pertama yang menyiarkan tentang kabar kemerdekaan Republik ini. Situs sejarah lebih tepatnya... Di belakang tempat aku berdiri sekarang ada sebuah danau yang sudah mengering... Sekelilingnya ditumbuhi ilalang dengan tinggi hampir sepinggangku.


"Creepy juga ya tempatnya" gumamku.


Gian mendengar gumamanku. "Haha takut mbak?" ledeknya.


Aku hanya tersenyum sambil buang muka. Sesekali aku melihat kedepan, ke tempat dimana Andreas berdiri.


"Oke pengamatan lapangan akan dimulai pukul 2 siang hari ini sampai 2 siang besok hari! Total pengamatan selama 24 jam! Pembagian tugas pengamatan bebas terserah kesepakatan kelompok kalian saja, selama kalian pengamatan kakak-kakak kalian akan mengecek setiap 4 jam sekali ke masing-masing pos dan kalian harus mengecek suhu secara berkala untuk kemudian dituliskan di kertas yang nanti akan Bapak bagikan... Bagaimana sudah siap?" kata Pak Dodi.


"Siap pak!"...


Selang beberapa menit setelah kami menaruh barang-barang kedalam aula, kami memulai pengamatan. Aku dan Gian kebagian cloter dua sementara Rima dan Lisa ada di cloter satu.


"Selama 4 jam kedepan kita ngapain ya?" tanyaku pada Gian.


Selama duapuluh menit pertama, aku mengelilingi lokasi pengamatan dengan sesekali mengambil foto pemandangan dan selfie.


"Huh, coba aja Arika Hanifa dan Nunu gak kebagian cloter pertama buat ngamatin mungkin aku bisa keliling sama mereka" batinku.


"Raina?"


Seseorang memanggilku dari belakang. Aku melirik ke arah suara itu.


"Kayi?"


Kayipun mendekatiku dan akhirnya kami duduk di tepian danau yang kering itu.


"Kamu sama Gian gimana?" tanyanya.


"Aku? Kita udahan Kayi.. Aku sama Gian udahan.... Kita kayanya terlalu cepet mutusin untuk pacaran, padahal bisa aja perasaan kita salah satu sama lain" jelasku.


"Kamu polos banget haha dipancing dikit langsung keluar semua" jawab Kayi sambil tersenyum.


Aku melihat ke mata Kayi, disana ada kebahagiaan yang tersirat sangat jelas. Mungkin Kayi lega karena Gian ternyata tidak mempunyai pacar lagi.


"Kayi... Kamu beneran suka sama Gian? Hahaha emang Gian apa bagusnya sih?" tanyaku memancing.

__ADS_1


"Gian...hmmm.... Aku suka dia dari zaman SMA... Gian itu nakal... Tapi dia perhatian sama sahabat-sahabatnya, aku gak tau sejak kapan aku mulai suka sama Gian karena semuanya ngalir begitu aja... Sampai saat Gian punya pacar, aku gak suka liat dia barengan sama cewek lain. Kamu ngerti kan rain?" jelasnya.


"Terus kenapa kamu gak ngomong aja sama Gian?" tanyaku.


"Mustahil kalau Gian gak tahu tentang perasaanku ke dia, dia pasti udah tahu ko cuman dia pura-pura gak tahu ya mungkin selera dia bukan cewek kek aku yang jelek begini haha kayanya dia lebih suka cewek cantik menarik dan diidolakan kaya kamu na" tambah Kayi.


Ekspresi Kayi berubah menjadi suram setelah mengatakan bagaimana sudut pandang Gian terhadapnya. Jika aku berada di posisi Kayi, mungkin aku juga akan merasa demikian. Bahkan kalau aku memiliki wajah yang lebih menarik sekalipun, jika laki-laki yang selama ini aku sukai tidak tertarik sama sekali kepadaku rasanya sia-sia saja.


"Kayyy... Gian kayanya bukan orang seperti itu... Dia mau berteman sama siapa aja, itu juga berarti dia gak mandang orang dari fisiknya" jawabku.


"Tapi, buktinya dia benar-benar langsung peduli ke kamu dan geng kamu itu. Sejak saat kalian masuk ke kelas pertama kalinya, topik pembicaraannya favorit Gian adalah kalian.... Terutama kamu.... Aku belum pernah liat mata Gian berbinar-binar lagi setelah dia putus dari pacarnya semasa SMA itu... Kamu perempuan kan? Kamu harusnya bisa rasain kalau ada cowok yang suka ke kamu rain!" jelas Kayi.


Obrolanku dan Kayi terkesan sangat emosional sekali. Aku bahkan menceritakan hal-hal yang seharusnya tidak kuceritakan pada orang yang menjadi "musuh dalam selimut" seperti kata Hanifa dkk.


Tapi rasanya saat itu aku ingin membantu Kayi. Aku ingin menyampaikan keresahan yang sama padanya, bahwa perasaanku pada Andreas juga sama seperti yang Kayi rasakan pada Gian.


"Kayi... Nanti kalo aku kebagian jaga sama Gian...aku bakalan coba jelasin ke dia tentang kamu yaa... Semoga aja Gian sedikit terbuka haha" kataku menenangkan.


"Gak usah Rain.... Dia juga bakal sama aja..." sahut Kayi pasrah.


Kayi kemudian memisahkan diri dan pergi menuju kelompoknya yang menunggu didalam Aula, sementara aku masih nyaman duduk di pinggiran danau.


Gian mengirimkan pesan singkat padaku :


"Woy dimana? Jangan jauh-jauh maennya ntar ilang ada yang nyulik!"


Aku balas "Haha lagi duduk deket danau kering, gak sendirian ko disini ada yang lain juga banyak".


Selang beberapa menit aku bergabung dengan teman-temanku yang lain. Aku ikut mendengarkan cerita-cerita mereka selama praktikum yang kadang horror, lucu dan sedikit menakutkan. Andreas dan Dhika kemudian ikut bergabung bersama kami. Mereka ikut duduk melingkar dan menanyakan hal-hal baru yang kami rasakan semenjak menjadi Mahasiswa.


Beberapa dari teman-temanku berani mengungkapkan kesan mereka, tapi aku hanya diam saja menjadi pendengar.


"Kalau rasanya disukai sama banyak orang gimana rain?" tanya Ka Dhika.


Sontak pertanyaan Ka Dhika membuat semua teman-temanku yang duduk disana jadi berisik. Mereka menertawakanku yang mungkin terlihat malu mendengar pertanyaan yang Ka Dhika lontarkan barusan.


"Hahaha jawab dong Raina!!!! Hahahaha" teriak mereka bergiliran.


"Gak gimana-gimana ya gitu normal" jawabku.


Entah lucu atau mungkin jawabanku agak aneh akhirnya mereka tertawa mendengarnya. Aku tidak begitu memeperhatikan detail respon muka teman-teman seangkatanku, tapi aku mau tahu bagaimana respon Andreas saat aku menjawab pertanyaan Ka Dhika barusan.


Hanya saja reaksi Andreas sangat cepat berubah, bahkan saat aku melirik kearahnya wajahnya sudah kembali datar dan tanpa ekspresi.


"Dia ngeledek aku gak yah?" batinku.


"Raina tuh kamu dipanggil Gian tuh didepan katanya mau nulis apa gitu" teriak Hasan.


"Iya aku kesana!" sahutku sambil berdiri.

__ADS_1


Padahal aku masih ingin duduk disana, dengan teman-temanku dan dengan Andreas tentunya... Tapi... Gian memanggilku, mungkin ada hal penting yang harus kami lakukan.


__ADS_2