Kuliah Atau Kuli Ah?

Kuliah Atau Kuli Ah?
Usahaku untuk Raina


__ADS_3

Kalau benar aku yang diceritakan Raina, entah kenapa aku merasa lega. Setidaknya, aku tahu perasaanku pada Raina tidak bertepuk sebelah tangan. Aku menyimpan kertas itu dibalik case hapeku supaya hanya aku saja yang tahu.


"De, nanti kalau tiba waktunya aku akan minta kamu jelasin maksud dari catatan kamu ini"...


Tiba-tiba di pikiranku tergambar ekspresi wajah Raina yang muncul terakhir kalinya, yaitu saat Dhika menanyakan bagaimana rasanya disukai banyak orang. Raina hanya tersenyum seperti malu dan menjawab "biasa saja". Padahal dia bisa saja menjawab dengan sedikit kepercayaan diri.


Tibalah saatnya aku berkeliling pos-pos untuk memeriksa adik-adikku. Pos pertama yang kukunjungi adalah pos Rani dan Hanifa.


"Gimana bisa si cantik bersatu dengan si buruk rupa?" bisik Dhika padaku.


"Ssst lu gaboleh ngomong gitu, dia kan lumayan vocal bisa-bisa lu ditegasin" jawab gue.


"Rani? Haha gue bilang aja ke elu, elu kan pasti bisa memincut hatinya hahaha" ledek Dhika.


Soal Rani menyukaiku sebenarnya aku juga tidak tahu. Hanya saja, anak ini memang sangat rajin mengirimkan pesan padaku. Entah untuk menanyakan kegiatan kaderisasi atau bahkan untuk sekedar basa-basi.


Aku? Jelas aku hanya menjawab seperlunya. Tapi, sahabat-sahabatku selalu menjadikan Rani topik ledekan andalanku.


"Hanifaaaa!!!" teriak Dhika dari kejauhan.


"Wey ka! Pakabar?" sahut Hanifa.


"Apa-apaan ini? Dhika juga deket sama Hanifa?" tanyaku dalam hati.


Rani hanya bengong melihat interaksi Hanifa dan Dhika. Sementara aku hanya tersenyum sambil geleng-geleng.


"Dhik dhik kalau ada yang cantik aja lu pepet terus" bisikku.


"Bayangin aja disini ada Raina, emang lu bisa nahan diri?" balas Dhika.


Aku kaget dengan jawaban Dhika, karena suara Dhika cukup keras dan pasti Hanifa bahkan Rani bisa mendengarnya.


"Tolong dong liat tabel pengamatannya, terus ini tolong diisi juga ya soalnya. Sama jangan lupa amatin sekitarnya" kataku.


"Siap kak! Ini tabelnya dan tadi aku juga udah sempet keliling sih buat liat sekitar. Tinggal wawancara penduduk lokal aja yang belum" jawab Rani.

__ADS_1


Hanifa dibelakang terlihat menirukan gaya bicara dan ekspresi wajah Rani yang sedang mengobrol denganku. Akupun harus bersikeras menahan tawa.


"Hanifa, nanti kalo ada apa-apa kabarin kakak aja ya!" kata Dhika dengan ekspresi so nya.


"Iya kak, aku butuh Raina sih soalnya kalo lagi sepi gini dengerin suara Raina lagi nyanyi atau lagi cerita yang gak lucu.... Aku suka terhibur" jawab Hanifa.


Jawaban Hanifa yang begitu tadi juga hampir membuatku merespon berlebihan. Tapi, aku tahan ekspresi wajahku agar tetap normal.


"Wah emang si Raina kalo cerita gak lucu ya?" tanya Dhika.


"Lucu sih tapi dia sendiri yang paham, udah gitu kalo dia cerita malah banyak ketawanya padahal kita belum denger nah disitu lucunya" jelas Hanifa.


"Wah kalian udah deket banget berarti ya?" tanya Dhika.


"Iya ka begitulah" jawab Hanifa.


Setelah obrolan yang menyenangkan dengan Hanifa dan Rani. Aku dan Dhika kembali berkeliling ke pos-pos berikutnya. Hingga akhirnya, kami sampai di pos Gian dan Raina.


Dari kejauhan kulihat Raina dan Gian duduk cukup dekat. Raina terlihat menjadi dirinya sendiri, dia bahkan sama percis seperti yang diceritakan Hanifa barusan.


"De, aku seneng liat kamu mulai membuka diri" batinku.


"Kak, aku boleh pinjem motor gak buat ambil obat aku di basecamp? Kayanya ketinggalan disana deh" kata Raina secara tiba-tiba.


Dari ekspresinya sepertinya Raina agak segan meminta pertolonganku, tapi mungkin dia memang sangat membutuhkan obat itu.


Gian bahkan tidak tahu bahwa obat Raina ketinggalan. Dhika dengan dinginnya malah menawarkan aku untuk mengantar Raina ke basecamp.


Akhirnya aku juga tidak bisa menolak, meski sebenarnya aku cukup takut berinteraksi dengan Raina.


Selama perjalanan sebenarnya banyak hal yang ingin aku tanyakan, tentang surat itu tentang bagaimana kondisinya setelah punya banyak kegiatan, tentang alasan kenapa dia mendaftar di divisiku dan semua pertanyaan itu terus berlari-larian di pikiranku. Seperti berebut satu sama lain seolah meminta segera dikatakan.


Tapi, aku terus menutup diriku.. Aku mau Raina tetap nyaman saat didekatku, dengan menanyakan banyak hal bisa saja dia malah tidak suka.


Sebenarnya aku tahu bahwa obat yang akan diambil Raina adalah obat alergi. Seingatku saat aku mengantarkannya pulang waktu itu, karena hujan deras dan cuaca sangat dingin menusuk...kulihat kulit tangan Raina merah-merah sepertinya ini juga hal yang ditakutkan Raina akan kambuh kembali di cuaca dan suhu yang seperti ini.

__ADS_1


Hanya saja karena aku mau Raina menjawab pertanyaanku. Aku menanyakan padanya "Obat apa sih de yang mau diambil?".


Lalu Raina menjelaskan dengan rinci bahwa dia memang alergi. Kulitnya akan bereaksi ketika suhu di sekitarnya berubah drastis. Setahuku jenis alergi ini adalah cold urticaria (lebih simpelnya alergi dingin). Reaksi sederhananya adalah bentolan dan gatal-gatal jika si penderita berada di lingkungan dengan cuaca yang dingin.


Saat itu aku cuma menjawab "Oh" padahal sebenarnya di pikiranku banyak sekali nasihat dan saran untuk Raina agar bisa mengurangi alergi dan gatal-gatal yang mungkin saja terjadi selama dia praktikum lapangan ini. Hanya saja, aku dan egoku lebih tinggi perannya daripada rasa peduliku kali ini.


Aku meminta Raina turun di persimpangan jalan, karena aku takut teman-temannya akan berspekulasi lain-lain lagi.


"De turun disini ya soalnya gak enak diliat teman-teman kamu" kataku.


Dia hanya terima saja dengan wajah biasanya. Melihat ekspresinya yang datar, apa mungkin surat itu bukan buatku? Karena rasanya Raina tidak menunjukan tanda-tanda bahagia saat sedang didekatku. Berbeda dengan saat dia berada di sisi Gian, rasanya Raina sangat lepas.


"Apa mungkin bukan aku, sosok kakak yang dia maksud?" tanyaku dalam hati.


Selama Raina ke basecamp, hujan sudah mulai turun. Akupun memutuskan untuk berteduh di sebuah warung yang dekat.


"De, kamu ko lama sih? Kalo ujan kan alergi kamu bakalan cepet reaksinya" gumamku.


Dari jarak lumayan dekat, aku melihat Raina berlarian dengan mata yang mencari-cari keberadaanku.


"Kak" teriak Raina.


Aku berdiri dan melambaikan tangan agar Raina ikut masuk ke warung itu. Aku juga menunjuk arah kursi disebelahku, agar kami bisa duduk dan menunggu hujan reda terlebih dahulu.


Lagi sama kamu hujan mulu ya?" kataku pelan.


(Sebenarnya aku suka hujan, karena aku bisa sedikit lebih lama bersama Raina. Rasanya hujan lamapun tidak masalah, ya meskipun kami hanya berdiam diri satu sama lain)


"Hmm iya ya" sahutnya.


Aku lalu membuka tasku dan mengambil satu diantara banyaknya buku yang ada. "Buku catatan milik Raina"


"Ini buku kamu? Hmm itu udah ada kertas pengamatannya dan juga ada beberapa soal yang harus kamu isi dengan kelompok kamu nanti" kataku.


"Ah iya thankyou ka!"...

__ADS_1


Setelah itu, aku mencoba mengumpulkan keberanian untuk menanyakan tentang catatan itu pada Raina. Tapi, sesaat sebelum itu petir menyambar....hmm suaranya begitu keras sampai-sampai Raina berdiri dan berteriak.


"De, sebenarnya......


__ADS_2