
Malam-malam kini terasa sangat beda...
Entah apa yang membedakannya...
Entah rasaku atau bahkan hidupku yang berubah...
Aku merasa memiliki banyak alasan...
Alasan untuk bersyukur atas apa yang aku dapatkan sekarang....
Tentu, yang paling utama tentang kehadiranmu...
Hari-hari yang lelah sudah biasa buatku...
Lalu hari-hari patahpun kerap menjadi teman setiaku...
Hingga kamu meruntuhkan dinding pemisah antara ego dan kata hatiku...
Dinding yang selama ini kubangun dengan ketegasan dan keangkuhan...
Dinding paling berduri yang pernah kuciptakan...
Tapi kamu mampu melewatinya tanpa takut berdarah dan terluka...
Kamu, rambutmu yang terurai bahkan hanya suara langkah kakimupun...
Selalu berhasil menerobos dinding itu dengan mudahnya...
Hingga satu ketika, aku menamai dinding itu hatiku...
Apa maksudnya semua ini?
Apa aku kalah sekarang?
Aku kalah dari perasaanku sendiri?
Bahkan dari orang yang paling ingin kulukai...
Sekarang...
Apa yang bisa kulakukan?
Meminta maaf ataukah memberi pengakuan?
Hari ini.... setelah lama kusembunyikan...
Aku akui akulah yang kalah...
Aku yang jatuh padamu lebih dulu...
Aku yang mengagumimu dari dulu...
Dari semenjak kulihat kamu berdiri dengan lugu didepan barisan sahabat-sahabat komdisku...
Papan namamu kulihat sangat jelas...
Namamu tertulis disana, bahkan tertancap diingatanku...
Aku menyukaimu...
__ADS_1
Bahkan jika kamu tidak...
Aku ingin memiliki cinta pertamaku...
Bahkan jika kamu tidak...
Itulah aku...
Egois...
Bukannya sadar, aku ini jahat...
Aku malah memintamu jadi bagian dari perasaanku...
Aku terlalu naif...
Rasanya takut jika bertepuk sebelah tangan...
Raina...
Ada 3 hal di dunia ini yang mampu mengubahku...
Yang pertama dan kedua adalah karena kehilangan...
Kehilangan Ayah dan kehilangan diriku...
Sementara yang ketiga adalah menemukan kamu...
Kenapa kubilang menemukan?
Karena selama ini kamulah yang kucari...
Aku tahu, banyak yang mengagumimu...
Lebih dari itu kamu selalu melibatkan perasaan...
Jujur dan apa adanya...
Raina....
Entah kapan aku menulis ini, jam berapa hari apa dan dimana....
Mungkin aku akan lupa...
Karena yang aku ingat hanya aku menyukaimu sejak aku mengawali paragraf ini...
Raina....
Bahkan jika kamu tidak pernah membaca ini sekalipun...
Isinya akan tetap sama...
Baik diatas kertas ataupun didalam hatiku....
Akan selalu ada kamu disana....
"Kakak nulis ini kapan? ini kakak yang buat? seriusan? Yaaahhhh...... aku nyesel deh kakak kuliah geografi" katanya ketus.
"Loh ko?" tanyaku heran.
__ADS_1
"Kakak lebih cocok jadi anak sastra, pasti kakak berhasil deh" godanya sambil tersenyum.
"Hahaha anak kecil, tau dari mana aku berhasil kalau masuk sastra?" tanyaku sambil menepuk kepalanya.
"Hahaha nebak aja sih abis kakak jago aja masukin rasa dalam kata" jelasnya.
"Itukan karena kamu yang aku bahas, coba kalo Dhika yang aku bikinin puisi palingan isinya kebun binatang semua hahahaha" jawabku.
Malam ini rasanya tidak ingin berakhir, aku mau terus bersama Raina. Menikmati hari yang paling merdeka buatku, hari saat aku bisa memberikan sesuatu hasil karya tanganku untuk orang yang selama ini aku tunggu.
Aku menelpon Ibu di kampung, aku bilang "Bu, Iyas lagi sama temen perempuan loh".
Ibu kedengarannya cukup kaget dan menjawab "Hah? ada hujan atau angin apa ya hari ini?" tanya Ibu sambil terdengar meledek.
"Ibu mau denger gak suaranya?" kataku.
Akupun memberikan ponselku kepada Raina, dia terlihat salah tingkah sekaligus antusias.
"Aku harus ngomong apa? ko dadakan sih telpon Ibu kamunya?" bisiknya sambil kebingungan.
"Terserah, Ibu nyambung ko mau diajakin ngobrol apa aja" sahutku.
"Halo... Ini Ibunya kak Andreas ya? nama saya Raina, saya adik kelasnya dua tingkat dibawahnya" kata Raina terbata-bata.
Entah kenapa, aku menikmati pertunjukan ini saat Raina dan Ibu berbicara dalam sambungan telepon.
Pertama kalinya, aku tersenyum karena alasan yang kecil seperti ini...
Pembicaraanpun sepertinya selesai...
"Ih kakak mah, bilang dulu dong kalau mau telpon Ibu jadi kan aku ada persiapan mau ngomong apa" gerutunya sambil memukul tanganku.
"Hahaha persiapan, kayak mau ngapain aja lagian kamu kan jujur dan natural jadi ngomong apapun pasti lancar" jawabku.
"Tapi itukan Ibu kakak, gimana kalau aku salah ngomong? Terus Ibu kakak kecewa sama aku?" gerutunya lagi.
"Nih liat, Ibu malah minta foto kamu katanya kamu pasti anaknya cantik soalnya suaranya bagus" jawabku sambil memperlihatkan pesan singkat dari Ibu.
"Aku mau rapihin rambut dulu ah" katanya sambil beranjak.
Aku menahan tangannya, aku mau pacarku tampil apa adanya. Aku mau dia tidak terbebani dengan Ibu. Ibu juga wanita yang jujur dan natural, aku yakin Ibu akan menyukai Raina bagaimanapun kondisinya.
"Ih kita foto berdua aja sekarang, terus kita kirim ke Ibu lagian kamu gak usah rapihin rambut juga udah cantik... Kamu pikir aku nembak kamu karena kamu make up'an? udah sini duduk jangan ngapa-ngapain" gerutuku sambil menarik tangannya.
Aku sedikit keras soal penampilan, karena berulang kali kudengar hampir semua wanita yang tertarik kepadaku merasa diri mereka cantik dan pantas menjadi teman spesialku.
Padahal, bukan itu yang aku cari. Penampilan bisa berubah seiring berjalannya waktu. Rambut yang hitam bisa memutih, kulit yang putih bisa menghitam pun keelokan rupa yang bisa hilang termakan usia.
Lebih dari itu, aku menyukai wajah Raina tanpa riasan apapun.
"Kakak yakin? aku gak diapa-apain cantik? tapi aku gak secantik Hanifa kan?" tanyanya cemberut.
"Masing-masing dari kita punya nilai tersendiri, baik itu dari wajah, kepribadian dan bakat. Kamu kan anak Ibu sama Ayah kamu dan Hanifa anak Papa sama Mamanya ya bedalah kalian berdua gak bisa dibanding-bandingin" jelasku.
Rainapun mengangguk seolah kagum pada perkataanku.
"Ibu bilang "Raina ikut kesini ya kalau liburan nanti".... kataku.
"Ke kampung kakak? hah? Ibu kakak mau ketemu aku?" katanya dengan bersemangat.
__ADS_1
"Wahhhh, kamu mau ketemu calon mertua ya rain????" teriak Hanifa dari lantai dua sambil diikuti kedua sahabatnya yang lain.
"Wiiiissss, baru kali ini sih Ibu lu akhirnya sadar lu normal yas makanya dia gak mau sampe Raina lepas hahahaha" ledek Dhika sambil kubalas dengan lemparan bantal sofa.