Kuliah Atau Kuli Ah?

Kuliah Atau Kuli Ah?
Rindunya pada kedua orang tuanya


__ADS_3

Beberapa minggu berlalu, dengan segala kesibukan dan kepanikan yang terjadi karena ternyata semester enam lebih sulit dari yang dibayangkan sebelumnya. Mayoritas dosen di semester ini, memiliki gelar profesor. Beliau-beliau akan sangat detail ketika menjelaskan materi didepan kelas, tapi tuntutan pada mahasiswa juga semakin banyak.


Kami diminta mencari literatur sendiri, membuat banyak sekali tugas makalah dan proposal, tugas presentasi dan yang paling menyita waktu adalah persiapan menjelang seminar proposal.


Jurusanku memang memiliki reputasi yang bagus, terkait dengan tingkat kelulusan mahasiswanya yang selalu tepat waktu.


Maka dari itu, kami diwajibkan untuk melakukan seminar proposal sebelum semester tujuh dimulai.


Belum lagi, usahaku dan Hanuka yang semakin baik saja. Kami sangat kewalahan sekarang, hingga tak jarang kami berempat berselisih paham dan saling salah menyalahkan.


Puncak kejadiannya, dua hari yang lalu saat kami mendapat pesanan 150pcs t-shirt untuk acara kuliah lapangan jurusan pendidikan luar sekolah, tapi dua dari kami mendengar pesanannya sejumlah 250pcs.


Kami berselisih dan ternyata jumlah pesanannya hanya 150pcs, kelebihan produksi itu jadi kerugian yang lumayan besar bagi kami. Beruntungnya, si pemesan mau membeli kelebihannya dengan harga wajar.


Kami juga pernah bertengkar hanya karena kesalahan transfer uang bahan ke pabrik, jumlah 0 nya lebih banyak dari yang kami harus bayar. Sementara Nunu yang saat itu bertugas mentranfser uang, yakin bahwa dia sudah benar memasukkan nominalnya.


Kejadian itu membuat kami kebingungan sekaligus menyalahkan satu sama lain. Menuduh bahwa salah satu dari kami sudah mengambil uangnya tanpa konfirmasi.


Malamnya, saat kami sudah sama-sama mereda. Nunu mengecek riwayat transfer keluarnya. Ternyata dia yang salah memasukan nominalnya. Kami bertiga bukannya bersyukur, malah kembali mengungkit kesalahan Nunu.


Terutama Hanifa, dia sangat keras dan kembali menyalahkan Nunu yang dari awal malah tidak mau mengecek kembali riwayat transfer keluarnya.


"Udah gue bilang, lu cek lu cek. Keras kepala sih lu! Jadi panik sama-sama gini kan? Gara-gara kesalahan satu orang doang" kata Hanifa.


Biasanya perkataan semacam itu, tidak akan mampu membuat kami terbawa suasana hingga akhirnya perang dingin. Tapi karena kondisi mental kami yang sangat tertekan dengan banyaknya deadline, membuat kami menjadi sangat sensitif dan tidak mau mendengarkan satu sama lain.


Aku yang biasanya menjadi penengah di setiap perselisihan kami, malah jadi bodo amat.


Pikirku saat itu, masalahku dan deadline tugasku saja sudah banyak. Aku mana punya waktu untuk menjadi penengah seperti biasanya.


Padahal harusnya aku yang lebih dewasa disini, karena mereka bertiga hanya mau mendengarkanku.


Hingga Kak Iyas menyadarkanku saat itu. Dia memintaku berhenti sejenak dan melihat ke belakang. Melakukan evaluasi tentang semua hasil kerjaku selama sebulan ini.


"Kamu take a rest, tarik nafas dulu. Istirahat dan intropeksi diri. Tenangin pikiran dan perhatiin orang-orang disekitar kamu" katanya.


Aku mengambil waktu sejenak untuk beristirahat, kebetulan akhir pekan aku tidak ada kegiatan. Andreas juga sedang pulang ke Palembang saat itu.


Kuingat-ingat lagi, banyak sekali hal terjadi beberapa hari kebelakang. Terutama didalam roomchat sahabat-sahabatku.


Aku terkaget karena mengapa bisa-bisanya, aku membiarkan mereka bertiga terus menerus menyalahkan satu sama lain.


Akhirnya, ku ajak mereka bertemu di rumahku dengan alasan aku sakit dan tidak punya teman. Awalnya mereka menolak dan mengatakan bahwa mereka sudah ada janji, tapi setelah kukatakan bahwa aku dan Kak Iyas sedang bertengkar hebat. Mereka luluh dan mengiyakan ajakanku.


"Maaf ya kak, kita padahal lagi baik-baik aja. Kalau aku gak bohong soal kakak, pasti mereka bakal biasa aja" kataku dalam telepon.


"Gak apa-apa ko, semangat ya! kamu pasti bisa selesain semuanya... Dua hari lagi aku pulang" pungkasnya.


Sejam berlalu, Hanifa datang lebih dulu. Disusul Arika dan Nunu yang terakhir.


Mereka berdiam diri tanpa saling menyapa satu sama lain.


"Hmmm, kalian kenapa sih? Diem-dieman? Terus pada salah-salahan di grup?....


Sedih tahu bacanya, yang satu gak mau ngalah yang satu gak mau ngaku kalau salah. Kita kan gak kaya gitu awalnya? Kita gak sesensitif ini ko biasanya" kataku.


Mereka masih diam tak bergeming, hingga aku bilang bahwa aku mau mengundurkan diri dari grup.


"Yaudah, kalau kerja kita kaya gini terus kayanya aku mau mundur deh. Kalian aja jualan bertiga lanjutin tuh bisnis" kataku dengan nada bicara yang tinggi.


Hanifa menahan perkataanku, dia bilang bahwa dia tahu beberapa hari ini kita berempat agak merenggang. Mungkin karena kita hanya bertemu saat ada keperluan dan kepentingan saja. Seperti tugas, rapat dan urusan penjualan tas. Selebihnya, kita tidak pernah menyempatkan waktu untuk pergi berempat dan merefleksikan diri masing-masing.


"Gue salah, awalnya bermula di gue. Cara kerja gue teledor dan gak apik" kata Nunu.


"Gue juga salah Nu, gue gak mau bantuin lu buat ini itu. Selalu gue ngerasa kalau porsi kerja gue udah beres. Padahal dulu kita gak kaya gini, kita selalu saling ingetin" tambah Arika.


Aku meminta mereka bertiga mengakui kekurangan dan kelebihan mereka masing-masing, setidaknya untuk membuat mereka merasa lebih percaya diri dan tanpa beban saat kami kembali bekerja sebagai tim.


"Aku yang paling bersalah, biasanya aku selalu bisa meredam kalian. Selalu jadi penengah dan memposisikan diri aku di pihak yang netral. Tapi, dua minggu ini malah aku egois sendiri. Sibuk duta kampuslah, sibuk pacaran lah dan seolah gak bisa membagi waktu buat kalian" kataku.


Mereka bertiga menangis dan memelukku, kami larut dalam pengakuan kesalahan paling manis yang pernah kami alami.


Pengakuan kesalahan untuk menyelamatkan persahabatan.


"Yaudah, kita pergi hang out yuk?" ajak Hanifa.


Tanpa pikir panjang, kami bertiga beranjak dan bersemangat kembali seperti sedia kala.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Malam harinya....


Setelah hubungan kami normal kembali, roomchat juga ikut normal dan jauh dari kata-kata sensitif. Kami lebih sering memuji satu sama lain, mengingatkan satu sama lain untuk beristirahat sejenak dan jangan terlalu memporsir diri untuk bekerja terlalu keras.


"Jadi kamu bohongin kita soal kak Iyas?" tanya Nunu.


"Iyahahaha, maaf ya abis aku gak kepikiran cara lain" jawabku.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Semenjak hari itu, kami jadi lebih menyayangi satu sama lain. Di kampus bukan hanya pertanyaan tentang bisnis saja seperti...


"gimana pesenan beres belum?"


"Eh uang di elu ya"

__ADS_1


"Gue sibuk nih"


Sekarang lebih banyak chat tentang "Udah sarapan belum? Jangan lupa makan" atau "ada acara gak? Kumpul yu"...


Segalanya terasa melegakan buatku, disaat hectic seperti ini memang aku paling membutuhkan kehadiran dan semangat dari mereka.


Jika Kak Iyas adalah bintang buatku, maka merekalah mataharinya...


Mereka sama pentingnya seperti Kak Iyas...


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hari ini, Kak Iyas akan pulang setelah tiga hari berada di Palembang. Dia sudah selesai mengurusi kebunnya.


"Kamu jemput aku gak?" tanyanya.


"Jemput kak, aku sama geng kesana" jawabku.


"Wih akur nih sekarang" ledeknya.


Hubungan Arika dan Nirwan juga semakin membaik, Arika malah mati-matian membuat Nirwan memaafkan kesalah pahaman yang sempat dia tujukan padany.


Nirwan bukan tipe pendendam, dia menerima Arika sebagai sahabat barunya. Mereka seperti mantan pacar yang akan terus berhubungan baik di masa depan.


Kami berempat sudah punya janji untuk pergi ke bandara, menjemput Kak Iyas bersama dengan kak Dhika.


Kabarnya, minggu depan juga Kak Iyas dan Kak Dhika akan launching clothing line baru mereka. Ya, tanpa sepengetahuanku mereka berdua merencanakan bisnis di bidang fashion. Sesuatu yang tidak pernah kuduga sebelumnya.


Fashion mereka lebih mengarah ke mahasiswa pecinta alam ataupun penikmat fashion untuk perjalanan seperti naik gunung, treking, camping dan sebagainya. Cukup cocoklah untuk lulusan geografi seperti mereka berdua.


"Abis ini kita kemana yu? Nginep-nginep kayanya seru" ajak Nunu.


"Iya ya mumpung besok libur hardiknas" kata Arika.


"Rumah gue mau gak?" ajak Hanifa.


"Mau yang mau" sahut kak Dhika antusias.


Kamipun sepakat untuk menginap dirumah Hanifa selepas menjemput kak Iyas ke bandara.


"Moga aja deh Kak Iyas mau ikut nginep ya? Kalau dia gak ikut kayanya aku juga gak bisa ikut" kataku.


"Alah dek, tenang aja nanti dia biar aku yany ajak" kata Kak Dhika.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sesampainya di bandara....


Kak Iyas melambaikan tangannya begitu melihatku menunggunya di pintu kedatangan domestik.


"Baik, mereka nanyain kamu loh. Katanya mereka kapan aku kawinin kamu?" jawabnya.


"Hahaha bercanda kan?" gerutuku.


"Beneran, oya dari hasil wasiat Ibu kamu dapet bagian uang senilai 10 juta. Itu karena perhiasan yang kamu balikin" katanya.


Aku teringat seperangkat perhiasan yang sempat kukirim balik ke Palembang, karena aku merasa belum pantas menerima pemberian sebanyak itu. Bukannya selesai urusan, aku malah diberi uang tunai sebagai gantinya.


"Kali ini jangan nolak, soalnya itu wasiat loh. Mana bisa dianggap remeh" katanya.


Aku menceritakan rencanaku dan ketiga sahabatku untuk menginap dirumah Hanifa, dia mengiyakan tanpa perlawanan.


"Ayo, tapi aku pulang dulu naro tas dan ganti baju terus ambil mobil" katanya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Aku dan Kak Iyaspun berpisah dengan rombongan didepan rumahku, lalu setelah itu kami akan menyusul kerumah Hanifa dengan menggunakan mobil Kak Iyas.


"Izin dulu sama Ibu gih, aku tungguin disini" katanya.


"Masuk aja dulu sih" gerutuku.


"Gak ah, biar cepet nanti kalau masuk aku suka betah didalem" jawabnya


Ibu tidak mengizinkanku ikut, katanya aku harus dirumah karena akan ada pelanggan yang mengambil pesanan di grosir. Aku baru bisa keluar rumah lepas isya.


"Maaf ya, kan Ibu harus ke acara rutin. Randy lagi dirumah kakek, gak mungkin kan Ibu nyuruh Recca" kata Ibu.


Aku segera keluar, mengatakan hasil rundinganku dengan Ibu pada Kak Iyas.


"Yaudah bagus, aku masuk kerumah deh. Kan kita gak jadi pergi" katanya.


Kak Iyas masuk dan langsung berbicara dengan Ibu.


"Iya bu gak apa-apa ko, lagian Iyas juga gak izinin soalnya pasti nanti disana dia gak tidur" katanya pada Ibu.


Ibu dan Reccapun berangkat, sementara aku harus menjaga grosir bersama Mamang.


"Kamu tinggal periksa barangnya dan ambil uangnya aja ko, kalau Ibu nyuruh Mamang takut gak teliti" kata Ibu.


Sepertinya pesanan yang dimaksud Ibu cukup banyak, melihat ada lima dus berisi sembako di pojokan toko.


Mamang juga bilang pembelinya adalah bos toko elektronik di komplek, dia selalu membeli sembako dari toko Ibu hampir setiap bulannya untuk membagi para karyawan tokonya.


"Kak, mau mandi gak?" tanyaku.

__ADS_1


"Engga ah, aku udah mandi sebelum terbang. Nanti aja. Oh ya laper nih" katanya.


Akupun segera menyiapkan makanan seadanya dirumah, mengajaknya ke meja makan dan kamipun makan bersama.


Kak Iyas kumintai tolong untuk menelpon kak Dhika, sementara aku menelpon Hanifa untuk mengabari bahwa aku tidak bisa ikut menginap dirumahnya.


"Iya santai aja rain, kita juga kayanya gak jadi nginep. Soalnya si Arika ditelpon mamanya suruh pulang. Si Nunu mana mau jadi kambing conge sendiri. Mana si Gian lagi survey tempat buat praktikum adik tingkat" kata Hanifa.


Beruntungnya aku setelah tahu rencana menginap mereka juga gagal, setidaknya aku tidak merasa bersalah karena tidak bisa ikut serta.


Setelah makan, kak Iyas sepertinya mengantuk. Kuminta dia naik ke kamarku untuk tidur disana, tapi dia malah merebahkan dirinya di sofa ruang tamuku.


"Disini aja lah, biar kena angin adem" katanya.


Sesekali aku menengok toko, melihat kalau-kalau mamang kewalahan melayani pembeli. Tapi nampaknya toko agak sepi.


"Kak, Ayah promosi jabatan loh" kataku.


"Oh ya? Jadi bagian apa emang?" tanyanya antusias.


"Jadi kepala cabang, tapi jadi pulangnya malem terus" jelasku.


"Resikonya lah, seenggaknya perjuangan Ayah kan membuahkan hasil. Kamu doain aja supaya Ayah sehat terus" katanya menasehatiku.


Kak Iyas juga menanyakan banyak hal tentang bagaimana caranya aku mendamaikan Hanuka. Setelah kuceritakan, dia hanya tertawa dan meledekku katanya aku sok dewasa.


"Si Dhika cerita katanya diajak penelitian sama Pak Rohmat ke pulau apa kemana gitu. Semingguan disana. Lumayan katanya job. Menurut kamu terima jangan?" tanyanya.


"Terserah kakak, kalau menurut kakak baik ya udah ikut aja" jawabku.


"Tapi penelitiannya di tempat terpencil gitu, sebrang pulau kecil" katanya.


"Bukannya kakak dari dulu emang mau kaya gitu?" jawabku.


"Aku anggap ini persetujuan ya dari kamu, selama seminggu nanti mungkin aku gak bisa ngabarin kamu" katanya.


"Emang berangkatnya kapan?" tanyaku.


"Tanggal 16 juli masih lama, sehari setelah kamu pulang kuliah lapangan" jawabnya.


"Ih masih lama, sebulanan lagi" gerutuku.


Beberapa menit kemudian, Kak Iyas tertidur...


Tidurnya tidak nyaman, dia banyak bergerak kesana kemari sambil memukul-mukul punggunya. Sepertinya dia sakit badan. Aku mencoba membalikan badannya, lalu memijat punggungnya.


"Aduh enak" gumamnya.


"Pake minyak angin mau?" tanyaku.


"Boleh kalau kamu gak jijik" jawabnya.


Aku aneh dengan perkataannya barusan, mana bisa dia menyangka kalau aku jijik dengan minyak angin?Padahal aku selalu membawanya di tasku untuk jaga-jaga.


Pertama kalinya, dia membuka bajunya dihadapanku secara langsung.


Sebelumnya, aku hanya melihatnya bertelanjang dada setelah mandi tanpa sengaja saat kami liburan ke pantai dulu.


Aku sebenarnya malu, tapi aku juga kasihan kalau terus membiarkannya hanya bisa memukul-mukul punggungnya saja seperti tadi.


"Pegel banget ya? Pindah ke kamar yu biar kakak bisa tiduran enak" kataku.


"Gak ah, mending kamu bawa kasur lantai atau matras gih. Biar aku tidur diteras belakang sambil ngadem" katanya.


Akupun mencari kasur lantai dan menggelarnya di teras belakang rumah dan Kak Iyas mengikuti langkahku untuk segera merebahkan dirinya diatas kasur lantai.


Dia terlihat nyaman dengan pijatanku, sesekali dia bersendawa dan tertawa karena malu.


"Gak apa-apa ih sendawa aja, biar anginnya keluar" kataku.


"Tangan kamu emang yang terbaik di dunia" rayunya.


Aku memintanya duduk untuk kupijat sisi kepala dan lehernya.


Dia lagi-lagi keenakan hingga memejamkan matanya sambil bersendawa.


"Udah yah, tidur istirahat. Aku mau liat Mamang dulu" kataku.


Dia mengangguk dan segera memakai bajunya kembali.


Baru beberapa langkah aku meninggalkannya, dia menarik tangan dan memelukku.


"Aku balik ke Palembang dan jenguk Ibu sama Bapak. Besoknya aku mimpi mereka dateng kerumah kamu. Kesini, ke teras ini dan ngelamar kamu buat aku" katanya sambil menunduk.


Aku tahu, dia pasti ingin menangis hanya saja air matanya tertahan.


"Kakak lagi kangen ya sama Ibu sama Bapak?" tanyaku sambil duduk disebelahnya.


"Kangen banget, kangen yang gak pernah ada ujungnya. Mereka kangen aku gak ya dek?" tanyanya.


"Pasti kangenlah, apalagi kakak anak satu-satunya. Alasan mereka dateng ke mimpi kakak juga pasti karena mereka kangen" jawabku.


"Mereka bersih banget dek, Ibu malah bilang setelah kamu nerima lamaran aku. Ibu mau cepet-cepet meluk aku lagi" katanya.


Aku mengijabahkan permintaan Ibu, dengan memeluknya sebagai wakil dari jiwa dan raga Ibu.


"Ada aku disini, kakak gak akan kesepian lagi. Mau minta peluk berapa puluh kalipun dalam sehari, aku jabanin deh" kataku merayunya.

__ADS_1


__ADS_2