Kuliah Atau Kuli Ah?

Kuliah Atau Kuli Ah?
Cinta Pertama?


__ADS_3

Sudah lama sekali tidak menulis, rasanya asing saja saat mata ini harus berhadapan langsung dengan layar selama berjam-jam dan mengubah ide-ide gila berisi kehaluan dan kegelisahan menjadi sebuah paragraf demi paragraf.


Aku sempat takut menulis kembali, mengingat betapa lamanya aku berhenti. Tapi menengok ke belakang tentang panjangnya langkah yang sudah ku tempuh hingga sejauh ini membuatku menyayangkan keputusanku dan memikirkannya lagi.


Apa aku sudah gila? Bagaimana bisa aku berhenti pada candu yang selalu membuatku merasa seperti pemenang. Ya, pemenang. Setelah aku menulis sesuatu dan aku membacanya kembali rasanya membuatku seperti menang. Menang melawan egoku. Ego yang selalu memintaku untuk berhenti.


Kali ini, Raina dan Andreas lagi-lagi membuatku jatuh cinta. Menelisik kedalam cerita masa laluku lagi dan menuliskannya untuk kalian pembaca setiaku.


Selamat bergabung kembali di kisah penuh warna ini..


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hanifa, Arika dan Nunu sudah tiba dirumahku. Mereka yang nampak sedikit berubah karena tubuhnya yang berisi terlihat sangat menggemaskan.


"Gendutan ih" ledekku pada Nunu.


"Bahagia dia mah, sama Gian udah ngapain aja lu?" teriak Arika.


"Ih apaan sih, ini tuh karena kebanyakan makan masakan mama" belanya.


Tiba-tiba saja ada panggilan masuk ke telepon rumahku. Bergegas aku segera mengangkatnya.


"Halo" kataku.


Seseorang diujung telepon itu menjawab "Halo ini Raina ya?" suara lembut seorang perempuan.


"Ah iya, ini siapa ya?" tanyaku.


Belum sempat aku mendengar jawabannya, nampaknya sambungan telepon terputus dan suaranya hilang.


"Apasih gajelas banget" gerutuku.


Kami berempat yang sudah cukup lama tidak bertemu, seperti saudara kembar yang sulit dipisahkan. Kami duduk berhimpit-himpitan dan saling menyilangkan kaki satu sama lain sambil menonton drama korea terbaru yang direkomendasikan Nunu.


"Eh fa, kamu mau cerita apa ke aku? Katanya penting?" tanyaku.


Hanifa melirik dengan tajam diikuti oleh lirikan Nunu dan Arika yang bersamaan menghadapnya.


Hanifa menarik nafas dalam-dalam dan terlihat memfokuskan matanya padaku.


"Kemarin, kak Dhika gak sengaja keceplosan ke aku. Katanya cinta pertama kak Iyas udah balik ke Indonesia" katanya pelan.


Seperti tersambar petir, aku langsung terduduk tegap dan mendekat kearah Hanifa.


"Tenang dulu, denger dulu sampe beres" jelasnya.


Arika dan Nunu dengan refleks memegang tanganku. Mereka menatapku dengan pandangan sayu seperti ikut merasakan kegelisahanku saat itu.


"Aku nanya sama kak Dhika, cinta pertama kak Iyas emang siapa? Kenapa bisa kamu ngomong gitu dan emang mereka masih punya ikatan gitu.. Terus kak Dhika jawab kalau cewek ini lumayan punya arti buat kak Iyas, tapi kak Dhika yakin ko kalau sekarang cewek itu udah gak ada pengaruhnya karena udah ada kamu" jelas Hanifa lagi.


Aku terdiam sejenak dan kebingungan. Dalam pikiranku muncul banyak pertanyaan. Hingga akhirnya aku menceritakan pemikiranku pada mereka bertiga.

__ADS_1


"Bagaimana bisa semuanya bisa pas begini? Baru aja aku mau cerita kalau pagi tadi kak Iyas nerima banyak banget panggilan dari cewek namanya Ruri. Apa Ruri yang dimaksud kak Dhika?" jelasku.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Beberapa jam kemudian....


"Yaudah jangan terlalu dipikirin lah rain, mending kamu tanyain aja langsung sama kak Iyas. Biar clear" kata Nunu.


"Iya nanti malem ketemu kan? Ngomong aja langsung. Kalau tuh cewek berani macem-macem nanti kita turun tangan bantuin" sahut Hanifa dari dalam mobilnya.


"Yaudah kita pulang ya? Kabarin aja pokoknya" pamit Arika.


.........................................................


.........................................................


Hari sudah petang dan Randy memintaku menjaga warung sementara dia hendak mandi sore.


"Teh, nanti malem aku mau keluar ya?" teriaknya.


"Kalo Ayah belum pulang gimana? Masa teteh sendirian?" sahutku.


"Ya keluar ajalah, ajak kak Iyas kalau rumah sih kunci aja" jawabnya.


Tak lama kemudian, aku mencoba menelpon kak Iyas. Tapi selalu saja dia berada dalam jaringan yang sibuk.


Hingga aku merasa jengkel dan akhirnya terpaksa menelpon ke nomor kantornya.


"Lis, Kak Iyas ada di outlet gak sih?" tanyaku.


"Gak ada tuh, tadi izin keluar katanya ada urusan" jawab Listiana.


"Lah dari kapan perginya?" tanyaku.


"Udah lama banget ko, kesini cuma bentar langsung pergi lagi" jawabnya.


Mendengar penjelasan Lis, membuatku gusar dan tidak enak hati. Kak Iyas jelas-jelas pamit untuk pergi ke outlet dan tidak cerita apa-apa tentang rencananya yang lain.


Setahuku, dia selalu bilang kalaupun hanya untuk menemui kak Dhika di coffeshop langganan mereka.


Lantas, urusan apa yang sekarang dia kerjakan hingga dia tidak sempat menghubungiku.


Sepuluh menit berlalu, ponselku berdering dan ternyata kak Iyas mencoba menelponku. Tanpa pikir panjang kutolak panggilan pertamanya.


"Huu biar dia tahu rasa" gerutuku.


Panggilan keduanya datang, dan aku masih belum ikhlas mengangkatnya. Kutolak lagi saja.


Baru di panggilan ketiga, aku mengangkat teleponnya.


"Kamu kenapa reject tadi?" tanyanya.

__ADS_1


"Kamu kenapa sibuk terus dari tadi?" balasku.


"Lagi ngangkat telpon dari yang order" jawabnya.


"Tumben yang order gak langsung ke outlet? Biasanya kan ngomong langsung" kataku.


Dia terdiam dan tidak menjawab pertanyaanku yang terakhir. Selang beberapa detik malah hanya senyap yang terdengar.


"Mau kamu yang jujur duluan ke aku atau aku yang harus cari tahu dulu?" kataku dengan nada datar.


Dia sudah paham maksud pertanyaanku, aku yakin. Maka dari itu dia memilih bungkam. Mungkin dia tahu bahwa aku tipekal perempuan yang peka dan perasa.


"Yaudah aku tutup kalau gak mau ngomong" kataku sambil menyelesaikan panggilannya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Satu jam berlalu, dia tidak menelponku kembali bahkan mengirimkan pesanpun tidak.


Hingga saatnya Randy pamit keluar rumah untuk berkumpul dengan teman-temannya.


"Teh, gak keluar rumah? Kak Iyas nanti kesini kan?" tanya Randy.


"Udah ah gak usah nanya kak Iyas, kalau dia inget juga dia dateng kesini" jawabku.


"Wih pasti lagi marahan yah teh?" ledek Randy sambil tertawa.


Saat aku benar-benar sendirian dirumah, muncul banyak sekali kegelisahan dan kegelapan dalam pikiranku. Aku merasa ada yang mulai berubah sekarang. Kehidupanku yang semakin dewasa dan ketakutanku akan kehilangan seseorang yang sudah menetap lama di hatiku.


Apalagi setelah sore tadi aku melihat sebuah kutipan..


"Cinta pertama itu sulit dilupakan"...


Semakin liar saja rasanya ketakutan menyelinap diam-diam lewat rongga-rongga hatiku. Bagaimana kalau semua yang kutakutkan terjadi.


Bagaimana kalau aku memang hanya menjadi tangga persinggahan antara Kak Iyas dan masa lalunya?


Bagaimana kalau akulah yang menjadi korban?


Bagaimana kalau cinta pertamakulah yang gagal?


......................................


Suara klakson mobil yang sudah tak asing terdengar didepan gerbang rumahku. Bisa kupastikan itu adalah suara mobil kak Iyas.


Kutengok disela-sela tirai depan, ternyata memang mobilnya sudah terparkir dihalaman rumah.


Aku malas-malasan berjalan keluar untuk membukakan pintu.


Cara dia berjalan menuju kearahku, tidak sepercaya diri biasanya. Dia terlihat menunduk dan menahan rasa yang entah apa.


"Aku mau jelasin" katanya sambil mencubit hidungku.

__ADS_1


"Duduklah" jawabku ketus.


__ADS_2